
~Happy Reading💞~
"Akhhh ...!" ringis Auriga kala Hujan menekan lukanya.
Adel berhenti. Tadinya gadis itu tengah mengobati luka Auriga. Lalu ia mendongak menatap Auriga datar.
"Sakit?"
"Eng–enggak."
"Yakin?"
"Ukh ... iya, sedikit."
Hujan menghela nafas lelah. Tangannya menyibak rambut lelaki itu. Menampilkan luka di kepala Auriga yang sudah kering.
"Tenang." Ia mulai membersihkan luka pada kepala Auriga dengan cekatan.
"Gua obati pelan-pelan," lanjutnya menutup luka itu dengan perban setelah selesai memberi obat.
Auriga menyentuh kepalanya yang sudah tertutup perban. Rapi juga, ternyata Hujan cukup pintar dalam hal seperti ini.
Matanya melirik gadis itu yang Tengah membalut Es batu menggunakan kain. Auriga menyerngit lalu bertanya karena penasaran.
"Es? Lo mau buat apa?" tanya Auriga menatap lekat Adel yang masi sibuk dengan aktivitasnya.
"...."
"Hei, gua kan lagi nanya. Kena—"
Deg!
"Dingin!" seru Auriga menjauhkan dirinya kaget. Kala Hujan menempelkan es yang berbalut kain itu ke pipi Auriga dengan tiba-tiba.
"Pipi lo." Dengan wajah tanpa ekspresi Hujan menunjuk ke arah pipi Auriga.
"Kenapa?"
"Lembab," lanjut Hujan dingin.
Auriga mengangguk paham. Lalu dengan cepat mengambil alih es yang ada di tangan Hujan.
"Biar gua aja yang kompres," katanya menempelkan es itu di pipi perlahan.
Hujan mengangguk lantas menatap kosong ke depan. Mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Ada satu pertanyaan yang terlintas di pikirannya.
"Kenapa?"
Auriga tersentak, ia menoleh menatap Hujan yang berbicara dengan pandangan ke depan itu.
"Kenapa lo mukul Benua?" Kini Hujan juga menoleh dan menatapnya. Mata keduanya saling bersitatap beberapa menit. Hingga akhirnya, Auriga memutuskan kontak mata lebih dulu.
"Lo suka Benua?"
Pertanyaan konyol itu tiba-tiba saja terucap dari mulut Auriga. Membuat Hujan tercengang kaget mendengarnya. Gadis itu dengan cepat menggelengkan kepala tak mampu berkata apa-apa. Ia sangat kaget, bagaimana bisa Auriga berpikir begitu?
"Suka atau tidak?" tanyanya lagi dengan mata yang memandang lekat Hujan. Wajahnya terlihat sangat serius.
"Gila! Lo gila?" seru Hujan tak suka dengan pertanyaan Auriga. Ia benar-benar kesal sekarang. Jika saja wajah pria itu tak penuh dengan luka. Hujan yakin, ia sudah akan memukul Auriga. Supaya otak pria itu berfungsi kembali. Sepertinya, saat terhantam batu tadi, otaknya juga ikut tergeser.
"Iya, gua emang gila," jawab Auriga sedikit berteriak. "Karena itu, lo harus jawab! Supaya gua gak makin gila," lanjutnya memegang kepala fustasi.
"Gua gak suka. Sama sekali enggak."
Jawaban Adel dapat membuat hatinya sedikit tenang. Tapi, ia masi bingung. Jika tak suka kenapa membiarkan Benua begitu? Auriga saja butuh waktu untuk dekat dengan Hujan. Tapi Benua dengan mudahnya terlihat akrab dengan gadis itu. Auriga tidak suka!
"Kenapa lo biarin Benua nempel sama lo terus?!"
'Nempel?' batin Hujan sedikit geli dengan kalimat Auriga. Siapa yang nempel siapa?
__ADS_1
"Gua juga gak tau." Matanya menatap datar Auriga. Jujur, Hujan juga bingung dengan perlakuan Benua. Ada yang aneh dengan pria itu. Sangat terlihat jelas! Apa Auriga tak sadar?
"Maksud lo?"
"Aneh. Benua terlihat aneh seharian ini. Gak biasa," jelas Hujan mengingat-ingat perlakuan Benua beberapa waktu lalu padanya.
"Aneh apanya?! Dia emang orang yang kurang ajar! Ck, menyebalkan!"
"Seperti ...," ucap Hujan tergantung. Ah! Begitu rupanya! Hujan sudah tahu jawabannya.
"Ayo, temui Benua!" lanjutnya berdiri dan mengajak Auriga pergi. Bagaimana pun Hujan harus membuat kedua orang ini berbaikan.
Auriga menatap Hujan tak suka. Ia tarik tangannya dari genggaman gadis itu. Lalu berkata dengan ketusnya.
"Ogah!"
