
Ranti tamak berbunga-bunga, dan melepas cincin tersebut dari tempatnya, sejenak matanya menerawang pada kemilau nya cincin yang tengah dia pegang.
"Indah Sekali mas" gumam Ranti dengan meneliti keindahan benda tersebut.
Abi pun segera meraih jemari Ranti dan kemudian memakaikan cincin tersebut di Jari manis Ranti.
"Terima kasih mas "
"Kau sudah dua kali sayang mengatakannya " Ucap Abi dengan mengulas senyum.
Ranti pun terkekeh kecil mendengar penuturan dari sang suami.
Keduanya begitu larut dalam keindahan malam yang begitu menyenangkan, tidak sedikit pun Ranti merasakan bosan.
Setelah selesai dengan acara malam itu, Abi bergegas mengajak Ranti untuk meninggalkan tempat tersebut.
Ranti sedikit merasa bingung dengan sang suami, pasalnya Abi tidak membawanya ke parkiran mobil seperti pikirannya, nyatanya Abi membawa Ranti untuk menginap di salah satu kamar hotel yang telah di pesan Abi sebelumnya.
"Mas, Kenapa kita harus kesini" tanya Rati yang bingung.
Abi hanya bergeming, dan kemudian tersenyum dengan begitu menggoda.
"Bukankah tidur di Villa juga sama saja" pikir Ranti.
"Sayang, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama mu, tanpa adanya gangguan dari siapa pun" ucap Abi dengan melingkarkan tangannya di pinggang Ranti.
"Tapi kan kita tidak membawa baju ganti mas !" Kesal Ranti
"Tenang saja sayang kita tidak memerlukannya malam ini" Ucap Abi dengan senyum seringai.
"Iihh... Mas !"
Abi pun terkekeh kecil mendengar ucapan Ranti
"Ya sudah , aku akan membersihkan diri, tunggulah di sini" ucap Abi.
"Oh atau kau ingin ikut bersama ku ?" Goda Abi dengan senyum menggoda.
"Mass ..!"
Abi pun kembali terkekeh melihat tingkah kesal sang istri, kemudian dia memilih untuk segera menuju kamar mandi dan segera membersihkan diri nya.
Beberapa saat kemudian Abi telah selesai dengan ritual mandinya, sementara itu Ranti saat ini tengah berdiri di balkon dengan menatap jauh lampu-lampu kota yang terlihat begitu indah di bawah pancaran sinar rembulan.
"Sayang sedang apa kau disini" ucap Abi dengan memeluk Ranti dari belakang.
Sementara Ranti hanya bergeming, dan memberikan senyuman sebagai jawaban atas pertanyaan Sang suami.
__ADS_1
"Kau akan kedinginan sayang jika berdiri di sini" Ucap Abi lagi.
"Bukan Ranti mas , Tapi mas Abi yang akan kedinginan" ucap Ranti dengan senyum simpul.
Bagaimana tidak Ranti mengatakan hal itu, melihat Abi yang hanya mengenakan handuk sebatas pinggang, dan berdiri di balkon bersama dirinya, diterpa sepoy angin malam, sudah pasti tidak hanya dingin, mungkin saja Abi juga akan sakit karena hal itu.
"Kalau begitu..." Goda Abi.
"Bagaimana kalau kita saling menghangatkan, agar tidak kedinginan" Ucap Abi dengan begitu lirih.
Sementara Ranti hanya terkekeh dengan menggelengkan kepala, mengingat Abi selalu menginginkan hal itu akhir akhir ini.
Namun entah mengapa Ranti pun juga tidak dapat menolak permintaan Abi, entah tidak dapat menolak atau kah Ranti yang tidak memiliki alasan untuk menolaknya.
Yang jelas Ranti pun juga begitu menikmati suasana saat ini.
Abi pun membawa tubuh Ranti dalam dekapannya, membaringkan lembut diatas tempat tidur presidential suite tersebut.
"Kau siap ?" tanya Abi lembut.
"Belum "
Abi tampak mengerutkan dahi, mendapatkan jawaban penolakan dari sang istri.
"Kenapa begitu ?" Ucap Abi yang telah mengunci Ranti dalam kukung annya.
"Ranti belum mandi mas " Ucap Ranti dengan memanyunkan bibirnya.
Sementara Ranti hanya tersipu malu,mendengar penuturan Abi.
"Kau sudah sangat harum sayang" Ucap Abi dengan mulai mengendus leher jenjang Ranti.
"Auuuhhh" Sebuah Des ah An lolos begitu saja dari mulut Ranti.
Suara Ranti terdengar begitu indah di telinga Abi saat itu, begitu menggoda seakan menambah semangat Abi untuk segera melakukan olahraga panas malam.
