ASMARANTI ( Istri Pengganti )

ASMARANTI ( Istri Pengganti )
54. Kepergian


__ADS_3

...Mencintaimu itu candu, tapi memilikimu hanyalah dongeng yang lucu...


...🍁...


Ranti mempercepat langkahnya, menghindari Abi yang sedari tadi terus mengikutinya.


Lelah berjalan , karena terus di ikuti oleh Abi kemanapun Ranti pergi, kini Ranti memutuskan untuk menghentikan langkahnya, dan duduk di bangku taman.


"Katakan apa yang mas Abi inginkan ?"


Mendengar hal itu Abi hanya terdiam, menatap lekat wajah Ranti yang terlihat begitu pucat, tidak seperti Ranti yang selalu Abi lihat begitu segar dan bersemangat.


"Ranti. Bisa kita bicara"


"Katakan saja mas"


"Kita cari tempat lain"


"Tidak perlu mas, katakan saja di sini" ketus Ranti yang tidak suka di atur.


Meski berat, namun Abi hanya dapat menghela nafas, menyadari Ranti tengah begitu dalam puncak emosi.


"Apa kau marah ?"


Mendengar hal itu, Ranti hanya menautkan kedua alisnya, menatap pada Abi sekilas "untuk apa aku marah mas, Bahkan Ranti tidak memiliki hak untuk itu"


"Maafkan aku Ran, aku pun berada dalam situasi sulit"


"Ranti tahu"


Baik Abi maupun Ranti hanya dapat terdiam dengan pikiran masing-masing, masalah yang seolah tidak menemui titik jalan keluar, terasa begitu menyesakan dada.


"Sebaiknya mas Abi tetap fokus untuk kesembuhan Kak Dewi"


"lalu dirimu ?"


"Ranti akan baik-baik saja mas, mas Abi tidak perlu khawatir" ucap Ranti dengan beranjak dari duduknya.


"Ohya mas Ranti mohon, bawa kak Dewi kembali, bukan Ranti mengusir, hanya saja Ranti tidak nyaman berada dalam satu rumah bersama suami dan istri dari suami Ranti" ucap Ranti dengan lirih. Terdengar jelas di telinga Abi, dimana Ranti bergetar dalam Ucapannya.


Setelah mengatakan itu Ranti pun beranjak meninggalkan Abi yang masih duduk termenung di bangku taman, menatap punggung Ranti yang semakin menghilang.


Jujur Abi pun merasakan sakit melihat Ranti begitu sedih dan terluka atas keadaan yang terjadi, namun untuk saat ini Abi pun tidak dapat melakukan apapun. Terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan untuk dirinya. Lagi-lagi Abi hanya dapat mendengus kesal.

__ADS_1


Abi pun menyusul Ranti yang telah lebih dulu meninggalkan tempat tersebut, meski dengan perasaan berkecamuk.


Tanpa disadari oleh keduanya, sepasang mata telah mengamati keduanya sedari tadi.


***


Cukup lama Ranti menghabiskan waktu, hanya untuk melepas kepenatan yang merusak akal sehatnya. Hingga sore menjelang Ranti baru berencana untuk kembali ke rumah.


Kali ini Ranti memesan sebuah taksi online untuk mengantarkan nya pulang. Menempuh perjalanan beberapa saat akhirnya taksi yang di tumpangi Ranti telah terparkir di halaman rumah Ranti, bersamaan dengan itu Dua asisten rumah tangga Ranti juga telah kembali dan menyambutnya di depan rumah.


"Bu Ranti dari mana saja ?" saa Bi nur yang begitu cemas dan khawatir memikirkan Ranti.


"Bi Nur sudah dari tadi ?"


"Sudah Bu ,Bibi sama mamang sudah dari siang sampai sini, tadi pak Abi telpon suruh cepet Dateng"


Mendengar hal itu Ranti paham jika saat ini Abi dan Kakaknya Dewi telah meninggalkan rumahnya, ada sedikit rasa lega di hati Ranti, setidaknya dia tidak harus lelah untuk menutupi hubungannya dengan Abi.


"Ohh. Makasih ya Bi"


"Iya Bu, Bu Ranti mau saya siapkan makanan ?"


"Tidak usah Bi, Ranti baru saja makan" Tolak Ranti dengan sopan.


