ASMARANTI ( Istri Pengganti )

ASMARANTI ( Istri Pengganti )
32. Belajar Menghargai


__ADS_3

Hari baru.


Bahkan sampai pagi hari pun Abi belum juga menampakkan batang hidungnya, Bukan Ranti tidak khawatir, hanya saja Ranti sudah tahu kemana Abi pergi.


Tidak ingin membuat Abi terganggu dengan panggilan dari nya atau pesan yang Ranti kirim , Ranti memilih untuk membiarkan Abi menghabiskan waktu dengan dirinya sendiri.


***


Seperti yang telah di sepakati sebelumnya, Bu Sinta ingin mengajak menantunya berbelanja, keduanya pun menuju sebuah pusat perbelanjaan, dengan diantar oleh seorang supir pribadi keluarga Bu Sinta. Tujuan pertama yaitu sebuah butik kenamaan. Yang sudah sangat terkenal di kota tersebut.


"Pilihlah yang kamu sukai sayang" Ucap Bu Sinta dengan melihat-lihat lembaran demi lembaran pakaian yang tergantung.


Ranti hanya menjawab dengan senyuman dan anggukan kepala. Meski sejujurnya dirinya pun tidak berniat untuk berbelanja, namun demi menghargai ibu mertuanya, Ranti memilih untuk menurut dan mengikuti kemauan ibu mertuanya.


Melihat bandrol dari beberapa pakaian yang ada di butik tersebut, mata Ranti seketika membulat.


"Astaga, Ini bisa buat bayar kos Setahun" lirih nya dalam hati, dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Alih alih memilih beberapa pakaian, Nyatanya Ranti hanya memilih sebuah cardigan, yang itu saja menurutnya Ranti memiliki harga yang sangat tidak wajar, sebuah cardigan dengan harga fantastis.


"Mungkin aku hanya akan membelinya sekali dalam seumur hidupku" Gumam Ranti lagi dalam hati


"Sudah ?" tanya Bu Sinta, dengan menenteng beberapa pakaian.


"Kok cuma satu ran ?" Tanya Bu Sinta lagi.


"Iya ma ini saja sudah cukup , yang mama belikan waktu itu saja belum Ranti pakai semua" Ucap Ranti dengan senyum mengembang, menampakkan deretan gigi putihnya.


Bu Shinta hanya menghela nafas dan menghembuskan perlahan "baiklah" ucapnya kemudian.


Sejenak berfikir, memang menantunya tersebut, beda dari kebanyakan wanita pada umumnya, namun Bu Sinta sangat menyayangi Ranti.


"Ayuk " Ajak Bu Sinta menuju kasir, untuk membayar semua tagihan barang belanjaan nya.


Setelah cukup berkeliling, makan dan berbelanja. Bu Sinta dan Ranti memilih kembali ke rumah. Dengan seorang sopir yang selalu menemani keduanya, kemanapun mereka pergi, menyusuri jalan-jalan kota yang lumayan sepi siang itu.


"Ran " panggi Bu Shinta dengan meraih tangan sang menantu.


"Iya ma " Jawab Ranti singkat.


"Mama pengen deh kamu cepet punya momongan " Pinta Bu Sinta


Deg.


Ranti pun merasa tercengang dengan permintaan sang mertua.


"Apa kamu dan Abi sengaja menunda ?" Tanya Bu Shinta lagi.


"Bukan ma. Bukan begitu, Tapi " ucap Ranti.


"Tapi apa ?" tanya Bu Sinta dengan mengerutkan dahi.


Ranti hanya tersenyum kecut, mendapati dirinya yang hampir saja salah bicara.


Tidak mungkin Ranti mengatakan pada ibu mertuanya, jika memang dirinya dan Abi belum pernah sekalipun berhubungan , terlebih Abi lah yang sebelumnya membuat jarak diantara mereka.


Tidak mungkin juga Ranti mengatakan jika, permintaan dirinya untuk tinggal di apartemen adalah merupakan Alibi dari Abi agar bisa membentang jaran antara dirinya dan Abi.


Seketika lidah Ranti terasa kelu.


"Semoga secepatnya Ya ma, Mama doakan saja ya" Ucap Ranti dengan mengulas sebuah senyuman.

__ADS_1


"Amin" Jawab Bu Sinta dengan mengulas senyuman manis di wajahnya.


***


Setibanya di rumah Ranti memilih langsung ke kamar, karena cukup lelah berkeliling mall, beberapa kali keluar masuk toko membuat kakinya terasa sangat pegal.


Menapaki satu demi satu anak tangga dengan langkah gontai, "Akhirnya" gumam Ranti setelah berada di lantai dua tepat di depan kamarnya.


Ceklek.


Ranti memasuki kamar dengan wajah lelah yang sudah tidak lagi dapat di sembunyikan.


"Dari mana !" ucap Abi dengan nada sarkas.


Pertanyaan Abi yang seketika mengagetkan Ranti. "Astaga !" gumam Ranti


"Dari mana saja !" Ulang Abi lagi dengan suara sedikit lebih tinggi.


Mendengar pertanyaan Abi dengan suara keras nya membuat Ranti enggan untuk menanggapi, Dansanya Ranti sudah cukup lelah untuk sekedar ber adu kata dengan Abi.


"Ran !" Ketus Abi Dengan meninggikan suaranya satu oktaf.


"Ranti jalan sama mama Mas, Ada masalah ?" tanya Ranti dengan suara datar.


Mendengar jawaban Ranti yang terkesan acuh membuat Abi Semakin merasa kesal.


"Kenapa kau tidak mengatakan jika akan pergi ?" tanya Abi kemudian.


