Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 68.


__ADS_3

...~HAPPY READING~...


***


Hari ini adalah hari pertama sekolah. Setelah liburan yang cukup panjang, akhirnya sekolah kembali masuk. Sekarang mereka sudah resmi menjadi kelas 12.


Akan tetapi, bukan itu masalahnya sekarang, melainkan kedua manusia menyebalkan itu!


"Woy! Mau lo apaiin ponsel gua?" teriak Auriga penuh emosi dengan mata memandang Sagita tajam.


"Pegangin dia Nu, jangan sampai lepas!" ucap Sagita pada Benua yang sudah setengah mati berusaha untuk mengunci pergerakan Auriga.


Kedua orang itu bekerja sama untuk merampas ponselnya. Entah apa yang ingin mereka lakukan. Hanya saja, perasaan Auriga sungguh tak enak. Terlebih saat melihat Sagita yang mengotak atik ponselnya sembari menunjukkan senyum menjengkelkan.


^^^𝗔𝗻𝗱𝗮^^^


^^^Halo, Hujan><^^^


^^^•07.32^^^


Hujan


?


•07.34


Sagita tersenyum puas kala Hujan lumayan cepat membalas pesan darinya.


"Sagita sialan Awas aja kalau lo buat macem-macem di ponsel gua!!"


Teriakan Auriga sama sekali tak digubris olehnya. Dengan santai nya kembali mengirimkan pesan untuk Hujan.


^^^𝗔𝗻𝗱𝗮^^^


^^^Lo ada waktu gak?^^^


^^^•07.38^^^


Hujan


Knp


•07.38


^^^𝗔𝗻𝗱𝗮^^^


^^^Pulang sekolah nanti^^^


^^^Mau jalan bareng gua gak?^^^


^^^•07.39^^^


Hujan


Mksud lo


•07.42


Sagita berdecih, ia kira Hujan akan paham maksudnya. Ternyata gadis itu lemot juga masalah begini.


^^^𝗔𝗻𝗱𝗮^^^


^^^Kencan.^^^


Hujan


•07.43


Lo sakit?


•07.45


^^^𝗔𝗻𝗱𝗮^^^


^^^Gua serius Jan.^^^


^^^Jadi gimana, lo mau gak?^^^


^^^•07.45^^^


^^^𝑅𝑒𝑎𝑑^^^


Melihat Hujan yang hanya membaca pesan darinya, Sagita hendak kembali mengetikkan pesan namun ....


Grep!


"Kembaliin ponsel gua!"


Auriga yang baru saja lepas langsung saja merampas kasar ponsel miliknya dari tangan Sagita.


Sagita menoleh, memandang Benua yang kini sudah terikat di kursi dengan dasi sebagai talinya.


"Sory Sag, gua lengah," ujarnya cengengesan.


Sagita berdecih. Sedetik kemudian tersentak kaget kala Auriga meneriaki namanya. Pria itu tampak murka sehabis memeriksa ponsel miliknya. Sagita yang sadar lantas berlari secepat mungkin keluar kelas. Tak ingin mendapat amukan dari Auriga.


"Woy Sagita! Bantuin gua kampret!" umpat Benua saat melihat Sagita yang melarikan diri sebelum melepaskannya lebih dulu. Dasar Sagita laknat!


"Arghh ...!" Auriga menggeram frustasi.

__ADS_1


"Sagita brengsek! Sialan! Gak guna! Kurang ajar!"


Benua menelan Saliva gusar. Sebenarnya apa yang Sagita perbuat pada ponsel Auriga hingga membuat pria itu menggila?


"Mana chatnya diread lagi, kalau gini caranya gua mana punya muka mau ketemu dia lagi!"


"A–anu Ga, gua gak tau lo kenapa tapi, boleh lepasin gua gak? Kebelet pipis nih."


Auriga yang tadinya merintis kini memandang Benua datar. Sesaat kemudian ia tersenyum semirk. Akan ia lampiaskan kemarahannya pada Benua! Semua ini juga salah pria itu bukan?


