ASMARANTI ( Istri Pengganti )

ASMARANTI ( Istri Pengganti )
6. Berbelanja


__ADS_3

"Oh... Mungkin Abi kelelahan ma" Sergah Pak Prabowo dengan mulut yang masih sibuk dengan makan yang tengah dia kunyah.


Seketika penuturan dari sang mertua membuat Ranti kembali mengulas sebuah senyum getir.


***


Setelah beberapa saat ketiganya tampak telah selesai dengan piring masing-masing.


"Bagaimana apa kau sudah kenyang Ranti ?" Ucap Bu Sinta kemudian, dengan mengatupkan kedua sendok dan garpu yang baru saja dia gunakan untuk makan.


"Tentu saja ma, bagaimana Ranti tidak begitu kenyang, mama menyiapkan makanan sebanyak ini untuk Ranti" Ucap Ranti dengan suara Manja, dan mengusap pada bagian perutnya yang mendadak menjadi sedikit buncit dan terasa sangat begah.


Mendengar ucapan dari sang menantu, membuat gelak tawa diantara Pak Prabowo dan Bu Sinta.


Hal itu membuat Ranti merasa sedikit malu dengan tingkah konyolnya.


"Ran, Mau ke Kamar sekarang ?" Ucap Bu Sinta dengan suara lembut.


"Em sepertinya Ranti ingin jalan-jalan di sekitar hotel sebentar ma" Ucap Ranti sopan dengan suara lembut


"Oh. baiklah kalau begitu papa dan mama pergi ke kamar dulu ya" Ucap Bu Sinta dengan beranjak dari kursi dan berlalu dari hadapan sang menantu yang masih setia duduk di tempatnya semula.


Ranti tampak menganggukkan kepala dengan mengukir sebuah senyum manis pada wajahnya, isyarat jawaban, dari ucapan sang mertua.


Setelah kepergian kedua mertuanya, Ranti tampak masih tetap duduk di kursi restoran hotel tersebut.


Mengedarkan pandangan, melihat ke setiap sisi restoran, terlihat jelas melalui pasang mata Ranti, beberapa pasangan muda mudi yang tengah saling memberikan suapan, serta usapan lembut pada wajah ataupun tangan pasangan masing-masing.


Sejenak Ranti berfikir, mungkin mereka juga tengah melaksanakan bulan madu atau kegiatan liburan lainnya bersama pasangan mereka masing-masing.


Kembali Ranti dibuat miris dengan nasibnya saat ini. Jika saja Ranti menikah dengan seseorang yang dia cintai, dan tentunya mencintainya, sudah pasti hal itu juga akan Ranti lakukan.


Seharusnya saat ini Ranti pun merasakan hal yang sama, seperti kebanyakan pasangan di hadapannya tersebut.


Namun kembali Ranti tersadar, bahwa pernikahan yang dia lakukan tidaklah berdasar dari cinta dalam hati, melainkan keterpaksaan yang mau tidak mau harus di jalani.


Jadi Ranti sadar betul untuk tidak berharap lebih pada Pernikahannya, terlebih pada sosok Abi.


Setelah puas menikmati pemandangan paginya yang terasa kecut, Ranti bergegas untuk berjalan-jalan di sekitar hotel.

__ADS_1


Terasa sejuk memang hotel yang di pilih Bu Sinta, menampakkan pemandangan alam dan gunung yang menjuntai indah di sebelah barat.


Duduk bersandar pada sebuah kursi taman, sejenak menyandarkan bahu, dan memejamkan mata, Ranti merasakan semilir angin yang mengusap lembut rambutnya.


Menikmati Gemericik suara air, menambah suasana tenang hati Ranti yang tengah dilanda bencana.


"Apa kau akan tidur di sini"


Seketika Ranti terperanjat kaget tatkala mendengar suara yang familiar di telinganya


"Mas Abi !" Ucap Ranti seketika.


Segera Ranti membenarkan posisi duduknya yang semula entah bagaimana bentuknya.


"Kapan mas Abi kembali ?" Tanya Ranti berbasa-basi.


"Baru saja " ucap Reza singkat.


"Apa mas Abi sudah Sarapan ?" tanya Ranti kemudian. Abi hanya menganggukkan kepala.


