Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
chapter 7.


__ADS_3

~ Happy Readingđź’ž ~


Ting Nong Ting Nong


Terdengar suara bel rumah yang begitu nyaring. Hujan yang tadinya sibuk berkutat pada ponselnya, kini keluar dari kamar dan membuka pintu dengan wajah dinginnya.


"Hay kak," sapa seorang gadis. Ia tersenyum ramah pada Hujan


"Masuk," titahnya.


Gadis itu menurut, dia memasuki apartemen Hujan. setelah gadis itu masuk Hujan kembali menutup pintu apartemennya, dia menatap gadis yang tersenyum ramah padanya.


"Duduk" titah Hujan. Gadis itu mengangguk, dia duduk di sofa yang terletak di ruang tamu.


"Mmm....anu kak, kakak ngapain ngajak aku ke sini ya?" tanyanya gugup.


"Pertama-tama gua mau nanya, lo kelas berapa?" tanya Hujan.


"Kelas sebelas kak."


Hujan menggangguk.


"Terus, kenapa lo manggil gua kakak?"


"Emangnya gua tua apa?" batin Hujan


"Itu kak, aku gak tau nama kakak."


"Hujan"


"Ok, kak Hujan."


"Panggil Hujan aja, jangan ditambahin kakak gua gak suka!"


"Mm—maaf kak, eh maksudku Hujan"


"Hm, nama lo siapa?"


"Oh iya, aku belum ngenalin diri. Nama aku Aurora Belinda , panggil Aurora aja."


"Aurora Belidah?" tanya Hujan dengan dahi yang mengerut.


"Haha, bukan Belidah Jan, tapi Belinda," ucap Aurora terkekeh.


Hujan menggangguk kaku.


"Kamu dingin juga ya Jan," Aurora tersenyum kikuk.


"Yang kedua, lo mau jadi teman gua kan?"


"Iya" jawabnya antusias.


"Kalau gitu, jangan pernah gunain kata aku ataupun kamu."


"Kenapa?"


"Nurut aja!"


"Terus, mau pakai kata apa dong?"


"Lo gua."


"O-oke."


Hening, tak ada lagi yang bicara, Hujan yang sibuk dengan ponselnya sedangkan Aurora sedari tadi hanya menatap Hujan.


Kruk Kruk


Hujan melirik ke arah Aurora, apa Hujan tidak salah dengar? Sepertinya dia baru saja mendengar suara aneh.


"Lo laper?" tanya Hujan.


"Ah iya, gua tadi gak sempat makan," ucap Aurora cengengesan.


Hujan berdiri dari duduknya, dia melangkah masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan Aurora yang masih ada di ruang tamu.


"Loh kok aku ditinggal sih?" ucap Aurora kesal.


Sesaat kemudian Hujan datang dengan membawa dress berwarna pink di tangannya. Dia menghampiri Aurora dan memberikan dress itu padanya.


"Nih."


Aurora mengerutkan dahinya bingung, dia kan laper bukannya dikasih makan atau cemilan apa gitu malah di kasih dress? Emangnya dress bisa dimakan? bicara dengan Hujan benar-benar mengasah otaknya.


"Ini buat apa?" tanya Aurora bingung.


"Cepetan pake"


"Di sini?"


"Di kamar gua, cepetan gak pake lama."

__ADS_1


"O—oke," ucap Aurora. Walaupun ia tak mengerti maksud Hujan, tapi dia hanya menurut saja.


Sesaat kemudian Aurora keluar dengan memakai dress yang diberikan Hujan tadi, dia terlihat cantik dengan dress itu.


"Ck, masih keliatan cupunya" batin Hujan.


"Sekarang apa lagi?" tanya Aurora Ia masih saja belum mengerti dengan maksud Hujan.


"Ikut gua," ucap Hujan dan pergi memasuki kamarnya. Aurora menurut, dia mengikuti Hujan dan masuk ke kamar gadis itu.


"Duduk" titah Hujan.


Aurora mengerutkan dahinya, apa Hujan menyuruhnya duduk di kursi meja rias ini? Tapi untuk apa? Ah Aurora bingung sekali, dia benar-benar tak mengerti dengan Hujan. Mau tak mau Aurora hanya menurut saja, dia duduk di kursi itu dengan hati-hati.


Hujan mencopot kunciran rambut Aurora dan membiarkan rambut gadis itu tergerai. Hujan menyisir rambut Aurora dengan lembut dan hati-hati. Sekarang rambut Aurora lebih indah dan rapi dari sebelumnya.


