
Beberapa kali Ranti mencoba menghubungkan panggilan telepon pada Abi, namun tidak juga Abi mengangkat telepon darinya.
"Oke aku akan menghubungi sekali lagi, kalau tidak di angkat, aku anggap dia hanya bergurau" Gumam Ranti dengan nada kesal
Ranti mencoba kembali untuk menghubungi Abi, beberapa saat telepon berdering, tidak di sangka Abi mengangkat panggilan ya.
"Halo Mas Abi" Ucap Ranti
"Ada apa menghubungi Ranti mas ?" Tanya Ranti kemudian.
Abi tampak menghela nafas dalam dan seketika menghembuskan kasar.
"Apa aku harus membuat janji jika menghubungimu ?" Ucap Abi dengan suara ketus
Ranti tampak memicingkan sebelah mata dengan alis yang bertaut.
"Oh, maafkan Ranti mas, akhir-akhir ini Ranti memang sangat sibuk" Ucap Ranti dengan suara datar.
"Oya, Bagaimana kabar kak Dewi mas ?" tanya Ranti kemudian
"Dewi Seperti biasa, Cukup menunjukan perkembangan baik kata dokter" Ucap Abi
"Oh, Syukurlah kalau begitu" Ucap Ranti dengan perasaan lega dan rasa bahagia.
"Ee--Em " ucap Abi terbata
"Ada apa mas ?" Potong Ranti.
"Minggu lalu kau sudah tidak pulang, apa Minggu ini kau juga tidak akan pulang lagi ?" Tanya Bian dengan suara cepat.
Sedikit merasa terkejut dengan ucapan Abi, terdengar sedikit posesif di telinga Ranti. Namun Ranti memilih untuk abay dan tidak mempermasalahkan hal tersebut.
"Ranti belum tau Mas, Em tapi tidak ada yang penting mungkin Ranti tidak pulang" ucap Ranti dengan suara santai
"Apa aku bagimu tidak penting ?" tanya Abi dari seberang telepon
Mendengar pertanyaan yang baru saja Abi ucapkan membuat Ranti merasa bingung, Sejenak terdiam, mencoba memahami apa maksut dan arti dari kalimat Abi. Namun Ranti hanya dapat tersenyum kecut dengan menggelengkan kepala.
"Bagaimana apa aku tidak penting bagimu ?" ucap Abi lagi
Alih-alih mendapat sebuah jawaban, Ranti Justru melemparkan sebuah pertanyaan "Lalu apa mas Abi juga menganggap Ranti penting ?" Tanya Ranti balik
Dan seketika Abi pun terdiam.
...Dalam sebuah Cinta, Jika Rasa sakit karena bertahan lebih besar daripada rasa sakit karena melepaskan, maka belajarlah untuk merelakan...
__ADS_1
...🍁...
Suasana tampak hening, tak terdengar pembicaraan baik dari Abimana maupun Asmaranti.
"Jika sudah tidak ada yang perlu di bicarakan aku akan tutup telepon nya" Ucap Ranti kemudian
"Tunggu !" Jawab Abi
"Aku tidak berniat menyakitimu, tapi aku mohon cobalah pahami situasiku" Ucap Abi lagi.
"Aku tahu mas, dan aku akan selalu mencoba memahami situasi mas Abi dan kak Dewi, namun hanya saat aku merasa masih mampu" Ucap Ranti dengan bulir bening yang lolos dari sudut matanya.
"Aku mungkin memegang tanganmu, tapi tidak dengan hatimu, dan itu menyakitkan mas untukku, tapi tidak masalah, selama semua berjalan baik-baik saja, Ranti Ikhlas "
ucap Ranti dengan berusaha menahan rasa yang semakin menyesakan dada.
***
Esok hari
Ranti telah siap dengan setelah kemeja berwarna Peach, dan Rok hitam dengan potongan model selutut, mengenakan sepatu hak tinggi yang tidak begitu tinggi, hanya sekitar 5 cm.
Berjalan menyusuri trotoar, menuju tempat kerjanya yang berjarak tidak jauh dari kosnya, hanya butuh waktu 5 menit saja untuk sampai di sana, sebuah gedung pencakar langit dimana tempat Ranti bekerja.
"Ranti !" Panggil Sarah yang berlari menghampiri dirinya.
"Nggak, Mbak cuma mau nanya, kamu kok kemarin samai pingsan di Ruang pak Bian, kamu ada masalah apa sama beliau?" Tanya Sarah kemudian.
