ASMARANTI ( Istri Pengganti )

ASMARANTI ( Istri Pengganti )
46. Pertemuan


__ADS_3

Mobil pun melaju, meninggalkan Villa dan Dua penjaga yang selalu berada di sana. Ya dua penjaga yang tidak lain adalah Bi Minah dan pak Dayat yang sedari beberapa hari yang lalu telah melayani Abi dan Ranti dalam acara bulan madunya.


Abi berada dalam satu mobil dengan Ranti, Sementara Bu Shinta berada dalam satu mobil bersama pak Prabowo.


"Sayang " Panggil Abi dengan suara lirih.


Ranti tak kuasa menjawab panggilan Abi, Entah apa yang ada dalam pikiran Ranti saat ini. Sebuah senyum yang mampu dia suguhkan untuk sang suami saat ini.


Hening.


Ranti hanya dapat mengalihkan pandanganya keluar jendela, entah apa yang akan kakak nya pikirkan jika tahu suaminya telah menikah dengan adik kandungnya. Lalu bagaimana jika kakaknya tahu jika Suaminya tidur bersama Adik kandungnya.


Pikiran-pikiran yang begitu menyesakkan kepala, menuntut sebuah jawaban namun Ranti sendiri tidak tahu, dan entah bagaimana. Hubungannya dengan sang kakak nantinya.


Melihat Ranti yang hanya diam, Abi pun berinisiatif meraih tangannya, dan Ranti pun menepis tangan Abi pelan.


Abi sedikit terhenyak dengan sikap Ranti, pasalnya ini merupakan kali pertama Ranti menolak dirinya.


"Mas, Ranti mohon " Lirih Ranti yang berusaha menguatkan hati nya. Ranti hanya tidak ingin dia selalu bergantung pada Abi , sekalipun itu persoalan hati. Setidaknya untuk saat ini Ranti hanya ingin menenangkan dirinya.


"Ok, Baiklah" Ucap Abi , dan kembali fokus pada kemudinya.


Keduanya hanya saling diam, dan suasana di dalam mobil begitu terasa sunyi, tidak ada perbincangan hangat seperti yang keduanya lakukan saat berangkat ke puncak.


Semua tampak berbeda, Ranti dan Abi seolah dua orang yang tidak saling mengenal.


Hening.


Menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam lamanya, Akhirnya Ranti dan Abi telah tiba di parkiran rumah sakit. Sementara pak Prabowo dan Bu Shinta telah lebih dulu tiba.


Di lobby rumah sakit Pak Prabowo dan Bu Shinta tengah menunggu Ranti dan Abi, duduk di sebuah sofa, kedua nya sama seperti Abi dan Ranti yang juga hanya diam dengan pikiran masing-masing.


Namun dalam hal ini rasa bersalah mungkin paling besar dirasakan oleh Ranti. Meski pernikahan dirinya dan Abi merupakan keinginan orang tua. Namun tidak akan terjadi jika Ranti tidak menyetujuinya.


Ranti dan Abi berjalan menyusul Pak Prabowo dan Bu Shinta yang telah menunggu.


"Kita ke ruangan Dewi sekarang ?" ucap Bi Shinta, setelah Abi dan Ranti berada di hadapannya. sementara itu Abi dan Ranti kompak hanya menganggukkan kepala.


Empat orang tersebut berjalan beriringan, menyusuri lorong dingin rumah sakit, yang mungkin saat ini terasa lebih dingin bagi Ranti.


Tidak butuh waktu lama akhirnya Ranti dan Abi, serta dua orang mertua Ranti telah berada tepat di ruang perawatan. Ya, benar saja mereka berdiri di depan ruang perawatan, bukan lagi ICU seperti duku kerap kali Ranti dan Abi datang.


Deg.

__ADS_1


Semakin terasa jelas debaran jantung Ranti kala itu.


"Ma "


Panggil Ranti pada Bu Shinta, dan hal itu seketika menghentikan langkah dari mereka. Mereka pun kompak menoleh kearah Ranti.


"Ma, Pa, Mas Abi, Ranti ingin meminta satu hal pada kalian, tolong jangan katakan apa pun mengenai hubungan Ranti dengan Mas Abi" Lirih Ranti dengan menundukkan wajahnya.


Sungguh saat itu tidak hanya takut namun Ranti juga merasakan sakit hati yang begitu teramat dalam.


Seolah dirinya telah siap untuk merelakan semuanya. Dan menyerahkan kembali apa yang bukan menjadi miliknya kepada sang pemilik sesungguhnya.


"Tapi Ran Lebih baik kita mengatakan semuanya " Sanggah Bu Shinta.


"Ma. Ranti mohon " Ucap Ranti penuh Permohonan


"Mama benar Ran, Aku pun tidak setuju" Timpal Abi membenarkan ucapan sang mama.


