ASMARANTI ( Istri Pengganti )

ASMARANTI ( Istri Pengganti )
53. Rujak


__ADS_3

Lagi dan lagi Ranti harus mendengar derit panas sang kakak dengan suami nya , suami Ranti dan sang kakak nya Dewi lebih tepatnya.


Nyatanya berbagi Hati itu memang tidak lah mudah, tidak SE simpel yang Ranti pikirkan, karena telah melibatkan tenaga dan pikirannya sehingga semua terasa begitu menyakitkan.


Setelah kepergian Bian , Ranti yang juga sejujurnya lelah harus membereskan meja makan yang begitu saja di tinggalkan oleh Dewi dan Abi.


Sejujurnya Bian masih ingin tetep menemani Ranti, namun Ranti menolak dan meminta Bian untuk pulang, dengan dalih dirinya yang ingin beristirahat.


"Auchh"


"Ehemmhhs"


"Mas Abi "


"Iya mas Auchhh Mas , Ehemsss !"


Jerit Dewi yang terdengar jelas hingga ke luar kamar, menyeruak hingga bagian terdalam telinga Ranti.


Tes.


Sebuah bulir bening lolos begitu saja di sudut mata Ranti, mengiringi langkah kakinya yang begitu lemas.


Entah mengapa Ranti merasa hatinya begitu sakit, seharusnya Ranti tidak boleh seperti ini, jelas dia tahu hal seperti ini mungkin saja terjadi. Karena pada akhirnya dirinya lah yang akan menderita dan merana karena telah berani merebut Abi.


Sungguh segala konsekuensi harus Ranti tanggung sendiri.


"Menjijikkan" Gerutu Ranti


"Bisa bisa nya mereka melakukan itu di siang hari, apa mereka tidak sadar sedang berada dimana saat ini" kesal Ranti dengan wajah yang telah menahan Amarah.


Merasakan hawa panas di rumahnya, Ranti memilih untuk pergi sejenak mendinginkan hati dan pikirannya.


"Mba Ranti ya !"


Sapa seorang ojek online yang baru saja berhenti tepat di depan pagar rumah Ranti.


"Iya pak" sahut Ranti dengan berjalan menuju sang ijol


Sementara itu Abi begitu jelas mendengar suara motor yang terparkir di depan rumah Ranti, Abi segera menghentikan aksi panasnya yang di lakukan secara solo, karena Abi tidak mau memasukan Senjatanya kedalam inti tubuh Dewi, dia hanya memuaskan Dewi dengan sentuhan sentuhan di tubuhnya.


"Sayang !, Kau kenapa ?" ucap Dewi yang merasa kesal, Abi belum juga memuaskannya, kini dia telah melompat dan turun dari atas tempat tidur.


"Maaf Dewi, aku harus segera pergi, aku melupakan rapat penting bersama klien " ucap Abi dengan membenarkan kembali kemejanya.


Bergegas keluar Kamar, Abi gak lupa meraih kunci mobil dan handphone miliknya, secepat kilat Abi berusaha mengejar Ranti.


"Kemana kamu Ran" gumam Abi merasa khawatir


"Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, jika terjadi hal buruk padamu"

__ADS_1


Sementara itu Ranti tenan berboncengan dengan seorang ijol yang tidak tahu akan kemana dirinya saat ini.


"Mba ini kita sudah sampai di titik lokasi" ucap sang ijol memecah lamunan Ranti.


"Oh udah sampai ya pak"


"Iya mba udah dari tadi "


"Mbak nya saya panggilan diem aja"


"Oh, maaf pak, saya cuma lelah" ucap Ranti dengan menyerahkan helm yang sebelumnya dia kenakan.


"Terima kasih pak" ucap Ranti dengan berlalu meninggalkan sang ojek yang masih berdiri diatas motornya.


Entah mengapa Ranti memilih titik lokasi nya saat ini adalah taman kota. Ranti tidak memiliki pilihan lain dan yang ada di otaknya hanyalah taman ini.


Berjalan di jalanan paving area taman yang sangat sejuk dan hijau, membuat Ranti sedikit merasa tenang. Sabtu pagi seperti biasa tempat ini akan selalu ramai di kunjungi banyak orang, meski begitu Ranti tetap dapat menikmati sejuknya udara.


"Pak , Rujaknya satu ya "


Ucap Ranti dengan mendaratkan tubuhnya di bangku pedagang kaki lima.


