ASMARANTI ( Istri Pengganti )

ASMARANTI ( Istri Pengganti )
19. Mencari informasi


__ADS_3

...Ada waktu untuk berharap, ada waktu untuk berhenti , Ada masa untuk memperjuangkan namun ada juga masa untuk mengikhlaskan...


...🍁...


Ranti dan Abi duduk di pinggiran trotoar dengan menikmati jagung bakar masing-masing , sembari menunggu pesanan jagung bakar lainya siap.


Mengunyah jagung bakar, dengan sesekali menyesap Bandrek hangat (sejenis minuman tradisional, yang di buat dengan cara merebus beberapa bahan herbal alam), seketika membuat tubuh Ranti dan Abi terasa lebih segar.


"Apa kau menyukainya ?" Tanya Abi.


"Tentu saja mas !" Jawab Ranti dengan wajah cerah ceria.


Mendengar jawaban Ranti membuat Abi merasa bahagia. Setidaknya dengan membuat Ranti bahagia, akan sedikit menebus rasa bersalahnya yang telah berkata kasar terhadap Ranti sebelumnya.


Selama menikah dengan Ranti , Sedikit banyak, Abi telah belajar beberapa karakter dari Ranti, ada kemiripan dalam diri Ranti dan juga Dewi, namun ada juga perbedaan diantara keduanya.


Dimana Ranti yang memiliki hati lebih sensitif dan lembut, terlihat ketika menghadapi sebuah masalah, Ranti lebih memilih diam sebelum memberikan penjelasan, sementara Dewi memiliki karakter yang lebih keras dan lebih bar-bar.


"Ran, " Tanya Abi dengan mengunyah jagung di mulutnya


"Em" Jawab Ranti singkat


"Ada hubungan apa kau dengan Bian?" Tanya Abi dengan wajah yang sudah tidak bisa menahan rasa penasaran.


Ranti tampak mengerutkan dahinya "Menurut mas Abi ?" Tanya Ranti balik


"Aku nanya Ranti !, Kalau aku tau ngapain nanya kamu !" Jawab Abi dengan kesal


Mendengar jawaban Abi seketika Ranti tertawa lepas, dan Abi hanya mendengus kesal, dengan kembali mengunyah jagung bakar miliknya.


"Kami hanya teman" Ucap Ranti dengan suara datar


"Benarkah ?" Ucap Abi dengan memicingkan mata


"Aku lihat dia menyukaimu, Kelihatan dari cara dia memperlakukanmu" Ucap Abi lagi


Ranti hanya tampak tersenyum manis dengan mulut yang sibuk mengunyah jagung.


"Ya. Bisa di bilang begitu sih" Ucap Ranti Santai


"Eh tapi kalaupun Mas Bian suka sama Ranti, kan itu urusan mas Bian, ngapain Mas Abi ikut campur perasaan orang !" ketus Ranti kemudian.


"Tapi kamu istriku !" Jawab Abi tidak kalah ketus.


Sejenak Ranti terpaku dengan ucapan Abi " Nah itu tahu, Kan kita udah nikah, ngapain di pikirin" Ucap Ranti dengan nada santai.

__ADS_1


Meski merasa kesal dengan jawab Ranti yang terkesan enteng, namun setidaknya Abi tahu jika Bian saja lah yang menyukai Ranti, sementara Ranti hanya bersikap biasa saja.


"Lagian ngapain sih mas Abi nanya-nanya mas Bian segala, Mas Abi kan pernah bilang kalau Ranti boleh melakukan apa pun yang Ranti mau" Ucap Ranti , kembali mengingatkan ucapan Abi beberapa Minggu yang kalau.


Abi tampak berfikir, dengan menarik nafas dalam kemudian menghembuskan perlahan "Ya, aku akui !, Hanya saja kau kan istriku" Ucap Abi posesif


"Lah... kok jadi gini sih mas " Sergah Ranti kesal.


"Mas Abi kok aneh sih, Sebentar gini sebentar gitu " ucap Ranti lagi dengan mengerucutkan bibir.


"Mas !, Jadi orang itu, kalau Iya ya Iya, kalau tidak ya tidak, jangan Iya Iya yang tidak tidak ! " Ketus Ranti dengan suara menggerutu.


Mendengar ucapan Ranti, Abi merasa lucu dan kemudian tertawa lepas. melihat hal itu Ranti hanya menggelengkan kepala melihat Abi yang mentertawakan dirinya.


