ASMARANTI ( Istri Pengganti )

ASMARANTI ( Istri Pengganti )
11. Salah Paham


__ADS_3

Hari baru.


Seperti hari-hari sebelumnya Ranti pergi ke kantor dengan segala macam kegiatan dan aktifitas padat yang telah menanti.


Namun hari ini nampak ada sesuatu yang berbeda, suasana kantor menjadi lebih gaduh dari biasanya


"Ada apa?" tanya Ranti pada salah seorang staf kantor lainya.


"Itu , si bos sekarang aneh deh, tiap hari bawa cewek ke kantor, ganti-ganti terus lagi" Jawab salah seorang lainya.


"Beruntungnya cewek-cewek itu di gandeng sama si bos, ni gue di sini ber tahun-tahun aja belum pernah sekalipun di gandeng" Gerutu salah satu karyawan lainya.


Ranti hanya tersenyum simpul, dan menjawab dengan anggukan kepala, sedetik kemudian berlalu dari hadapan teman-temannya yang masih bergosip tenang sang bos besar.


Semenjak obrolan Ranti dan Bian tempo hari, memang Ranti tidak lagi berkomunikasi dengan Bian, baik itu secara langsung maupun via telepon.


Ranti memilih diam dan berusaha menutupi suasana hatinya yang tengah kacau balau. Dan tidak ingin memikirkan gosip yang merebak di dalam kantornya.


Hal yang sama juga terjadi dengan Bian yang terkesan menghindari Ranti.


Hari berganti hari , Minggu berganti Minggu.


Gonjang ganjing antara Bian dan beberapa wanita yang di bawa ke kantor masih santer terdengar di telinga para karyawan kantor, termasuk di telinga Ranti.


Brak.


Suara keras pintu.


Seorang sekertaris yang berada di depan ruang kerja Bian pun ikut kaget mendengar suara dentuman pintu yang begitu memekakkan telinga.


"Ya Tuhan, untung gak punya penyakit jantung" Gumam seorang sekertaris dengan suara lirih


Tut.


"Sarah ! " ucap Bian dari balik telepon.


"Ya Pak " Jawab Sarah cepat


"Panggil Ranti ke ruangan saya Sekarang !" Ucap Bian dengan suaran tinggi


"Bb-- Baik Pak" Jawab Sarah dengan suara terbata.


Tidak menunggu lama Sarah yang merupakan salah satu sekertaris dari Bian segera menghubungi Ranti, meminta Ranti untuk segera menghadap sang Bos besar.


"Ada apa mba Sarah pak Bian panggil Ranti ?" Tanya Ranti ketika berada di depan ruang kerja Bian.


Sarah hanya mengangkat kedua bahunya " aku juga gak tahu Ran, dari tadi pagi marah marah terus !" Ucap Sarah


"Ya udah Ranti masuk ya mba" Ucap Ranti pada Sarah. dan Sarah menjawab dengan anggukan kepala.


"Permisi pak" Ucap Ranti ketika memasuki ruangan Bian.

__ADS_1


Di luar kantor memang Ranti memanggil Bian dengan sebutan Mas, karena itu merupakan kebiasaan sejak kecil, namun ketika di kantor Ranti akan bersikap profesional, dan bekerja seperti karyawan lainya.


Bian hanya bergeming, Menyibukkan diri dengan berbagai dokumen penting di hadapanya.


"Ada apa Pak Bian memanggil saya ?" Tanya Ranti lagi.


Bian masih tetap diam dan tidak menghiraukan Ranti yang tengah berdiri di hadapanya.


Beberapa saat Ranti menunggu, Bian selalu mengabaikan dirinya, hal itu membuat Ranti sedikit merasa kesal dan hilang kesabaran, dengan menghembuskan nafas kasar Ranti berbalik dan dengan langkah cepat berlalu dari ruang kerja Bian.


"Tunggu !" Ucap Bian kemudian


Ranti tampak menghentikan langkahnya dan berbalik. Menatap Bian yang berjalan mendekatinya, dengan tatapan yang sudah tidak dapat Ranti artikan. Berjalan semakin dekat, dan Ranti pun juga berjalan mundur untuk memberi jarak antara keduanya, namun Bian terus saja berjalan semakin dekat.


Ranti tidak menyadari jika sudah tidak lagi ada ruang di belakang, hingga dirinya membentur dinding kaca, kemudian Bian berjalan semakin dekat dan mengikis jarak diantara keduanya, meraih pergelangan tangan Ranti dan menggenggamnya erat.


Menyadari begitu kuat Bian mencengkeram pergelangan tangannya Ranti sedikit merasa kesakitan, dan berusaha melepaskan, namun bukan melepaskan Bian semakin mengerat kan pegangan tangannya.


Mengunci tubuh Ranti dengan satu tangan Bian yang lain yang di sandarkan pada dinding kaca.


"Pak !" Ucap Ranti memperingati dengan wajah mendongak ke atas, karena postur tubuh Bian yang lebih tinggi darinya.


"Apa ?, Kau mau teriak !" Tanya Bian kemudian.


"Silahkan berteriak, Kaca ini tidak tembus pandang, dan ruangan ini kedap suara !" Ucap Bian dengan suara santai.