Sejenak suasana menjadi hening, hanya terdengar suara gemericik air dan sepoy sepoy angin pagi.


Mengamati sejenak sikap Ranti, ada sedikit rasa iba dengan gadis yang ada di hadapannya tersebut, namun Abi pun menyadari dirinya tidak dapat berbuat banyak. Karena di hatinya hanya ada nama Dewi, dan hal itu tidak dapat Abi pungkiri.


"Ada yang ini mas Abi katakan ?" Tanya Ranti dengan tatapan lurus kedepan.


Terlihat Abi yang menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan.


"Apa kau sudah bicara dengan mama ?" tanya Abi kemudian.


Seketika Ranti mendongakkan wajahnya, dan menatap lekat sosok laki-laki di sampingnya.


"Ranti belum memiliki keberanian cukup untuk mengatakan, tapi secepatnya Ranti akan bilang pada mama" Ucap Ranti


"Mas Abi tidak perlu khawatir" Tukas Ranti dengan suara santai.


Abi tampak mengangguk tenang dengan ucapan Ranti, dan terlihat senyum manis dari sudut bibir Abi.


Meski sejujurnya Abi pun merasa perbuatan yang dia lakukan terkesan memonopoli dan sedikit jahat, tapi kembali lagi karena Abi tidak ingin semakin menyakiti hati Ranti dengan memberikan harapan palsu.

__ADS_1


Setidaknya sampai Dewi sembuh dan benar-benar pulih dari komanya.


Sejenak Ranti merasa bingung , entah harus bagaimana dia harus menolak permintaan sang ibu mertua, terlebih mengingat betapa sudah begitu banyak kebaikan yang orang tua Abi berikan pada Ranti.


***


"Sayang tidak jauh dari sini ada sebuah Mall, Kita kesana sebentar ya sebelum pulang" Ucap Bu Sinta berbinar, pada Ranti yang tengah mengunyah makanan di mulutnya.


Menatap sejenak sosok mertua yang baik hati, berfikir mungkin ini kesempatan yang tepat untuk mengatakan perihal permintaan Abi sebelumnya.


"Baik ma" Jawab Ranti seketika, dengan mengulas sebuah senyum manis di wajah cantiknya.


Melihat keakraban yang terjadi begitu cepat antara Orang tuanya dan Ranti, membuat Abi ikut bahagia, pasalnya beberapa bulan terahir sejak kecelakaan yang menimpa Dewi, Kedua orang tuanya tampak uring-uringan.


Terlebih mengenai keinginan keduanya untuk segera memiliki cucu harus kandas, karena Dewi yang mengalami koma dan kehilangan calon cucu pertama nya.


"Makan yang banyak Ranti" ucap Bu Sinta


Ranti mengangguk pasti, pada ucapan sang ibu mertua.


Beberapa saat Bu Sinta, Ranti dan juga Abi telah selesai dengan makan siang mereka, kebetulan siang itu mereka hanya bertiga, karena pak Prabowo tengah menemui salah satu koleganya yang ada di hotel yang sama.


***


"Ranti, Pilih sesuatu yang kamu inginkan, kamu bebas membeli apa pun, dan berapapun " Ucap Bu Sinta dengan menarik pergelangan tangan Ranti menuju sebuah butik


Hal seperti ini bagai sebuah mimpi bagi Ranti, yang memang belum pernah Ranti lakukan sebelumnya, terlebih kegiatan para sosialita yang hanya menghambur-hambur kan uang.


Tersirat rasa bahagia dalam diri Ranti, namun seketika dia kembali meneliti, bagaimana kondisi sang Kakak " Harusnya hal ini kak Dewi yang melakukan, bukan aku" Batin Ranti dalam hati.


Alih-alih shoping dengan membeli banyak barang, Ranti nyatanya hanya memilih satu barang, yaitu sebuah sepatu hak tinggi sekitar 7 cm yang dia lihat begitu sangat cantik.


Menurut beberapa mitos yang Ranti dengar, sebuah sepatu yang cantik akan membawa pemiliknya menuju tempat yang indah pula, dan mungkin saat ini itulah yang menjadi harapan Ranti dimasa yang akan datang.


***


Bersambung


***

__ADS_1


Terimakasih Untuk Para Reader setianya author 🥰


__ADS_2