
Pagi minggu yang cerah. Hujan baru saja selesai mandi, dia menggunakan celana pendek di atas lutut dan baju kaos berwarna putih. Karena hari ini hari libur, Hujan memutuskan untuk joging keliling gang, hitung-hitung biar lebih segar.
Hujan mengenakan stelan training dengan atasan kaos putih lalu mencepol rambutnya asal dengan gelang rambut, tak lupa memakai sepatu sport putih miliknya.
Hujan keluar dari kamarnya, dia berjalan menuju pintu keluar dan membuka pintu dengan perlahan.
"Pagi Hujan"
Baru saja Hujan membuka pintu, ia sudah dikejutkan dengan kedatangan Aurora yang tiba-tiba. Eh tunggu dulu, sepertinya ia lupa dengan seseorang di samping Aurora ini. Siapa ya orang ini? ah ia aru ingat, dia kan si cewek jadi-jadian eh maksudnya Senja. Apa yang dilakukan Senja ke apartemennya?
"Lo ngapain ke sini?" tanya Hujan dingin seperti biasanya.
Aurora tersenyum, sesaat kemudian dia menjawab dengan semangat.
"Mau joging bareng lo."
Ya, kalau Hujan perhatikan lagi, sepertinya Aurora memang mau joging, terlihat sekali dari cara berpakaiannya.
"Jauh-jauh ke sini cuma mau joging?" tanya Hujan tak percaya.
"Hmm. Kalau rame kan lebih seru," jawab Aurora. Hujan berdecak kesal, dia melihat sinis ke arah Senja
"Apa lo liat-liat?" ketus Senja.
"Ck, ngapain lo ngajak cewek jadi-jadian ini?!" kesal Hujan melirik Sinis Senja.
"Sembarangan lo kalau ngomong, gue bukan cewek jadi-jadian, tau!"
"Serah."
"Wah, respon lo kok buat gua naik darah ya?, Emang cocok deh kalau nama lo es batu!"
"Oh," ucap Hujan lalu pergi meninggalkan Aurora dan Senja.
"Dasar Es batu lo" Ejek Senja.
"Eh, Hujan tungguin" ucap Aurora dan pergi mengejar Hujan.
"HEH, GUE KOK DITINGGAL SIH?!" teriak Senja dan ikut mengejar Aurora dan Hujan.
***
"Hujan tungguin!" teriak Aurora. Ia terus saja mengejar Hujan.
"WOY ES BATU, TUNGGUIN NAPA," teriak Senja. Aurora dan Senja berlari sejajar sedangkan Hujan, gadis itu ada di depan mereka sekarang.
Hujan berhenti berlari, dia menoleh ke belakang dan menatap Aurora dan Senja yang sedang berlari ke arahnya.
"HOSH ... HOSH ... HOSH. L—lo ce—cepat banget sih Jan" ucap Aurora ngos-ngosan, dia berhenti tepat di samping Hujan. Aurora membungkuk untuk mengatur napasnya sedangkan Senja, gadis itu juga sama seperti Aurora, dia mengatur napasnya yang ngos-ngosan akibat mengejar Hujan.
"Udah?" tanya Hujan dingin.
"Tu—tunggu bentar lagi," jawab Senja sembari mengangkat tangannya.
"Ck, lemah!"
"A—apa lo bilang? lemah?. Wah, nantangin gue lo ya?" ucap Senja menggebu-gebu.
"Guys, jangan berantem dulu," ucap Aurora. Gadis itu masih terlihat lelah sekali, terbukti dari keringatnya yang begitu banyak.
"Iya, gue nantangin lo, kenapa?. Lo takut? Ck, dasar lemah" ketus Hujan sembari menatap Senja dengan sinis.
"Wah, ngajak brantem nih orang. Gue terima tantangan lo," balas Senja tak kalah sinis.
"Oke!. Siapa yang larinya cepat, dia yang menang."
"Oke, siapa takut?. Yang kalah harus sujud di kaki yang menang!" sambung Senja.
Hujan cukup kaget dengan hukumannya tapi, kalau sudah begini apa boleh buat? Liat saja, Ia akan buat cewek jadi-jadian ini kalah dan sujud di kakinya nanti.
"Eh-eh, apa-apaan. Kita kan cuma mau joging bareng!!" Aurora yang tadinya diam kini bersuara.
Senja dan Hujan tidak memperdulikan Aurora mereka seolah tak mendengar gadis itu bicara.
"Oke. Siap-siap aja lo harus sujud di kaki gue," balas Hujan sinis.
"Ck, belum tentu lo yang menang. Kalau gue yang menang, lo yang harus siap-siap sujud di kaki gue. Hohoho," Ledek Senja.
"Serah"
"Ck, respon lo buat gua naik darah!"