"Kau siap " Ucap Abi lirih.
Sementara Ranti hanya dapat menganggukkan kepala, menahan sesuatu yang juga ingin segera tersalurkan.
Abi memulai permainannya dengan begitu lembut, hingga Ranti merasa sangat nyaman dan begitu menikmati permainan Abi.
Beberapa kali Abi memberikan usapan lembut dan Tanda kepemilikan di beberapa tempat, terutama di bagian depan Ranti yang begitu menggoda, dan terlihat begitu menantang.
Abi tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang dia lalui bersama Ranti. dia begitu memperlakukan Ranti dengan begitu istimewa, Karena bisa di pastikan separuh hatinya kini telah diisi oleh Ranti.
"Masss a aku--" ucap Ranti dengan menggelinjang menahan kenik mat An yang di berikan oleh Abi.
__ADS_1
"Apa sayang ?" jawab Abi di sela-sela gerakan panas nya.
"Eeemmmhhh..."
"Auuhh"
Tidak ada kalimat yang dapat menggambarkan betapa surga dunia tersebut begitu melenakan setiap 0asang yang melakukan. Hingga suara Des ah Han lah yang bisa menggambarkannya.
Seolah malam itu hanya milik berdua, begitu indah dan sangat menyenangkan bagi Abi dan Ranti yang mungkin tengah di mabuk asmara.
Bahkan Tidak hanya satu atau dua kali Abi melakukan pelepasan. Nyatanya Abi telah beberapa kali melakukan pelepasan di dalam inti tubuh Ranti. Menyiram benih yang begitu istimewa karena di lakukan dengan penuh cinta.
Abi pun merebahkan tubuhnya di samping Ranti setelah berhasil melakukan pelepasan yang kesekian kalinya.
Tidak berhenti di situ, nyatanya Abi kembali mencoba untuk mengga gahi Ranti lagi.
"Mas, Ranti lelah sekali" ucap Ranti dengan suara lirih.
"Aku mohon sayang, Aku sangat menginginkannya, bukankah sebelumnya kita telah libur satu Minggu" ucap Abi penuh permohonan.
Mendengar hal itu Ranti hanya dapat menggelengkan kepala dengan senyum di wajahnya.
Kembali Ranti Mengingat bagaimana beberapa hari sebelum keduanya berangkat berbulan madu, Ranti tengah mendapatkan tamu bulanan, sehingga Abi tidak dapat menyentuh Ranti.
"Baiklah" Pasrah Ranti kemudian.
Sementara itu Abi kembali melancarkan aksinya, melakukan olah raga panas yang entah telah di lakukan berapa kali.
Hingga dini hari nyatanya Abi masih begitu kuat untuk ber gulat. Namun melihat Ranti yang telah begitu kelelahan seolah tidak memiliki tenaga lagi, akhirnya dengan terpaksa Abi menyudahi semua kegiatannya.
Keduanya kini tengah tidur dalam satu selimut dan begitu erat Abi memeluk Ranti dibawah temaram cahaya lampu ruangan. Abi yang memeluk Ranti dari belakang dengan penuh cinta dan kasih.
Tidak ada lagi usapan lembut atau kegiatan panas, keduanya tampak pulas dalam tidur malam itu.
Hingga pagi menjelang keduanya terbangun bersamaan, tidak di pungkiri, kegiatan semalam begitu menguras energi dan tenaga Ranti , namun tidak dengan Abi, yang justru begitu bersemangat meski telah bertarung beberapa kali.
"Apa kau lelah sayang" ucap Abi lembut. Ranti pun menjawab dengan anggukan kepala.
Ranti pun mengukir senyuman kecil, kemudian menenggelamkan wajahnya di dada sang suami.
"Terimakasih Mas " Lirih Ranti masih dengan posisi semula.
Abi pun mengulas senyum manis di wajahnya "Aku yang seharusnya berterima kasih padamu" ucap Abi dengan mendaratkan kecupan di puncak kepala Ranti.
Nyatanya pagi itu tidak terlewat begitu saja, Abi kembali meminta pada Ranti untuk sebuah olah raga pagi, alih-alih beristirahat Ranti harus kembali menuruti sang suami yang seolah tidak pernah merasa leleh.
Tidak banyak hanya sekali saja Abi melakukan pelepasan, karena Ranti telah mengeluh jika dirinya sangat lapar. dan Abi pun segera memesankan makanan pada petugas hotel dan meminta untuk segera mengantar ke kamar keduanya.
__ADS_1
Sementara itu Ranti tengah membersihkan dirinya di dalam kamar mandi.
***