
Hari semakin sore, dengan cuaca yang terlihat mendung, kabut yang mulai menuruni perbukitan di sekitar Villa milik Abi.
Terlihat Ranti yang tengah menerima sebuah panggilan telepon
"Halo mas Bian " ucap Ranti dengan suara malas
"Ran kamu dimana ?, Aku tadi ke kos tapi kata Pak Ahmad kamu belum kembali " Ucap Bian
Ranti hanya terdiam mendengar pertanyaan dari Bian. "Ranti masih di puncak mas " Ucap Ranti dengan menghembuskan nafas
"Di puncak ?, Bukankah setelah dari klinik kalian pulang ?" Tanya Bian penuh selidik
Sejujurnya Ranti tidak ingin melibatkan Bian dalam kehidupannya, namun laki-laki itu selalu mendesak Ranti untuk berkata jujur, hingga Ranti tidak memiliki pilihan lain.
Setelahnya Ranti menceritakan semua kejadian yang di lalui, setelah dirinya pulang dari klinik, sampai pada saat ini, Ranti yang ditinggalkan sendiri di villa karena Abi yang telah lebih dulu kembali ke kota.
Meski setelahnya Ranti tahu alasan Abi meninggalkan dirinya adalah karena Abi mencemaskan kakaknya, karena kondisi Dewi yang kembali drop.
Setelah mengatakan panjang lebar kejadian yang di alami, bukan ber simpati Bian malah dengan tanpa berpamitan, menutup begitu saja panggilan telepon tersebut.
"Ish... aneh , Yang telepon siap, yang matiin siapa,!" gumam ranti menatap handphone miliknya dengan menggelengkan kepala.
Ranti mendongakkan kepalanya , melihat kearah luar jendela, menatap ke langit-langit yang terlihat begitu gelap, seperti akan ada badai yang turun sore itu.
Ranti memilih untuk segera mengemas beberapa barang miliknya, yang tidak begitu banyak, karena Ranti memang tidak membawa apapun sebelumnya.
Selesai berkemas Ranti segera keluar dari kamar untuk segera kembali ke kota.
"Neng, kok udah rapi mau kemana ?" Ucap Bi Marni
"Bi, Ranti harus kembali ke kota, besok ada beberapa pekerjaan penting di kantor " Tukas Ranti
"Tapi neng Ranti mau pulang sama siapa ?" tanya Bi Marni lagi
Melihat ke khawatir dari wajah tua bi Marni, Ranti lantas mengulas sebuah senyuman "Tenang saja bi, Ranti akan turun ke bawah, Di perempatan kan banyak angkot, Ranti bisa naik angkot sampai ke terminal" Ucap Ranti memberi penjelasan pada asisten rumah tangga tersebut.
Sejujurnya Bi Marini merasa tidak tega melihat Ranti harus berjalan kaki sampai ke perempatan bawah, terlebih melihat kondisi kaki Ranti yang masih bengkak, namun mau bagaimana lagi karena hanya di sana ada kendaraan umum, sementara pak Dayat juga belum pulang dari kebun, tidak ada orang lain yang bisa dia mintai tolong.
"Bi, Ranti pamit ya" Ucap Ranti dengan suara lembut.
Duarrr
__ADS_1
Terdengar petir menggelegar di udara , meski saat itu hujan belum turun.
"Neng, apa tidak sebaiknya besok pagi saja ?" Ucap Bi Marni dengan wajah cemas.
"Tenang saja Bi, Ranti akan sampai di bawah sebelum hujan turun " Ucap Ranti dengan mengulas senyuman kemudian beranjak untuk kuar dari Villa milik Abi tersebut.
Meski dengan langkah tertatih, menahan rasa ngilu yang masih sedikit terasa pada pergelangan kaki, Ranti tetap berusaha berjalan secepat mungkin.
Ranti tidak ingin hujan lebih dulu menyapa dirinya, sebelum Ranti sampai di pangkalan angkot.
Bi Marni yang masih melihat langkah kecil Ranti yang terlihat tertatih, dari kejauhan semakin merasa khawatir, takut jika terjadi sesuatu terhadap Ranti, apalagi ini pengalaman pertama mungkin bagi Ranti datang ke Villa ini.
"Duh neng, gimana ini" Gumam Bi Marni.
Ranti semakin berjalan menjauh dari Villa, semakin menghilang di balik kabut yang mulai turun, Hingga Ranti benar-benar tidak terlihat oleh BI Marni yang masih berdiri di depan Villa.