Ranti menghela nafas dalam, dan menghembuskan perlahan "Mas Ranti capek, Ranti mau mandi dulu" Ucap Ranti dengan membawa handuk kimononya.


Abi semakin tidak terima di acuhkan oleh Ranti begitu saja.


Merasa kesal Abi pun menarik paksa tangan Ranti, menggenggam erat tangan tersebut, hingga Ranti meringis kesakitan.


"Tidak bisakah kau memberiku kabar ?" ucap Abi dengan tatapan tajam.


"Auch"


"Lepaskan !, Sakit mas ! " ucap Ranti dengan wajah kesakitan, berusaha melepaskan cengkeraman tangan Abi.


Namun semakin Ranti berusaha untuk lepas, Abi pun semakin kuat mencengkeram tangan Ranti.


"Mas !, Sakit !" Pekik Ranti dengan mata yang mulai berembun.


Mendapatkan perlakuan kasar dari Abi, membuat Ranti merasa sangat sedih. Seketika bulir embun merembes dari sudut mata indahnya.


Sekuat tenaga Ranti mengibaskan tangan Abi, hingga tautan kedua tangan tersebut terlepas.


"Kenapa mas Abi sangat bereaksi, hanya karena aku keluar dengan mama dan tidak memberi kabar pada mas Abi ?" tanya Ranti balik yang mulai merasa kesal dengan Abi.


"Untuk apa mas aku memberi kabar ?"


"Dan kenapa aku harus memberi kabar mas Abi ?"


"Bukankah mas Abi melakukan hal yang sama pada Ranti " Ucap Ranti dengan nada sindiran. Kemudian melenggang pergi meninggalkan Abi yang masih berdiri mematung.


"Arghhh !" Geram Abi dengan menjambak rambutnya sendiri.


Tidak heran Abi sangat marah, sejujurnya Bukan karena Ranti yang membuat Abi Naik pitam, namun karena Abi yang mendapatkan kabar jika kondisi Dewi semakin drop.


Melampiaskan kemarahan pada Ranti, Abi sadar gak itu bukan sebuah tindakan yang patut di benarkan. Ada rasa sesal dalam diri Abi telah berlaku kasar pada Ranti.

__ADS_1


Tidak seharusnya dia melakukan hal tersebut, dan melampiaskan kekesalannya pada Ranti.


"Sial !, Kenapa aku tidak bisa mengontrol diriku !" Gumamnya dengan kesal.


Sementara didalam kamar mandi, Ranti merasa sangat sedih, Mengguyur tubuhnya dibawah shower, menyamarkan tangisannya dengan Air yang membasahi wajahnya.


Isak tangis yang Ranti luapkan dibawah guyuran shower dengan harapan hal itu dapat meredakan sakit hati yang kini tengah dia rasakan.


Beberapa saat Ranti telah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar, meski mata indahnya tidak dapat berbohong.


Sembab pada kedua matanya, menandakan jika Ranti telah menghabiskan waktu beberapa saat untuk meluapkan perasaanya, dan tangisan lah yang menjadi jawaban.


"Ranti " ucap Abi lirih


Ranti hanya bergeming, berjalan kesana kemari untuk menyibukkan dirinya dengan segala aktifitas di dalam kamar.


"Ranti " Panggil Abi lagi.


Ranti masih tetap pada pendiriannya, tidak ingin menanggapi suaminya, karena tidak ingin terlibat dalam pertikaian lebih jauh lagi.


"Maafkan aku " Ucap Abi kemudian.


Mendengar kata maaf dari Abi, Ranti sedikit terkejut, dan seketika mengerutkan dahinya, yang Ranti tahu tidak biasa Abi mengatakan kata maaf.


Namun dengan Ranti, Abi rela menekan egonya, untuk mengakui kesalahan yang dia lakukan.


Dan lagi-lagi Ranti hanya diam seribu bahasa.


Melihat aksi cuek Ranti, Abi pun segera mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang ramping Ranti yang masih mengenakan handuk kimono.


"Maafkan aku " Ucapnya lagi.


"Mas Abi tidak perlu minta maaf, karena tidak ada yang perlu di maafkan" Ucap Ranti dengan suara datar.


"Aku menyesal, Aku tidak akan melakukanya lagi" Ucap Abi dengan mengeratkan Tangannya hingga menyentuh bagian perut ramping Ranti.


"Mas !" Ucap Ranti dengan Menggeliatkan badanya, berusaha melepaskan diri dari tangan sang suami.


"Aku akan melepaskan mu, setelah kau memaafkan ku" Ucap Abi dengan menenggelamkan wajahnya di celekuk leher Ranti.


Mendengar hal itu Ranti hanya dapat menghela nafas dalam.


"Aku berjanji tidak akan mengulanginya !" Ucap Abi penuh penyesalan.


"Aku tidak membutuhkan janji mas, Aku hanya ingin bukti" Ucap Ranti.


...Belajar Menghargai, Karena tidak semua penyesalan bisa dibayar dengan kata MAAF !...


...🍁...


Mendengar hal itu Abi mendongakkan wajahnya, "Aku akan berusaha" ucapnya dengan suara lirih.


Sejujurnya Ranti menyadari permintaanya adalah hal yang paling sulit untuk Abi lakukan, namun mau sampai kapan Ranti harus tersiksa dengan situasi dan kondisi yang seperti ini.


Sakit


Sudah pasti.


Namun apa Ranti boleh marah, atau mengeluh, tidak. Karena semua yang dia lakukan adalah demi sang kakak.


***

__ADS_1


__ADS_2