ASMARANTI ( Istri Pengganti )

ASMARANTI ( Istri Pengganti )
17. Kebangkitan Junior


__ADS_3

...Terkadang kenyataan memang tidak seperti apa yang kita harapkan, Namun terkadang kenyataan...


...juga bisa lebih indah dari apa yang kita impikan...


...🍁...


Beberapa saat kemudian, mobil yang di kemudian oleh Abi telah terparkir rapi di sebuah Villa megah dengan suasana yang begitu nyaman dan tenang.


"Mas ?" Tanya Ranti dengan mata memicing.


"Em " Jawab Abi singkat dengan membuka Seatbelt yang masih terpasang di bahunya.


"Kita dimana mas ?, Kenapa kita ke sini?" Tanya Ranti dengan suara lirih.


"Tenanglah, Ini di Villa ku, kau akan suka berada di sini" Tukas Abi kemudian.


Meski masih dalam situasi bingung, dan pikiran yang melayang entah kemana, Ranti menurut saja ketika Abi membukakan pintu untuknya.


Berjalan beriringan, dengan Abi yang selalu sigap memapah bahu Ranti "Aku baik-baik saja mas, tidak perlu seperti ini" Ucap Ranti kemudian, dengan berusaha melepaskan tangan abi dari bahunya


Abi hanya bergeming mendengar penuturan dari Ranti. Bukan mendengarkan ucapan Ranti, Abi justru semakin mengeratkan pegangannya.


"Selamat datang den Abi" Ucapan ramah seorang wanita paruh baya yang datang menyambut kedatangan Abi dan Ranti.


"Terima kasih Bi, Bik Marni sehat ?" Tanya Abi kemudian.


"Alhamdulillah den baik, den Abi lama sekali tidak berkunjung, Oya ini neng Ranti ?" Ucap Bi Marni kemudian


"Salam kenal Bi, saya Ranti" ucap Ranti ramah dengan mengulurkan tangan kanannya, dan BI Marni menyambut uluran tangan dari Ranti dengan hangat.


"Neng Ranti cantik sekali" Ucap Bi Marni, dan Ranti hanya tersipu, dengan semu merah menghiasi pipi chubinya.


"Buk , apa den Abi sudah datang ?" Panggil seorang laki-laki paruh baya, seusia dengan Bi Marini, yang baru saja keluar dari rumah.


"Sudah , Ini den Abi nya pak" ucap Bi Marni kemudian.


"Selamat datang den Abi" Sapa sopan pak Dayat, yang merupakan suami dari BI Marni.


Kedua orang tersebut merupakan orang yang di gaji Abi untuk menunggu dan merawat villa miliknya, memastikan kebersihan dan kerapian villa meski tidak di tempati.


"Ohya kabar bapak dan ibuk sehat den ?" tanya Pak Dayat kemudian menanyakan kabar dari bubsanyi dan pak Prabowo, orang tua dari Abimana.


"Sehat Pak " Jawab Abi singkat dengan mengulas senyuman di wajahnya.


"Sudah sudah, nanti lagi ngobrolnya, Mari den Masuk, Kamarnya sudah saya siapkan" Ucap Bi Marni sopan.


"Kamar ?" Batin Ranti dengan mata memicing

__ADS_1


Sepersekian detik pikiran Ranti tiba-tiba traveling entah kemana, Ranti hanya terus menggelengkan kepala.


"Ini kamarnya den" Ucap Bi Marni pada keduanya


"Ohya, bersihkan diri dulu den Abi dan Neng ranti, bibik juga sudah siapkan pakaian, dan setelah itu segera ajak neng Ranti makan den. " Ucap Bi Marni panjang dan lebar


"Pasti den Abi dan Neng Ranti lelah berkendara jauh" Tukas Bu Marni kemudian. Ucapan bi Marni yang tidak mengetahui cerita sebenarnya, dan mengira jika keduanya baru saja dari kota.


"Baik Bi " Ucap Abi dan Ranti menjawab dengan anggukan kepala serta mengulas sebuah senyum manis di wajah cantiknya.


Keduanya masuk kedalam kamar yang sama, dimana sebelumnya BI Marni tunjukan.


"Mas Abi di sini juga ?" Ucap Ranti


"Tentu saja, dimana lagi " tanya Abi kemudian


"Lalu Ranti dimana ?" Ucap Ranti dengan wajah bingung


"Di sini juga " jawab Abi dengan suara santai.


Ranti tampak membulatkan kedua bola matanya "Apa aku tidak salah dengar?" Batin Ranti dalam hati.


