
Setelah selesai dengan makan malam, Ranti memilih langsung menuju kamar, sementara Abi masih terhubung dengan seseorang melalui sambungan telepon miliknya.
Tidak butuh waktu lama, Ranti pun akhirnya terlelap, pekerjaan hari ini sungguh membuat dirinya kelelahan.
Ceklek.
Dengan langkah hati-hati Abi masuk kedalam kamar. Melihat Ranti tertidur sangat pulas membuat Abi menyunggingkan sebuah senyum di bibirnya.
"Tidurlah Istriku" Ucap Abi dengan mengecup Dahi Ranti.
Merasa sesuatu menyentuhnya, Ranti pun menggeliat, namun dia kembali tidur dengan posisinya semula.
Abi pun bersiap untuk tidur, di samping Ranti , pada sisi tempat tidur yang lain.
***
Hari terlihat masih begitu petang, Ranti terbangun dengan beberapa kali mengerjabkan mata. jam dinding menunjukan 04.45 Ranti bersiap untuk bangun, namun langkahnya terhenti ketika Abi memeluknya dari belakang.
"Mau kemana ?" Tanya Abi dengan mata yang masih terpejam
"Ranti mau bangun mas, sudah pagi" Jawab Ranti.
Karena memang sudah menjadi kebiasaan bagi Ranti , dia akan bangun ketika hari masih gelap, dan melakukan segala sesuatunya di pagi itu, termasuk memasak dan melakukan banyak hal lainya.
"Pagi ?, Masih gelap sayang " Ucap Abi kemudian.
Ranti hanya menggelengkan kepala melihat sikap sang suami, semakin lama semakin manja.
"Ohya, Hari ini apa kegiatan kita ?" tanya Abi masih dengan posisi memejamkan mata.
Ranti tampak mengerutkan dahi, dan berfikir sejenak apa yang akan dia lakukan di hari ini, terlebih hari ini merupakan hari Minggu.
"Sepertinya tidak ada mas" ucap Ranti dengan suara santai.
"Bagaimana kalau Kita pulang Kerumah mama?" tawar Abi pada Ranti.
Ranti kembali berfikir, sejujurnya dari sejak menikah memang dirinya belum sekalipun berkunjung kerumah megah mertuanya itu, padahal jika mengingat kembali ucapannya waktu itu Ranti hanya akan tinggal terpisah untuk beberapa saat saja.
"Hari ini ?" Tanya Ranti lagi
Abi hanya menganggukkan kepala, menjawab pertanyaan Ranti.
Abi merubah posisinya, dengan tidur diatas pangkuan Ranti, menghadapkan wajahnya pada perut ramping Ranti. Meski merasa geli, namun Ranti tetap membiarkan Abi melakukannya.
__ADS_1
"Dua Minggu terahir mama sering menanyakan mu" ucap Abi dengan mendongakkan wajahnya, Ranti pun menundukkan wajahnya. Sejenak tatapan keduanya beradu mesra.
"Kenapa mas Abi tidak Bilang dari kemarin ?" Tanya Ranti kemudian, dengan posisi masih menundukkan wajah.
Abi terlihat menghela nafas panjang "Aku ragu untuk mengatakannya padamu Ran, aku pikir kau akan menolaknya" Ucap Abi kemudian
"Mas aku kan istrimu, mana mungkin aku menolak " Ucap Ranti kesal.
"Kau tidak akan menolak ?" jelas Abi kemudian
"Tentu saja !, " Ucap Ranti dengan menganggukkan kepala.
"Kalau aku minta yang lain?" Ucap Abi dengan senyum seringai.
"Astaga, Libur mas !" Sergah Ranti kemudian.
Jelas Ranti sangat mengetahui apa yang di inginkan Abi saat ini.
"Boleh aku bertanya sesuatu ?" Ucap Abi.
"Em" Jawab Ranti singkat, dengan mendengarkan apa yang akan di ucapkan suaminya.
"Apa kau benar-benar siap jika aku meminta hak ku atas dirimu ?" Ucap Abi serius.
Mendengar pertanyaan dari Abi membuat Ranti Menundukkan wajahnya, Berfikir untuk beberapa saat.
"Atau jika aku mengatakan TIDAK, maka itu berarti aku bukan istri yang baik" Ucap Ranti lirih.
Abi yang menyadari perubahan rona wajah dari Ranti pun segera bangkit dari tidurnya, dan setelahnya mendekap tubuh Ranti dalam pelukannya. Memberikan usapan lembut di puncak kepala Ranti.
