
...Cinta memang dapat mewakili rasa, namun jangan lupa karena cinta lah hati dapat terluka ...
...🍁...
"Silahkan duduk mas, aku akan minta Bi nur buatkan kopi" ucap Ranti.
Berlalu meninggalkan Bian yang duduk dengan nyaman di ruang tamu, menatap langit-langit rumah, sampai bad saat Bi nur datang dengan membawa secangkir kopi hitam panas "Silahkan di minum tuan Bian "
"Terima kasih Bi"
Setelah meletakkan kopi di meja, Bi nur pun segera meninggalkan tempat tersebut, mengantarkan jahe hangat yang sebelumnya di pesan oleh Ranti, sebelum dia mengatakan ingin membersihkan diri dulu sebelum makan malam.
"Aaaaaa... Bu !!"
Sebuah suara melengking yang seketika membuyarkan lamunan Bian yang tengah menikmati kopi di ruang tamu.
Berlari mencari sumber suara yang sebelumnya bian dengar "Ada apa Bi ?"
"Itu tuan Bu Ranti Pingsan di depan kamar mandi"
Tanpa permisi Bian pun masuk kedalam kamar dan benar saja setelah mengedarkan pandanganya Bian mendapati Ranti tengah terkapar di depan pintu kamar mandi.
"Bi kita ke rumah sakit sekarang !" titah Bian
"Baik tuan "
Bian membopong Ranti dan segera membawa Ranti menuju mobilnya, bergegas membawa Ranti menuju rumah sakit.
Bian merebahkan Ranti di bagian bangku penumpang dengan bersandar pada paha Bi nur sebagai bantalan kepala.
Menempuh perjalanan kurang lebih 10 menit, mobil yang di kemudikan eh Bian telah sampai di depan IGD rumah sakit terdekat.
Beberapa perawat telah siap dengan brankar , Meski dalam kepanikan Bian tetap berfikir dengan jernih, dia telah menghubungi rumah sakit sebelum mereka tiba di tempat tersebut.
Hingga tak butuh banyak waktu Ranti telah mendapatkan penanganan, dan perawatan menyeluruh.
"Maaf pak bisa kita bicara , ini mengenai kondisi istri anda"
Sebuah suara yang tiba-tiba mengagetkan Bian , dokter yang sebelumnya menangani Ranti telah selesai dengan beberapa tindakan penanganan awal.
Meski dalam kebingungan sebab Bian bukanlah suami Ranti, namun dalam kondisi demikian naluri Bian tidak cukup mambu untuk mengabaikan kondisi Ranti, dan tentunya dia pun juga mungkin segera mengetahui keadaan wanita yang di cintainya tersebut.
"Baik pak jadi begini"
"Kondisi Bu ranti sudah stabil, dan saat ini beliau sudah siuman"
__ADS_1
"Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium yang di lakukan, istri anda saat ini sedang mengandung, Sebelumnya saya ucapkan selamat pak"
Ucap dokter tersebut bagai Sambaran petir di siang hari, meski hanya menatap dalam kebingungan namun Bian pun menganggukkan kepala dan tersenyum pada sang dokter.
"Terima kasih dok"
"Namun dalam hal ini kondisi pasien sangat lemah, hal ini dipicu karena mual muntah yang berlebihan, sehingga pasien tidak mendapatkan cukup nutrisi"
"Selain itu perubahan hormon yang tidak stabil pada ibu hamil, hal ini juga memicu tingkat stress tinggi pada pasien"
"Saran saya tetap dampingi istri anda dalam awal kehamilan ini, dan motifasi selalu untuk banyak makan makanan yang bernutrisi tinggi, karena itu tidak hanya baik untuk kondisi ibu namun juga baik untuk janin dalam kandungannya"
"Setelah ini saya akan meresepkan obat untuk mengurangi mual dan muntah nya, serta beberapa vitamin yang baik untuk kandungannya"
"Bagaimana pak, ada yang perlu di tanyakan?"
"Oh. em. tidak dok, terima kasih"
Dengan langkah gontai Bian melangkah keluar meninggalkan ruang dokter tersebut, tidak hanya bukan tidak bahagia, namun Bian juga merasa iba pada kondisi Ranti saat ini.
Harapanya untuk membuat Ranti meninggalkan Abi dan menikah dengan Ranti nyatanya telah benar-benar kandas setelah mendengar kabar kehamilan Ranti.
