ASMARANTI ( Istri Pengganti )

ASMARANTI ( Istri Pengganti )
40. Luapan Hati


__ADS_3

Ranti masih sibuk dengan beberapa bahan makanan yang ingin dia olah.


Tidak ingin lebih sakit hati, Ranti memilih untuk abai, dan kembali berkutat dengan hal yang paling dia sukai, yaitu memasak..


Menyadari sebuah tangan yang tiba-tiba melingkar di pinggangnya, Ranti pun jelas tahu tangan siapakah itu. Siapa lagi kalau bukan sang suami Abimana Candra Brawijaya.


"Maafkan aku sayang " Ucap Abi dengan membenamkan kepala di celekuk leher Ranti.


Ranti hanya bergeming dan kembali fokus dengan pekerjaannya.


"Hei Maafkan Aku " Ucap Abi dengan menatap wajah Ranti dari samping.


Sejujurnya Ranti sangat tidak ingin membahas, Namun tidak ingin Abi semakin bertingkah di luar batas


"Tidak ada yang perlu di maafkan, Jadi untuk apa mas Abi Meminta Maaf ?" tanya Ranti dengan suara data, dan tangan yang masih sibuk dengan masakan.


Menyadari kemarahan sang istri, Abi pun membalikkan badan Ranti, agar keduanya saling berhadapan.


"Mas !. Ranti sedang masak " kesal Ranti yang melihat Abi melakukan sesuatu seenak hatinya.


Tidak mau tahu, Abi kembali melingkarkan tangannya di pinggang Ranti dan Meraih handel kompor untuk mematikan kompor tersebut.


"Maafkan aku " ucap Abi lagi masih penuh dengan Permohonan.


"Mas !. Jika aku bisa memilih maka jawabannya adalah aku tidak pernah ingin berada dalam situasi seperti ini" Ucap Ranti dengan mata berkaca-kaca.


"Selalu seperti ini " ucap Ranti lagi.


"Mas Abi selalu melakukan hal ini, Tidak hanya satu atau dua kali, nyatanya berkali-kali dan berulang kali mas!" Ucap Ranti dengan sura memekik.


"Aku tahu tidak ada sedikitpun ruang di hati mas Abi untuk Ranti, namun tidak bisakah mas Abi sedikit saja menghargai Ranti ketika kita sedang bersama "


"Aku telah meruntuhkan ego ku, memberikan semua yang aku miliki untuk mas Abi, Sedikit saja mas, tidak perlu banyak, lihatlah aku" Ucap Ranti yang berusaha menahan kepingan air di pelupuk matanya.


Mendengar hal itu Abi merasa begitu sakit, terasa bagai di tusuk duri, mendengar pernyataan yang begitu menyayat hati.

__ADS_1


Merasa cengkeraman Abi mulai memudar, Ranti memilih untuk pergi, berlari menuju kamar, meninggalkan Abi yang masih diam memaku.


"Bi. Ranti minta tolong selesaikan masakan yang belum selesai" ucap Ranti dengan menundukkan wajah dan langkah cepat.


Menangis di balik pintu yang dia tutup dengan begitu kencang, meluapkan segala amarah yang belum pernah selama ini dia utarakan.


Kekesalan yang selama ini selalu dia pendam sendiri, meski dia harus menahan tangis, ketika dirinya ingin menangis.


Cukup lama Ranti duduk di balik pintu kamar tersebut, lelah sudah dirinya menangis dan meratapi nasibnya, berjalan dengan langkah gontai, menghempaskan kasar tubuhnya diatas temat tidur empuk tersebut.


Lama menangis nyatanya cukup menguras tenaga dan energi nya, dan entah sejak kapan Ranti akhirnya terlelap dalam tidur nya.


Pelan dan sangat pelan, langkah Abi memasuki kamar, dimana disana Abi melihat Ranti yang tertidur dengan begitu damai.


Waktu menunjukan pukul 21.15 sudah cukup lama.sejakmranti menutup pintu kamar tersebut. Karena sejak sore Ranti telah mengurung dirinya di dalam, dan bahkan melewatkan makan malam yang sejujurnya merupakan makanan yang telah dia siapkan.


Abi Meletakkan piring berisi nasi dan beberapa lauk didalamnya, tidak lupa Abi membawakan segelas susu hangat untuk sang istri.


