
Hari baru.
Seperti hari-hari sebelumnya, Ranti yang mulai menjalani hari-harinya dengan bekerja di kantor Bian. Pagi ini terasa begitu spesial ketika Bian menjemput Ranti secara khusus.
"Aku harap kau tidak akan mengajukan cuti untuk yang ke sekian kali" ucap Bian. Sementara Ranti hanya mengulas senyum kecil di wajahnya.
"Aku tahu, aku juga tidak mau makan gaji buta" jawab Ranti asal. Bian hanya terkekeh mendengar ucapan Ranti.
Hening.
"Mas Bian " panggil Ranti dengan pandangan fokus kedepan.
"Em"
"Mungkin sebaiknya lain kali mas Bian tidak perlu jemput Ranti"
"Kenapa ?"
Terlihat Ranti yang mencoba memejamkan mata, menghirup udara begitu dalam.
"Bagaimana pun Ranti seorang wanita yang terlah berstatus sebagai istri dan Ranti punya suami"
Bian menoleh sekilas pada Ranti.
"Suami?" ulang Bian
"Suami yang juga memiliki istri, Itu maksut mu ?" tanya Bian.
Ranti hanya terdiam mendengar ucapan Bian. Jujur hatinya begitu terasa sakit.
"Ya. Mungkin orang lain pun akan berfikiran sama dengan mas Bian"
"Aku memang menjadi istri dari suami yang telah memiliki istri"
"Sama seperti orang lain yang akan mengira jika Ranti telah merebut mas Abi dari ka Dewi"
"Bukan . Bukan begitu maksudku Ran" kilah Bian yang menyadari perubahan wajah dari Ranti.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud --"
"Tidak apa mas Bian, Ranti tahu itu" jawab Ranti memotong ucapan Bian sebelumnya.
Jujur saat ini mungkin Ranti hanya ingin sendiri, mencoba untuk menyembuhkan luka hatinya. Tanpa memikirkan rumah tangganya yang entah seperti apa kedepannya.
Menempuh perjalanan beberapa saat akhirnya Bian dan Ranti telah tiba di kantor.
Bian bergegas keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Ranti, namun gerakannya kalah cepat dengan Ranti yang lebih dulu membuka pintu mobil.
"Terima kasih mas, lain kali tidak perlu" ucap Ranti dengan mengulas senyum.
Saat di kantor Ranti memilih untuk tetap menjaga jarak dengan Bian, meski Ranti tahu Bian menyukainya, namun Ranti cukup sadar diri dengan statusnya.
"Ranti" sapa salah seorang teman di kantor
"Eh Des, Hai " jawab Ranti dengan ramah.
"Eh kok Lo tumben pucat amat Ran, Habis liburan juga masih aja pucat" goda Desi.
__ADS_1
"Masa sih, Ya mungkin lipstik nya kurang banyak" ucap Ranti Asal.
Keduanya terkekeh bersama, dengan langkah menuju ruang kerja masing-masih.
"Oke nanti kita makan siang bareng ya Ran" ucap Desi dengan penuh semangat.
"Siap "
Keduanya berpisah setelah keluar dari lift dan menuju ruang masing-masing.
***
Ranti mulai disibukkan dengan segudang pekerjaan yang memang sempat terbengkalai selama dia tinggalkan, namun bersyukur Ranti punya partner kerja yang sangat baik, dan tidak begitu mempermasalahkan atas cuti yang diambil oleh Ranti.
Ranti banyak mendapat bantuan dari teman-temanya, sehingga dia tidak harus lembur untuk menyelesaikan sisa pekerjaannya.
Waktu menunjukan pukul 16.45
Waktu jam pulang kantor kelah lewat beberapa menit yang lalu, namun Ranti masih betah berada di kantor. Entah mengapa Ranti merasa enggan untuk kembali ke rumah cepat cepat.
"Ranti" Sapa Bian yang tiba tiba datang
"Mas Bian, udah lama disini ?"
Bian hanya tersenyum simpul "Kamu ngapain ngelamun sore-sore gini, pamali"
Ranti hanya terkekeh kecil mendengar ucapan Bian yang sudah seperti ibu-ibuk komplek.
"Nggak ngelamun Mas , Cuma bengong " ucap Ranti. Keduanya tertawa bersama.
"Ehh mas , mau apa"
"Pulang lah !" jawab Bian santai.
Mau tidak mau akhirnya Ranti hanya menurut saja pada Bian yang selalu memaksa dirinya.