Berada di depan tirai IGD rumah sakit, Bian tidak langsung masuk dan menemui Ranti, dia berhenti sejenak dan menetralkan perasaan hatinya yang begitu berkecamuk.
Mendengar panggilan Ranti, Bian pun tersenyum dan menatap wajah sayu Ranti, dari jarak dekat Bian dapat melihat betapa Ranti tengah begitu tertekan, guratan wajah lelah jelas terlihat di wajahnya.
"Apa kau sudah lebih baik ?"
"Syukurlah mas, Ranti sudah lebih baik, kapan Ranti boleh pulang ?"
Bian pun mengulas senyum dan mengusap lembut puncak kepala Ranti.
"Istirahatlah, aku akan menebus resep dari dokter, setelah itu kita bisa pulang"
Ucap Bian dengan berbalik meninggalkan Ranti yang masih terbaring di bad IGD.
"Mas !"
Panggilan Ranti seketika menghentikan langkah Bian yang baru saja akan menyibak Tirai di depannya.
"Bagaimana kata dokter mas ?, Ranti sakit apa mas Bian ?"
Deg.
Jujur Bian belum ingin membahas perihal kehamilan Ranti, hal ini cukup menyakitkan baginya, namun Bian juga tidak bisa tinggal diam dan mengabaikan Ranti begitu saja.
__ADS_1
"Kau benar benar ingin mengetahuinya ?"
Ranti pun menganggukkan kepala, berharap Bian mengatakan hal baik dan tidak terjadi masalah serius dengan kesehatannya.
"Dokter mengatakan jika kau harus cukup istirahat "
Mendengar hal itu Ranti pun mengerutkan keningnya,"Hanya itu ?"
"Tidak"
"Lalu ?"
"Dokter bilang kau harus menjaga kandungannya ?"
"Apa !"
"Ya. Kau saat ini tengah Hamil Ran "
Kristal bening menetes begitu saja dari sudut mata Ranti setelah mendapatkan kabar kehamilan dari Bian. Bukan tidak bahagia, justru Ranti merasa begitu bahagia, namun sepersekian detik rasa bahagia yang Ranti rasakan berubah dengan kesedihan.
Bagaimana dia akan menghadapi semua ini, terlebih status nya yang tidak jelas, Lalu bagaimana jika Dewi mengetahui semuanya, tidak menutup kemungkinan hal buruk akan terjadi, dan bisa jadi esok atau lusa Abi akan menceraikan nya.
"Kau baik-baim saja ran ?"
Dengan menyeka air mata yang terus saja mengalir, Ranti menganggukkan kepalanya.
"Sebaiknya kau segera memberitahukan hal ini pada Abi" Tukas Bian. Mendengar hal itu Ranti hanya terdiam dengan wajah sendu.
"Tunggulah di sini, aku akan segera kembali" ucap Bian dengan berlalu meninggalkan Ranti untuk menebus obat yang sebelumnya telah dokter resep kan.
Nyatanya Ranti saat ini memang tidak sedang dalam situasi baik-baik saja, sepasang mata telah mengintainya dari jarak aman, mendengar semua perbincangan antara Bian dan Ranti sebelumnya, seringai licik pun terlihat dari sudut bibirnya.
Beberapa saat menunggu akhirnya Bian telah kembali dengan membawa satu kantong berisi obat dan vitamin untuk Ranti.
Membantu Ranti untuk bangkit, dan memapahnya menuju parkiran, karena Bian meminta Bi nur untuk pulang lebih dulu, jadi saat ini mereka hanya berdua.
Sepanjang perjalanan terasa sepi, Ranti hanya menatap ke luar jendela dengan pemandangan gelap gulita.
Petang ini seolah mewakili perasaan Ranti yang begitu gelap, entah harus bagaimana dia menghadapi dunia, dengan lembut Ranti mengusap perut datarnya dan berusaha menahan derai air mata yang begitu saja ingin keluar.
Hal.itu tentu tidak luput dari pandang mata Bian yang juga merasa iba melihat kondisi Ranti, dia cukup mengenal Ranti, dan tentunya Bian sangat paham apa yang tengah Ranti pikirkan saat ini.
"Jika bisa aku akan menikahi mu Ran, agar semua masalah hidupmu selesai " gumam Bian dalam hati
***
__ADS_1