Tanpa.di sadari Ranti terlelap begitu saja, hingga malam menyapa , Bi nur membangunkan Ranti untuk makan malam.


Meski begitu malas, namun Ranti tetap harus menghargai asisten rumah tangganya yang telah membuatkan ya makanan untuk makan malamnya.


Berat langkah Ranti keluar dari kamar, setelah sebelumnya mencuci muka dan menyikat gigi, Ranti bergegas menuju meja makan yang telah tersaji beberapa masakan kesukaannya.


Namun kali ini ada yang berbeda, mencium tumis kangkung tauco Ranti seolah merasa tidak nyaman, hingga dirinya merasakan begitu mual.


"Hoekk hoekk hoekk"


Sekuat tenaga Ranti berusaha menahan gejolak dalam perutnya, namun tetap saja Ranti merasakan mual yang teramat sangat.


Mau tidak mau Ranti harus berlari menuju wastafel untuk mengeluarkan isi perutnya, namun nyatanya yang dia keluarkan hanyalah air saja, karena memang Ranti belum memasukan makanan apapun.


Ranti begitu enggan untuk kembali ke meja makan, terlebih setelah perutnya terasa begitu mual, kini Ranti merasakan badanya begitu lemas.


"Bu Ranti kenapa ?" panik Bi nur yang baru saja datang dan menghampiri Ranti


"Nggak tahu bi, rasanya mual banget"

__ADS_1


Bi Nur pun memapah Ranti untuk kembali duduk, namun kali ini Ranti meminta untuk duduk di ruang keluarga, dia sudah tidak berselera untuk melanjutkan makan malamnya.


Dengan sigap Bi nur membantu Ranti untuk duduk, dan secepat mungkin menyiapkan minuman hangat untuk majikanya.


"Bu Ranti diminum dulu"


"Terima kasih Bi" ucap Ranti dengan meraih cangkir berisi jahe hangat yang telah di siapkan oleh BI nur.


"Bu Ranti kenapa ?, kok tiba-tiba mual ?"


"Nggak tahu bi mungkin masuk angin"


"Emm. Atau mungkin Bu Ranti telat"


"Maksutnya ?" tanya Ranti dengan sedikit bingung.


"Sepertinya seingat bibi , Bu Ranti bulan lalu sudah tidak menstruasi, bulan ini juga sepertinya belum" celetuk Bi nur


Bukan tanpa alasan Bi nur mengatakan hal tersebut, karena memang dia tahu kapan Ranti menstruasi, hal itu karena setiap kali Ranti menstruasi Bi Nur lah yang selalu membantu Ranti untuk membelikan pembalut.


"Mungkin saya Bu Ranti --"


"Hamil ?, Nggak bi nggak mungkin Ranti hamil" sela Ranti memotong ucapan pembantunya.


Namun sejujurnya Ranti begitu memikirkan ucapan Bi nur, benar apa yang baru saja di katakan ya, dia sudah dua bulan terakhir tidak dapat menstruasi, terlebih akhir-akhir ini dirinya juga merasa kan hal aneh, seperti perubahan mood, suka makan makanan yang asam, dan sering kedapatan merasa mual.


"Bi, Ranti kekamar aja, mau istirahat"


"Oh baik Bu, mari saya bantu"


Keduanya berjalan bersama, dengan Bi nur kembali memapah Ranti dari samping, memastikan majikanya baik-baik saja.


"Bu, kalau ada perlu apa-apa jangan sungkan panggil saya" ucap Bi nur ketika telah berada di depan pintu kamar Ranti.


"Iya bi, terima kasih, bibi juga segera istirahat" ucap Ranti dengan senyum kecil di wajahnya.


Bi Nur menunggu Ranti hingga majikanya itu masuk kedalam kamar dan menutup pintu kamar, baru setelahnya dia kembali ke kamarnya sendiri.


Berada di kamar, nyatanya Ranti juga tidak kunjung dapat terpejam, Ranti berfikir mungkin saja karena sore tadi Rati cukup lama tidur, hingga saat ini dia tidak merasakan ngantuk, namun nyatanya bukan hanya itu saja, Ranti merasa ucapan Bi nur begitu mengganggu pikirannya saat ini.


Mau tidak mau Ranti tetap memikirkan hal itu, hingga semalaman Ranti lelah dengan pikirannya sendiri, dan terlelap begitu saja.


***

__ADS_1


__ADS_2