
...Jangan jadikan seseorang sebagai prioritas mu, sementara kamu hanya menjadi pilihan !...
...Jangan memeluk sesuatu, yang sudah kamu perkirakan tidak akan mampu untuk kamu peluk !...
...🍁...
Suasana terasa begitu emosional, sesekali Ranti menyeka Bulir bening yang hampir saja lolos begitu saja.
Ranti bukanlah wanita yang lemah, dia tidak ingin kesedihan yang dia rasakan di lihat oleh Abi.
Ranti hanya berdecak kesal, melihat tatapan Abi yang seolah tidak berhenti mengintimidasi.
"Sudah lah mas Ranti sangat lelah" Ucap Ranti dengan mengurai eratnya tangan Abi yang melingkar pada perutnya.
"Ranti segera masuk kedalam Walk in closet untuk mengganti pakaiannya.
Terkejut, ketika Ranti mendapati isi dari di dalam lemarinya, tidak ada satupun dari baju Ranti yang ada di sana.
Baju yang memang hanya beberapa, yang Ranti bawa dari rumah sebelumnya. Mengingat-ingat kembali, karena Ranti tidak mungkin salah.
Memastikan beberapa kali pakaian yang ada di sana, Ranti sangat ingat jika sebelumnya dia menata semua bajunya di lemari tersebut, namun aneh kenapa saat ini seluruh isi lemari berubah.
Ranti merasa heran dengan hal itu, Lelah bergelut dengan pikirannya sendiri, Tidak ingin ambil pusing Ranti memilih sebuah baju malam dengan warna krem, mengenakan blazer untuk menutupi bagian bahu yang terbuka, dan menampakkan bagian bawah pinggang yang sedikit terbuka.
Cukup lama Ranti berada di dalam Walk in closet, memilah dan memilih baju tidur yang nyaman untuk dia gunakan.
Nahasnya semua baju yang tergantung disana memiliki model sama, hanya warna dan coraknya saja yang membedakan.
Berbagai macam lingerie dengan warna dan model yang berbeda-beda, Ranti hanya mendengus kesal, dengan memilih satu baju yang menurutnya lebih sopan dari yang lain, Sebuah pilihan awal yang menurut Ranti lebih baik dari yang lainya.
Berat sejujurnya untuk Ranti mengenakan jenis pakaian seperti itu, terlebih dirinya yang masih merasa kesal pada Abi.
Sebagai wanita dewasa, Ranti tentu sangat paham, jika jenis-jenis pakaian tersebut adalah jenis baju yang baik di gunakan oleh pasangan suami istri yang saling mencintai.
Namun tidak dengan dirinya dan Abi saat ini.
Tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin untuk Ranti menggunakan kimono handuk semalaman. dan menggunakannya untuk tidur malam ini.
Tanpa pikir panjang akhirnya Ranti mengenakan pakaian tersebut .
Tok tok tok.
Terdengar suara ketukan dari balik pintu geser Walk in closet tersebut
"Ran" panggil Abi
"Ranti "
"Kau tidak papa kan" tanya Abi yang merasa khawatir
Ranti hanya bergeming, dengan dahi yang menampakkan kerutan halus disana. Enggan menjawab pertanyaan Abi, Ranti memilih tetap diam.
"Ranti, aku akan menghitung sampai tiga, jika kau tidak keluar maka aku akan dobrak pintu ini" Ucap Abi semakin panik.
"Ranti !" Panggil Abi lagi.
__ADS_1
"Ran !"
Srek
Pintu Geser Walk in closet yang seketika terbuka, menampakan sosok Ranti yang berdiri di ambang pintu ruangan tersebut.
"Cantik sekali" Lirih Abi dalam hati
Untuk sesaat Abi merasa tercengang melihat istri kedua yang dia abaikan, berdiri tepat di hadapannya, mengenakan baju yang selalu membuatnya merasa bahagia.
Bagaimana tidak, laki-laki normal manapun akan tergoda dengan penampilan molek Ranti malam itu, tidak terkecuali Abi.
Ranti sudah seperti vitamin A yang begitu menyehatkan mata. Cantik, anggun, dan mempesona, begitu lah kira-kira.
"Kau tidak papa" Tanya Abi setelah mampu menguasai dirinya.
Ranti hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Permisi mas , aku mau istirahat" Ucap Ranti dengan suara dingin, mendapati Abi masih berdiri memaku di hadapannya.
Abi menggeser tubuhnya, untuk memberi ruang pada Ranti yang akan keluar dari ruangan Walk in closet tersebut.
