
Dengan perasaan kalut , Abi mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat, Mencari sebuah rumah sakit, namun nahasnya di tempat tersebut tidak ada rumah sakit, hanya ada sebuah klinik kecil yang terlihat begitu ramai. Namun tidak masalah bagi Abi, selama bisa memberi bantuan pada Ranti.
Tepat berada di depan klinik, Abi segera untuk membopong Ranti masuk kedalam klinik. Belum sempat Abi membopong Ranti, beberapa perawat yang menyadari kepanikan Abi, telah siap dengan sebuah brankar.
"Tolong istri saya sus" Ucap Abi dengan panik. Dan perawat tersebut menjawab dengan anggukan kepala seraya tersenyum ramah pada Abi.
Berada dalam ruang IGD, Ranti segera mendapatkan penanganan, sementara perawat lainya melakukan anamnesa pada Abi, memastikan sebab kejadian Ranti pingsan. Dan Abi pun menceritakan semua kejadian, mulai dari Ranti yang terkena hantaman sebuah pukulan di bagian perut, hingga dirinya seketika pingsan.
Setelah mendengarkan penuturan dari abi, beberapa perawat segera melakukan tindakan pemeriksaan bagian dalam yang dilakukan dengan foto Rontgen.
Setelah beberapa tindakan di lakukan, akhirnya Ranti dibawa menuju ruang perawatan, agar lebih nyaman dan tidak berbaur dengan pasien baru lainya.
Berada di ruang perawatan, Abi merasa sangat bersalah mengingat kembali, sebab Ranti terluka juga kerja dirinya. Membayangkan, andai saja dirinya tidak memulai perkelahian dengan Bian sudah pasti hal ini tidak akan terjadi pada Ranti.
Beberapa saat menunggu, akhirnya Ranti mengerjabkan mata, meneliti ke setiap sisi ruangan, diman hanya ada dinding putih dengan desain yang sederhana.
"Ranti ?" Panggil Abi lirih , dengan usapan lembut pada puncak kepala.
"Kita dimana mas ?" ucap Ranti dengan suara lemah
"Kamu di Klinik, tadi pingsan" ucap Abi menjelaskan
Ranti terlihat mengerutkan dahi dan mengingat kembali kejadian yang di alami sebelum, dimana dirinya pingsan, karena mengalami sebuah pukulan yang begitu keras hingga dirinya tak sadarkan diri.
Beberapa kali Ranti memijat pelipisnya yang terasa masih sedikit pusing "Apa masih sangat sakit?" Tanya Abi kemudian.
"Sedikit" Jawab Ranti singkat
"Maafkan aku Ran !, Semua ini salahku " Ucap Abi dengan menundukkan wajah.
"Tidak perlu meminta maaf, Mas Abi tidak salah" ucap Ranti dengan suara datar. Dan Abi hanya dapat menggelengkan kepala.
Sejenak suasana menjadi hening, hanya suara jarum jam dinding yang terasa nyaring di telinga.
Brak
"Ranti !" Panggilan yang terasa memekakkan telinga.
Ya. Bian yang datang dengan tergesa, dan membentur pintu kamar dengan begitu keras.
"Mas Bian !" Ucap Ranti lirih
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu ?" Tanya Bian memastikan
Posisi ketiganya kini berada di sisi samping kanan dan kiri tempat tidur yang di gunakan Ranti untuk berbaring, hingga terlihat jelas oleh Abi , dimana Bian sangat mengkhawatirkan istrinya.
Ada rasa tidak suka yang seketika muncul dalam diri Abi, namun dia abai, dan memilih untuk tidak menanggapi, karena saat ini prioritasnya hanyalah untuk kesembuhan Ranti.
Melihat raut wajah cemas yang tergambar jelas pada wajah Bian seketika Ranti berkata "Ranti baik-baik saja mas" Ucap Ranti kemudian.
"Maafkan aku, aku terlalu terbawa suasana " Ucap Bian dengan tatapan penuh sesal pada Ranti. dan Ranti hanya membalas dengan anggukan kepala.
"Permisi ?" Ucap seseorang yang baru masuk ke dalam ruangan perawatan ranti.
Seorang laki-laki yang mengenakan jas putih khas dokter rumah sakit dengan sebuah pin bertuliskan dr. Arman.
