ASMARANTI ( Istri Pengganti )

ASMARANTI ( Istri Pengganti )
12. Cerita Sebenarnya


__ADS_3

Tut.


"Sarah !" Panggil Bian dari balik telepon


"Ya pak" Jawab Sarah cepat.


"Bawa kotak P3K ke ruangan ku, Sekarang !" Ucap Bian dan seketika menutup panggilan tersebut.


"P3K ?" Gumam Sarah dengan rasa heran


Sarah yang baru saja mendapat perintah segera masuk kedalam ruang kerja Bian, dengan membawa kotak P3K yang sebelumnya di minta.


"Permisi pak !" Ucap Sarah dengan menunduk sopan, dijawab dengan anggukan kepala oleh Bian.


"Ikut aku " ucap Bian dengan berjalan menuju kamar dimana Ranti berada.


Kaget?


Sudah pasti.


Melihat keadaan Ranti yang pingsan, membuat Sarah sedikit terkejut dan seketika kedua bola matanya membulat sempurna.


"Pak !" Ucap Sarah dengan suara memekik, sedetik kemudian Sarah membekap mulutnya sendiri dengan satu telapak tangan.


"Tidak usah banyak tanya, segera balurkan minyak angin padanya" Ucap Bian dengan suara datar, namun dengan perasaan cemas


Meski merasa sedikit heran, namun Sarah memilih untuk tetap diam, tidak ingin banyak bertanya, yang nantinya justru akan semakin membuat Bian naik pitam.


Sarah merupakan salah satu dari banyak orang yang sangat mengenal karakter Bian yang begitu dingin dan tidak suka di bantah.


"Untung suami gue gak kaya Pak Bian, Bisa jantungan gue punya suami kaya dia" Batin Sarah dalam hati, dengan usapan lembut di perutnya.


Sarah juga merupakan salah satu sekertaris kepercayaan Bian, yang baru saja menikah, dan saat ini tengah hamil muda.


Dengan sigap Sarah membuka kotak P3K tersebut dan mencari minyak angin, mengoleskan minyak angin di bagian bawah hidung, tengkuk, dan kemudian melepaskan dua kancing kemeja bagian atas untuk melonggarkan pernafasan Ranti, setelahnya membubuhkan minyak angin di sana.


"Sarah !, Minta ob untuk Siapkan Teh Manis hangat, dan segera bawa kesini" Ucap Bian ketika semua pekerjaan Sarah telah selesai.


"Baik pak " Jawab Sarah sopan dengan menganggukkan kepala.


Sarah keluar dari ruang kerja Bian dengan penuh tanda tanya besar di kepalanya.


Sejenak berpikir, mungkin saja Bian marah karena pekerjaan Ranti yang tidak baik, dan melampiaskan kemarahan tersebut, sampai Ranti pingsan.

__ADS_1


"Kasihan sekali gadis itu !" Gumam Sarah dengan suara lirih.


Dengan langkah cepat Sarah menuju pantry dan meminta ob untuk membuatkan Teh Manis hangat, sesuai permintaan Bian sebelumnya


***


Waktu menunjukan pukul 16.15


Beberapa karyawan tentunya sudah pulang lima belas menit yang lalu, kecuali yang akan melakukan lembur. Jam operasional kantor yang di mulai dari jam 08.00 hingga jam 16.00.


Namun dengan setia Bian menemani Ranti di ruangan tersebut, didalam kamar yang berada di ruang kerja Bian. Melihat Ranti yang mulai mengerjakan mata, Bian merasa sangat senang. Dengan wajah berbinar Bian mengusap lembut punggung tangan Ranti.


"Ranti , Kau sudah sadar !" Ucap Bian kemudian


Ranti berusaha bangkit, meski kepalanya terasa sangat pusing.


"Berbaringlah, kau masih butuh waktu untuk istirahat !" Ucap Bian lagi


Mendengar hal itu Ranti hanya terdiam, dan mengabaikan ucapan Bian.


Ranti hanya Menundukkan wajah, dan melihat dua buah kancing bajunya yang terbuka, namun seketika dirinya menyadari ada aroma minyak angin di bagian dadanya, kemudian Ranti fokus dan tidak ingin terlibat perdebatan dengan bian lagi.


Namun karena Ranti sudah lelah dan enggan untuk kembali berdebat dengan Bian, Ranti memilih segera menyibak selimut yang menutupi dirinya dan segera beranjak dari tempat tidur.


Ranti yang merasa sudah sangat malas meladeni Bian, seketika mengibaskan tangan Bian, hingga cengkeraman tangan Bian terlepas dari tangannya.