Setelahnya Ranti melenggang pergi meninggalkan Abi yang masih mematung.
"Ranti " Panggil Abi.
Ranti pun hanya menoleh, dan kemudian berbalik, menatap sekilas wajah Abi yang sudah mulai merona.
"Ya" jawabnya singkat.
Abi masih terdiam dengan tatapan dan pikiran yang entah kemana.
"Mas !" Ucap Ranti , yang seketika mengagetkan Abi, dan membuyarkan lamunan nya.
"Jika mas Abi masih ingin membahas masalah sebelumnya, Maaf Sebaiknya kita lanjutkan besok saja " Tawar Ranti kesal.
"Jujur Ranti sudah tidak memiliki tenaga untuk menjawab perdebatan mas Abi" Ucap Ranti lagi.
Setelah mengatakan hal itu, Ranti pun berbalik dan segera menuju tempat tidur berukuran king size tersebut
Belum juga Ranti merebahkan tubuhnya disana, Abi telah lebih dulu meraih tangan Ranti.
Deg.
Seketika jantung Ranti terasa akan copot.
"Ranti" Panggil Abi lirih.
"Maafkan aku Ran, Aku mohon" Ucap Abi yang sudah mengikis jarak diantara keduanya. Mendekap erat pinggang ramping Ranti.
Ranti hanya bergeming, dengan dada yang juga sudah tidak dapat di kondisikan.
Entah perasaan apa, namun Ranti merasakan sesuatu yang berbeda.
"Mas !" ucap Ranti
"Em" Jawab Abi singkat.
__ADS_1
"Please Ranti lelah mas" ucap Ranti yang merasa kesal.
Abi hanya bergeming, dan tetap memeluk Ranti dari belakang.
"Mas !" Ucap Ranti lagi dengan sedikit meninggikan suaranya
"Em, jawab Abi lagi, dengan nafas yang terasa semakin memburu.
"Mas !. Ranti mohon !. " Ucap Ranti semakin kesal
"Sebenarnya apa yang mas Abi inginkan dari Ranti" Ucap Ranti seketika.
"Aku menginginkanmu Ranti. Sangat " Jawab Abi yang dengan sengaja menenggelamkan wajahnya di celekuk leher Ranti.
Mendengar hal itu Ranti hanya menghela nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
"Ran , Aku sudah cukup lama menantikan saat-saat seperti ini" ucap Abi jujur.
"Mungkin dulu aku menginginkannya bersama Dewi, namun saat ini di sisiku kamu, dan aku ingin melakukanya bersama mu"
"Menjadikanmu istri seutuhnya dalam hidupku" Ucap Abi lagi
Mendengar kejujuran Abi, meski menyakitkan, namun permintaan yang Abi inginkan juga merupakan sebuah kewajiban yang harus Ranti lakukan.
Sebagai seorang istri, Ranti harus melayani dengan baik suaminya, meski dalam keadaan marah sekalipun.
"Mas " Ucap Ranti lirih.
"Ya" Jawab Abi dengan suara lembut.
"Ranti takut " Ucapnya kemudian.
Abi mengerutkan dahi dan mendengarkan ucapan Ranti dengan serius.
"Ranti takut jika melakukanya, ka Dewi akan marah pada Ranti" Ucap Ranti dengan segala kejujuran yang dia rasakan.
Sejujurnya berat bagi Ranti untuk mengatakan hal tersebut, bisa saja Ranti egois untuk menguasai Abi sepenuhnya, namun nurani Ranti mengatakan untuk tidak, meski benih benih cinta telah tumbuh dalam hatinya.
Berat
Sudah pasti.
Berstatus istri, namun jangankan diri, hati saja. tidak sanggup untuk Ranti miliki.
Apakah egois jika Ranti memaksakan diri untuk melakukan apa yang sejujurnya ingin dia lakukan, namun tidak mampu untuk di laksanakan.
"Ranti takut mas , Sangat takut" Ucap Ranti dengan suara bergetar, menahan kesedihan yang terasa begitu menyesakan dada.
Tangis yang seolah ingin dia tahan, namun begitu saja tumpah tak tertahankan.
"Ranti" Panggil Abi lirih. Ranti hanya bergeming.
"Kau istriku, Kau pun memiliki hak yang sama dengan Dewi, kau berhak bahagia. " Ucap Abi.
Ranti semakin menunjukan kepalanya, menangis sejadi jadinya, menahan hasrat dan cinta yang tidak mungkin akan dia bisa kelola.
***
__ADS_1