ASMARANTI ( Istri Pengganti )

ASMARANTI ( Istri Pengganti )
9. Membuat Orang Lain Bahagia


__ADS_3

...Kadang-kadang kita terlalu berusaha untuk Tidak Menyakiti Hati orang lain, Tapi kita tidak sadar telah menyakiti hati kita sendiri...


...🍁...


"Ada apa ? , Apa aku terlihat aneh mengenakan baju ini ?" Ucap Ranti , ketika mengetahui ekspresi yang di tunjukan Abi.


Menyadari Abi hanya terdiam, tidak sedikitpun merespon ucapannya, Ranti merasa mungkin saja ada yang aneh, Ranti segera beranjak untuk kembali ke dalam kamar "Baiklah aku akan mengganti pakaianku " Ucap Ranti kemudian


"Tidak !, Tidak perlu, kau cantik --" Ucap Abi dengan mengatupkan kedua bibirnya.


"Maksudku baju itu sangat cocok" Ucap Abi kemudian , meralat ucapan sebelumnya.


"Ohh.. " Ucap Ranti singkat


Setelah keduanya siap, Ranti dan Abi bergegas menuju rumah sakit yang berjarak tidak begitu jauh, namun butuh waktu kurang lebih tiga puluh menit untuk sampai di rumah sakit.


Beberapa saat menempuh perjalanan akhirnya keduanya tiba di sebuah parkiran rumah sakit internasional, dimana Dewi dirawat disana.


Keduanya berjalan beriringan menuju ruang perawatan Dewi.


Terlihat Ranti yang berdiri memaku di luar kaca ruang perawatan Dewi sang kakak, di sampingnya berdiri pula sosok Abimana sang suami.


Ranti hanya dapat memandangi sang kakak dari jarak yang lumayan jauh, menatap nanar pada sang kakak yang sudah tertidur dalam waktu yang cukup lama.


Ranti merupakan sosok adik yang sangat menyayangi kakaknya, tak heran jika dirinya akan melakukan apapun demi kebahagian sang kakak, seperti menikah dengan orang yang tidak dia cintai demi pengobatan Dewi, contohnya.


Tanya di sadari Ranti bulir bening lolos begitu saja dari sudut matanya.


"Kak Segera lah sembuh , Ranti sangat ingin Kakak seperti dulu lagi" Ucap Ranti sangat lirih, lirih sekali , namun suara Ranti masih jelas terdengar oleh Abi yang ada di sampingnya


Sebuah sapu tangan Abi sodorkan pada Ranti untuk menyeka Air mata yang membasahi pipi Ranti.


"Aku sudah selesai" ucap Ranti dengan suara lirih


Abi menengok ke arah Ranti yang menundukkan kepala, berusaha menutupi kesedihan yang dia rasakan.


"Baiklah" jawab Abi singkat.


"Kalau mas Abi masih mau di sini tidak masalah, Ranti akan pulang sendiri" Sergah Ranti kemudian.


"Aku akan mengantarkan mu " Ucap Abi dengan suara datar


Sejujurnya melihat Ranti menangis Abi merasa iba, ada dorongan dalam diri Abi untuk menenangkan istri kedua nya tersebut, namun dia urung untuk melakukan, karena tidak ingin semakin membuat Ranti terluka.


Sepanjang perjalanan pulang keduanya hanya terdiam dan Ranti hanya membuang pandanganya ke jendela kaca mobil.


"Mas kita berhenti di supermarket sebentar ya" Ucap Ranti memecah kesunyian diantara mereka

__ADS_1


"Baiklah" Jawab Abi dengan mengulas sebuah senyuman.


"Oya jam berapa Lusa kau akan berangkat" tanya Abi di sela-sela obrolan keduanya.


"Ranti belum cek jadwal kereta, tapi sepertinya sore Ranti baru akan berangkat" Jawab Ranti memberi penjelasan.


Beberapa saat perjalanan akhirnya keduanya telah sampai di sebuah pusat perbelanjaan.


Ranti segera meraih sebuah troli besar, Melihat hal itu Abi segera mengambil alih troli dari tangan Ranti "Tidak masalah mas Aku bisa" ucap Ranti dengan tidak sengaja menatap Abi.


"Aku tahu, tapi aku ingin membantu" Jawab Abi singkat.


"Okey , baiklah kita ke sebelah sana " Ucap Ranti dengan menunjuk sebuah lokal yang berisi daging dan ikan segar


Ranti membeli beberapa daging sapi, telur , dan banyak bumbu-bumbu dapur.


Membeli beberapa susu dan juga Snack sehat, Ranti banyak memberi peralatan rumah tangga, peralatan dapur dan barang-barang lainya, Lumayan banyak belanjaan yang dia beli.


Abi sedikit merasa heran dengan Begitu banyaknya belanjaan yang di beli oleh Ranti "Sebanyak ini untuk apa ?" tanya Abi kemudian dengan rasa penasaran


Ranti hanya terdiam dan mengulas sebuah senyuman manis.