****
Siska berjalan dengan langkah lambat. Ia sedikit gugup. Apa ia harus menyapa pria itu? Sepertinya suasana hati Benua sedang tidak baik. Bisa-bisa ia yang kena tonjok nanti. Masa bodoh! Jika Mika berani memukulnya, Matahari balas saja! Ia bukan gadis lemah yang tak pandai bertarung.
Matanya memandang gugup Benua yang tengah bersender di pohon sembari menatap hampa derasnya arus sungai.
Saat perkelahiannya dengan Auriga yang dihentikan Oleh Hujan. Benua langsung saja pergi dari keramaian. Tanpa sadar, Matahari mengikuti pria itu dan akhirnya berakhir di sini.
"Kenapa lo ngikutin gua?"
Pertanyaan Benua dapat membuat Matahari tersentak kaget. Ia langsung saja menghentikan langkahnya. Ternyata pria itu sadar kalau Matahari mengikutinya dari tadi. Ia bahkan mengatakannya tanpa menoleh.
Siska menelan Saliva gusar. Lalu menampilkan senyum ceria khas miliknya dan berjalan mendekati Benua.
"Cojut!" sapa nya memegang pundak Benua yang tengah melamun itu. Benua menoleh menatap Matahari datar. Membuat gadis itu menelan Saliva nya gusar.
"Lo ma–mau pukul, gu–gua?" tanya Matahari gelagapan sembari menunjuk dirinya sendiri dengan tangan gemetar.
"Pfhtt! Hahaha ...! Bodoh! Gua gak mukul cewek!" kekeh Benua yang dapat membuat Siska senang. Akhirnya pria itu kembali tersenyum.
"A–apa yang mau—"
Cup!
Satu kecupan hangat mendarat mulus di kening putihnya. Membuat Matahari membeku di tempat. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Benua benar-benar gila! Anak ini sudah gila! Siapa saja, tolong bawa Benua ke Rumah sakit jiwa.
"Bantu gua, hanya sampai dia pergi. Setelah itu, lo boleh pukul gua sepuasnya." Benua berbisik tepat di telinga Matahari. Yang dapat membuat gadis itu menahan nafasnya tak bisa berkata-kata.
Benua kembali mengangkat wajahnya. Kemudian menampilkan wajah sedih dan akhirnya menangis mengeluarkan air mata.
"Maafkan aku, sayang. Aku memang salah ... aku mohon jangan putus denganku."
Matahari menatapnya bengong. Apa yang? Ah tidak, daripada itu, sayang? Sepertinya Matahari sedang bermimpi. Benua menangis? Oh ayolah! Ini tidak lucu. Mimpi ini benar-benar menyeramkan!! Rasanya Matahari ingin muntah sekarang.
"Aku tau, kamu marah. Tapi aku jatuh cinta dengan temanmu. Biar begitu, aku juga masi mencintaimu. Jadi, aku mohon jangan putuskan ... a–aku." Benua menangis terisak. Ia jabat kedua tangan Matahari lantas menciumnya dengan derai air mata.
Matahari masih mematung. Ia masi tak mengerti dengan situasi ini. Putus? Pacaran saja tidak pernah. Menyukai teman? Memang apa urusannya dengan Matahari? Oh, ayolah! Drama sialan macam apa ini?!
Eh, tunggu dulu. Drama? Jangan-jangan ...? Benua memintanya bermain drama sekarang? Seperti yang mereka lakukan beberapa hari yang lalu saat menjadi pacar bohongan. Tapi, untuk apa? Di sini kan tidak ada orang tuanya? Entahlah, Matahari jadi bingung. Baiklah, kita ikuti saja dulu. Nanti juga Benua akan menjelaskannya, bukan?
"Aku gak mau! Kenapa kamu jadi jahat begini sama aku?" Matahari juga membalas Benua sembari mengeluarkan air matanya.
Benua terpaku, pria itu menahan nafasnya berusaha untuk tak tertawa. Akhirnya Matahari mengerti sekarang. Baiklah, sepertinya ini jadi cukup menyenangkan.
"Sayang," Benua menyisipkan rambut gadis itu di telinga. Membuat Matahari benar-benar ingin memukulnya sekarang.
"Aku gak bakal lepasin kamu, mau kamu semarah apapun denganku. Gak akan pernah!" lanjut Mika memeluk tubuh Matahari yang hanya bisa mematung.
'Cojut sialan! Apa yang lo rencanain bangsat! Seenaknya aja meluk dan cium gua! Lo pikir gua cewek macam apa, hah?! Brengsek! Gua balas lo!!" batin Matahari geram. Ia lepas pelukan Benua padanya. Lalu memegang wajah pria itu dengan kedua tangannya. Menarik wajah Benua hingga mendekat dengan wajahnya.
Deg!