Sejenak tatapan keduanya saling beradu, dengan pikiran yang entah melayang kemana. Berpikir dengan pikiran masing-masing dan tatapan yang saling mengunci.


"Kau itu sungguh jahat Ran" Ucap Bian dengan menundukkan wajah menghadap Ranti dengan tatapan tajam bagai mata elang.


Mendengar hal itu seketika bola mata Ranti membulat sempurna, dengan dahi yang mengerut.


"Oh . atau mungkin kau menggodanya, Lalu kau hamil, dan Abi menikahi mu !" Sergah Bian lagi, dan Ranti hanya terdiam mendengar ucapan dari Bian, dengan sudut mata yang mulai memanas.


Bian yang mengetahui dari mulut Ranti sendiri, jika Ranti telah menikah, awalnya merasa tidak percaya, hingga dirinya meminta orang-orang kepercayaannya untuk menyelidiki.


Dan benar saja , nyatanya informasi yang di terima Abi tidak lah salah, Ranti yang selama ini dia cintai telah menikah dengan orang lain.


"Berapa uang yang kau butuhkan !, kenapa harus menjual diri pada kakak iparmu sendiri !"


"Apa kau tidak punya harga diri, dasar Murahan !"


Itulah kata yang keluar dari mulut Bian, kata makian dan hinaan yang Ranti dengar, begitu menusuk dan sangat menyakitkan.


Karena pada akhirnya Ranti lah yang akan merasa kan sakit, dengan takdir hidup yang begitu rumit.


Dengan mendongak kan wajah dan menatap sosok Bian yang berdiri tanpa jarak di hadapanya. Seketika genangan air mata yang telah sekuat tenaga Ranti tahan, agar tidak jatuh, akhirnya jatuh juga.


"Apa Semurah itu aku di matamu, Ha !" Tukas Ranti dengan suara yang sudah bergetar.


Sejenak Abi terdiam, dengan jawaban Ranti yang tidak membuatnya puas.

__ADS_1


"Jangan pernah mengeluarkan Air mata palsu mu itu ! , karena hatimu pun juga hanya semu !" Ucap Bian dengan suara menekan.


Mendengar kata kata yang begitu menyakitkan, Ranti sampai tak kuasa menahan Air mata yang terus saja membasahi pipinya.


"Ya aku memang murahan, Sangat murahan !, apa kau Puas !" Teriak Ranti dengan suara keras.


Mendengar teriakan dari Ranti, Bian dengan berani menyentuh Pinggang Ranti, mengikis jarak diantara keduanya, mendesak tubuh Ranti ke bagian belakang, dan semakin mengeratkan tubuhnya dengan tubuh Ranti "Apa seperti ini Abi menyentuhmu !" Ucap Abi dengan tatapan mata tajam


Kemudian melepaskan tangan Ranti yang dia genggam, dan seketika tangan Bian berpindah pada tengkuk Ranti meraih leher jenjang Ranti, dan mendekatkan dengan wajahnya "Apa seperti ini juga Abi menyentuhmu?" Ucap Abi dengan nada sarkas.


Ranti hanya terdiam melihat sikap kasar Bian, dengan kata kata yang keluar dari mulutnya, terasa menyakitkan dan menyayat hati.


Sementara Ranti hanya dapat menitihkan air mata, tanpa dapat berkata-kata, karena sesak dalam dada yang begitu menyesakkan jiwa.


Dengan kasar, seketika Bian Mencium bibir Ranti, membabi buta, menyusuri setiap rongga, dan meninggalkan bekas luka disana, dan kemudian melepaskan "Apa seperti itu Abi mencium mu !" Ucap Bian lagi.


"Lepaskan !" Ucap Ranti memberontak dengan perasaan dan hati yang telah sakit.


"Aku juga bisa membayar mu !, Bukankah itu juga yang Abi lakukan Ha --" Ucap Bian menggantung


"Cukup !" Teriak Ranti dengan suara keras dan tatapan tak kalah tajam, menatap sosok Bian di hadapanya.


"Cukup Mas Bian !, Cukup !" Ucap Ranti dengan tangis bergetar dan suara yang melemah


Brug.


Seketika tubuh Ranti melemas dan Ambruk begitu saja di hadapan Bian, namun belum sampai tubuh Ranti jatuh di lantai dingin ruang kerja Bian, Bian segera meraih tubuh Ranti dan mengangkatnya.


Terdapat sebuah kamar di dalam ruang kerja Bian, yang biasa Bian gunakan untuk beristirahat di sela-sela aktifitas pekerjaannya.


Bian membaringkan pelan tubuh Ranti diatas tempat tidur tersebut, menyibak rambut halus Ranti yang menutupi wajah.


Melihat Ranti yang terkulai lemah tak berdaya, membuat perasaan Bian pun ikut sakit, dan ada rasa bersalah, menyesal kenapa sebelumnya Bian berlaku kasar terhadap wanita yang sejak dulu begitu di cintainya.


***


Bersambung


***


Ini Buat para reader setia author, ini visual dari Mas Abi, Ranti juga Mas Bian ya.


Maaf kalau nggak sesuai sama harapan kalian, bebas buat mem visualkan karakter dari tokoh dalam cerita Asmarant



Abimana



Asmaranti

__ADS_1



Bian


__ADS_2