Semenjak menikah dengan Abi mungkin ini pertama kalinya keduanya berbicara secara akrab dan begitu dekat, hal ini membuat Ranti merasa menjadi istri yang sebenarnya, meski perbincangan diantara keduanya di dominasi pertengkaran konyol yang membuat keduanya tegelak dan setelahnya tertawa.


"Neng jagungnya sudah jadi" Ucap sopan mamang penjual jagung


"Oh iya mang, berapa semuanya " Tanya Ranti kemudian


"Semua jadi 230.000 neng " Ucap mamang penjual jagung


"Tunggu sebentar ya mang" Ucap Ranti


Kemudian Ranti meraih dompet miliknya, namun belum sampai Ranti mengeluarkan isi dalam dompetnya, Abi telah lebih dulu membayar sejumlah uang yang di minta dengan bayaran lebih.


"Tidak papa pak , Anggap saja rejeki buat bapak" Ucap Abi sopan.


"Alhamdulillah, terima kasih den, Berkah barokah, Mamang doakan Semoga segera dapat momongan ya den" Ucap sang penjual jagung dengan wajah berbinar


Mendengar hal itu kembali Ranti dan Abi hanya saling melemparkan pandangan , dengan mengulas sebuah senyum getir.


Meski terasa begitu aneh bagi keduanya, namun jujur dari hati yang paling dalam, baik Abi maupun Ranti tidak menolak dan tidak mengingkari doa baik yang di sampaikan kepada keduanya.


"Amin, terima kasih mang" Jawab Ranti dengan senyum ramah, dan segera meraih tiga kantong besar berisi jagung bakar.


Ranti yang merasa malu, dengan wajah menunduk segera berjalan mendahului Abi.


"Cie yang pengen punya momongan" goda Abi yang berjalan di belakang Ranti


"Mas !" Ucap Ranti dengan mata melotot


Merasa di goda oleh Abi, Ranti semakin mempercepat langkah kakinya.


Abi yang berjalan di belakang Ranti dengan menenteng dua kantong berisi jagung bakar, dan satu kantong lainya di bawa oleh Ranti.

__ADS_1


Abi berusaha mengejar langkah kaki Ranti, namun selalu nya Ranti berusaha untuk mendahului, dan menghindar darinya.


Berjalan beberapa saat berjalan, Ranti yang melihat beberapa kerumunan ibu-ibu pemetik pucuk daun teh, segera berjalan mendekat kearah mereka.


"Lagi istirahat buk ?" Tanya Ranti sopan


"Iya neng, Ngaso dulu " Jawab salah satu diantaranya dengan ramah


"Ohya, ini ada jagung bakar buk" Ucap Ranti dengan menyodorkan dua kantong berisi jagung bakar kepada salah satu ibu tersebut.


"Alhamdulillah, terima kasih neng" Ucap ibu-ibu lainya.


"Udah cantik, baik lagi , jodohnya siapa sih neng " Goda salah seorang ibu lainya.


"Saya buk jodohnya !" ucap Abi ketus


"Udah tau suaminya disini, Ngapain nanya lagi" Gerutu Abi dalam hati.


"Ohh maaf den, saya pikir sendirian si Eneng nya " Ucap ibu pemetik pucuk teh dengan senyum nyengir, dan segera meraih kantong berisi jagung bakar tersebut.


"Saya permisi dulu ya buk" ucap Ranti dengan melangkah pergi.


"Iya neng, terima kasih " Ucap beberapa ibu.


Setelah memberikan jagung bakar pada beberapa ibu pemetik pucuk teh, Ranti kembali berjalan menuju Villa, Villa yang terlihat begitu megah dari jarak yang lumayan jauh.


Keduanya kembali berjalan beriringan setelah dari memberikan jagung bakar pad ibu-ibu pemetik pucuk teh sebelumnya.


"Ranti " panggil Abi dengan suara lirih


"Ya" jawab Ranti dengan menatap sekilas wajah Abi.


"Jika aku meminta mu untuk tidak dekat dengan Bian, apa kau akan keberatan ?" Ucap Abi seketika


Ranti tampak mengerutkan dahi dengan alis yang saling bertaut.


Bukanya menjawab pertanyaan Abi, Ranti justru balik melemparkan pertanyaan " kenapa harus seperti itu ?" Ucap Ranti


"Tidak, hanya saja ---" Ucapan Abi menggantung


"Apa itu yang mas Abi inginkan ?" Ucap Ranti lirih dengan menatap manik hitam Abi.


***


Bersambung

__ADS_1


***


__ADS_2