
Ketiganya masih saling pandang dengan rasa penasaran masing-masing. Abi yang begitu tidak menyukai dengan kedatangan Bian.
Hanya Ranti yang terlihat begitu ramah menyambut kedatangan tamu ya tersebut.
"Hai Bi , Kapan datang ?"
Sebuah kalimat yang baru saja terdengar di telinga ketiga orang tersebut.
Ya Benar saja, Nyatanya Dewi telah berada diantara mereka berdiri tepat di samping Bian , dan menyapa sahabat semasa kecilnya tersebut.
"Dewi, Aku bahagia kau telah kembali" ucap Bian pura-pura tidak tahu.
Dewi pun tersenyum simpul dengan ucapan sang sahabat.
"Aku Juga sangat bahagia Bian"
"Sepertinya Ranti masak banyak, bagaiman jika kita sarapan bersama ?" tawar Dewi pada Bian
"Tentu saja. Itu tujuanku kemari !" ucap Bian tanpa basa basi.
Setelah itu pun Dewi dan Bian mengisi bangku kosong di samping Ranti dan Abi.
Mereka begitu bersemangat untuk sarapan pagi, terlebih Bian dan Dewi yang begitu merasa sangat kelaparan, Sementara Ranti terlihat hanya mengaduk aduk makanan yang ada di piringnya saja.
Seolah dirinya begitu tidak berselera untuk makan pagi ini, terlebih setelah di hadapkan dengan banyak tamunya yang terasa begitu menjengkelkan.
Entahlah sampai kapan Ranti bisa bertahan dalam situasi seperti ini, jujur Ranti merasa hatinya sudah begitu kebas dengan semua peristiwa yang ada.
"Sekarang lagi muslim Pelakor ya !"
Deg.
Seketika tatapan Ranti tertuju pada sang kakak yang tengah fokus menikmati sarapan nya. Ucapan Dewi yang baru saja dia dengar cukup melukai hati Ranti.
Begitu juga Abi yang juga langsung menghentikan sarapan nya, setelah mendengar ucapan Dewi.
"Apa maksud mu Dewi !" ketus Abi yang tidak suka Dewi mengatakan sesuatu yang tidak pantas.
"Oh, nggak sayang tadi aku lihat berita di infotainment, banyak tuh artis dan model yang pada selingkuh suaminya, gara-gara tergoda sama pelakor " ucap Dewi dengan begitu santainya.
Sudut mata Ranti pun mulai menghangat , mendengar ucapan sang kakak yang seolah menguliti dirinya. Bukan salah Ranti, namun situasi seperti ini cukup mengintimidasi Ranti dan tentunya seolah dirinya berada di posisi salah.
Sementara itu Bian hanya tetap diam dan mengamati interaksi antara ketiga orang di hadapannya, terlihat pula Ranti yang mulai menitihkan air mata.
Abi yang juga menyadari kesedihan Ranti pun hanya bisa diam dan menyaksikan bagaimana lelehan airmata berusaha Ranti tahan agar tetap di pelupuk mata.
__ADS_1
Sungguh Abi pun merasa bersalah dan teramat berdosa pada Ranti.
Hening.
"Ran, Em , Sepertinya jambu belakang rumah berbuah ya, Yuk kita petik !"
Seketika Bian membuka suara, menyadari situasi semakin menyulitkan Ranti.
"Ohh em iya mas, yuk Ranti juga lagi pingin makan jambu " ucap Ranti.
"Em ya udah ka Dewi dan Ka Abi lanjutin aja sarapannya, Ranti sama mas Bian mau kebelakang dulu ya " ucap Ranti dengan beranjak dari duduknya.
"Kalian bisa menyusul setelah selesai sarapan" timpal Bian dengan menyusul Ranti yang telah berjalan beberapa langkah meninggalkannya.
Baik Dewi maupun Abi hanya terdiam, menyaksikan kepergian dua orang yang sebelumnya duduk bersama untuk sarapan telah pergi begitu saja.
Air mata seketika tumpah, seiring langkah kaki Ranti yang semakin menjauh dari tempat Dewi dan Abi berada saat ini.
Sakit, tentu saja , begitu terasa sakit bagi Ranti yang mungkin tidak begitu beruntung berada dalam situasi seperti ini.
