ASMARANTI ( Istri Pengganti )

ASMARANTI ( Istri Pengganti )
41. Malam Panjang


__ADS_3

Kesal Ranti melihat Abi yang seenak hati mengganggu kenyamanannya. Ingin mengumpat, namun sadar jika Abi adalah suaminya.


"Mas Abi nggak bisa ya tunggu Ranti, Budayakan Antri ?" ucap Ranti dengan bersungut kesal.


"Nggak "


Mendengar jawaban Abi , Ranti lantas memutar bola matanya jengah.


"Kalau bisa bareng ngapain harus antre?" Tanya Balik Abi dengan senyum smirk.


"Lagian siapa suruh tengah malam berendam, Udah kaya Kunti aja kamu " Ucap Abi asal.


Seolah tidak terima dengan ucapan Abi, Namun Ranti hanya dapat menatap dengan wajah kesal.


"Kalau kurang kerjaan kan tinggal bilang sayang"


"Coba aja kamu bilang, kita kan bisa olah raga" ucap Abi dengan senyum smirk


"Apaan sih mas , Gak jelas deh " kesal Ranti.


"Jelas dong sayang, Kita kan bisa bergulat, Tapi nggak di sini, Eh tapi kalau mau di sini sih nggak papa"


Ranti semakin dibuat kesal dengan candaan Abi yang semakin menuntut.


***


Keduanya telah kembali ke kamar dengan perasaan masing-masing. Merebahkan tubuhnya di tempat tidur


"Apa lagi sih mas ?" Tanya Ranti yang merasa Tangan Abi telah merayap dan melingkarkan tangan di pinggang Ranti.


Abi hanya bergeming , namun tangan tangan nakal Abi telah menyusup di balik baju tidur Ranti , dan memberikan usapan lembut di bagian perut datar Ranti.


"Bukankah kita sedang bulan madu" ucap Abi dengan menenggelamkan wajahnya di leher Ranti.


Untuk sesaat Abi merasakan ketenangan, mencium aroma lembut dari rambut Ranti.


"Lalu ?"


"Laluuu kalau kita hanya saling diam , bagaimana disini akan tumbuh kecambah Abi" Bisik Abi lirih di belakang telinga Ranti, dengan mengusap lembut perut Ranti yang masih datar.


Deru nafas yang begitu dekat yang menyentuh kulitnya, seketika membuat tubuh Ranti terasa meremang. Namun Ranti memilih untuk tidak memberikan tanggapan dari ucapan Abi.


"Udah ah mas , Udah malem waktunya tidur"


Jelas Ranti yang merasa Abi menginginkan sesuatu yang lebih, sebagai wanita dewasa jelas Ranti paham apa kemauan Abi saat itu.

__ADS_1


Namun bukan nya mengindahkan permintaan Ranti, Abi justru semakin bergerilya, Dengan mata terpejam Abi merapatkan tubuhnya dengan Ranti yang berbaring membelakanginya.


Semakin intens memberikan sentuhan, lembut dan begitu hati-hati. Karena Abi menyadari saat ini Ranti masih dalam mode kesal terhadap dirinya. Abi tidak ingin melakukanya terburu-buru.


Langkah pertama Abi adalah membuat wanitanya itu merasa nyaman.


"Mas !" ucap Ranti dengan suara memekik. Menyadari tangan nakal Abi telah berhasil menyusup pada dua aset milik Ranti.


"Auchhh" tanpa sadar sebuah des a Han lolos begitu saja dari mulut kecil Ranti. Abi hanya tersenyum bangga, melihat reaksi Ranti yang tidak ada sedikitpun penolakan.


"Bolehkah aku --"


Entah dorongan dari mana Ranti mengatakan "Lakukan Mas " Sejujurnya hati dan pikiran ingin menolak, namun raganya juga menginginkan lebih ketika mendapatkan sentuhan dari Abi.


Mendapatkan persetujuan dari Ranti, Abi tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, segera dia mengukung Ranti dalam pelukannya. "Aku akan melakukanya dengan pelan dan sangat lembut, Bersiaplah" Bisik Abi tepat di telinga Ranti.


Mendengar hal itu tubuh Ranti seakan bereaksi , meminta lebih pada Abi.


Abi memulai dari mencium puncak kepala, turun, dan semakin turun, sampai pada dua aset berharga milik Ranti, menenggelamkan wajahnya disana, memberikan tanda kepemilikan


"Aaahh... Hemmm..." tanpa sadar kembali mulut Ranti mengeluarkan kata sialan itu.