"Keluarga Pasian ?" Ucap dokter Arman dengan menatap Abi kemudian berganti pada Bian
"Saya dok !" ucap Abi dan Bian bersamaan.
Dokter Arman tampak memicingkan mata, dengan tatapan bingung
"Saya Suaminya dok !, Suami dari Asmaranti Sukma Kinasih !" ucap Abi dengan suara menekan, dan sorot mata tegas pada Bian.
"Oh, baiklah.. Jadi begini pak, Untuk kondisi Bu Ranti sendiri tidak ada masalah, berdasarkan hasil Rontgen tidak ada cedera serius, namun kemungkinan bekas pukulan sebelumnya akan timbul lebam dan menghitam setelah dua atau tiga hari" Ucap dokter
"Baik dok, terima kasih banyak !" Ucap Abi
"Sama-sama pak, Baiklah saya permisi dulu, setelah ini akan ada perawat yang akan melepas selang infus Bu Ranti" Ucap dokter Arman dan setelahnya berlalu dari hadapan ketiganya.
Setelah kepergian dokter Arman, suasana ruangan terasa begitu canggung, sejenak terasa hening, tanpa adanya obrolan dari ketiganya.
"Kau sudah dengar bukan apa kata dokter, jika Ranti baik-baik saja ?" Ucap Abi ketus dengan tatapan tajam pada Bian
"Kau mengusirku ?" Jawab Bian dengan wajah tak kalah sengit.
"Syukurlah kalau kau sadar diri " ucap abi dengan wajah sinis.
"Mas Abi " sergah Ranti kemudian, merasa tidak enak hati dengan Bian.
Melihat Ranti yang merasa tidak nyaman, Bian pun merasa kasihan "Tidak masalah ran, Suamimu sedang pubertas, jadi emosinya masih labil" Ucap Bian kemudian
Dan Abi semakin dibakar emosi dengan kata-kata yang baru saja dia dengar "Pubertas ! Cih." Gumam Abi dalam hati
__ADS_1
"Aku harap kau segera pulih Ran, aku menunggumu di kantor" Ucap Bian dengan senyuman manis menghiasi wajahnya, seraya memberikan usapan lembut pada puncak kepala Ranti. Dan Ranti hanya membalas dengan senyuman.
***
Setelah beberapa perawat selesai dengan tugasnya, melepaskan selang oxigen dan selang infus yang terpasang pada tubuh Ranti, kemudian Bian membantu Ranti untuk duduk di tepi tempat tidur.
"Kau baik-baik saja ?" Tanya Abi dengan perasaan cemas
Ranti menjawab dengan anggukan kepala.
Setelah dirasa kondisi Ranti yang semakin baik, Abi bergegas mendorong Kursi roda yang sebelumnya di siapkan oleh perawat untuk membawa Ranti keluar dari kamar menuju mobil.
Memastikan kembali posisi duduk Ranti agar lebih nyaman, dan memasangkan Seatbelt untuk Ranti. kemudian Abi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Masih di area puncak, terlihat sepanjang perjalanan, hanya terlihat hamparan luas perkebunan teh.Ranti hanya melihat pada bagian luar mobil menghadap sisi kaca mobil mewah Abi.
Melihat Ranti yang hanya terdiam membuat Abi merasa semakin tidak enak hati, dengan sesekali melirik Ranti melalui sudut matanya.
"Ran ?" Ucap Abi
"Em" Jawab Ranti singkat.
"Maafkan aku " ucap Abi kemudian
"Kau sudah mengatakannya dua kali mas dalam satu jam terakhir" Ucap Ranti dengan suara datar
"Mas Abi tidak perlu meminta maaf" Tukas Ranti kemudian
Dan Abi hanya dapat terdiam, dengan pandangan fokus kedepan.
Beberapa saat mobil melaju, Ranti sedikit di buat bingung, bukan pemandangan pedesaan yang kemudian dia lihat, namun justru terasa semakin luas hamparan kebun teh dalam pandangan Ranti.
"Mas kita kemana ?" Tanya Ranti kemudian, dengan tatapan heran. Dan Abi hanya tersenyum manis.
"Sebentar lagi kita samai" Ucap Abi dengan tetap mengulas senyuman manis di wajah nya.
"Sampai ?, Kemana mas Abi mau membawaku" gumam Ranti dalam hati
***
Bersambung
__ADS_1
***