
...Ingin sekali aku mengucapkan kata "Diam Disini" Ketika kakimu melangkah pergi, Karena itu berarti aku membutuhkanmu sekarang dan nanti ....
...🍁...
"Bersama memang menyenangkan, namun ketika bersama hanya karena sebuah alasan, bukan karena keikhlasan, Maka itu menyakitkan mas Abi !" Ucap Ranti dengan suara lirih.
"Aku hanya sedang berusaha membuat batasan, yang nantinya tidak akan membuatku semakin terluka, jika masanya tiba" Ucap Ranti dengan wajah menunduk.
Sadar diri.
Ya itu lah yang kini tengah Ranti lalui, karena nyatanya , jika kakaknya Dewi kembali siuman makan semua akan berjalan seperti sebelumnya, dan saat itu Ranti tidak ingin dirinya rapuh.
Seketika sudut matanya mulai menghangat , kembali mengingat pernikahan dirinya dengan Abi yang entah akan bermuara kemana.
Mendengar jawaban Ranti , Abi pun hanya mampu terdiam . Ucapan Ranti yang terasa seketika membekap mulutnya.
"Lalu apa untungnya dengan mas Abi yang membatasi pertemanan Ranti ?" Ucap Ranti menelisik
"Bukan begitu, maafkan aku " ucap Abi
Keduanya kembali melangkah dengan pasti menuju Villa, dengan pikiran yang telah melayang entah kemana.
"Neng, Dari mana saja!" tanya Bi Marni khawatir
"Dari bawah bi beli jagung bakar, ini ada juga buat Bu Marni sama Pak Dayat " jawab Ranti dengan mengulas senyum di wajahnya.
"Ada apa Bi, kok panik gitu" Tanya Abi yang baru saja datang dari Arah belakang.
"Nggak den, akhir-akhir ini sering turun hujan badai kalau sore, makanya bibi khawatir" Ucap Bi Marni memberi penjelasan.
"Takutnya hujan turun pas den Abi sama neng Ranti belum pulang" Ucap Bi Marni cemas.
"Oh, yang penting sekarang sudah di rumah kan bik" Ucap Abi santai dengan senyuman menghiasi wajah tampannya.
Bi Marni dan pak Dayat merupakan pasangan suami istri yang sudah sejak lama menikah, namun keduanya tidak dikaruniai momongan.
Keduanya telah menganggap Abi seperti putranya sendiri, karena sebelum bekerja di Villa ini, Bi Marni dan Pak Dayat merupakan salah satu dari banyak asisten di kediaman Bu sinta dan pak Prabowo, yang di tugaskan untuk mengasuh Abi.
Karena hal itu Bi Marni dan pak Dayat pun Akan merasa khawatir jika terjadi sesuatu dengan Abi maupun Ranti.
Mendengar penuturan dari BI Marni, Ranti tersenyum lega dengan perasaan penuh bahagia.
"Bibi sedang masak ?" tanya Ranti
"Belum, Baru mau masak neng, buat nanti malam" Ucap Bi Marni sopan.
__ADS_1
"Oh, ya udah Bibi istirahat aja, biar Ranti yang masak bik" Ucap Ranti penuh semangat.
"Tapi neng!" sergah Bi Marni
"Nggak papa bi, Bibi istirahat saja, saya yang akan bantu Ranti masak" Tukas Abi kemudian.
Mendengar hal itu Ranti sedikit terkejut, seketika mengerutkan dahinya, namun dia memilih abai dan kembali fokus pada rencananya untuk memasak.
Berada di dapur, Ranti dengan cekatan memotong beberapa sayur dan daging untuk di olah menjadi santapan makan malam nanti.
"Aku bantu ?" tawar Abi
Ranti hanya bergeming, bukan marah, namun Ranti sedang berusaha menenangkan hatinya, tidak ingin terperosok lebih dalam pada Abi. Yang nantinya sudah pasti akan membuat Ranti lebih sakit lagi.
Menjaga jarak, bagi Ranti adalah pilihan terbaik mungkin saat ini, seperti kata pepatah.
...Melepaskan kadang berujung penyesalan, Tapi tak jarang mampu melegakan Perasaan ...
...🍁...
"Tidak perlu mas, Lebih baik mas Abi ke kamar dan beristirahat" Ucap Ranti dengan suara santai.
