
Benar saja setelah makan malam hujan pun tidak kunjung reda, justru semakin deras, dengan suara petir yang menggelegar di udara.
Suasana malam di daerah puncak yang di dominasi udara dingin dengan guyuran air hujan semakin menambah dingin nya malam itu. Setelah minum obat, Ranti memilih kembali ke kamar untuk segera beristirahat, tidak di sangka Abi pun menyusulnya masuk kedalam kamar. "Mas Abi tidur dimana?" tanya Ranti dengan mengerutkan dahi
"Disini lah, mau di mana lagi " Jawab Abi santai
Ranti tampak membulatkan matanya, memastikan kembali jawaban Abi "Di sini ?" Tanya Ranti lagi, dan Abi menjawab dengan anggukan kepala.
"Ya sudah Ranti tidur di sofa, dan mas Abi tidur di kasur saja" ucap Ranti dengan meraih satu bantal dan sebuah selimut tebal.
"harus kah begitu ?" ucap Abi kemudian
"Lalu ?" sergah Ranti.
"Atau begini saja, mas Abi tidur di sofa dan aku tidur di kasur" Tawar Ranti lagi memberi pilihan
Mendengar hal itu spontan Abi menepuk dahinya, dan hanya menyunggingkan sebuah senyum getir "Itu lebih buruk" Jawab Abi dengan suara lirih. Ranti pun hanya menggelengkan kepala.
"Ok Fiks !" Ucap Ranti dengan menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut tebal di kasur berukuran king'Size.
Melihat tingkah Ranti, Abi hanya bisa mendengus kesal dengan memutar bola matanya.
Melangkah menuju sofa, Abi menghempaskan kasar tubuh nya, udara malam yang semakin dingin membuat Abi tidak dapat memejamkan mata.
Waktu menunjukan pukul 01.15 , Hujan yang masih saja mengguyur membuat udara malam semakin dingin, Berguling ke kanan berguling ke kiri itu yang bisa Abi lakukan untuk mengurai rasa dingin yang semakin menusuk tubuhnya.
Melihat Ranti yang tidur begitu pulas, berbalut selimut tebal yang halus membuat Abi hanya mampu mencecih.
"Dia tidur atau mati " batin Abi yang merasa kesal melihat Ranti yang tidak bergerak sama sekali, padahal Abi harus menahan udara dingin yang semakin menusuk.
Tanpa pikir panjang Abi menghampiri tempat tidur dimana Ranti tidur di sana, "Semoga saja dia tidak marah aku tidur disini " Gumam Abi kemudian , setelahnya Abi mengambil sisi sebelah kanan yang tidak di tempati oleh Ranti, lalu merebahkan tubuhnya disana.
"Nyaman sekali " Gumam Abi lirih
Keduanya tidur dalam satu tempat tidur yang sama dan berada dalam satu selimut. Bahkan Abi sudah tidak lagi memikirkan entah bagaimana respon Ranti nantinya jika dia tahu Abi tidur di tempat yang sama dengannya.
Hari masih begitu gelap, sampai pada saat Abi merasa tubuhnya begitu berat, seperti dirinya tengah di timpa sebuah batu. Mencoba meneliti berat benda yang menghimpit badanya, Abi melihat tangan Ranti yang memeluknya dengan kaki berada diatas pahanya
__ADS_1
Sesuatu yang sudah lama tidak terjadi pada Abi sejak Dewi mengalami koma, ingin rasanya Abi marah saat itu juga, namun melihat raut wajah Ranti yang begitu teduh dan damai, Abi merasa kasihan dan kemudian hanya memandang wajah cantik Ranti dari jarak yang sangat dekat, sangking dekatnya sampai hembusan nafas Ranti terasa samai ke pipi Abi.
"Ternyata Meskipun tidur, dia masih sangat cantik" Batin Abi dalam hati dengan mengulas sebuah senyum.
Mengusap lembut pipi Ranti, dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya, tidak di sadari oleh Abi bahwa tindakannya itu membuat Ranti menggeliat, namun nyatanya Ranti tidak bangun dan hanya merenggangkan ototnya saja.
Dinginnya udara pagi dan hangatnya pelukan dari Ranti membuat Abi merasa nyaman hingga dia merasa matanya begitu berat dan kembali tidur.
"Aaaa...!" Teriakan Ranti yang terdengar begitu nyaring di telinga Abi.
