
...~HAPPY READING~...
****
"Apa maksudmu, Kak? Gua dan Hujan? Sepupu? Ck, jangan becanda," kata Aurora tertawa garing mendengar penuturan Petir.
Petir menyungging senyum miring.
"Sayangnya itulah kenyataan," balas Petir.
"Kau tau Aurora? Aku juga tak pernah berharap jadi Kakak sepupumu. Bahkan aku sangat membencimu. Dan selalu berpikir ingin menghancurkan hidupmu sama seperti yang kau lakukan pada adikku."
Aurora diam membisu. Hatinya langsung saja terasa sakit seperti ditusuk ribuan jarum. Bukan karena Petir mengatakan jika ia membenci Petir tapi, rasa sesak itu timbul ketika mengingat wajah Hujan yang tidak tahu apa-apa.
"Heh!" Petir tersenyum remeh melihat wajah menyedihkan di depannya.
"Menurutmu, apa yang terjadi jika aku membuka topeng mu di depan mereka?" tanya Petir sembari melirik foto teman-teman Aurora yang ada di atas nakas.
Aurora mengikuti arah pandangan Indra. Manik matanya dapat melihat jelas wajah teman-temannya di dalam Foto. Sepertinya Petir sengaja meletakkan foto itu di sana.
Ia menunduk dengan wajah muram. Meneteskan air mata dengan dada yang sesak.
"Gua bisa apa 'kak?" lirih Aurora dengan bahu yang bergetar.
"Lo gak tau situasi gua. Memang benar, gua munafik! Tapi kalau itu demi ibu, gua rela lakuiin apa aja." ujarnya diselingi tangis.
Aurora benar-benar tak berdaya. Sejak kemarin Hendri terus saja menanyainya tentang Hujan. Pria itu bahkan mengancam Aurora jika tak bisa menggali informasi lebih dalam, Hendri akan menyiksa Ibunya.
Karena hal itulah, Aurora terus menghindar sebisa mungkin dari Hujan. Ia pikir, gadis itu akan dalam bahaya lagi karenanya. Kali ini rencana Hendri berbeda, pria itu merencanakan sesuatu yang lebih kejam dari sebelumnya. Aurora tau itu.
"Situasi, katamu? Tentu saja aku tau."
"Mak—"
"Ibumu ditahan oleh pria itu dan dijadikan bahan untuk mengancammu. Begitu, kan?"
Aurora bungkam tak dapat berkata apapun. Dirinya diam membisu. Bagaimana bisa Petir mengetahuinya?
"Kau tau? Aku tak akan membiarkannya dalam bahaya lagi. Dia sudah cukup menderita selama ini. Kupikir kau juga berpikir hal yang sama, bukan begitu Aurora?"
"...."
"Hah ... aku akan memberimu dua pilihan. Terserah kau ingin memilih yang mana, aku tak peduli. Tapi kuharap kau bisa memilih dengan bijak."
"Pilihan?"
"Benar."
Aurora menyerngit tampak penasaran dengan maksud Petir. Kemudian ia bertanya dengan hati-hati.
"Apa itu?
Petir tersenyum semirk. Mengangkat satu kakinya pada sofa lantas kembali berkata.
"Pilihan pertama, kau menjadi musuhku dan aku akan membongkar semua kebusukan mu pada Hujan dan yang lainnya. Bukan cuma itu, seperti kataku tadi, aku juga akan menghancurkan hidupmu saat ini juga."
"...."
"Kau tau maksudku kan? Aku bukanlah pria yang baik, bisa saja aku menyuruh anak buah ku untuk tidur bergilir dengan mu?"
Mata Aurora membulat sempurna kala mendengar perkataan kurang ajar itu. Tak ia sangka, ternyata Petir bukanlah orang yang hangat seperti yang dibayangkannya selama ini.
__ADS_1
"Pi–pilihan kedua?"
Lagi dan lagi Petir menampilkan senyuman miring.
"Mari bekerja sama denganku," ujar Petir.
"Apa?"
"Jadilah kaki tanganku, awasi pergerakan Hendri. Laporkan semua rencananya. Dengan begitu, aku akan menangkap dan memberinya pelajaran."
"Mem–memberi pelajaran?"
"Yap! Membunuhnya? Mungkin."
"Tapi biar bagaimanapun, dia Ayah gua!!"
"Memangnya aku peduli?" tanya Petir cuek.
"Ukh ...." Aurora menggigit bibir bawahnya frustasi.
"Ini gak adil, gimana dengan Ibuku?" lanjutnya berkata lirih.
