
..."Inginku menolaknya, Namu aku pun hanya manusia biasa, Hanya menginginkan cinta dan bahagia, Bukan harga ataupun tahta"...
...🍁...
Mendengar tangisan pilu dari Ranti, Abi pun merasa bersalah.
Jujur memang Abi menginginkan Ranti, meski di hatinya masih ada Dewi, untuk sesaat Abi menjadi laki-laki yang begitu egois.
Jahat memang, mengabaikan hati dan perasaanya Ranti, mengatasnamakan status dan tugas seorang istri. Dan hal itu jujur sangat sulit untuk di mengerti.
Sementara untuk mengatur hatinya saja Abi merasa kesulitan, dan hal itu lah mungkin yang membuat Ranti begitu tersiksa dan merasa sangat terluka.
Ingin rasanya berteriak, meluapkan segala rasa yang begitu menyesakan dada. Namun apalah daya jika Ranti tidak dapat melakukanya.
Bagaiman dirinya bisa melakukan sebuah berhubungan, sementara pemilik rumah hanya mempersilahkan dirinya untuk duduk di teras, tanpa memperbolehkan tamunya untuk masuk kedalam. (kiasan)
Lalu bagaiman Ranti dapat memenuhi kebutuhan biologis Abi,sementara di hati Abi tidak sedikitpun ada namanya. Hati wanita mana yang tidak merasakan luka.
Sekuat tenaga Ranti bersabar dengan segala rasa, kecewa, duka, dan air mata. Mau sampai kapan. Ranti begitu merasa tersiksa.
Brug.
Setelah lelah bergelut dengan hati dan pikirannya, Ranti pun sudah tidak lagi mampu menahan berat tubuhnya. yang seketika seperti kehilangan tenaga.
Ranti jatuh begitu saja dengan tubuh Lemas, beruntung dengan sigap Abi meraih Ranti dan segera mengangkatnya.
Membaringkan tubuh ramping Ranti diatas kasur berukuran king size tersebut. dengan perasaan panik yang seketika menyeruak.
Tidak mungkin bagi Abi untuk memanggil orang tua nya. sudah pasti dirinya akan habis oleh Omelan Bu Shinta.
Abi memilih mencari minyak kayu putih, dan segera memberikan nya pada bagian tengkuk, dan bawah hidung Ranti.
Beberapa saat mencium aroma menyengat dari minyak kayu putih tersebut, akhirnya Ranti kembali sadar.
"Kau tidak papa?" Ya ya Abi panik
Ranti hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Meski sudah sadar , namun Abi masih begitu mencemaskan kondisi Ranti "Apa perlu kita ke dokter?" t
tawar Abi
"Tidak perlu mas " Ucap Ranti singkat.
"Tapi---" Ucap Abi menggantung
"Apakah ada obat yang bisa mengobati luka di dada Ranti mas ?" sergah Ranti kemudian.
Abi tercengang mendengar ucapan Ranti. setelahnya dia hanya dapat tertunduk. "Baiklah beristirahatlah" Ucap Abi dengan menaikkan selimut yang di kenakan Ranti.
Tidak ada Night kiss, atau sejenisnya, Abi pun memilih merebahkan tubuhnya di sisi sebelah Ranti.
***
__ADS_1
Hujan begitu deras mengguyur malam itu, tanpa terasa keduanya terlelap begitu saja.
Duar !!!
Suara petir yang begitu keras menyambar, dengan kilatan cahaya yang terlihat jelas melalui balik jendela kamar Ranti.
"Aaaa!" teriak Ranti yang merasa ketakutan, reflek memeluk Abi yang berada di sampingnya.
"Hey hey hey ada apa , Katakan ?" Tanya Abi dengan suara lembut.
"Aku takut petir mas " Ucap Ranti dengan menenggelamkan wajah nya di dada Abi.
Mendengar hal itu Abi hanya menghela nafas dalam "Tidurlah aku akan memelukmu " Ucapnya kemudian.
Ranti hanya bergeming, dengan semakin erat memeluk Abi.
Kilatan petir menyambar dengan begitu hebatnya, jangankan untuk tidur, memejamkan mata saja mungkin Ranti akan merasa sangat takut.
"Kenapa tidak tidur" Tanya Abi yang menyadari Ranti masih terjaga.
Ranti hanya menggelengkan kepala.
Menatap lekat,sosok di sampingnya, sejenak.tatapan keduanya beradu dalam satu titik yang sama
Kembali tatapan penuh damba Abi rasakan saat itu. "I love you" ucap Abi lirih dengan membenamkan sebuah kecupan di dahi Ranti.
Mendengar pengakuan mengejutkan Abi, seketika kedua bola mata Ranti membulat sempurna.
Namun Abi pun merasakan sebaliknya, merasakan cinta yang tumbuh sudah sejak lama, hanya saja Abi lah yang terlambat menyadari perasaan nya.
Mengingat kembali moment sewaktu di Puncak, ketika Ranti tengah bersama Bian, Abi merasakan hatinya begitu sakit, sangat sakit.
