ASMARANTI ( Istri Pengganti )

ASMARANTI ( Istri Pengganti )
35. Mulai Menerima


__ADS_3

Berada di bawah guyuran air , Ranti merasakan kesedihan yang teramat mendalam, beberapa kali bahkan dirinya menjambak rambutnya sendiri.


Setelah cukup lama berada dalam situasi tersebut. Ranti memilih segera membersihkan dirinya, dari sisa peluh yang sempat membasahi tubuhnya ketika dibawah kukungan Abi.


Ranti memilih kembali ke tempat tidur nya. setelah merasa badannya kembali segar.


Ceklek.


Sedikit terkejut ketika mendapati Abi tengah berdiri tepat di ambang pintu kamar mandi.


Ranti jelas mengingat jika sebelumnya Abi tidur pulas setelah melakukan aksi brutalnya.


Namun saat itu lelaki tersebut begitu gagah berdiri di hadapannya.


Ranti hanya menundukkan wajahnya, menyadari arah tatapan Abi yang begitu intens menatap dirinya.


Sikap sebaliknya di tunjukan Abi pada Ranti, dimana Abi langsung memeluk erat Ranti yang masih berbalut handuk di bagian dada nya.


"Maaf" Ucap Abi singkat.


Mendengar kata maaf dadi Abi, seketika Ranti mendongakkan wajahnya, menatap lekat sosok lelaki yang telah menjadi suaminya itu.


Abi pun melakukan hal yang sama dengan menundukkan kepalanya, menatap lekat mata indah Ranti.


"Aku telah mengambil semua yang kau miliki" Ucap Abi lirih.


"Aku berjanji akan selalu bertanggung jawab atas perbuatannya" Ucapnya lagi.


Sudut mata Ranti pun mulai menghangat, menyadari begitu tulus ucapan sang suami.


Bukan tanpa.alasan Abi mengatakan hal itu.


*Flashback On*


Abi terbangun dalam keadaan. polos tanpa.sehelai benangpun menempel di tubuhnya.


Mengulas sebuah senyum manis di wajah tampannya, mengingat bagaimana sebelumnya Abi begitu sangat menikmati adegan panas bersama Ranti.


Suara gemericik air terdengar begitu jelas di telinga Abi, menandakan Ranti tengah membersihkan dirinya.


Abi berniat menyusul Ranti kedalam kamar mandi, menyibak Selimut tebal yang dia gunakan.


"Astaga" Abi dibuat kaget dengan bercak merah yang begitu terlihat jelas


Meraih sedikit noda merah tersebut, dan mendekatkan pada hidungnya "Darah ?" gumam Abi lirih.


"Dia !" pekik Abi yang merasa begitu bersalah.


Entah mengapa Abi merasa bersalah pada Ranti saat ini, meski Ranti telah menjadi istrinya namun nyatanya bercinta merupakan hal pertama bagi Ranti, dan dirinya lah yang pertama memulai nya, membuat gadis tersebut melepas sebuah harta berharga dari miliknya.


"Dia masih perawan" Gumam Abi lagi.


Bukan tanpa.alasan Abi terkejut, karena disaat dirinya bersama Dewi dulu, dia tidak menemukan hal itu pada malam pertamanya, namun karena Abi sangat mencintai Dewi, dia bahkan tidak mempermasalahkan hal itu.


*Flashback Off*


"Mas?" Panggil Ranti.

__ADS_1


Abi hanya bergeming.


"Mas Abi nangis ?" Tanya Ranti yang menyadari terdapat bulir bening pada sudut mata Abi.


Abi pun menggelengkan kepala, menepis semua ucapan Ranti.


"Aku Bahagia Ran" Ucapnya kemudian.


Ranti tampak mengerutkan dahi, menampakkan guratan halus di sana.


"Terima kasih karena kau telah memberiku aset paling berharga dari dirimu" Bisik Abi tepat di telinga Ranti.


Mendengar hal itu Ranti begitu malu, hingga dirinya menyembunyikan wajahnya dengan menundukkan kepala.


"Hei kenapa ?" Tanya Abi yang merasa bingung


"Ranti malu mas " Ucapnya kemudian.


Abi pun terkekeh mendengar ucapan Ranti.


wajar jika Ranti merasa malu, Karen Aini memang merupakan pengalaman pertama baginya, dan menjadi kesan pertama.


Abi meraih wajah Ranti yang tertunduk, sejenak tatapan keduanya saling beradu mesra, Sebuah kecupan pun mendarat begitu saja di bibir ranum Ranti.


Melai merasa nyaman , Ranti pun membalas ciuman Abi dengan begitu lembut.