"Ma mas Abi "


"Iya sayang ?"


"Katakan sayang ?"


Melihat reaksi tubuh Ranti yang menggelinjang tidak tenang, Abi merasa begitu bersemangat, Bergegas membenarkan posisinya untuk menenggelamkan inti tubuhnya pada Ranti


"Auuuhhhh m mas " suara kenikm@tan yang bercampur dengan rasa sakit yang menjadi satu. Ranti merasa sebuah benda menyusup masuk kedalam inti tubuhnya yang terasa sesak.


"Maafkan aku sayang, Kau kesakitan ?"


Ranti mengangguk kepala pelan, sedikit bulir bening menetes di sana menahan rasa sakit, memang bukan kali pertama keduanya melakukan namun belum sesering pengantin pada umumnya, karena mereka melakukan masih dalam hitungan jari. wajar jika Ranti masih begitu merasakan sakit.


"Sayang ini masih terasa sangat sempit " Lirih Abi dalam kenikmat@n surga dunia.


Ranti melingkarkan tangannya di leher Abi, sementara Abi dengan lembut dan sangat lembut menggerakkan pinggangnya maju dan mundur, sesekali memberi jeda dan kembali melakukan aksinya lagi


"Mm mas Ahh..."


"Iya sayang, katakan "


"Aku aku Tidak tahan" untuk pertama kalinya Ranti berani mengatakan hal itu pada Abi, dan itu membuat Abi merasa senang.

__ADS_1


"Tidak usah kau tahan sayang, keluarkan " bisiknya lagi.


"Aaah aaah mamasss"


Melihat hal itu Abi semakin mempercepat gerakannya, ingin seger menyusul Ranti dalam puncak kenikm@tan permainan panas itu.


Merasakan Abi semakin cepat memacu nya, Ranti pun semakin menggelinjang gelisah, "Maafkan aku sayang, kau harus menahan ya sebentar lagi, Dia ingin sedikit lebih lama berada di bawah sana, didalam sarang nya" Bisik Abi di tengah tengah aksinya


Ranti hanya mengangguk pasrah di antara lenguhan lembut yang begitu saja keluar.


sampai pada saat Abi merasa tubuhnya sangat kaku, seketika menyemburkan benih benih kehidupan, cairan kental dan hangat yang diharapkan dapat tumbuh di rahim wanita yang kini tengah berada di kukunganya.


Cup.


Sebuah kecupan mendarat di bibir Ranti, setelah Abi melepaskan benihnya.


"Terima kasih sayang" ucap Abi dengan menjatuhkan badannya di samping Ranti.


Deru nafas yang tidak beraturan masih jelas terdengar, sisa-sisa kelelahan masih jelas terasa.


Abi menutup tubuh polos Ranti dengan selimut tebal, dan Abi pun melakukan hal yang sama pada dirinya.


Keduanya berada dalam satu selimut saling memberikan kehangatan.


Namun nyatanya bukan hanya kehangatan yang Abi berikan, Abi kembali menuntut lebih dan lebih pada Ranti.


Seolah Abi tidak pernah merasa puas dengan Ranti yang saat ini selalu menjadi candu bagi dirinya.


"Mm mas, please, aku sudah lelah " untuk yang kesekian kalinya Ranti mengatakan hal itu.


"Sekali saja Sayang, aku mohon" pinta Abi dengan wajah yang sudah di penuhi kabut gairah.


Dan mau tidak mau akhirnya Ranti pun pasrah, kembali menganggukkan kepala dan membiarkan Abi bergerak bebas di atas nya.


Malam yang begitu indah , terasa bagai malam pertama untuk keduanya. saling memberikan kehangatan dan sentuhan lembut.


"Ranti" panggil Abi lirih. Setelah keduanya selesai dengan kegiatan Anas yang begitu melelahkan.


Ranti mendongakkan kepala, menatap lekat wajah Abi. "Emm" Jawabnya singkat.


"Katakan , jika kau tidak akan pernah meninggalkan ku apa pun yang terjadi" Pinta Abi dengan nada serius.


"Berjanjilah"


Ranti sangat paham dengan ucapan Abi, namun entah mengapa lidahnya terasa kelu , meski hanya untuk mengatakan sebuah kata YA. Dan pada akhirnya Ranti hanya dapat terdiam dengan seribu alasan dan berjuta pemikiran.

__ADS_1


Malam semakin larut, keduanya tidur bersama didalam balutan selimut yang terasa nyaman.


***


__ADS_2