Selanjutnya Hujan merias wajah Aurora dengan sedikit cekatan. Dia memberikan sedikit bedak pada wajah gadis itu tak lupa memoleskan sedikit liptint di bibir mungilnya.


Selesai, hanya dengan make up tipis saja sudah membuat Aurora cantik dan tak terlihat cupu lagi. Hujan cukup kaget melihat perubahan Aurora, gadis itu benar-benar berubah, dia tak terlihat cupu lagi.


"Hujan, itu siapa?" tanya Aurora sembari menunjuk cermin yang ada di depannya.


"Menurut lo?" Hujan balik bertanya. Dia kesal melihat Aurora, masa wajah sendiri tidak kenal.


"Itu gue ya?" tanya Aurora lagi. Dia benar-benar tak menyangka ternyata wajahnya cantik juga.


"Ya kali hantu!" jawab Hujan.


"Wah, gue cantik banget," ucap Aurora takjub.


"Tapi, kenapa lo rias gue? Gue kan bilang laper bukan mau make over," kata Aurora bingung. Hujan berdecak kesal, ternyata Aurora belum mengerti juga.


"Lo kan laper, kebetulan gua juga belom makan dan gak ada makanan." Hujan menjeda ucapannya, berbicara panjang lebar memang melelahkan.


"Terus?" tanya Aurora tak sabaran.


"Kita makan di cafe aja," lanjut Hujan.


"Terus kenapa lo make over gue?" tanya Aurora bingung, dia masih belum mengerti dengan apa yang dimaksud dengan Hujan.


"Ck, lelet banget sih nih orang" batin Hujan kesal. Ingin sekali rasanya ia membenturkan kepala gadis ini ke tembok.


"Karena kalau gua gak make over lo, nanti lo kena bully lagi, gua gak mau teman gua dibully sama orang!" jelasnya panjang lebar.


Baru kali ini Hujan mau bicara sepanjang ini, biasanya saja dia tak peduli dengan orang lain, tapi kenapa dengan Aurora berbeda? Entahlah Hujan juga tak mengerti. Saat melihat wajah polos Aurora dapat membuat Hujan teringat pada masa lalunya. Sehingga dia tak tega jika ada yang menyakiti hati gadis itu.


Aurora terharu, baru kali ini ada yang peduli dengannya. Aurora menangis dia menyeka air matanya yang hampir jatuh.


Aurora memeluk Hujan erat, dia menangis di dalam pelukan Hujan. Hujan yang kaget karena tiba-tiba dipeluk, hanya diam tak berkutik.


"Ma—makasih lo udah peduli sama gue, lo orang pertama yang peduli sama gue. Bahkan mama sama papa aja gak peduli," ucap Aurora sedih.


Sepertinya, gadis ini juga sama seperti dirinya. Hanya saja ia sering tersenyum dan ramah, walau kerap kali dia sering dibully oleh teman-temannya. Hujan membalas pelukan Aurora dengan hangat.


"Hmm. Awas make up lo luntur," ucap Hujan sembari mengusap punggung Aurora. Aurora tertawa, dia melepas pelukannya.


"Hehe, benar juga. Kita kan mau pergi," ucap Aurora dia tersenyum manis seperti biasanya.


"Hmm. Ayo pergi, gue juga laper."


"Ayo," jawab Aurora semangat.


Baru saja mereka ingin melangkah, Hujan tak sengaja melihat kaki Aurora yang hanya menggunakan sandal.


"Lo gak pake sepatu?"


"Hehe enggak," jawabnya cengengesan.


"Nih pakai sepatu gue!" ucap Hujan sembari memberikan high heels berwarna pink. Aurora menerimanya dengan senang hati.


"Makas—" ucapnya terpotong kala Hujan sudah keluar dari rumah dan meninggalkannya. Hujan memang sudah rapi sebelum Aurora datang ke apartemennya. Sehingga dia tak perlu untuk bersiap-siap lagi, seperti biasa Hujan selalu perfect.


"Hujan tungguin." Aurora berlari mengejar Hujan.


****


Auriga dan Benua berdecak kesal saat melihat Awan dan Matahari yang bermesraan.


"Woy, udah dong. Lo pikir cuman lo berdua di sini hah? Kita juga ada kali" ketus benua.


"Jomblo mah sirik" sindir Matahari.


"Jomblo diem aja!" ketus Awan.


