
...Apapun Masalahnya Bicarakan, Jika Sudah tidak mampu untuk Bertahan, Maka Segeralah Ambil Keputusan...
...🍁...
Tanpa di sadari Oleh Bian dan Ranti, perbincangan keduanya telah di amati oleh sepasang mata yang menatap dengan tatapan tajam penuh amarah.
Ya. Abimana, Seseorang yang tengah mengamati tingkah keduanya dari jarak yang lumayan jauh.
Sebetulnya bukan karena kesengajaan Abi berada di restoran ini dan bertemu dengan Ranti, namun karena Abi sendiri ada kunjungan ke anak cabang perusahaanya. Serta ada beberapa Agenda pertemuan dengan beberapa kolega penting, yang juga di lakukan di restoran yang sama dengan Ranti dan Bian.
Melihat keakraban antara Bian dan Ranti, seketika tangan Abi mengepal, terasa panas pada sisi dalam dadanya, ada rasa tidak terima, dan amarah yang kian membara.
Dengan jarak aman, Abi terus saja mengamati keduanya, berjalan mengikuti langkah kaki Ranti, hingga menuju ke sebuah parkiran , dan benar saja Ranti pun ikut masuk kedalam mobil Bian.
Tanpa sadar Abi terus saja mengikuti mobi Bian dari belakang "Mau kemana Mereka" gumam Abi dengan tatapan tajam dan wajah yang sudah merah padam .
Abi terus saja membuntuti mobil yang di kemudian oleh Bian, sampai pada satu titik, sebuah tempat yang berada di atas ketinggian 1580 MDPL mobil yang di kemudian Bian berhenti.
Ya keduanya telah tiba di puncak dengan pemandangan hijau, dimana sejauh mata memandang hanyalah hamparan daun teh yang terlihat.
"Agak nggak nyambung sih konsep sama kostumnya, tapi Nggak masalah sih , Ranti hargai Usaha Mas Bian" ucap Ranti dengan mengulas sebuah senyuman manis.
Bukan Ke Bali, Lombok, Singapura, ataupun Australia, namun ke puncak saja sudah cukup membuat Ranti merasa sangat bahagia.
Keduanya turun dari mobil dan menikmati pemandangan alam yang begitu menakjubkan, sungguh ciptaan Tuhan yang tiada tandingan.
Abi yang melihat kedekatan diantara Bian dan Ranti hanya mampu menahan rasa kesal, terlihat beberapa kali Abi yang memukul kasar stir mobil nya.
Semakin di lihat semakin membuat amarah Abi berkobar, dengan rahang yang mengeras dan tangan mengepal. Semakin terasa memanas. Abi yang sudah tidak tahan dengan situasi ini, memilih untuk keluar, dan.
Plok Plok Plok
Sebuah tepuk tangan keras, terdengar begitu Jelas di telinga, yang seketika mengejutkan Bian dan Ranti. Menyadari hal itu keduanya pun berbalik, menghadap pada sumber suara sebelumnya.
Dan alangkah terkejutnya Ranti, ketika mendapati sosok Abimana telah berdiri tepat di belakangnya. Dengan sorot mata tajam bagai elang yang telah siap membidik mangsanya.
__ADS_1
"Ohh... Jadi ini yang kamu lakukan, Tidak ingin pulang, karena dia !" Ucap Abi sarkas, dengan telunjuk yang mengarah pada Bian.
"Pantas saja kau tidak menganggap ku penting, karena kau lebih mementingkan orang lain nyata nya" ucap Abi
"Berapa Uang yang dia tawarkan, sampai kau mau diajak berkencan " Ucap Abi dengan suara dingin dan tatapan menekan pada Ranti.
Seketika Sudut mata Ranti mulai memanas, mendengar ucapan dari Abi yang begitu menyakiti.
"Oh, Tunggu !, Bukankah kau Sahabat Dewi ?, dan Sekarang kau menjalin hubungan juga ternyata dengan Ranti ?, Menjijikan !" Tukas Abi dengan nada sarkas.
"Nyatanya Kalian memang sama sama Menjijikan " Ucap Abi dengan tatapan sinis.
"Lancang !" Ucap Bian dengan suara tidak kalah sarkas.