"Meong."


Entah sejak kapan ada kucing di sana. Kucing itu terus saja bergelayut di kaki Auriga. Benua tampak syok, pria itu tampak pucat pasi dengan keringat dinginnya.


Auriga menyerngit.


"Lo takut kucing?"


"A–apa? Eng–engak tuh!" elak Benua.


Melihat tingkahnya, Auriga tersenyum semirk. Bukankah ini balas dendam yang bagus? Baiklah, ayo lakukan itu.


Tap!


Ia letakkan kucing itu tepat dipangkuan Benua. Membuatnya berteriak ketakutan.


"Euakk! Sing–singkirin!"


Benua benar-benar takut dengan kucing rupanya.


"Menjauh dariku, kucing sialan!"


"Meong?"


"Wkwkw mampus! Rasaiin noh."


Sungguh pemandangan yang Indah untuk Auriga. Setidaknya ini dapat menghiburnya sedikit.


DRET DRET!


Satu notifikasi masuk. Mengalihkan perhatiannya. Dengan hati yang cukup deg-degan. Auriga membukanya takut-takut.


Hujan


ok.


•07.45


"Wah ... ide Sagita boleh juga!" serunya kagum.


*****


"Hei, Es batu! Lo ngapain deh? Dari tadi main hp mulu. Cepat habisin makanannya!"


Hujan menyimpan ponselnya pada saku. Lalu menolak piring itu ke depan.


"Kenyang," ujarnya.


"Elah, bilang kek dari tadi!" kesal Matahari.


"Sekarang kita mau kemana? Mau liat anak-anak mos gak?" Aurora menawarkan.


"Gak deh, gak tega gua liat mereka panas-panasan di lapangan."


"...."


"Oh iya, kalian tau gak? Katanya ada anak pindahan loh!"


"Serius? Cowo apa cewe? Kelas berapa?" Matahari tampak sangat tertarik.


"Cowo, kelas XII jurusan Ips."


"Wah ... ayo kita lihat! Gua penasaran."


"Boleh," balas Aurora.


Keduanya langsung saja menoleh pada Hujan yang hanya diam.


"Malas," jawabnya singkat hendak pergi namun segera mungkin Matahari mencegalnya.


"Lo harus ikut!"


Tanpa basa-basi lagi, Matahari menyeret paksa gadis itu pergi dari sana. Meski Hujan membrontak, tapi Matahari tetap saja tak peduli.


****


"Minggir, minggir! Kita mau lewat."


Dengan sangat kasar, Matahari menerobos gerombolan siswi yang sedang berkerumun. Sepertinya para siswi itu datang untuk melihat si anak pindahan. Rupanya dia cukup populer dikalangan para gadis ya. Seperti apasih wajahnya? Matahari jadi penasaran.


"Ganteng banget."


"Hei, pinta nomor hp nya dong."


"Wah ... gila! Dia cool banget!"


Banyak lagi pujian-pujian yang mereka lontar kan. Hingga membuat kuping Hujan merasa panas. Gadis itu melepas genggaman Matahari sebisa mungkin lantas keluar dari kerumunan itu. Hujan benar-benar tak suka keramaian!


Saat Hujan hendak melangkah pergi, tanpa ia sadari bola tengah melayang ke arahnya.

__ADS_1


"HUJAN AWAS!!" teriak Aurora


Hujan menoleh dan ....


Tap!


Untung saja, seseorang menangkap bolanya tepat pada saat hendak mengenai wajah Hujan. Rupanya dia si anak pindahan. Ia menghela napas lega lantas bertanya.


"Lo nggak papa?"


Perlahan Hujan membuka mata. Menatap pria di depannya dengan wajah syok. Entah kenapa perasaan Hujan jadi aneh saat itu.


Grep!


Semua orang dibuat kaget akan tingkahnya. Lelaki di depan Hujan tiba-tiba saja memeluk gadis itu.


