
...HAPPY READING...
***
"Hari ini sekolah kita akan mengadakan jumat bersih. Karena itu anak didik kami sekalian, mari bekerja sama dalam membersihkan lingkungan sekolah kita ya"
Ucapan dari kepala sekolah dapat membuat semua siswa yang berbaris di lapangan mengeluh tak suka.
"Kepada bapak dan ibu wali kelas, mohon bimbing anak didik masing-masing. Mungkin sekian yang ingin saya sampaikan. Selamat bertugas!"
Dengan santai nya lelaki paruh baya itu berjalan meninggalkan Aula. Usai kepergiannya para murid juga bubar dari barisan. Ck, mengapa mereka harus membersihkan sekolah? Menyebalkan sekali!
"Ekhem!" Deheman pak Aster berhasil membuat semua murid yang tadinya ribut kini kembali tenang.
"Karena bapak gak suka basa-basi jadi, langsung saja. Kalian semua kutip semua sampah yang ada di lingkungan sekolah ini"
"APA?!" kaget semuanya.
"Kenapa? Kalian gak terima, hah? Mau ngebantah omongan guru?"
Sagita berdecih, pak Aster memang guru yang menyebalkan. Sialnya orang itu malah jadi Wali Kelas mereka.
"Huft" Pak Aster menghela napas jengah melihat reaksi para siswa
"Gini deh, kalau kalian berhasil menuhin satu karung sampah satu orang. Kalian semua boleh pulang."
"HOREE" Sorakan riuh terdengar dari semua siswa yang menandakan bahwa mereka setuju dengan persyaratan pak Aster.
Pak Aster mengangguk kecil sembari mengulum senyum semirk. Lihat saja, apa mereka akan tetap semangat nanti?
****
"Bangsat!" umpat Sagita kesal.
"Dasar pak Aster sialan!" timpal Benua ikut kesal.
"Arghhh, gila. Karung sebesar ini kapan mau penuhnya?" Matahari berseru histeris.
Wajah yang tadinya riang kini berubah muram seketika melihat sebuah karung besar yang terpatri di depan mereka.
Semua pelajar itu menghela napas lelah. Sudah cukup banyak sampah yang mereka kumpulkan tapi tetap saja karung itu tak kunjung terisi penuh.
"Es batu, Bintang, Kalian ngapaiin?. Udah sini istirahat dulu," ajak Matahari sembari menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.
Hujan dan Bintang menghentikan aksinya. Kemudian duduk di samping Matahari.
"Auriga mana?" tanya Sagita menatap wajah Hujan dengan intens.
Hujan mengedikkan bahu acuh. Menandakan jika dirinya tidak tahu.
"Toilet kayanya," sahut Benua.
Sagita mengangguk paham sembari mencabuti rumput kurang kerjaan.
Hujan menatap kosong ke depan. Tampak sedang melamun memikirkan sesuatu.
TAP
Sontak ia tersentak kaget kala merasakan hawa dingin yang melekat pada pipinya. Gadis itu menoleh mendongak menatap Orion yang baru saja datang sembari menyodorkan botol berisi air dingin.
Lelaki itu tersenyum hangat.
"Minum?" tanya nya menawarkan.
"Heran gue, bukannya kelas lo jauh ya dari tempat kita? Lagian sekarang kerja bakti, woy! Ngapaiin lo ke sini?" ketus Matahari kesal.
Orion mengacuhkannya ia bahkan duduk di samping Hujan sekarang. Membuka kan minum untuk gadis itu dan memberikannya. Hujan menerimanya dengan baik. Yah, ia sedikit haus sih.
"Makasih."
__ADS_1
"Hmm."
Tatapan tajam terus mereka tujukan pada Orion yang tak henti mengoceh tak jelas pada Hujan. Sesekali gadis itu tersenyum tipis menanggapi lelucon dari Orion.
"Caper banget," cibir Matahari bergumam kecil.
Sagita memutar bola mata malas. Lebih memilih untuk diam memperhatikan. Tanpa sengaja manik matanya menangkap sosok Auriga yang tengah berjalan menuju ke tempat mereka sembari membawa beberapa botol air dalam kantong plastik.
"Woy, Ga!"
Dengan santai nya Sagita melambaikan tangan. Menarik perhatian semuanya termasuk Hujan dan Orion.
Wajah Orion seketika berubah suram. Lelaki itu tampak tak suka dengan kedatangan Auriga.
"Kalian haus kan?" tanya Auriga terkekeh kecil, dirinya mencoba untuk mengabaikan keberadaan Orion.