"Iya Neng, tunggu sebentar ya"


Mengusap lembut pelipisnya yang mulai basah oleh keringat kecil, Ranti sedikit merasa letih bahkan entah mengapa sedikit aktifitas saja membuatnya begitu kelelahan.


Sebuah sapu tangan terulur pada Ranti yang tengah duduk dengan tatapan fokus kedepan.


Mendapati sosok yang begitu dia kenal berada di tempat tersebut, seketika mood Ranti berubah menjadi masam. Ranti hanya dapat memutar bola matanya jengah dengan kedatangan Abi yang justru merusak suasana hatinya.


"Kamu ngapain disini ?" tanya Abi dengan suara lembut.


Ranti hanya bergeming dan enggan untuk menjawab pertanyaan Abi.


Sepiring rujak dengan sambal kacang melimpah diatasnya , beraneka macam jenis buah segar yang langsung membuat air liur Ranti berkumpul memenuhi mulut " Silahkan neng rujaknya ".


Dengan begitu semangat Ranti meraih piring tersebut dan segera menyantapnya.


"Terima kasih pak" ucap Abi mewakili Ranti, terlihat Ranti yang begitu tidak sabar ingin segera menyantap Rujaknya hingga dia lupa mengucapkan terima kasih pada penjual rujak tersebut.


"Oh iya Den, biasa ibu hamil mudah kadang suka ngidam" celetuk penjual Rujak.


Deg.


Ranti yang tengah asyik memakan rujak, seketika mendongakkan wajahnya "Tapi saya tidak sedang hamil pak!" ucap Ranti dengan wajah dingin.


"Ohh. Maaf neng, bapak kira neng nya lagi hamil"


"Tidak papa pak" ucap Ranti dengan mengulas sebuah senyum kecil.

__ADS_1


Berbeda dengan Ranti yang tidak begitu menyukai obrolan sebelumnya, Abi nampaknya terlihat biasa saja dan justru bahagia, mendengar ucapan penjual rujak yang mengatakan jika Ranti tengah hamil.


"Apa kau sudah memeriksanya ?"


Ucap Abi dengan tatapan lekat pada Ranti.


"Untuk apa aku memeriksanya, aku tidak hamil !" ucap Ranti dengan wajah datar.


"Aku rasa tidak ada salahnya kau memeriksanya"


"Tidak perlu !"


"Dan tidak akan !" tolak Ranti pada saran Abi.


Mendengar hal itu Abi hanya menghela nafas dalam, jujur Abi tahu jika saat ini Ranti tengah dalam situasi yang begitu sulit, Abi tidak marah jika nada bicara Ranti terkesan mengabaikan dirinya.


"Pak , sisanya boleh di bungkus nggak ?, Tambahin Mangga muda sama nanasnya dikit ya, Uangnya Nambah nggak papa" Pinta Ranti yang sudah merasa kekenyangan karena menghabiskan hampir sepiring penuh rujak.


"Baik neng "


"Tunggu sebentar neng, bapak buatkan dulu"


"Iya pak"


Setelah menerima bungkusan berisi sisa rujak yang di tambah buah sesuai request Ranti, Ranti pun segera membayarnya, namun Abi telah meraih tangan Ranti dan mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dalam dompetnya.


"Den , Ini kebanyakan !"


"Rujaknya juga cuma 15.000"


"Nggak papa pak, Sisanya bisa bapak gunakan untuk menggratiskan pembeli"


"Tapi ini banyak sekali den 500.000" ucap penjual rujak dengan menghitung jumlah uang yang dia terima.


"Anggap saja rejeki pak " ucap Abi dengan tersenyum.


"Alhamdulillah, terima kasih den, Semoga Neng nya cepet hamil dan kalian dapet momongan Ya"


"Aamiin"


Hanya Abi yang mengaminkan dia dari sang penjual Rujak , karena Ranti telah lebih dulu meninggalkan tempat tersebut.


Dengan berjalan cepat dan sedikit berlari, Abi pun dapat menyusul Ranti yang telah lumayan jauh.


Mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Ranti yang tentunya lebih pendek darinya, Abi merasa Ranti tidak begitu menyukainya berada dekat dengannya saat ini, namun Abi pun juga tidak bisa membiarkan Ranti jauh darinya.


"Mas !, Ngapain sih ngikutin terus !, Pulang sana !" Ketus Ranti dengan muka masam.


Mendengar hal itu Abi hanya diam dan tetap mengikuti langkah kaki Ranti kemana dia akan pergi.

__ADS_1


***


__ADS_2