"Oh itu , ada beberapa.pekerjaan Ranti yang nggak beres mba" Elak Ranti , dan pastinya itu bohong.
"Ohh.. Sabar ya Ran, Pak Bian emang gitu , Tapi baik kok sebenarnya" Ucap Sarah
Dan Ranti hanya tersenyum nyengir, dan mengagumkan kepala.
Sejujurnya tidak banyak pekerjaan Ranti hari ini, hanya menemani Bian meeting dengan clien yang sebetulnya itu merupakan tugas Sarah, namun Bian meminta Ranti lah yang menemaninya, dengan alasan sebagai hukuman pada Ranti yang tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya.
Berada dalam satu mobil, dengan tujuan yang sama Bian dan Ranti dengan segala persiapannya untuk bertemu seorang klien Di sebuah restoran yang telah di pesan sebelumnya.
Menempuh perjalanan beberapa saat akhirnya mobil yang di kemudian Bian tiba pada tempat tujuan, sebuah restoran mewah bergaya Eropa.
Keduanya berjalan beriringan menuju sebuah ruangan VIP , dan benar saja di sana Bian dan Ranti telah di tunggu oleh sang clien.
"Selamat Pagi Pak Nino" ucap Bian
"Maaf sedikit terlambat" Tukas Bian lagi berbasa-basi.
__ADS_1
"Oke, Tidak masalah, Pak Bian, Saya juga baru saja datang" Jawab Nino kemudian
Tidak menunggu lama, Ranti dengan cekatan mengeluarkan beberapa dokumen penting untuk kemudian di bahas dan di pelajari oleh keduanya, setelah semua dirasa cukup kemudian Antara Bian dan Nino, membubuhkan tanda tangan, dalam sebuah surat perjanjian kerjasama.
Kurang lebih dua jam Meeting berlangsung, akhirnya selesai juga pekerjaan Ranti hari ini.
"Ada tempat yang ingin kau kunjungi hari ini" Tanya Bian kemudian setelah Nino beserta sekertaris nya undur diri dari ruangan VIP tersebut.
"Entah lah " jawab ranti singkat dengan mengangkat kedua bahunya
"Sebaiknya aku pulang saja, semalam aku tidak tidur dengan baik" Ucap Ranti dengan santai.
"Ayo lah, hari ini hari Sabtu, apa kau tidak ingin ke suatu tempat, Berenang di Bali misalnya, atau Makan Steak di Lombok ?" Tukas Bian kemudian
"Hahah.. Konyol sekali , Hanya untuk berenang harus kah ke Bali ?, dan kenapa harus ke Lombok untuk makan Steak saja ?" ucap Ranti mengulang pernyataan Bian sebelumnya
"Oh, atau kau ingin ke luar negeri, ke Australia atau ke Singapura misalnya? " Ucap Bian lagi dengan suara congkak.
Ranti semakin merasa konyol mendengar ucapan Bian "Sudah , sudah, aku tahu kau punya segalanya, tapi kau tidak perlu bersikap berlebihan pada istri orang" Ucap Ranti dengan gelak tawa.
"Istri Pengganti ?, Atau istri yang Tak di anggap ?" Ucap Bian ketus
Mendengar hal itu, seketika Ranti memukul keras lengan Bian. Hingga Bian meringis menahan sakit.
"Auch" Ucap Bian meng aduh.
"Rasain, Siapa suruh Ngeledek terus" ucap Ranti dengan memicingkan sebelah matanya.
"Udah ah, Yuk" Ucap Ranti dengan meraih tas miliknya dan beranjak untuk segera keluar dari ruangan.
"Tunggu !, Jadi kita mau kemana ?" Tanya Bian lagi
"Terserah mas Bian aja lah, Untuk kali ini Ranti ikutin maunya mas Bian " Ucap Ranti dengan langkah menuju lift .
"Yes !"
Bian tampak sangat bahagia dan bersemangat, mungkin ini kali pertama baginya, melihat Ranti yang mau menuruti mau nya.
Keduanya berjalan beriringan, dengan sesekali Bian yang menggoda Ranti dengan menggandeng tangannya, di iringi gelak tawa karena Ranti selalu menolak gandengan tangan Bian.
"Mas !" Ucap Ranti kesal dengan mengibaskan tangannya
"Apa ?" jawab Bian dengan gelak tawa.
***
__ADS_1
Bersambung
***