
Keduanya larut dalam suasana haru, Dimana Ranti Dan Dewi saling berpelukan melepas kerinduan.
"Ranti sangat merindukan ka Dewi" lirih Ranti
"Kakak juga Ran"
Sementara itu Abi hanya menatap keduanya dengan tatapan yang sulit di artikan, jujur dia sangat merasa bersalah, namun mau bagaimana lagi hal itu telah terjadi, dan semua yang terjadi padanya tidak pernah dia ketahui sebelumnya.
"Ohya Ran, kok tadi bisa barengan sama mas Abi ?" tanya Dewi dengan penasaran.
Mendengar pertanyaan sang kakak, Ranti sedikit dibuat kaget.
"Oh hanya kebetulan ka, tadi bertemu Mas Abi di depan" Ucap Ranti.
Mendengar ucapan Ranti, Dewi seolah dibuat bingung dan tampak dia mengerutkan kedua alisnya.
"Mas ?" tanya Dewi memastikan
"Sejak kapan kau memanggil Mas Abi dengan sebutan Mas ?"
"Ohh. Maksutnya Kak Abi " ucap Ranti meralat ucapan ya.
Dewi pun tersenyum mendengar hal itu, sementara Ranti begitu menahan hati nya yang kini terasa sakit. Jujur saat ini perasaan Ranti sangat tidak bisa diajak untuk berkompromi.
Terlebih ketika Ranti melihat Dewi yang begitu ingin selalu bersama Abi, hingga Dewi pun tak kuasa menahan diri meski ada pak Prabowo dan Bu Shinta di ruangan tersebut.
Tidak sedikitpun Dewi melepaskan genggaman tangannya pada Abi. Dan hal itu jelas terlihat oleh pasang mata Ranti.
Hening.
"Maaf ka, Ranti permisi dulu ya" ucap Ranti yang sudah tidak kuasa melihat kemesraan antara Abi dan Dewi.
Jujur hati ya begitu terasa sakit, namun Ranti tetap harus sabar.
"Ran !" Cegah Abi yang tidak ingin Ranti keluar dari ruangan tersebut.
"Mas !" sela Dewi yang semakin erat memegang tangan Abi.
Abi pun tersadar dengan situasi saat ini, hingga pada akhirnya dia kembali bersama Dewi menikmati moment pertemuan pertama mereka setelah Dewi sembuh dari koma nya.
***
Hari berganti hari akhirnya Dewi telah di perbolehkan untuk pulang setelah dinyatakan benar-benar pulih oleh tim medis rumah sakit.
Dalam ruang perawatan tersebut hanya ada Abi dan Dewi, keduanya bersiap untuk pulang ke Rumah orang tua Abi, sesuai permintaan dari Dewi.
__ADS_1
"Mas Abi, Aku sudah tidak sabar ingin segera kembali ke rumah" ucap Dewi penuh bahagia. Abi pun tersenyum simpul.
Entah mengapa Pikirannya kini menerawang jauh pada Ranti yang entah bagaiman kondisinya saat ini.
Ranti telah kembali ke rumahnya sendiri, rumah yang pernah Abi berikan kepadanya. Bahkan Ranti tidak mengatakan pada Abi jika dirinya telah kembali, dan hanya mengabarkan pada Abi melalui pesan singkat.
Hal itu cukup membuat Abi merasa khawatir dengan kondisi Ranti, terlebih Abi sangat jelas mengingat dimana Ranti begitu tersiksa melihat dirinya yang begitu mesra dengan sang kakak.
Meski hatinya terluka namun Abi juga dapat melihat dimana Ranti selalu tersenyum untuk kebahagiaan dewi sang kakak.
tok tok tok
Terdengar pintu yang di ketuk.
Mendengar hal itu Ranti sedikit di buat kaget, pasalnya dia tidak mungkin menerima tamu selain Abi di rumah tersebut, karena memang tidak ada yang mengetahui jika pemilik rumah tersebut adalah Ranti.
Ranti akan beranjak untuk membuka pintu, namun tiba-tiba Bi nur muncul dan melarang Ranti untuk membuka pintu.
"Biar saya saja buk" ucap Bi Nur dengan sopan.
"Oh iya bi" jawab Ranti singkat.
Setelah ya Bi Nur berjalan ke depan, bermaksud membuka pintu rumah.