Bahkan Abi sampai di buat kaget, karena Ranti tidak menolak, dan justru sangat menikmatinya.


Setelah melihat Ranti yang kesulitan bernafas, akhirnya Abi melepas tautan diantara keduanya.


"Apa kau menyukainya ?" Tanya Abi dengan begitu spontan.


***


Pagi hari.


Pagi pagi sekali Ranti telah bangun, seperti biasa tujuannya adalah dapur.


Memasak bukan hanya sebuah kewajiban bagi Ranti, namun juga merupakan hobby yang dia senangi.


Meski telah di larang oleh beberapa asisten rumah tangga yang ada di kediaman Bu Shinta, namun Ranti tetap kekeh ingin membuat sarapan untuk pagi ini.


Beberapa menu dia siapkan untuk sarapan semua anggota keluarga, tidak lupa juga untuk para pekerja di rumah tersebut.


Sebuah tangan yang yang dengan cepat meraih pinggang rampingnya, membuat Ranti sedikit kaget, namun hal itu tidak berlangsung lama, pasalnya Ranti sangat mengenal sosok yang ada di belakangnya.


"Mas " ucap Ranti


"Em" Jawab Abi singkat.


"Please ini dirumah mama!" Ucap Ranti memperingati sang suami..


Ranti merasa suaminya terlalu mengumbar kemesraan, bahkan di depan para sistem rumah tangganya sendiri, hingga para pekerja itu menghilang entah kemana.


"Memang kenapa kalau di rumah mama ?" Tanya Abi


Ranti semakin dibuat kesal dengan tingkah Abi. "Mas !" ucap Ranti memperingati.

__ADS_1


Melihat sikap sang istri membuat Abi merasa gemas, dan seketika terkekeh dibuatnya.


"Ehem " Suara deheman yang seketika mengagetkan keduanya.


Ranti merasa sangat malu , berhadapan dengan sang mertua.


"Mas Abi !" Gumam Ranti lirih . Dan Abi hanya cuek


"Hem udah kaya penganten baru aja kamu Bi" ucap sang mama pada putra semata wayangnya.


"Emang pengantin baru lagi ma" Jawab Abi


"Baru Emat bulan maksutnya ?" Tanya Bu Shinta lagi.


Abi hanya mengulas senyum di wajahnya menyadari ucapan sang mama.


"Iya sih nikah udah empat bulan, tapi buka segelnya baru tadi malem ma" gumam Abi dalam hati


"Malah ngelamun !" Ucap Bu Sinta yang menyadari putranya hanya bengong dengan pikiran entah kemana.


Ranti hanya menyaksikan perdebatan ringan antara ibu dan anak tersebut.


"Ran, Kamu masak semua ini ?" Tanya Bu Shinta kaget


Ranti pun menjawab dengan anggukan kepala, seraya senyum manis menghiasi wajah cantiknya.


"Istriku memang serba bisa ma" Sergah Abi tanpa basa-basi.


"Hemmm.. Sekarang bisa ya istri istri, dulu aja" Sindir Bu Shinta.


Merasa Abi bagai kacang lupa kulitnya, dulu Abi selalu menolak pada perjodohan antara dirinya dan Ranti, namun lagi-lagi pil pahit harus di telan sang anak.


Namun hal itu justru membuat Bu Shinta merasa bahagia,, setidaknya Abi telah menerima Ranti seutuhnya, dan berharap kedepannya hubungan diantara keduanya semakin membaik.


Setelah semua siap, Bu Shinta memanggil sang suami untuk bergabung di meja makan.


Dan merekapun menikmati sarapan paginya dengan begitu nikmat. terlebih semua masakan Ranti terasa begitu istimewa.


Pujian yang tak henti di ucapkan oleh Bu Shinta pada sang menantu.


Selain cantik, pintar, mandiri, nyatanya Ranti juga sangat pandai memasak.


"Ran kayaknya mama pengen buka bisnis baru deh" Ucap Bu Shinta dengan senyum seringai.


"Bisnis apa ma?" tanya Ranti, dan semua orang pun tampak kaget.


"Buka Restoran, Kamu pinter masak, sayang kalau nggak di manfaatkan" ucap Bu Shinta dengan tawa riang.


Mendengar penuturan sang ibu Abi pun memberikan penolakan keras.


"Eits, Tidak bisa !" Ucap Abi.


"Ranti itu cuma boleh masak buat Abi ma " Ucap Abi kemudian.


Bu Sinta hanya mendengus kesal dengan ucapan putranya.


"Jangan pelit Abi, nanti kuburannya sempit" Ucap Bu Shinta

__ADS_1


"Mama nyumpahin !" Sergah Abi kemudian.


***


__ADS_2