Bukan apa-apa hanya saja Ranti kembali mengingat ucapan Bian beberapa Minggu yang lalu, tepatnya dua hari setelah pernikahan keduanya.


Dimana Abi meminta untuk tidur dalam kamar terpisah di dalam apartemen milik Abi.


Berada dalam kamar mandi , dan menatap pada bagian perut yang terlihat sedikit memar, akibat pukulan keras dari Bian.


"Apa aku sangat murahan, Hingga beberapa kali aku harus mendengar kata-kata itu" Gumam Ranti lirih dengan wajah sendu dan sudut mata yang mulai berembun.


Ranti menyeka bagian yang lebam tersebut dengan Air agar mengurangi rasa nyerinya. Dengan bulir bening lolos begitu saja dari sudut matanya.


Tidak ingin semakin larut dalam suasana kalut, Ranti segera menyeka air matanya dan melanjutkan aktifitas sebelumnya.


Tidak butuh waktu lama akhirnya Ranti selesai dengan kegiatan mandi nya, segera meraih Handuk yang dia bawa, dan melangkah keluar kamar.


Ceklek.


Keluar dari kamar mandi ,rambut basah, dan kulit yang masih terdapat titik titik air, dengan dua tangan membetulkan posisi handuk yang melingkar di bagian dadanya. Seketika pemandangan indah itu membuat kedua bola mata Abi membulat sempurna


"Aaaa !!!" teriak Ranti ketika menyadari Abi juga berada dalam kamar tersebut


"Astaga ! Mas Abi ngapain di sini !" Ucap Ranti ketus


"mm--maaf aku hanya--- " Ucap Abi menggantung


"Stop !, Tutup mata mas Abi ! " Pinta Ranti kemudian.

__ADS_1


Abi yang masih merasa kaget pun hanya menurut instruksi dari Ranti.


Ranti segera meraih baju yang di siapkan Bi Marni sebelumnya, baju yang di letakkan di atas tempat tidur berjajar rapi dengan baju milik Abi.


"Kenapa tidak bawa baju sekalian !" ketus Abi kemudian, merasa kesal Ranti yang terus meneriakinya.


"Mana aku tau mas Abi di sini, bukanya tadi keluar, kaya kuyang aja tiba-tiba udah di kamar ! " gerutu Ranti dengan suara ketus dan bibir mengerucut.


"Ish.. Aku keluar untuk mengambil obatmu " Ketus Abi kemudian.


Sejenak Ranti tertegun, namun dengan langkah seribu, Ranti kembali kedalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Abi yang hanya menutup mata dengan satu tangan yang dia buat renggang, hingga masih dapat terlihat jelas kemolekan dari tubuh Ranti. Ukuran dada yang terlihat lebih besar dari perkiraannya, dan kulit yang terawat, terlihat bersih dan mulus.


Sebagai laki-laki normal siapa yang tidak menyukainya , bohong jika Abi tidak tergoda, sudah pasti Abi Menginginkannya, Bahkan mungkin saat ini juniornya telah Bangun setelah tidur berbulan-bulan, dan hal itu lah yang sangat di takutkan Abi selama ini.


"Baju siapa ini , kenapa begitu pas di badanku" Ucap Ranti, dengan melangkah keluar dari kamar mandi.


"Milik Dewi" ucap Abi seketika


Mendengar jawaban Abi, sedikit membuat Ranti mendelik, merasa ada sedikit rasa sakit dalam hatinya yang paling dalam.


"Kenapa ?, kok bengong !" tanya Abi ketika mendapati Ranti hanya terdiam dengan lamunannya


"Oh, tidak , tidak ada " Jawab Ranti dengan gagap.


Kembali Abi meneliti setiap jengkal bagian tubuh Ranti, mengenakan baju yang dulu pernah Dewi kenakan, membuat Abi seketika bernostalgia.


" Sangat Pas, Mirip sekali, hanya tubuhmu sedikit lebih berisi, terlebih yang berada di bagian dada itu" Batin Abi dalam hati mengagumi sosok Ranti


"Kenapa mas Abi yang jadi bengong sekarang ?" tanya Ranti kemudian


"Ah tidak" Ucap Abi Asal, dengan menggaruk tengkuknya yang mulai terasa meremang.


"Udah ah, mas Abi mandi dulu sana" Ucap Ranti dengan beranjak meninggalkan kamar


"Kau mau kemana " Tanya Abi posesif


"Tenang aja aku nggak akan kabur, Aku cuma mau keluar, bantu bi Marni masak" Ucap Ranti dengan meninggikan suaranya satu oktaf.


Mendengar penuturan Ranti Abi sedikit terkekeh.


***


Bersambung


***

__ADS_1


__ADS_2