Mendengar perkataan dua sejoli itu, membuat Benua tambah kesal. Benua memalingkan wajahnya dengan bibir yang mengerucut.


"Sabar Nu, sabar!" Ucap Auriga mengusap pelan punggung Benua .


"Lo gak kesal Ga?" tanya Benua bingung.


"Kesel sih, tapi gue bisa apa," jawab Auriga lesu.

__ADS_1


Mereka tertawa mendengar perkataan Auriga.


"Tau gini, gue gak mau datang tadi," kesal Benua.


"Tau tuh, terus si Sagita sama si Surya gak dateng-dateng lagi!" sambung Auriga kesal.


"Iya, si Bintang juga gak dateng!" sambung Benua.


"Gua jadi curiga nih, jangan-jangan mereka pacaran lagi?" tebak Auriga. "Soalnya mereka kompakan gak pada dateng," sambungnya lagi.


"Gak mungkinlah Ga Tapi, kalo si Surya sama Bintang sih bisa jadi ya," ucap Benua


"Loh, kalau Sagita gimana?" tanya Auriga.


"Oh, kalau dia mah gak dateng karena sakit, tadi dia nelpon gua."


"Oh gitu."


"Ya elah, gini nih orang jomblo, takut aja temannya dapat pacar. Makanya lo berdua cari pacar sono," ucap Awan yang diangguki oleh Matahari.


"Ck, gua doain putus mampus lo!" ketus Benua


"Makanya jagan jomblo!" sindir Matahari.


"Kita yang jomblo malah lo yang sewot, iya gak Ga?"


"Gua sih gak jomblo," kata Auriga santai.


"HAH?"


"Gua udah punya gebetan, gebetan gua Hujan," ucap Auriga senang.


"Ck, masih gebetan juga, lagian gak bakalan mau Hujan sama lo!" ucap Benua terkekeh.


"Ngomong-ngomong soal Hujan, bukannya itu Hujan ya?" ucap Matahari sembari menunjuk pintu cafe. Ya, mereka sekarang ada di cafe.


"Oh iya, itu Hujan. Yes berarti kita jodoh."


"Tapi, yang sama Hujan tu siapa?" tanya Awan.


"Wah cantik bener, sip Ini pasti jodoh gua," ucap Benua semangat.


"Ck, main jodoh-jodoh aja, belom tentu juga mereka mau sama kalian!" Ucap Matahari dengan lempengnya.


"Syirik aja lo. Gua samperin ah, kali aja jodoh," ucap Benua dan hendak berdiri dari kursinya.


"Eh, tunggu Nu. Mereka belom duduk tau, tunggu duduk dulu napa, kasian tuh Hujan pasti capek." Auriga menahan tangan Benua.


"Oke gue tunggu," ucapnya kesal.


***


"Jan, kita duduk di mana?" tanya Aurora saat mereka baru saja masuk kedalam sebuah cafe yang terlihat ramai sekali.


"Paling pojok."


"O--oke."


Hujan dan Aurora duduk di meja yang paling pojok, tak berapa lama kemudian pelayan datang.


"Mau pesan apa mbak?" tanya pelayan itu sembari memberikan buku menu kepada mereka.


Hujan menerima buku menu tersebut lalu memilih menu mana yang akan dipesannya.


"Saya pesan Ramen," katanya singkat.


"Ada lagi Mbak?"


"cappucino mocallate."


"O--oke," ucap palayan itu gugup, baru kali ini dia mendapat pelanggan yang dingin seperti Adel.


"Kalau Mbak yang ini, mau pesan apa?" tanya pelayan itu pada Aurora.


"Samain aja mbak," jawab Aurora ramah.


"Oke, silahkan ditunggu," kata pelayan tersebut kemudian kembali kebelakang.


***


"Ga sekarang udah boleh belom?" tanya Benua tak sabar.


"Belom."


"Ah lama banget woy, gua gak sabar nih. Gua samperin aja lah," ucap Benua dan berjalan menghampiri meja Hujan dan Aurora. Auriga yang sadar langsung saja menyusul Benua.


"Woy Nu! Tungguin gue, gue juga mau ketemu Hujan!" teriak Auriga dan pergi menyusul Benua.


"Eh ... kok kita ditinggalin sih! Kita juga mau ikut dong," ucap Awan lalu menarik tangan Matahari untuk menyusul kedua laki-laki itu.


TBC ....

__ADS_1


#Next?


__ADS_2