Sejenak tatapan Bian dan Abi beradu , dengan sorot mata tajam yang mengisyaratkan sebuah peperangan.
"Jaga mulutmu !, Ranti tidak seperti yang kau pikirkan!" Ucap Bian dengan suara lantang.
"Lalu seperti Apa ?, Seperti yang kau pikirkan ?" Balas Abi. Dengan mata memicing.
Mendengar segala Hinaan dan cemoohan yang keluar dari mulut Abi, membuat Ranti harus kembali merasakan sakit di dalam hati.
Sekuat tenaga menahan genangan air mata yang sedari tadi dia tahan agar tidak tumpah, namun nyatanya Ranti tidak sekuat itu, dia hanyalah wanita biasa yang pasti akan terluka dengan segala Hinaan dan cemoohan, terlebih kalimat itu keluar dari mulut suaminya sendiri.
"Cukup !, Apa begitu caramu memperlakukan istrimu ?" Ucap Bian sarkas
Abi hanya memandang acuh pada Bian dan Ranti, merasakan kemarahan yang sudah membuncah, Ingin rasanya Abi menghantam wajah Bian dengan sebuah bogem.
"Mas Abi, Ini tidak seperti yang kau lihat " Ucap Ranti lirih dengan sesenggukan.
Dan Abi hanya tersenyum sinis.
Bukan hanya sedih karena hinaan dari Abi, namun Ranti juga merasakan takut, jika hal ini akan berpengaruh terhadap Pernikahannya dengan abi, dan mungkin akan berimbas pada perawatan Dewi.
Bisa jadi dalam kemarahan Abi yang begitu besar, dia akan menghentikan biaya pengobatan untuk kakaknya Dewi. Mungkin itu yang saat ini menjadi ketakutan terbesar bagi Ranti.
__ADS_1
Melihat raut wajah Abi yang sudah padam, membuat Ranti semakin mendelik ketakutan.
"Aku bisa jelaskan mas !" ucap Ranti lagi dengan suara bergetar.
"Aku benar-benar hanya meeting hari ini, Sungguh aku tidak berbohong mas " Ucap Ranti sesenggukan , berusaha memberi penjelasan pada Abi.
"CK. Lalu untuk apa kau di tempat ini ?, Sudah lah tidak perlu mengelak lagi !" Ucap Abi dengan pandangan sinis. Dan Ranti hanya dapat menggelengkan kepala.
Melihat Ranti yang selalu terpojokkan, membuat Bian semakin tidak tahan, terlebih melihat Air mata Ranti yang terus saja mengalir. Tanpa sedikitpun Abi memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
Bug.
Satu pukulan akhirnya mendarat sempurna pada wajah tampan Abi. Mendapatkan serangan yang tanpa aba-aba membuat Abi tidak dapat menghindari pukulan dari Bian, Namun sedetik kemudian Abi pun balik melayangkan sebuah pukulan pada Bian yang membuat Bian juga akhirnya ambruk.
Tidak sampai di situ Bian yang tidak terima, dengan sigap dan cepat kembali bangun dan berusaha melayangkan pukulan yang ke dua pada Abi, namun kali ini kalah cepat karena Ranti berdiri menghadang, dan menjadi benteng bagi Abi, hingga dirinya lah yang akhirnya terkena pukulan dadi Bian.
Bug.
Sebuah pukulan mendarat sempurna tepat di bagian perut. Ranti merasakan sakit pada bagian perut yang sangat luar biasa, Seketika Tubuh Ranti meremang, pandangan yang tiba-tiba menjadi gelap dan terhuyung, hingga akhirnya dia jatuh.
Namun belum sampai Ranti jatuh ke tanah, Abi telah sigap menangkap tubuh Ranti yang telah pingsan, dan membawanya dalam dekapan.
"Ranti !" ucap Bian dan Abi bersamaan.
"Ingat, jika terjadi sesuatu padanya aku akan membuat perhitungan denganmu !" Ucap Abi dengan tegas dan sorot mata tajam
"Jaga Ucapanmu !, Kau yang memulai " Sergah Bian.
Tidak ingin semakin larut dalam perdebatan yang tidak ada ujungnya, Abi memilih segera membawa tubuh Ranti ke mobilnya.
***
Bersambung
***
__ADS_1