"Sungguh mas, Ranti sangat bingung, mungkin Ranti tidak akan pernah mempunyai jawaban atas pertanyaan mas Abi, atau mungkin memang Ranti tidak berhak untuk menjawabnya !" Ucap Ranti dengan suara terisak, semakin menenggelamkan wajahnya di dada sang suami.
Sebagai pasangan, meski terbilang baru, Abi sangat memahami perasaan Ranti saat ini, dilema yang Ranti rasakan, meski dirinya sudah beberapa kali meminta Ranti untuk bersikap biasa, belajar menjadi suami istri sebagaimana mestinya.
Namun nyatanya hal itu sulit bagi Ranti, terlebih untuk melakukan sesuatu yang terasa rumit dan sulit untuk dia lakukan.
"Kita hanya cukup untuk belajar saling memahami satu sama lain Ran" Pinta Abi dengan suara lembut.
"Aku tahu ini sulit, tidak hanya untukmu namun juga untuk diriku"
"Tapi kita perlu mengingat, meski Dewi tertidur, hidup kita harus tetap berjalan Ran" Ucap Abi dengan mendaratkan sebuah kecupan di dahi Ranti.
Ranti pun mendongakkan wajahnya, menatap lekat sosok yang tengah memeluknya dengan erat, menyadari satu lah, jika apa yang di ucapkan Abi adalah sebuah kebenaran yang harus merek jalani dan lalui bersama.
__ADS_1
"Lalu jika suatu hari nanti ka Dewi bangun?" ucap Ranti dengan sorot mata nanar.
"Apa kita masih akan seperti ini ?" tanya Ranti kemudian, meski berat, namun akhirnya sebuah pertanyaan yang selalu mengganjal di hatinya dengan lantang dia utarakan pada Abi.
Abi pun terdiam dengan sejenak berfikir, "Kau dan Dewi sudah menjadi bagian dalam hidupku, dan apa pun yang terjadi hal itu akan tetap sama" ucap Abi meyakinkan.
Ranti kembali Menundukkan wajah, membenamkan ya di dada sang suami.
Berat, namun mau bagaimana lagi ini merupakan sesuatu yang sulit, bahkan untuk sekedar memilih saja rasanya sangat berat.
"Sudah, tidak perlu membayangkan sesuatu yang tidak perlu kita pikirkan saat ini" Ucap Abi mencoba menenangkan Ranti.
Ranti pun menganggukkan kepala pelan, dengan menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya.
"Bersiaplah, kita berangkat pagi ini saja, kita bisa sarapan di jalan" Pinta Abi merubah topik pembicaraan diantara keduanya.
Kembali Ranti menganggukkan kepala, dengan mengurai pelukan Abi, kemudian menyibak selimut tebal yang dia kenakan, dan beranjak dari tempat tidurnya untuk menuju kamar mandi.
"Mau mandi bersama ?" goda Abi dengan senyum seringai
"Mas !" Sergah Ranti dengan mengerucutkan bibir.
Dengan mata yang sedikit sembab akhirnya Ranti pun tersenyum, mendengar ucapan Abi yang berusaha menggoda dirinya.
***
Bukan Ranti namanya jika tidak Memasak pagi itu, rencana semula yang ingin berangkat pagi, nyatanya batal karena Ranti membuat beberapa masakan sebagai oleh-oleh untuk mertuanya. Hingga 08.30 keduanya baru berangkat
Setelah berpamitan kepada kedua asisten rumah tangganya Ranti dan Abi akhirnya siap untuk berangkat. Sudah dengan perut yang kenyang dan hati yang mantap.
"Kenapa harus membawa makanan sih ran, kita jadi kesiangan kan" Ucap Abi dengan kesal.
"Mas !, Sebagai menantu yang baik, tidak mungkin Ranti datang dengan tangan kosong, meski mama pun tidak akan mempermasalahkan hal ini" Ucap Ranti memberi penjelasan.
Abi pun menganggukkan kepala, sejujurnya Ranti memang sangat dewasa, bahkan ketika bersama Dewi pun Dewi tidak pernah berfikir tentang hal itu.
Namun berbeda dengan Ranti yang akan melakukan dan memikirkan segala sesuatu dengan sangat detai.
Dan hal itu lah yang membuat lama kelamaan Abi jatuh hati, meski di awal pernikahan Abi sempat menolak Ranti, dan memintanya untuk tidur dalam kamar terpisah, nyatanya pesona Ranti mampu meluluhkan hati Abi.
"Mas didepan ada toko buah, kita berhenti sebentar ya" Pinta Ranti.
"Baiklah Sayangku" Ucap Abi dengan semangat
__ADS_1
Mendengar kata sayang dari Abi membuat wajah Ranti seketika bersemu merah.
***