"Kau pikir, mengkhianati temanmu yang tak tahu apapun itu adil?" Petir berkata dengan nada tinggi menekankan kata 'Adil' sejelas mungkin.
"...."
"Ck, mengenai Ibumu, tak perlu cemas. Aku akan melindunginya dari jauh. Akan ku pastikan Hendri tak menyentuh wanita itu."
"Sungguh?"
"Hm. Bagaimana? Kau gadis pintar. Kurasa kau tau harus memilih yang mana."
Aurora diam. Berpikir sejenak lalu menjawab dengan helaan napas.
Petir tersenyum puas.
"Pilihan yang bagus."
*****
Di dalam kamar, pria berwajah tampan itu tak henti-henti mengulum senyum. Menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang entah kemana.
•Auriga POV
Sial, sepertinya malam ini gue bakal susah banget buat tidur. Wajahnya masi belum hilang. Akh ...! Kenapa terus menghantuiku?
Asmirandah Hujan, gadis yang baru gue kenal sejak bersekolah di SMA Taruna Bangsa. Dari awal dia memang berbeda dari gadis lain.
Perilaku cuek dan sikap yang dingin itu membuat gue penasaran. Awalnya gue cuma iseng dekatin dia. Menjahili Hujan hingga ia menunjukkan tampang kesal, hal itu sangat menyenangkan.
Namun semuanya berubah sejak saat itu. Ketika melihatnya mabuk karena tak sengaja meminum bir. Sifat Hujan berubah drastis, dia bertingkah seperti anak kecil. Yah, itu sangat menggemaskan.
Apalagi ketika dia tanpa sadar mencium pipiku. Wah itu benar-benar momen yang memalukan tapi, entah kenapa sejak hari itu perasaan gue berubah drastis.
Rasa ingin mengenal Hujan lebih dalam muncul dari hati gue. Ingin lebih akrab dengan gadis itu, gue pengen dekat dengannya.
Lama kelamaan rasa itu kian memuncah, membuat gue ingin gila rasanya. Entah kenapa setiap di dekat Hujan rasanya jantung gue ingin copot.
Gue gak tau ini perasaan apa. Yang gue tau, gue sangat ingin memiliki gadis itu sekarang.
•Author POV
__ADS_1
"Kayanya mata gue bakal kebuka sampek pagi kalau gini caranya," gumam Auriga mengusap kasar wajahnya.
Ia raih ponsel yang terletak di atas nakas. Kemudian mengetikkan sesuatu dan menelpon seseorang di sana.
[Hmmm ... halo? Kenapa Ga? Gue ngantuk nih, hoam ...]
Suara Benua menguap sangat terdengar jelas di telinga Auriga. Sepertinya pria itu tengah tidur saat Auriga menelponnya.
"Oy, Benua Lo pernah naksir cewe gak?"
[Pernah]
Jelas sekali Benua menjawab dengan dengkuran. Dia benar-benar mengantuk.
"Kapan?"
[Sekarang]
"Serius lo? Siapa?"
[Cewan]
"Aurora? Lo naksir Aurora? Gila, serius?"
[Iy— ah, apa?! Na–naksir? Enggak tuh! Ta–tadi tuh gue cuma asal ngomong. Elo sih, orang ngantuk ditelpon!!]
"Idih, gak usah ngelak deh lo. Gue kasi tau Aurora nih," ancam Auriga
[Apaansih Ga, tadi tuh gue cuma becanda. Jangan dianggap serius bangsat!!]
"Bilang aja keceplosan."
[Akhh ... iya deh iya! Awas lu kalau bocor! Ck]
"Wkwk ... sip lah."
[Lo nelpon gue mau ngapaiin? Pake tanya yang aneh-aneh lagi.]
"Gue ... gak deh gak jadi."
[Bilang aja lo suka sama Hujan tapi gak berani bilang]
"Sok tau lo!"
[Kan emang bener, waktu kemah juga lo sampe nonjok gue cuma gara-gara megang bibir Hujan. Apalagi namanya kalau gak suka, hah?]
"Hahaha."
[Udah deh Ga, gue ngantuk nih. Tenang aja, besok gue bantuiin lo buat nembak Hujan]
"Hah? Ap–apa? Maksud gue bukan—"
Tut!
Benua menutup telepon secara sepihak.
Auriga melemparkan ponselnya asal. Masih mencerna kata-kata Benua
Nembak Hujan? Apa dia bisa menyatakan perasaannya? Sepertinya itu akan sulit.
"Kayanya besok gue harus periksa jantung."
__ADS_1
Bersambung....
...TBC....