Terlebih ketika melihat Ranti yang di jemput oleh Bian dan mengantarkan nya pulang, saat Abi tiba-tiba saja harus kembali ke rumah sakit menemui Dewi.
Baru saat ini mungkin Abi menyadari perasaan nya pada Ranti.
"Aku sungguh-sungguh dengan ucapanku Ranti" ucap Abi lagi. Terlihat kesungguhan di wajah tampannya, tanpa sedikitpun keraguan yang Ranti lihat Dimata indah Abi.
Ranti hanya menatap lekat sosok Abi yang ada di sampingnya. Menampakan guratan halus di dahi nya.
Melihat Ranti yang hanya diam Abi pun mengikis jarak diantara keduanya, dekat, dan semakin dekat kemudian dengan berani, Abi meletakkan sebuah kecupan di bibir Ranti.
Menyusuri dengan lembut setiap inch bibir indah itu. Ranti hanya diam, membiarkan Abi melakukan apa yang ingin dia lakukan.
"Bolehkah aku melakukanya ?" Tanya Abi setelah tidak mendapatkan reaksi penolakan dari ranti.
Masih merasa begitu bingung, Ranti hanya diam.
Beberapa detik kemudian "Silahkan" Ucap Ranti dengan suara lirih.
Mendapatkan persetujuan dari Ranti, Abi pun tidak menyia-nyiakan hal tersebut.
Menanggalkan semua yang ada pada dirinya, dan segera melakukan apa yang sejak sekian lama ingin Abi lakukan.
__ADS_1
"Maafkan aku, karena mungkin ini akan sedikit menyakitkan" Ucap Abi dengan mencium lembut kening Ranti.
Ranti hanya menjawab dengan anggukan kepala. Meski berat Ranti akan memulainya.
Mungkin dengan seperti ini akan sedikit mengobati luka hatinya, bukan egois, namun Ranti hanya lah manusia biasa.
Keduanya terlibat dalam kegiatan panas yang begitu menguras tenaga.
Suara suara khas insan yang di ambil asmara, seolah memenuhi ruangan , saling bersautan mesra.
"Auch" Pekik Ranti ketika Abi telah berhasil menerobos dinding pertahanan milik yang ada di sana.
Merasakan cairan hangat yang mengalir, Ranti menyadari sesuatu yang paling berharga dari dirinya dan telah dia jaga sekian lama, telah dia lepaskan saat itu. Seketika bulir bening merembes dari sudut matanya indahnya. Ranti hanya dapat memejamkan mata dengan isakan lembut dari bibirnya.
"Apakah sangat sakit ?" Tanya Abi yang menyadari Ranti tengah menitihkan air mata.
Ranti hanya menggelengkan kepala, bukan hanya sakit di sana, namun hatinya pun saat ini juga merasakan sakit yang sangat luar biasa, meratapi dirinya yang seolah menjadi duri dalam daging di kehidupan rumah tangga kakak kandungnya.
Abi semakin memacu gerak nya, agar tidak membuat sosok di hadapannya semakin lama merasakan sakit.
Setelah beberapa saat akhirnya ribuan benih menyembur sempurna di tempat yang semestinya.
Sebuah kecupan lembut kembali mendarat di kening Ranti, Ranti hanya diam, memalingkan wajahnya dengan Isak tangis yang terus saja dia rasakan tanpa dapat di hentikan.
Entah harus bahagia ataukah kecewa, Ranti pun sudah tidak dapat merasakannya, seolah hatinya begitu mati rasa.
Sakit
Tentu saja
Tidak hanya tubuh, sekali lagi hatinya pun sudah remuk redam. membayangkan apa yang baru saja dia lakukan.
Pergulatan panas yang membuat dirinya meras menjadi seorang penghianat.
***
Abi yang merasa lelah, seketika tertidur di sisi sebelah Ranti, menyisakan Ranti yang masih saja terjaga dengan segala pikiran buruk ya.
Kesan pertama yang kebanyakan orang menganggap sebuah moment yang sangat indah dan menyenangkan. Namun tidak dengan Ranti yang merasakan ini sebuah awal penghianatan yang dia lakukan
Ranti hanya berharap, jika apa yang dia lakukan akan termaafkan oleh sang kakak, meski dirinya sendiri tidak yakin.
Melihat Abi yang begitu lelap dalam tidurnya, Ranti memilih bangkit dan menuju kamar mandi, melepaskan kembali baju yang sebelumnya dia kenakan.
Meneliti setiap inch dari tubuhnya sendiri, Ranti merasa sangat malu, sakit yang kini dia rasakan,melihat begitu banyak tanda cinta yang Abi perlihatkan disana, sudah cukup membuat Ranti merasa semakin bersalah.
"Maaf" Gumam Ranti
"Maaf kan Ranti kak" Ucapnya lagi penuh penyesalan.
Mengusap kasar beberapa tanda yang ada di dada nya, namun melakukan hal itu saja tidak mampu membuat situasi kembali seperti semula. Malam ini telah membuat semuanya tampak berbeda.
***
__ADS_1