"Ada apa? Ada apa ?" tanya Abi dengan wajah panik
"Apa yang apanya ?, Mas Abi kok bisa tidur di sini sih !" Ucap Ranti kesal. Kemudian meneliti seluruh Piyama yang dia kenakan, memastikan setiap kancingnya tidak ada yang terlepas
"Tenang saja aku tidak melakukanya " Ucap Abi santai dengan mulut menguap.
Kemudian Ranti menatap Abi dengan sorot mata tajam, "Mas Abi yakin tidak macam-macam selama Ranti tidur" Ucap Ranti memastikan dengan mengerutkan dahi. Abi hanya menaikkan kedua baunya, kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
Melihat Abi yang mengacuhkan dirinya, Ranti merasa tidak terima "Mas Abi ! " panggil Ranti dengan sedikit berlari.
Brakk
Abi yang melihat Ranti meringis menahan sakit, akhirnya tidak tega, kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Ranti bangkit "Mas, kaki Ranti terkilir" Ucap Ranti dengan wajah memelas.
Melihat Ranti yang tidak berdaya, akhirnya mau tidak mau Abi harus membopong tubuh ramping tersebut. Sejenak tatapan keduanya beradu mesra, tatkala Ranti berada dalam dekapan Abi.
Ada desiran aneh yang keduanya rasakan, namun secepat itu juga keduanya memalingkan pandangan dan menepis semua yang di rasakan.
Berjalan beberapa langkah, kemudian Abi membaringkan Ranti pada Ranjang dengan sangat hati-hati. Kemudian memastikan rasa sakit yang Ranti rasakan.
Meneliti pada setiap bagian kaki Ranti , "Auch..!" Ucap Ranti memekik ketika Abi memijat bagian kakinya yang sakit.
"Apa sangat sakit ?" ucap Abi dengan mengerutkan dahi
Mendengar pertanyaan Abi Ranti merasa kesal "Apa mas Abi pikir aku sedang bercanda ?" ucap Ranti kemudian
Melihat Ranti memanyunkan bibirnya membuat Abi terkekeh dan merasa Ranti begitu lucu.
__ADS_1
"Bertahanlah, Ini sedikit sakit, tapi setelah ini kau akan baik-baik saja " Ucap Abi dengan suara dingin
Seketika Ranti melihat Abi kemudian melihat kakinya yang sedang Abi pegang "Mas !, Please , Ranti nggak yakin" Ucap Ranti dengan wajah ketakutan, dan kemudian berusaha menarik kakinya dari pegangan Abi.
"Please mas , Ini akan sembuh sendiri" Ucap Ranti penuh permohonan.
Bukan merasa kasihan, Abi justru merasa lucu melihat ekspresi yang di tunjukan oleh Ranti, sejurus kemudian Abi menampakan senyum seringai.
"Apa mas Abi akan mematahkan kaki Ranti " Ucap Ranti dengan mata berkaca-kaca
Krakk... !
"Aaaa...!" Ranti kembali berteriak menahan rasa ngilu di kakinya, akibat tarikan yang begitu kuat dari Abi. Ranti memejamkan mata dengan memegang kakinya.
Dalam keadaan Mata Ranti yang terpejam, Abi menggoyang-goyangkan kaki Ranti, namun gadis tersebut seperti sudah tidak lagi merasa sakit, hanya menyisakan sedikit rasa ngilu.
"Apa masih sakit " Ucap Abi Dengan suara lembut
Mendengar pertanyaan Abi, seketika Ranti membuka matanya, meneliti bagian kaki yang sebelumnya merasa sangat sakit.
"Mas , ini berhasil !" Ucap Ranti dengan wajah berbinar. Setelahnya Abi bangkit dari duduknya dan kembali melangkah kedalam kamar mandi.
"Mas " Ucap Ranti dengan suara lirih
"Em " Jawab Abi singkat
"Bisa minta tolong ambilkan Handphone Ranti?" Ucap Ranti memohon dengan wajah yang di buat semanis mungkin.
Ranti merasa tidak enak, karena sebelumnya dia telah meragukan kemampuan Abi. Abi pun berbalik dan mengambil handphone milik Ranti yang dia letakkan diatas nakas kemudian kembali berjalan
"Mas !" Ucap Ranti lagi
"Apa lagi ?" Jawab Abi dengan mendengus kesal.
"Terima kasih " Ucap Ranti dengan suara manis .
"Em" Jawab Abi singkat.
__ADS_1
***