"....."
"Oke, gua itung dari hitungan satu ... dua ... tiga," ucap Senja dan segera berlari secepatnya begitu juga dengan Hujan.
"Woy gua kok ditinggal sih?" kesal Aurora.
Hujan dan Senja terus saja berlari dan yang memimpin adalah Hujan. Ya, Hujan sangat jago dalam hal berlari. Sedangkan Senja ia jago dalam hal bertarung, tapi kalau berhubungan dengan lari dia sedikit lamban.
__ADS_1
Senja jadi khawatir, bagaimana jika dia kalah? apa dia harus bersujud di kaki Hujan? Ck, jangan harap! Ia tak akan pernah melakukan hal itu.
"HOSH ... HOSH ... HOSH." Senja berhenti, dia mengatur napasnya yang tampak ngos-ngosan.
"Ck, cepat banget es batu larinya," ucap Senja, dia menatap Hujan yang ada di depannya dengan kesal.
"Gawat nih kalau gua kalah. Mana mau gua sujud di kaki Es batu!!" Senja terus saja mengomel.
"Pokoknya gua gak boleh kalah!" sambungnya lagi.
"Tapi, gimana caranya?!"
Matanya bergerak ke sana ke mari mencari akal dan tanpa sengaja manik matanya melihat seekor anjing besar yang sedang terikat di sebuah pohon.
"Aha, gua punya ide," ucap Senja dengan tersenyum licik.
Senja berjalan mendekati anjing besar itu, dia membuka ikatannya dan membawa anjing itu pergi diam-diam, takut ketahuan orang.
"Es batu ada anjing gila di belakang lo," teriak Senja. Dia baru saja melepaskan anjing besar itu.
Hujan menoleh, matanya terbelalak kala melihat anjing di belakangnya. Dari kecil Hujan memang takut dengan anjing. Hujan menatap anjing yang juga menatapnya. Perlahan kaki Hujan melangkah mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Anjing itu terus saja memandanginya.
Tiga langkah.
Ah, Hujan tak tahan lagi, dia harus lari. Hujan berlari sekencang-kencangnya. Anjing yang tadinya hanya diam, kini ikut berlari mengejar Hujan sembari menggonggong.
Hujan akui dia memang salah karena berlari, jika saja dia tidak berlari maka anjing itu juga tidak akan mengejarnya.
"BWAHHAHAH, kocak banget liat si es batu lari! Ternyata dia takut sama anjing," ucap Senja terkekeh, dia terus saja menertawakan Hujan yang dikejar anjing. Sungguh teman lucknat!!.
"HEY KAMU YANG LEPASIN ANJING SAYA, YA?!"
Deg
Senja berhenti tertawa, dia menoleh ke belakang, dilihatnya seorang pria paruh baya yang menatapnya dengan nyalang. Senja menelan salivanya susah payah.
"A—anu pak, sa—saya itu a—anu," ucap Senja gelagapan.
"ANU APA?!" bentak pria itu.
"A—ANU. KABURRRRR" Senja berlari kabur meninggalkan tempat itu.
"Hadeh nasib-nasib. Kena karma dah gue!"
***
"Guk ... Guk ...Guk." Anjing itu terus saja menggonggong dan tak henti-hentinya mengejar Hujan.
"ADUH, MATI GUE" batin Hujan.
Hujan terus saja berlari, akal pintarnya tak bisa ia gunakan kalau dalam keadaan begini. Mana sempat ia berpikir kalau dikejar terus-tesrusan seperti ini.
Hujan menatap lurus ke depan. Oh, ada tikungan! Ia harus berbelok dan—
BRUK.
Hujan menabrak seseorang.
"AWWWW" ringisnya.
"Lo ga papa? kenapa lo lari-lari, sih?. Kalau jatuh gimana? Untung aja jatuhnya di atas gua, kalau jatuh di aspal kan berabe."
Hujan terbelalak mendengar kata terakhir itu, apa katanya tadi? Jatuh di atasnya? Jangan bilang—
Hujan tersentak kaget dan langsung saja bangkit. Ternyata benar, dia jatuh tepat di atasnya. Ah memalukan sekali.
"Auriga? Lo ngapain di sini?" tanya Hujan.
Auriga berdiri, dia membersihkan debu-debu yang menempel pada bajunya.
"HARUSNYA GUA YANG NANYA SAMA LO, LO NGAPAIN DI SINI? MALAH LARI-LARI SEGALA LAGI" ucap Auriga setengah berteriak. Bukan, Auriga bukan marah, dia hanya khawatir pada Hujan.
Hujan tersentak, ah dia baru ingat kalau dia lagi dikejar anjing. Hujan menoleh ke belakang dan benar saja, anjing itu masih mengejarnya.
