
Alih-alih shoping dengan membeli banyak barang, Ranti nyatanya hanya memilih satu barang, yaitu sebuah sepatu hak tinggi sekitar 7 cm yang dia lihat begitu sangat cantik.
Menurut beberapa mitos yang Ranti dengar, sebuah sepatu yang cantik akan membawa pemiliknya menuju tempat yang indah pula, dan mungkin saat ini itulah yang menjadi harapan Ranti dimasa yang akan datang.
***
"Kenapa hanya memilih itu saja Ranti, Mama akan membayar semua tagihan yang kamu ambil, tidak perlu sungkan !" Gerutu Bu Sinta pada Ranti yang hanya tersenyum renyah menampakan deretan gigi putihnya.
"Terima kasih ma, Tapi ini sudah cukup" Ucap Ranti sopan
"Baiklah" Ucap Bu Santi dengan helaan nafas panjang, menyadari betapa polosnya sosok sang menantu.
Keduanya Tengah duduk di sebuah bangku Mall dan menikmati satu cup ice cream bersama.
"Ma" Ucap ranti di tengah ramainya lalu lalang orang di dalam Mall
"Iya, ada apa sayang ?" Jawab Bu Sinta dengan menikmati setiap sendok yang masuk kedalam mulutnya.
"Ranti sejujurnya pengen tinggal di apartemen saja, Setidaknya Untuk beberapa saat saja "
Ucap Ranti memelas pada sosok ibu mertua, senjata andalan yang seketika dia keluarkan disaat terdesak.
Sejenak Bu Sinta tampak mengerutkan dahinya, dan terlihat Guratan kekecewaan di wajah yang tidak lagi muda tersebut.
"Ranti ingin belajar bagaimana menjadi istri yang baik" Tukas Ranti kemudian.
Bu Sinta masih tetap bergeming, tak memberikan respon atas pernyataan yang di sampaikan oleh sang menantu.
"Ranti janji ma, hanya untuk beberapa saat saja, setelah itu Ranti janji akan tinggal di rumah bersama papa mama dan mas Abi"
Ucap Ranti lagi dengan penuh permohonan dan wajah yang semakin memelas.
Melihat tatapan dari sang menantu, seketika hati Bu Sinta luluh dan memberikan izin pada Ranti dan Abi untuk sementara waktu tinggal di apartemen.
"Baiklah, hanya untuk beberapa saat saja !" Ucap Bu Ranti bernada peringatan
Ranti tampak mengangguk pasti dengan senyum bahagia di wajah cantiknya.
***
Terlihat Ranti yang tengah mengemasi beberapa barang miliknya kedalam sebuah koper berukuran cukup besar yang telah di siapkan oleh Bu Sinta sebelumnya.
Lain hal nya dengan Abi yang tampak hanya duduk di sofa dengan memainkan Smartphone miliknya, dengan sesekali melirik aktifitas yang tengah di lakukan oleh Ranti.
Berapa saat berlalu Ranti telah selesai dengan kegiatan beberesnya.
"Sudah selesai ?" Ucap Abi .
__ADS_1
"Sudah" Jawab Ranti, dengan menganggukkan kepala
Keduanya segera berlalu meninggalkan kamar hotel tersebut, sebenarnya untuk booking kamar masih ada dua hari lagi, namun keduanya memilih untuk pulang ke apartemen, demi menghindari hal-hal yang tidak di inginkan.
Setelah berpamitan dengan Bu Sinta dan pak Prabowo untuk tinggal beberapa saat di apartemen, Asmaranti dan Abimana Kemudian berlalu meninggalkan hotel untuk menuju Apartemen.
Kurang lebih butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk tiba di apartemen Mewah milik Abi.
Sepanjang perjalananan keduanya hanya saling diam, dengan Ranti yang terus membuang pandangan ke sisi samping kaca mobil mewah tersebut.
Meski dari kalangan keluarga biasa, bukan pertama kalinya Ranti naik mobil mewah seperti ini, bersama dengan Bian, Ranti sering sekali di bawa Bian menggunakan mobil mewahnya, meski hanya sekedar untuk makan siang.
Sesekali Tampak Abi yang memperhatikan Ranti dari sudut matanya. Terlihat jelas raut wajah bimbang dan penuh kesedihan yang mungkin bisa Abi tangkap selama dua hari pernikahannya.
Melihat hal itu abi sedikit merasa tidak enak hati, sejenak berfikir dia tidak berlaku adil pada Ranti yang juga jelas-jelas merupakan istrinya saat ini, sah di mata hukum, Agama dan juga negara.
"Kita sudah sampai" Ucap Abi beberapa kali pada Ranti yang hanya duduk bengong dengan tatapan kosong melihat sisi luar jendela.
Menyadari Ranti yang tidak bergeming, Abi menggoyangkan lembut bahu Ranti, memberikan usapan pada pipi Ranti, dan seketika hal itu mengangetkan Ranti, mengembalikan kesadarannya yang sempat hilang entah kemana.