"Kau akan tahu besok" jawab Ranti masih dengan senyum manis menghiasi wajahnya


Abi hanya menggelengkan kepala


Setelah selesai berbelanja keduanya segera kembali ke apartemen dengan segala macam barang bawaan.


Semua belanjaan telah berpindah kedalam apartemen "Letakkan di sebelah sana saja mas" Ucap Ranti dengan menunjuk sisi dapur, masih dengan membawa beberapa belanjaan.


Abi hanya mengangguk dan menuruti instruksi dari Ranti.


Setelah memasukan Barang begitu saja Ranti bergegas menuju kamar untuk mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai. Abi pun segera masuk ke dalam ruang kerja nya yang berada di sebelah kamarnya, untuk kembali menyibukkan diri dengan segala pekerjaannya.


Terdengar suara berisik dari luar ruang kerja Abi, sejenak Abi tampak sedang menajamkan pendengarannya, untuk memastikan.


"Ranti sedang apa kau !" Ucap Abi ketika mengetahui Ranti tengah sibuk di dapur.


"Hey Mas ! , Maaf ! Apa aku mengganggu mu" Tanya Ranti kemudian


"Tidak, Hanya saja sedang apa kau malam-malam di dapur?" Tanya Abi lagi


Ranti hanya bergeming dan kembali menyibukkan diri bersama beberapa bahan makanan yang telah dia siapkan.


"Kau masak malam-malam begini, Banyak sekali siapa yang akan makan?" Ucap Abi ketika sudah berjarak dekat dengan Ranti.


"Mas, Selama aku tidak di sini jaga kesehatanmu baik-baik, Jangan terlalu sering memesan makanan siap saji" Ucap Ranti

__ADS_1


"Ini Ranti buat beberapa makanan yang bisa di simpan dalam freezer, dan mas Abi tinggal menghangatkan saja sebelum makan"


"Ingat Mas Abi itu harapan Mama Sinta dan juga Kak Dewi , jadi harus selalu sehat" ucap Ranti kemudian.


Abi tampak tertegun dengan sikap baik Ranti , sejenak pandanganya menatap intens Ranti yang tengah sibuk dengan masakannya.


Ranti tahu, sudah menjadi kebiasaan bagi Abi makan makanan yang tidak sehat, beberapa hari bersama membuat Ranti banyak belajar tentang kebiasaan sang suami yang tidak baik, Sehingga Ranti berniat untuk membuat beberapa olahan makanan yang akan mudah Abi hangatkan sebelum makan, jadi Abi tidak perlu lagi memesan makanan siap saji.


"Kenapa bengong" Ucap Ranti ketika mendapati Abi hanya diam memaku memandang dirinya yang sedang mengenakan celemek


"Perhatian sekali dia" gumam Abi dalam hati.


Abi semakin merasa bersalah terhadap Ranti , dirinya yang belum bisa membuat Ranti menjadi seorang istri seutuhnya. Sementara Ranti selalu memperlakukan ya dengan begitu baik.


"Ohya ada yang mas Abi butuhkan?" Ucap Ranti lagi


"Atau mau Ranti buatkan kopi " Tukas Ranti kemudian.


"Emm boleh juga, sepertinya kopi akan membuatku lebih semangat lembur malam ini" Ucap Abi


Setelah mendapatkan persetujuan dari Abi Ranti segera membuat secangkir kopi panas untuk Abi.


"Mas tunggu saja di ruang kerja, Ranti akan mengantar setelah jadi" Ucap Ranti


"Biar aku tunggu saja" jawab Abi kemudian


"Tapi ini sedikit lama lho.. Ranti rebus airnya dulu " Ucap Ranti dengan tatapan mengarah pada Abi.


"Kenapa haru s di rebus, bukankah ada dispenser panas, kau tinggal ambil dari sana" Jawab Abi


Ranti hanya tersenyum dan seketika menggelengkan kepalanya


"Apa ada yang lucu ?" Tanya Abi dengan penasaran


"Bukan mas, hanya saja kopi akan terasa lebih nikmat jika menggunakan air rebusan yang mendidih dan langsung dari panci panas" Tutur Ranti dengan suara lembut


Abi hanya menjawab dengan anggukan kepala, dan senyum nyengir


Sungguh Ranti sangat memperhatikan Abi dengan baik, kembali Abi mengingat di masa lalu, bukan bermaksud membedakan, hanya saja seperti kebiasaan memesan makanan siap saji merupakan sebuah kebiasaan bersama Dewi dulu, karena memang keterbatasan keterampilan Dewi untuk memasak dan membuat makanan.


Bahkan selama menikah dengan Dewi, mungkin dapur ini bisa di bilang jarang di gunakan, dan hanya di gunakan untuk membuat mie instan saja.


***


Bersambung


***

__ADS_1


__ADS_2