Ranti yang sebelumnya pernah satu kali berjalan kaki bersama Abi untuk membeli jagung, merasa saat itu tidak begitu jauh, tapi Ranti sadar jika saat itu dia berjalan dengan kondisi kaki yang baik-baik saja, sementara saat ini dirinya tengah mengalami Cedera.
Sejujurnya ingin sekali Ranti berlari, agar segera sampai di perempatan bawah, ada perasaan was-was dan takut ketika dirinya harus berjalan sendirian di tengah kabut yang mulai turun, namun hal itu rasanya sulit sekali karena kakinya benar-benar tidak bisa di paksa untuk lebih cepat lagi.
Tint Tint Tint
"Ranti !" ucap Bian ketika berada tepat di hadapan Ranti
Melihat Bian yang berada di tempat tersebut membuat Ranti merasa lega "Mas Bian" Ucap Ranti dengan menghambur dalam pelukan Bian.
"Ranti Takut Mas" Ucap Ranti lirih dengan menenggelamkan wajahnya pada dada Bian.
Melihat hal itu Bian merasa geram pada Abi, bisa-bisanya dia begitu saja meninggalkan Ranti sendirian.
"Kau kenapa ?" Tanya Bian dengan wajah cemas ketika melihat Ranti yang seolah menahan rasa sakit di bagian kakinya.
Ranti hanya menunduk dengan wajah sendu "Kaki ku sakit" Ucap Ranti kemudian
Melihat hal itu, buru-buru Bian mengajak Ranti untuk masuk kedalam mobil, agak perjalanan mereka tidak semakin kemalaman.
Berada di dalam mobil Bian, Ranti merasa aman dan tenang, tidak seperti sebelumnya "Mas Bian kok nyusul Ranti sih" Ucap Ranti
Bian hanya menarik nafas dan menghembuskan kasar "Aku sudah tahu hal ini akan terjadi" Jawab Bian datar
Sejujurnya Bian tidak ingin Ranti merasa sedih ketika mengetahui jika Ranti di tinggalkan oleh Abi sendiri di Villa, bukan tanpa alasan sebelumnya Abi segera mematikan teleponnya dengan Ranti, dan alasan dibalik itu semua adalah ini, Abi ingin segera menjemput Ranti.
__ADS_1
"Terima kasih Mas " Ucap Ranti lirih dengan pandangan menunduk
Bian menatap sekilas wajah Ranti yang di tekuk "Sudah lah, aku ada di sini, kau tidak perlu sedih" Ucap Bian seolah tahu apa yang tengah ada dalam pikiran Ranti saat ini.
Ranti tersenyum ke arah Bian setelah mendengar ucapan yang menenangkan tersebut, Ranti selalu merasa Bian adalah sosok kakak yang baik, meski kadang menyebalkan.
Tidak di pungkiri berada di dekatnya Ranti merasa tenang.
***
Kepergian Ranti dari tempat sebelumnya, menyisakan Abi yang berdiri mematung, menyaksikan bagaimana Ranti memeluk Bian dengan rasa takut di hatinya.
Beberapa kali dia merutuki kebodohan ya sendiri, bagaimana dia yang berstatus suami, sedangkan laki-laki lain yang selalu ada untuk istrinya.
Flashback On
"Den , Ini Ning Ranti maksa Buat Pulang" Ucap Bi Marni di ujung telepon
"Apa?, Abi sudah dalam perjalanan Bi, Suruh Ranti tunggu sebentar " Ucap Abi dengan semakin mempercepat laju kendaraan yang dia kemudikan.
"Baik Den " Ucap Bi Marni
Setelah kepergian Ranti, namun masih dapat di lihat dari kejauhan oleh BI Marni, Bi Marni dengan sigap segera menghubungi Abi.
Nyatanya Abi pun tengah dalam perjalanan untuk menyusul Ranti, namun ternyata dia kalah cepat, Bian lebih dulu sampai dan menenangkan istrinya yang sedang ketakutan
Flashback Off
Mobil melaju dengan kecepatan sedang tatkala sudah memasuki area gedung-gedung pencakar langit, dimana kemacetan dan lalu lalang kendaraan pada di jalan tersebut.
Ranti memilih untuk langsung kembali ke kos, meski Bian menawari dirinya untuk makan dulu.
Perasaan yang entah bagaimana membuat Ranti merasa kehilangan selera makannya
"Terima kasih mas Bian " Ucap Ranti ketika mobil Bian telah terparkir di depan kos Ranti
"Tidak perlu sungkan, Jika ada apa-apa segera hubungi aku " Ucap Bian dengan mengulas sebuah senyuman manis.
Dan Ranti hanya membalas dengan anggukan kepala.
***
__ADS_1