"Ternyata benar kau! Syukurlah, aku mencari mu kemana-mana. Akhirnya aku menemukan mu," lirihnya masi dengan posisi memeluk Hujan.


Hujan mematung, tak tahu harus berkata apa. Ia masi belum paham dengan situasi ini.


"Apa kau tak mengenalku?"


"....."


"Hujan, ini aku Orion!"


Deg!


Yap, benar sekali. Pria itu adalah Orion. Setelah mendapat informasi dari Petir, lelaki itu memutuskan untuk pindah ke sekolah Hujan.


Sebenarnya Orion sudah lelah mencari Hujan kesana kemari hanya dengan bermodalkan Foto yang ia dapat dari Petir. Meski sudah remaja tetapi wajah gadis itu masi terlihat sama di mata Orion.


Sungguh Orion sangat bersyukur bisa bertemu lagi dengan gadisnya itu di sini.


Hening.


Itulah kata yang menggambarkan suasana sekarang. Semuanya diam membisu. Sedetik kemudian, Hujan tersadar.


Matanya melotot sempurna. Gadis itu menggeleng kuat lantas melepas pelukan Orion secara kasar.


"Lo ...!" teriaknya tertahan dengan jari terhenti di udara menunjuk ke arah Orion.


Hujan menarik napas dalam-dalam, hendak melanjutkan ucapan. Ia coba menahan gejolak di dada sebisa mungkin.


"Jangan berbohong," lanjutnya kini dengan nada merendah.


"Ak–aku tidak bohong. Aku serius Hujan, ini aku! Orion."


"Gak."


"Aku bisa buktiin!"


Orion merogoh sakunya lantas mengeluarkan sebuah cincin kecil.


"Lihatlah, aku masi menyimpannya. Apa kau percaya sekarang? Hujan, ini aku."


Hujan diam, menatap lamat-lamat cincin kecil yang ditunjukkan oleh Orion. Itu adalah pemberian darinya sewaktu kecil dulu. Hujan mendapatkan cincin mainan itu dari hadiah camilan yang ia beli dan iseng memakaikannya di jari Orion. Tak ia sangka jika pria itu masih menyimpannya sampai sekarang.


"Bagaiman dengan ini?"


Orion menunjukkan foto yang ada di dompetnya. Ada ia dan Hujan di sana yang terlihat asik memakan Es krim dengan wajah Hujan yang belepotan.


Hujan menunduk, menggeleng lemah. Perlahan kakinya melangkah mundur.


"Hujan, aku—"


Perkataan Orion terpotong kala mendapati Hujan yang sudah berlari pergi meninggalkannya.


"Es batu, tunggu!!"


*****


"Kenapa kau terus bersikap seenaknya?" tanya Hujan dingin berbicara pada Petir di ponsel.


[Jangan begitu, Orion sudah—]


"Kakak bahkan gak minta pendapatku!"


[Jangan terus menghindar. Seseorang pernah bilang padaku, kau harus berdamai dengan masalalumu karena itu akan membuatmu merasa lebih baik daripada dihantui akan masalalu itu sendiri]


"....."


[Ayolah Jan, kamu bisa! Kakak percaya padamu. Kasian Orion, dia sudah jauh-jauh datang dari Korea hanya untuk bertemu denganmu.]


"...."


[Kamu juga merindukannya 'kan? Temui dan minta maaf padanya. Jangan sampai hubungan kalian hancur]


"Tapi—"


[Sudahlah, Kakak sangat sibuk sekarang. Sebentar lagi meeting, aku akan menelponmu lagi nanti. Semangat, ya!]


Tut.


Indra mematikan telpon secara sepihak.


Dengan wajah suram ia masukkan ponsel itu ke dalam saku. Melangkah tanpa minat meninggalkan rooftoop.


'Kenapa baru muncul,' batin Hujan lelah.

__ADS_1


Bersambung...


...TBC....


__ADS_2