Ia telan salivanya yang terasa berat. Seketika wajahnya jadi panas. Apa yang cewek sinting ini lakukan? Ini terlalu dekat!
__ADS_1
"Aku tau kamu cepat bosan. Tapi kenapa? Kenapa harus temanku? Kenapa kamu harus suka sama si Es batu?" lirih Matahari menangis terisak. Sepertinya ia ikutan gila sekarang. Peran ini boleh juga. Seperti pentas drama, tapi entah siapa penontonnya.
"Padahal, kamu tahu kalau aku sayang banget sama kamu." Entah kenapa Matahari merasa geli dengan kata-katanya sendiri. Ia lalu berjinjit dan memejamkan matanya. Akan ia balas perbuatan cowo brengsek ini! Dia pikir hanya dia yang bisa? Matahari juga bisa!
Cup!
Satu kecupan mendarat mulus di pipi kanan Benua. Pria itu lalu menjauhkan wajahnya dari Matahari karena syok. Memegang pipi yang baru saja dicium dengan wajah memerah.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantungnya berdetak kencang. Wajahnya panas dan memerah dengan sendirinya. Napasnya sesak. Perasaan apa ini? Sangat aneh.
"Mengerikan."
Keduanya tersentak kaget lantas menoleh ke samping. Di sana tampak Hujan yang memandang mereka datar. Tak hanya gadis itu. Auriga, Awan dan juga Aurora ada di sana. Berbeda dengan Hujan, ketiganya tampak syok melihat pemandangan tersebut. Tak ada satupun kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Semuanya bungkam.
Satu sudut bibir Hujan terangkat. Ia lalu berjalan ke arah Benua dan menarik kerah baju pria itu. Hingga membuat wajahnya dan Benua berdekatan.
"Gua bantu," bisiknya tepat di telinga Benua. Lalu melepas kerah pria itu. Tampaknya Hujan mengetahui sesuatu. Benua tersenyum canggung. Dia pikir Hujan akan marah padanya jika tahu maksud Benua yang sebenarnya.
"Lo tau?" Hujan balik menatap Matahari yang masi bengong itu. Matahari sangat malu saat menyadari teman-temannya datang.
"Benua suka gua." sekalipun mengatakannya dengan lantang. Wajah Hujan tak bisa ia ubah dan tetap berekspresi datar seperti biasa.
"A–apa?" Ketiga orang yang sedang menonton itu bertanya gelagapan. Mereka tak paham. Situasi macam apa ini?
"Karena itu, menyerah lah!" lanjut Hujan berkata dengan dingin.
"Dia kan pacar gua!"
"Dia suka gua."
"Aku suka kalian berdua, kok."
Awan menempelkan tangan pada dahinya. Kali saja dia sakit dan berhalusinasi. Tidak panas, apa ini nyata? Pertengkaran macam apa ini? Sejak kapan? Membingungkan.
"Wan," panggil Aurora pelan. Gadis itu juga bingung dengan apa yang ia lihat sekarang. Matahari dan Hujan memang sudah sering bertengkar. Tapi, kali ini masalahnya kok agak'....
"Hm?"
"Coba cubit gua, ini mimpi 'kan?" lanjutnya membuat Aurora terkekeh geli.
Sementara Auriga, pria itu juga tak mengerti. Tapi ia memilih untuk diam dan menonton dengan tenang. Sampai kapan mereka akan melakukan hal menyebalkan itu.
"Hah ...! Ini merepotkan!" keluh Hujan lantas mendudukkan dirinya pada tanah.
"Syukurlah, makhluk menyeramkan itu sudah pergi." Benua juga ikut duduk di samping Hujan. Keduanya sama-sama bernafas lega. Seolah telah menghadapi sesuatu yang sulit.
"Benarkah?" Matahari ikut duduk. Ia hapus air mata palsu yang tadi ia keluarkan. "Sekarang jelaskan!" sambungnya menatap tajam Benua.
Auriga, Awan dan Aurora ikut berjalan ke arah mereka. Sepertinya hal aneh itu sudah selesai.
"Benar, jelaskan! Kenapa kalian bersikap aneh? Sejak kapan Matahari pacaran dengan lo? Terus, kenapa Hujan bilang lo suka sama dia. Dan kenapa Hujan juga ikut berantem dan rebutin lo? Bukannya, mereka gak suka sama lo?" Auriga bertanya panjang lebar tanpa menatap wajah Benua sedikit pun. Entah kenapa ia jadi kesal.
"Stalker!" jawab Benua singkat. Tubuhnya seketika merinding membahas itu.
"Stalker?" beo semuanya kecuali Hujan. Gadis itu tampak paham dengan situasi Benua. Jujur, Hujan juga pernah mengalaminya. Itu sangat mengerikan.
"Benar. Dan dia ada di sini tadi."
"Apa?!"
Lagi dan lagi mereka dibuat kaget oleh Benua.
TBC ....
__ADS_1