Menatap lekat wajah Ranti dari jarak yang begitu dekat, Abi pun melihat wajah yang begitu lelah, dengan beban yang begitu berat menghimpitnya.


Pada akhirnya Abi pun tidak tega untuk membangunkan Ranti, dia memilih untuk merebahkan tubuhnya di sisi yang kosong kasur tersebut.


Menarik pelan tubuh Ranti kedalam dekapannya, memeluk tubuh ramping tersebut dengan sangat erat.


00.31 Jam digital menunjukan waktu tengah malam.


Ranti terbangun dengan badan yang terasa pegal, perut yang seketika terasa meronta ingin segera di isi.


Ranti pun menyibak selimut yang dia kenakan, alangkah kagetnya Abi telah berada di sebelahnya, memeluk pinggang dan menaikkan satu kakinya di paha Ranti.


Hal itu lah yang membuat Ranti sedikit kesulitan untuk bangun.


"Mau kemana?" Tanya Abi dengan suara serak.


Mengedarkan pandanganya, menatap sisi ruangan yang tidak tampak cahaya, "Ini masih sangat malam sayang" Ucap Abi lagi dengan mengeratkan pelukannya pada Ranti.

__ADS_1


Mendengar hal itu Ranti hanya memutar bola matanya jengah dengan tingkah makhluk di sampingnya itu.


"Mas !" panggil Ranti dengan suara memekik


Abi hanya bergeming.


Dengan sekuat tenaga Ranti memindahkan Kaki Abi dari tubuhnya, dan akhirnya Ranti dapat terbebas dari siksaan itu.


Abi tampak tidak bereaksi, dia hanya kembali tidur nyenyak dan entah Mimpi apa yang tengah dia pikirkan saat itu.


Ranti berjalan dengan lunglai, menajamkan penglihatannya, Ranti melihat sepiring nasi dengan lauknya berada di atas meja


Ranti pun tersenyum simpul, kemudian berjalan menuju sofa, meraih piring tersebut, dan tanpa menunggu lama, Ranti pun melaham makanan yang ada di hadapannya. itu.


Senyum simpul terukir di wajahnya, dengan menatap lekat sosok Abi yang tengah tertidur pulas di atas tempat tidur.


Setelah selesai dengan makanan nya, Ranti bergegas menuju kamar mandi, menyadari sejak dirinya tiba di tempat tersebut, Ranti belum mandi dan juga belum mengganti pakaiannya


Meraih koper yang sebelumnya di bawakan oleh mang Dayat sampai di depan kamar, nyatanya saat ini koper tersebut telah berada di dalam kamar. Tidak mau ambil pusing tentang siapa yang telah memasukannya, karena sudah pasti tangan Abi lah yang bergerak untuk itu.


Meraih baju ganti yang dia bawa , Namun kaget Ranti ketika melihat isi kopernya seperti berubah, Jelas dia begitu mengingat jika sebelumnya Ranti memasukan beberapa Piyama, namun saat ini yang ada di dalam kopernya hanyalah baju malam yang terasa begitu minim dan tipis .


"Astaga" Gumam Ranti memikirkan ulah siapa ini.


Setelah cukup bergelut dengan perasaan dan hati yang begitu tidak dapat bersahabat. Ranti pun beranjak menuju kamar mandi, memenuhi bathub dengan air hangat dan dan busa sabun yang membumbung tinggi.


Ranti begitu menikmati acara berendamnya itu, sampai dia memejamkan mata menikmati hangatnya Air dan harum aroma sabun yang mengular di seluruh ruangan.


Sampai pada saat satu tangan besar menyusup dibalik tubuh rampingnya. Segera Ranti membuka matanya dan melihat sosok di hadapannya tengah tersenyum dengan senyuman yang tidak dapat Ranti artikan.


"Kau !" Ucap Ranti dengan suara memekik


"Iya aku, Kenapa ?" Jawab Abi santai.


Tidak habis pikir Ranti, mendapati Abi yang juga telah berada di dalam satu bathub bersamanya, menenggelamkan tubuh polosnya disana, Sejak kapan Abi berada di sana bahkan Ranti pun tidak menyadarinya.

__ADS_1


***


__ADS_2