"Kita sudah sampai " Ulang Abi lagi
"Ohh Emm Iya Mas" Ucap Ranti terbata.
"Kita masuk sekarang , Atau masih ada sesuatu yang ingin kau lakukan?" Ucap Abi
Keduanya berjalan beriringan dengan Abi yang membawakan koper berukuran cukup besar milik Ranti, dan Ranti hanya mengekor di belakang arah kaki Abi melangkah.
Tidak butuh waktu lama keduanya telah berada pada sebuah ruangan besar, apartemen milik Abi dan Dewi Sebelumnya.
Sejujurnya ada banyak apartemen lain milik Abi, namu Abi memilih tempat tersebut karena di apartment ini banyak barang milik Dewi yang harus dia jaga.
"Apa kau keberatan jika kita tinggal di sini" Ucap Abi lagi , memastikan
Ranti menjawab dengan menggelengkan kepala, meski sejujurnya merasa aneh.
"Atau kita pindah ke apartemen lain jika kau tidak merasa nyaman?" Tanya Abi lagi, setelah menyadari jika di sini masih terdapat beberapa barang milik Dewi yang mungkin dapat menyinggung hati Ranti.
"Tidak perlu, disini cukup nyaman" Ucap Ranti datar.
Meski tidak ada cinta, namun Ranti cukup merasa sakit dan sesak di dada, mencoba meneliti kembali hatinya yang sedang tidak baik-baik saja saat ini.
Entah rasa cemburu atau rasa marah yang tengah bersarang dalam hati kecilnya, namun Ranti memilih untuk tetap abai, dan sadar diri dengan posisinya saat ini.
"Ran, di sebelah sana kamarmu" Ucap Abi dengan menunjuk sebuah kamar tamu
Ranti menjawab dengan anggukan kepala dan mengulas sebuah senyum di wajah cantiknya. Setelahnya Ranti berlalu dari hadapan Abi untuk menuju kamar yang di tunjuk oleh Abi sebelumnya.
__ADS_1
Setelah berada di dalam kamar Ranti memilih untuk menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, hal itu dia lakukan untuk meredam hatinya agar tetap baik-baik saja di tengah gejolak jiwa yang entah bagaimana rasanya.
Tok tok tok
Terdengar ketukan dari balik pintu kamar Ranti.
"Ya mas Tunggu sebentar" jawab Ranti. dengan membetulkan posisi handuk di kepalanya.
Bergegas Ranti membuka pintu kamar, terlihat sosok Abi yang berdiri tepat di ambang pintu kamarnya dengan tatapan mengintimidasi.
Begitu juga Abi yang sedikit merasa terkejut dengan penampilan Ranti saat ini, begitu memukau dan terlihat sangat cantik meski hanya menggunakan dress rumahan dengan panjang selutut.
Terlihat wajah segar Ranti yang seperti baru saja telah membersihkan dirinya dengan mandi dan keramas.
Penampilan sederhana Ranti cukup menyita perhatian Abi, tidak bermaksud ingin membandingkan, namun Ranti jauh terlihat lebih mempesona dibandingkan dengan Dewi. karena Dewi lebih senang mengenakan setelan celana dan kaos oblong.
"Mas !" Ucap Ranti, dengan menggoyangkan lengan Abi , Menyadari Abi hanya berdiri mematung di hadapannya.
"Ah. Iya, Maafkan aku" Ucap Abi dengan gelagapan.
Ranti tampak mendelik dengan ucapan dan sikap yang di tunjukan oleh Abi
"Em , jadi hari ini aku ada beberapa pertemuan penting, dan meninjau beberapa proyek, setelah itu mungkin aku akan kerumah sakit " Ucap Abi
"Mungkin aku akan pulang larut, kau tidak perlu menungguku" Ucap Abi lagi.
Ranti hanya menjawab dengan anggukan kepala pelan.
"Kau bisa gunakan ini untuk memenuhi keperluan mu " Ucap Abi dengan menyodorkan sebuah kartu debit card pada Ranti.
"Untuk Apa ini?" Tanya Ranti
"Tidak, hanya saja itu kewajiban ku sebagai suami untuk memberi nafkah, disana ada 500 juta kau bisa mempergunakan nya, jika kau merasa kurang katakan" Ucap Abi kemudian
"Tidak perlu mas , Jika hanya untuk memenuhi kebutuhan harian aku juga ada, Meski tidak sebanyak yang mas Abi tawarkan, namun gaji ku sudah cukup " Tolak Ranti
"Ohya dan lagi, bagiku selama kak Dewi mendapatkan perawatan yang terbaik, itu sudah lebih dari cukup, dan mas Abi tidak perlu memberikan apapun padaku " Ucap Ranti.
"Aku tidak pernah suka di tolak!" Ucap Abi dengan suara tegas dan tatapan intens pada Ranti.
Sejenak tatapan keduanya beradu dan saling mengunci. Namun Ranti segera menyadarkan dirinya dan membuang pandanganya.
***
Bersambung
***
__ADS_1