"Ah anjingnya makin dekat," ucap Hujan, ia langsung saja berlari lagi, tak peduli dengan Auriga yang menatap nya bingung.
"Anjing katanya?" tanya Auriga dengan dahi yang mengerut.
"Guk ... Guk ... Guk."
Auriga menoleh, dia sangat kaget saat melihat seekor anjing sedang berlari ke arahnya.
"HAH?, ANJING GILA YA?"
__ADS_1
Aduh Auriga sempat-sempatnya dia bertanya pada anjing itu, dikira manusia kali ya? anjing mana bisa bicara bego.
"GUK ... GUK ... GUK." anjing itu terus saja menggonggong dan dengan cepat berlari ke arah Auriga.
Auriga yang sadar akan hal itu, juga ikut berlari menyusul Hujan.
"JAN TUNGGUIN!" ucap Auriga dan berlari menyusul Hujan dengan cepat.
"Jan, lo kalau dikejar anjing jangan ngajak-ngajak gue dong!" ucap Auriga masih dengan berlari.
Hujan hanya diam, dia tidak peduli dengan Auriga dia hanya fokus dengan larinya saja.
"Mampos jalan buntu," ucap Auriga frustasi. Dia melirik wajah Hujan yang sudah di banjiri oleh keringat, gadis itu terlihat ketakutan sekali.
Auriga mengedarkan pandangannya ke segala arah guna mencari jalan keluar. Namun nihil, dia tak menemukan apa pun. Ini benar-benar jalan buntu, yang ada hanyalah sebuah pohon besar.
Auriga menatap pohon itu lamat-lamat dan sebuah ide terbesit di pikirannya.
"GUK ... GUK ... GUK."
"Gawat anjingnya makin dekat, Hujan lo bisa
manja—" ucap Auriga terpotong kala dia melihat Hujan yang sudah memanjat pohon dengan gesitnya.
"GUK ... GUK ... GUK."
"HUAAH ... HUJAN TUNGGUIN!"
Kini Hujan sudah sampai di atas pohon, Hujan melihat Auriga yang sedang memanjat dan anjing yang mengejar mereka tadi sudah sampai tepat berada di bawah pohon.
Anjing itu menggigit sepatu Auriga dan menarik-narik kaki Auriga ke bawah.
"Hujan tolongin gua," ucap Auriga masih dengan memanjat dan kaki yang ditarik oleh anjing itu.
"Raih tangan gua!" kata Hujan panik. Ia segera mengulurkan tangannya pada Auriga.
Auriga meraih tangan Hujan dan menendang anjing yang menggigit sepatunya. Tanpa sengaja sepatu Auriga ikut terjatuh bersama dengan anjing itu.
Hujan menarik Auriga ke atas pohon dengan sekuat tenaga. Beruntungnya, Auriga bisa naik dengan selamat ke atas pohon bersama dengan Hujan.
"HOSH ... HOSH ... HOSH." napas Auriga memburu.
"Hampir saja," ucapnya lega sembari mengusap-usap Dadanya.
"PFFTH ... HAHAHA!"
Auriga melirik Hujan, apa dia tak salah lihat? Hujan tertawa?!.
"Cantik" ucap Auriga sepontan saat melihat Hujan tertawa.
Hujan mngerutkan dahinya bingung.
"Maksud lo?"
"Eh, kok berenti sih?. Ayo ketawa lagi."
Hujan menatap Auriga datar seperti biasanya.
"CK, harusnya tadi gua foto aja pas dia ketawa! Ah sial" batin Auriga
***
Satu jam lamanya, Hujan dan Auriga masih saja berada di atas pohon. Mereka tak bisa pergi karena anjing itu masih tidur di bawah pohon.
"Anjing sialan!! pakek tidur segala lagi! Woy bangun woy!! kita juga mau turun kali! Iya gak Jan?" Auriga dan menoleh ke samping untuk melihat Hujan.
"Eh Hujan lo tidur?"
Kepala Hujan bersender di bahu Auriga, gadis itu kelihatan lelah karena dikejar anjing.
Deg!
Deg!
Deg!
"Buset jantung gua mau copot!" gumam Auriga
"Hujan jangan lama-lama dong tidurnya, bisa penyakit jantung gua kalau gini mah!" sambungnya lagi.
"Hujan itu cantik juga ya, gua foto ah lumayan buat jadi wallpaper," ucapnya terkekeh. Auriga mengambil ponsel di saku celananya dengan susah payah.
Cekrek.
Auriga tersenyum puas kala berhasil mengambil foto Hujan diam-diam. Ah tidak dia lupa mematikan lampunya. Hujan bangun, dia menatap Auriga penuh selidik.
"Tadi lampu apa?"
Deg!
__ADS_1
Bersambung...
...TBC...