"Ma. Ka Dewi mungkin saja sedang dalam masa pemulihan, dia tidak akan siap menerima semua ini"


"Dan Ranti tidak akan bisa melihat ka Dewi kembali sakit"


Ucap Ranti dengan terisak, menahan sesak dalam dada yang begitu menyakitkan jiwa.


Ceklek


Perlahan pintu ruangan tersebut terbuka, Disusul dengan kemunculan Abi, Bu Shinta, Pak Prabowo dan juga Ranti di paling belakang.


Betapa terkejutnya Abi ketika benar benar mendapati Ranti dalam keadaan sehat dan telah kembali dari tidur panjangnya.


"Mas Abi" Panggil Dewi dengan begitu lembut, sebuah senyum manis terlihat jelas di wajah Dewi saat itu.


Sementara Abi merasa bahagia, namun juga terdapat luka di dalam hatinya.


Tidak memberikan jawaban apapun Abi hanya berjalan semakin mendekat pada Dewi yang telah duduk diatas Tempat tidurnya.


Dewi terlihat begitu sehat, jauh lebih sehat dari terakhir kali mereka bertemu.


"Aku sudah kembali mas, Apa aku tidur sangat lama ?" Ucap Dewi dengan mata berembun.


Lagi-lagi Abi tidak dapat memberikan jawaban, hatinya masih di Liput i suasana haru, Abi hanya semakin dekat dan meraih tubuh Dewi dalam pelukannya.


"Aku sangat merindukanmu mas" ucap Dewi penuh ketulusan.

__ADS_1


Sementara di belakang sana , Ranti hanya dapat menahan sakit, dan bahagia yang bersamaan, entah dirinya harus berekspresi seperti apa, sungguh Ranti tidak mampu untuk menggambarkannya.


"Aku juga sangat merindukanmu Dewi" ucap Abi lirih di iringi usapan lembut di punggung Dewi.


"Aku sangat mencintaimu mas Abi"


"Aku juga sangat mencintaimu Dewi" balas Abi.


Lagi, Ranti harus kembali merasakan jiwanya kembali di kuliti, mendengar setiap kalimat yang keluar dari laki-laki yang saat ini begitu dia cintai.


Ya. Nyatanya Ranti juga telah memiliki rasa cinta pada Abi saat ini, mungkin terlambat untuk menyadari atau bahkan Ranti tidak pernah memiliki kesempatan untuk menyadarinya.


Sementara Bu Shinta dan pak Prabowo hanya saling pandang, kemudian mengarahkan pandanganya pada Ranti yang terlihat begitu sedih.


Namun mau bagaimana pun, mereka tidak bisa egois, mereka juga harus memikirkan kesembuhan Dewi saat ini.


Terlihat jelas oleh pasang mata Ranti, Dimana Dewi tidak pernah mau untuk melepaskan pelukannya dari Abi, Dewi seolah ingin selalu bersama Abi dan menikmati kebersamaan mereka.


Abi , Abi , dan Abi hanya Abi yang selalu Dewi ucapkan, bahkan Dewi juga melupakan calon anaknya yang telah tiada, anak yang telah meninggal bersama dirinya yang kecelakaan dan kemudian koma.


Hal itu sudah cukup memberi penjelasan pada Ranti jika Kakaknya Dewi sangat membutuhkan Abi Saat ini, dan mungkin Abi lah yang akan menjadi obat bagi kesembuhan seutuhnya bagi sang kakak nantinya.


Lalu Ranti ?, Tentu saja Ranti akan kembali terluka dengan luka yang semakin menganga.


Melihat kemesraan Dewi, Abi , dan juga dua orang mertuanya yang saling berbincang membuat Ranti merasa tidak nyaman ber lama-lama di ruangan tersebut.


Ranti pun memilih meninggalkan ruang perawatan sang kakak.


"Ranti !" Sebuah panggilan dari sang kakak, yang kemudian menghentikan langkah Ranti saat itu.


"I iya ka Dewi " ucap Ranti lirih, dengan suara bergetar.


"Apa kau tidak suka kakak telah kembali " Ucap Dewi


Deg.


Ranti begitu terkejut mendengar penuturan dari sang kakak. Namun secepat mungkin Ranti berusaha menguasai hatinya kembali.


"Ranti Sangat bahagia ka, sangat bahagia" ucap Ranti dengan mengulas senyum di wajahnya.


"Lalu kenapa kau tidak memeluk kakak mu ini ?" Ucap Dewi dengan melebarkan tangannya, menyambut pelukan dari Ranti.


Sementara itu Ranti pun menghambur dalam pelukan sang kakak yang juga sejujurnya selama ini selalu dia rindukan, dan sangat dia harapkan kesembuhannya.

__ADS_1


***


__ADS_2