Ceklek
"Ranti Ada Bi ?"
"Ohh iya Bu Ranti ada, maaf Tuan siapa ya ?" Tanya Bu nur dengan sopan.
"Saya Bian , Bisa saya bertemu dengan Ranti ?"
"Baik tuan, tunggu sebentar saya panggil Bu Ranti nya dulu.
Bi Nur pun berlalu meninggalkan Bian yang masih berdiri di ambang pintu.
Tidak berselang lama Ranti muncul dari dalam rumah. "Mas Bian" Ucap Ranti ketika keduanya telah saling berhadapan.
Ranti pun mempersilahkan Bian untuk masuk dan duduk di ruang tamu.
"Mas Bian ngapain repot-repot kesini sih, besok juga Ranti pasti masuk kok, nggak akan minta cuti lagi" Ucap Ranti basa-basi.
Jujur ranti tidak tahu pasti sebab tujuan kedatangan Bian ke rumahnya.
"Udah Lah ran, nggak usah menutupi apa pun dariku " ucap Bian
__ADS_1
"Dewi Sudah kembali bukan ?" ucap Bian tanpa basa basi.
Kini tatapan keduanya saling beradu, dengan Ranti yang tidak percaya jika Bian begitu cepat mengetahui hal itu, sementara Bian menyimpan sejuta tanya untuk Ranti.
Mendengar ucapan Bian, seketika sudut mata Ranti mulai ber air, namun secepat mungkin dia menyeka air mata agar tidak tumpah membasahi pipinya.
Sudah cukup baginya beberapa hari terakhir menangisi nasibnya yang begitu menyedihkan.
"Apa kau akan tetap bertahan dengan pernikahan mu yang tidak jelas ini ?" ucap Bian dengan suara datar. Sementara Ranti hanya bergeming mendengar ucapan Bian.
"Sampai kapan kau akan menyembunyikan semua dari Dewi"
"Lalu Ranti harus bagaimana mas ?, mungkin kau juga sedang berfikir jika aku ini sangat jahat bukan ?" Ucap Ranti dengan mata berkaca-kaca.
"Ranti bisa apa mas Bian !, Katakan !" ucap Ranti dengan meninggikan suaranya.
Melihat reaksi Ranti , Bian sedikit terkejut, Bian tahu jika semua ini bukan mau dari Ranti, Ranti hanya terpaksa melakukanya.
Tak kuasa melihat wanita yang di cintai nya sedih dan terisak, Bian segera meraih tubuh Ranti dalam dekapannya, memberikan usapan lembut di punggung Ranti yang begitu terluka dengan kejadian yang baru beberapa hari terjadi.
"Maafkan aku Ran, Aku tidak bermaksud ---"
"Tidak Mas, Kau benar, bagaimana pun jika ada pihak yang harus di salahkan atas semua ini, tentulah Ranti yang paling bersalah" ucap Ranti lirih.
Bian hanya dapat memberikan usapan lembut di punggung Ranti, bermaksud untuk menguatkan wanita yang di cintainya, namun selalu menganggapnya sebagai kakak.
"Aku akan selalu bersama mu Ran, Kau tidak perlu takut" ucap Bian menenangkan
Ranti hanya bergeming, kemudian mendongakkan wajahnya, menatap lekat sosok Bian yang begitu menenangkan hatinya saat ini.
Jujur dalam situasi seperti ini Ranti sangat butuh dukungan, meski tidak bisa meringankan beban pikiran , setidaknya Ranti merasa lebih tenang.
"Terima kasih mas Bian" ucap Ranti kemudian. Dan Bian pun menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Setelah cukup tenang, Bian melepaskan pelukannya, dan keduanya terlibat obrolan yang begitu serius, sampai pada Bi Nur yang datang dengan membawa dua cangkir minuman dan cemilan untuk tamu Ranti.
"Terima kasih Bi " ucap Bian ramah.
"Sama-sama tuan" ucap Bi Nur dengan sopan. Kemudian berlalu dari hadapan keduanya.
"Kau terlihat lebih pucat, Apa kau sedang sakit ?" tanya Bian yang menangkap raut wajah tidak biasa pada Ranti.
"Tidak, mungkin aku hanya kelelahan mas" ucap Ranti.
Bian mengangguk kepala, sebagai respon jawaban atas pernyataan Ranti.
__ADS_1
***