Bian pun meraih bahu Ranti dan menenggelamkan wajah Ranti dalam dadanya, Ranti yang merasa begitu sedih hanya dapat pasrah di perlakukan baik oleh orang yang telah dia anggap sebagai kakak.
Dari kejauhan tampak Abi yang begitu geram dan mengepalkan tangan, mendapati Ranti yang berada dalam pelukan Bian, Jujur kesedihan Abi mungkin tidak hanya karena rasa cemburu, namun juga karena dirinya tidak dapat menjadi penghibur bagi Ranti yang tengah lara. Abi kini hanya sebagai penonton.
Mendengar penuturan Bian, Ranti hanya dapat mengangkat kepala.
"Terima kasih mas "
"Bukankah kau mau jambu ?, Aku akan mengambilkan nya untukmu "
Ranti pun menganggukkan kepala, seketika mood nya menjadi baik setelah Bian menawarkan diri untuk mengambilkan buah jambu.
Merah dan terlihat sangat ranum Jambu-jambu di taman belakan rumah Ranti.
Bian yang tengah memanjat pun begitu semangat melempar buah buah yang telah berhasil dia petik, sementara Ranti juga dengan sigap menangkapnya dari bawah.
Keduanya begitu larut dalam keceriaan, bahkan sesekali,m terlihat Bian mulai usil pada Ranti, dengan melempari kepala Ranti menggunakan jambu-jambu kecil.
***
Di tempat yang sama dan waktu yang sama
Dewi dan Abi masih sibuk menghabiskan sarapan mereka, jujur Abi tidak begitu berselera, meski itu merupakan masakan Ranti yang selalu menjadi kegemarannya.
Abi tidak pernah bisa menolak masakan Ranti, namun kali ini terasa begitu berbeda, bukan salah masukannya, namun Abi yang harus di hadapkan dengan Dewi dan Ranti di waktu bersamaan.
__ADS_1
Tatapan Dewi seketika terarah pada Abi, mengikuti sorot mata Abi yang menatap lekat Ranti sang adik, Dewi begitu tidak menyukai tatapan tersebut.
"Mas !"
"Eh em, ya ?" gugup Abi.
"Kok makanya nggak di makan sih, makan dong " ucap Dewi dengan menyentuh tangan sang suami.
"Oh aku sudah kenyang " ucap Abi dengan suara datar.
"Ohya apa kau sudah selesai dengan sarapan mu ?, Bagaimana jika kita menyusul Ranti dan Bian disana, sepertinya menyenangkan" ucap Abi dengan wajah berbinar.
Dewi merasa jika Abi begitu tidak memperdulikan dirinya saat ini.
"Auchhh" pekik Dewi dengan menyentuh perutnya, seolah dia tengah merasa kan sakit.
"Dewi , kamu kenapa ?"
Abi pun merasa panik dengan sang istri yang mendadak sakit.
"Nggak tau mas tiba-tiba perutku sakit, temenin Dewi ke kamar yuk mas" pinta Dewi dengan penuh permohonan .
Meski dengan berat hati, Abi pun menyetujui permintaan Dewi, Abi memapah tubuh Dewi dan berjalan menuju kamar.
Pemandangan tersebut tidak lah luput dari sorot mata Ranti yang juga menyaksikan dari kejauhan, terlihat bagaiman Abi begitu menyayangi Dewi.
"Hoeeek Hoeek "
seketika tubuh Ranti bereaksi dan mendadak Ranti juga merasakan mual yang luar biasa.
Bian yang melihat dari atas pohon seketika menjadi panik , dan segera turun untuk membantu Ranti.
"Ran !, Ranti ! Kamu kenapa ?"
Tubuh Ranti yang begitu lemas hingga dia tertunduk diatas lantai teras belakang, Ranti merasakan tubuhnya kini begitu ringkih.
"Ran kamu pucat banget, kita ke rumah sakit yuk" ajak Bian dengan begitu khawatir
"Nggak mas " tolak Ranti.
"Ranti cuma lagi banyak pikiran aja mas, Mas Bian tenang aja Ranti gak papa kok"
Meski khawatir, namun Bian terpaksa menuruti mau nya Ranti, Karena Bian jelas paham bagaimana sifat keras kepala Ranti itu.
***
__ADS_1