***
Ranti dan Bian kini berada dalam satu mobil, setelah sebelumnya Bian memaksa Ranti untuk makan malam sebelum pulang Kerumah.
Alhasil keduanya pulang cukup larut karena Bian selalu menunda kepulangannya, meski Ranti selalu memaksa untuk segera pulang.
Sepanjang perjalanan Bian yang selalu mendominasi obrolan diantara keduanya, sementara Ranti hanya menjawab seperlunya saja.
"Ranti "
"Em"
"Apa kau akan selalu seperti ini, maksudnya apa kau akan selalu menyembunyikan statusmu dari Dewi "
Mendengar ucapan Bian Ranti hanya dapat tersenyum getir dengan menatap sekilas wajah sosok yang tengah duduk di sampingnya.
"Entah lah ka, Ranti belum bisa berfikir untuk saat ini"
"Setidaknya diam untuk waktu ini mungkin pilihan terbaik" ucap Ranti dengan menghembuskan nafas kasar.
Bian hanya diam dan seolah tidak memiliki pendapat atas pernyataan Ranti.
__ADS_1
"Aku tahu, Kau pasti butuh untuk menenangkan diri" ucap Bian . Ranti hanya menjawab dengan menganggukkan kepala.
Beberapa saat menempuh perjalanan akhirnya keduanya telah sampai di rumah Ranti. Karena waktu sudah cukup malam Ranti tidak mempersilahkan Bian untuk masuk, meski semat Bian memaksa untuk mampir.
"Hati-hati di jalan mas, terima kasih atas tumpangannya" ucap Ranti dengan mengulas senyum ramah.
"Tidak masalah, dengan senang hati" jawab Bian tulus.
Setelah berpamitan dengan Ranti, mobil Bian pun beranjak meninggalkan kediaman Ranti, menyisakan Ranti yang masih berdiri di depan pagar rumah.
Ranti berjalan dengan langkah gontai memasuki halaman rumahnya, kebetulan kedua asisten rumah tangganya tengah mengajukan cuti, sehingga hanya ada satu lampu yang menyala di teras rumah tersebut.
Cahaya temaram membuat Ranti tidak begitu jelas melihat sekeliling. Ranti memilih segera masuk kedalam rumah, dan segera mengistirahatkan tubuhnya yang terasa begitu lelah seharian ini.
Ceklek.
Tidak ada asisten rumah tangga, sehingga Ranti harus melakukan semuanya sendiri.
"Baru beberapa hari tidak bersama ku, kau sudah bersama laki-laki lain"
Sebuah suara yang seketika mengagetkan Ranti. Dalam temaram lampu ruang tamu, Ranti dapat melihat dengan jelas sosok Abi tengah duduk di sana dengan memandang dirinya.
"Mas Abi"
Abi hanya bergeming dengan mengulas sebuah senyum tipis di bibirnya.
"Mas Abi kenapa disini ?" tanya Ranti
"Apa hanya laki-laki itu yang boleh kesini ?"
"Aku suami mu Ranti !"
"Apa aku butuh alasan untuk menemui istri ku ?" ucap Abi dengan begitu tegas, sorot mata Abi yang sudah mulai berubah, tidak seperti Abi yang biasa Ranti lihat sebelumnya.
"Mas , ini tidak seperti yang mas Abi pikirkan "
"Mas Bian hanya mengantar ku saja, dan sebelumnya aku juga sudah menolaknya"
Ucap Ranti memberi penjelasan pada Abi yang terlihat terbakar api cemburu.
"Apa aku harus mempercayai Ucapanmu ?" ucap Abi ketus
Mendengar hal itu , Sungguh Hati Ranti begitu sakit seolah sembilan telah menusuk hatinya yang paling dalam. Seketika sudut mata Ranti mulai menghangat.
"Tidak harus mas, Percaya atau tidak itu urusan mas Abi"
"Karena Ranti sadar diri jika Ranti hanya seorang ISTRI PENGGANTI"
Ucap Ranti dengan suara bergetar, menahan perih di dada yang begitu menyesakan dada.
"Sudah lah, sebaiknya mas Abi pulang, Ranti yakin Ka Dewi pasti sedang mencari mas Abi" pinta Ranti dengan berlalu dari hadapan Abi.
Sungguh Ranti tidak ingin terlibat perdebatan dengan Abi, yang nantinya justru akan semakin memperkeruh keadaan.
Sementara Abi hanya menatap nanar, punggung Ranti yang menghilang di balik pintu kamar.
***
__ADS_1