Meski merasakan tubuh yang begitu lemah, dengan sekuat tenaga Ranti melangkah, dengan satu tangan membenarkan kancing baju nya yang terbuka, sementara satu tangan lainya bersandar pada dinding kaca untuk menopang tubuhnya yang terasa sangat Lemah.


"Tunggu !" Ucap Bian lagi melihat Ranti yang telah berjalan beberapa langkah meninggalkan dirinya, Namun Ranti tetap bergeming.


Dengan langkah cepat Bian meraih pinggang Ranti, memeluk dari belakang, mengikis jarak diantara keduanya hingga Bian melingkarkan kedua tangannya pada bagian perut Ranti.


"Lepaskan Mas !" ucap Ranti dengan suara lirih.


"Tidak , Tidak akan !" ucap Bian kemudian


"Ranti sudah lelah mas ! Ranti mohon cukup !" Ucap Ranti dengan suara melemah. Dan Bian hanya menggelengkan kepala.


"Mau mas Bian apa !, dengan menahan Ranti seperti ini !" Ucap Ranti dengan suara bergetar dan sudut mata yang kembali berembun.


"Maafkan aku Ran, Maafkan aku" Ucap Bian dengan suara lirih penuh penyesalan.


"Aku sudah memaafkan mas Bian, Jadi biarkan Ranti pergi ! " Ucap Ranti kemudian dengan sekuat tenaga memberontak, melepaskan pelukan Bian.

__ADS_1


"Tidak !, aku mohon tetaplah seperti ini, sebentar saja !


" Pinta Bian dengan semakin erat melingkarkan kedua tangannya di perut Ranti.


"Katakan , Kenapa kau tidak membicarakan ya denganku !" ucap Bian dengan suara pelan.


"Apa kau tidak menganggap ku ada" Tukas Bian lagi.


"Kenapa kau harus mengambil keputusan sebesar ini sendiri an, kau tidak harus mengorbankan dirimu Ranti demi kebahagiaan orang lain" Ucap Bian


Mendengar ucapan Bian, Ranti hanya terdiam dengan wajah yang semakin menunduk dan air mata yang sudah tidak lagi dapat dia tahan.


Selama Ranti pingsan, Bian kembali meminta orang orang kepercayaannya untuk menyelidiki alasan dibalik pernikahan Ranti yang terkesan dadakan, termasuk menyelidiki keluarga Ranti.


Nyatanya tidak butuh waktu lama, akhirnya Bian mengetahui segalanya, termasuk alasan dari pernikahan Ranti dan Abi.


Terlebih penuturan yang di sampaikan oleh Satya, yang tidak lain adalah kakak kandung dari Dewi dan Ranti. Bian yang menghubungi Satya akhirnya mengetahui dengan pasti alasan dibalik pernikahan Ranti yang mendadak.


Dimana Ranti yang terpaksa menikah dengan Abi karena sebuah alasan besar, Ranti yang tidak ingin membuat Dewi tidak lagi mendapatkan pengobatan yang baik, apabila Abi menikah dengan orang lain.


Sebuah ketakutan yang tengah Ranti rasakan, Hinga menikah dengan Abi menjadi sebuah pilihan.


"Hatiku sakit Mas, sangat sakit " Ucap Ranti lirih dengan sudut mata yang mengalirkan bulir-bulir bening.


"Aku tahu, maafkan aku , aku bodoh karena aku terlambat mengetahui semuanya Ranti" Ucap Bian kemudian. Dan Ranti hanya menggelengkan kepala.


Menyadari sudah tidak ada penolakan dari Ranti, Bian segera membalikkan tubuh Ranti untuk menghadap dirinya.


Menyentuh kedua bahu Ranti dengan lembut. Terlihat begitu besar beban yang di rasakan oleh Ranti, sorot mata yang tidak terlihat seperti biasanya, menandakan hati yang tidak baik-baik Saja.


Segera Bian meraih tubuh Ranti dan segera menenggelamkannya pada dada bidang Bian.


Menghirup aroma maskulin dari tubuh Bian membuat perasaan Ranti sedikit lebih tenang, merasa kan pelukan seorang kakak yang begitu menghangatkan dan menentramkan jiwa yang tengah terluka.


Sejenak suasana menjadi hening tanpa ada kata dari Bian maupun Ranti, sementara Bian tetap membiarkan Ranti berada dalam pelukan ya.


***


Bersambung


***


Mohon dukungan untuk author ya kakak kakak Reader.

__ADS_1


Sehat dan bahagia selalu 🥰🖤


__ADS_2