"Kau mengusirku ?" Tanya Abi kemudian
"Bukan mengusir, hanya ---" ucapan Ranti menggantung ketika Abi tanpa aba-aba membekap mulut Ranti dengan satu tangan nya.
"Entah sejak kapan, namun rasanya berada di dekatmu membuatku merasakan sesuatu yang sudah lama tidak aku rasakan"
"Sejak Dewi koma, hati ku pun juga terasa mati , namun tidak setelah aku bertemu denganmu Ranti ! " Ucap Abi dengan suara menekan
"Aku tidak menyebutnya cinta, Karen nyatanya sampai saat ini dalam hatiku masih ada namanya" Tukas Abi lagi
"Jujur aku tidak ingin melukaimu, namu percayalah aku pun juga terluka dengan keadaan ini"
"Aku hanya ingin kita mengalir begitu saja, tanpa ada penolakan, tanpa ada keterpaksaan, biarkan semua mengalir apa adanya" Ucap Abi
Mendengar pengakuan dari Abi seketika membuat Sudut mata Ranti berembun , dan tanpa disadari merembes begitu saja dan membasahi pipi mulus Ranti, yang saat itu juga membasahi tangan Abi yang tengah membekapnya.
"Mas " Ucap Ranti lirih dengan tatapan mata saling mengunci
"Settt... Aku mohon , aku tidak akan meminta lebih, hanya saja cobalah untuk menerima semua, dan mengikuti arusnya" Pinta Abi kemudian.
"Aku pun juga akan belajar untuk memperbaikinya, Aku mohon padamu Ranti, Mari kita buat hubungan kita mengalir seperti air, Jangan pernah membuat jarak lagi" Ucap Abi dengan suara mendominasi.
Mendengar ucapan Abi yang begitu terang-terangan sejujurnya membuat hati kecil Ranti merasa bahagia, namun apalah daya jika nyatanya Ranti hanyalah menjadi yang kedua. Ranti hanya tidak ingin egois pada kakaknya.
__ADS_1
***
Suasana makan malam yang terasa begitu canggung. Bi Marni dan pak Dayat pun merasakan keanehan pada kedua pasangan suami istri di hadapannya itu.
Namun bagi Bi Marni dan pak Dayat , terasa lancang jika mencampuri urusan kedua majikanya.
"Neng , Makanya yang banyak " Ucap Bi Marni lembut dengan mengulas sebuah senyum
Bi Marni hanya ingin berusaha mencairkan suasana yang terasa kaku saat ini.
"Oh, iya bi " Ucap Ranti dengan menganggukkan kepala.
"Ternyata Neng ranti jago juga ya masaknya, semua rasanya pas neng" Puji pak Dayat
Mendengar hal itu Ranti merasa senang, dan seketika sudut bibirnya terangkat, terlihat senyum simpul disana.
"Benarkah pak ?" Ucap Ranti penuh semangat.
"Serius neng, Bi Marni aja kalah " Ketus pak Dayat kemudian
"Ihh bapak , mentang-mentang ada Neng Ranti, ibuk di lupain" Balas bi marni dengan nada bercanda.
"Awas ya nggak di kasih jatah malem ini" ucap Bi Marni dengan nada memperingati.
Mendengar hal itu Ranti dan Abi hanya saling menatap heran, dengan senyuman yang terkembang di bibir masing-masing.
Di usianya yang tidak lagi muda, keduanya tetap menjaga keutuhan dan keromantisan diantara keduanya.
Mendengar celotehan dari sepasang suami istri yang tidak lagi muda tersebut seketika mengundang gelak tawa diantara Abi dan Ranti.
"Pokoknya sebelum pulang, ibuk musti belajar masak dulu sama Neng Ranti" Ucap pak Dayat menggoda
"iihh.. Bapak ini " Jawab bi Marni dengan mencubit pinggang pak Dayat.
Kembali suasana terasa hangat, Setelahnya suasana meja makan terasa kembali bahagia, dengan sesekali di sisipi obrolan konyol oleh pak Dayat.
Ditengah gelegar Petir yang menyambar, namun terasa hangat di meja makan tersebut, obrolan demi obrolan yang mengalir begitu saja.
"Mungkin hujannya akan lama den, saran Bapak nggak usah keluar kemana-mana den" Ucap pak Dayat dengan memasukan suapan nasi kedalam mulutnya.
"Iya pak" Jawab Abi singkat.
***
Bersambung
__ADS_1
***