"Pas banget, kita lagi haus. Makasih Aga"
"Ck, harus berapa kali sih gue bilang. Nama gue Auriga bukan Auraga lo kira gue cewek, hah?"
Matahari hanya tertawa mendengarnya. Ia rampas minuman dari Auriga dan membagikannya. Sedetik kemudian ia lirik Hujan sekilas. Tiba-tiba saja satu ide terbesit di kepalanya.
"Eh Auraga" panggil Matahari membuat Auriga menoleh.
"Kenapa?"
"Bukain dong, kayanya tutup botol minum gue macet nih."
Dengan manjanya ia ulurkan botol minum itu pada Auriga. Sagita yang melihatnya langsung bergidik ngeri. Itu sedikit menggelikan, ada apa dengan Matahari?.
Auriga tersenyum mengambil alih botol itu dari tangan Matahari lalu membukanya.
"Nih" ucap Auriga memberikan botol itu kembali sembari tersenyum tipis.
Hujan menyerngit tak suka. Ia menatap Auriga datar.
"Apaan sih? Lebay banget lo jadi orang," sahut Sagita yang sedari tadi diam memperhatikan. "Jijik gue lama-lama liat lo!" lanjutnya lagi.
Matahari tersenyum jengkel. Langsung saja ia tendang kaki Sagita membuat lelaki itu mengaduh kesakitan. Benua dan Bintang terus saja tertawa melihatnya.
"kenapa?" tanya Auriga heran melihat Hujan yang sedari tadi menatapnya dalam diam.
Gadis itu hanya diam sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan Auriga
"Kenapa sih?" kekeh Auriga mulai mencubit hidung Hujan pelan.
Dengan kasar Hujan menepis tangan Auriga lantas berkata ketus.
"Jangan sentuh gue!"
***
Pada akhirnya kelas dipulangkan pada waktu yang sama seperti biasanya. Orion meneguk habis minuman di tangannya. Lalu membuangnya ke dalam tong sampah terdekat.
Ketika hendak melanjutkan langkah tanpa sengaja manik mata Reka menangkap sosok gadis yang tengah berjalan tergesa-gesa.
Orion menyerngit, kenapa Hujan sendiri? Kemana perginya cowok yang selalu di dekatnya itu? Terlebih teman-temannya juga tidak ada.
Karena penasaran, akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti Hujan diam-diam.
Sekolah kian sunyi, sepertinya orang-orang sudah pada pulang tetapi apa yang sedang Hujan lakukan?
"Ruang Uks?" gumam Orion melihat Hujan berjalan menuju ke sana.
Gadis itu berjalan sembari berpegangan pada tembok. Tangan satunya ia gunakan untuk memegang kepala. Seperti tengah menahan rasa sakit.
Orion melotot kaget kala mendapati Hujan yang hendak jatuh. Dengan sigap lelaki itu berlari dan menangkapnya.
"Hujan, Lo kenapa," teriak Orion terus mengoncang tubuh Hujan dengan panik.
__ADS_1
Gadis itu pingsan. Wajah Orion terlihat sangat khawatir. Lelaki itu bahkan menepuk-nepuk pelan wajah Hujan.
"Hei, ayo bangun!" lirihnya takut.
"Arghhh"
Seutas senyum simpul terukir di wajah Orion kala melihat Hujan yang mulai membuka matanya. Syukurlah, Ia sangat syok tadi.
"Orion?"
Hujan mencoba untuk bangun namun sayang tubuhnya tak kuat. Untung saja Orion menangkapnya jika tidak—entahlah.
"Ber—berdarah," ujar Orion gelagapan.
Tangannya mengusap darah yang keluar dari hidung Hujan dengan tangan yang gemetar.
"Wajahmu sangat pucat. Ada apa denganmu?"
Dengan keras kepala, Hujan terus memaksa berdiri. Ia usap darah itu dengan kasar lalu tersenyum kecil.
"Jangan khawatir, ini hanya mimisan," katanya mencoba untuk terlihat baik-baik saja.
Orion menggeleng.
"Gue gak bodoh itu," ujarnya.
"Hmm...ngomong-ngomong lo ngapain di sini?" tanya Hujan mengalihkan pembicaraan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan" kata Orion menghela napas. Ia seperti melihat sosok Hujan di masa lalu.
Hujan terdiam.
Orion yang mengerti langsung saja mengusap kepalanya.
"Lupain" ucapnya. "Teman-teman Lo mana?"
"Pulang."
"Terus, pacar lo?"
"Pulang."
"Tumben lo gak pulang bareng dia, kenapa?"
"Gue gak mau"
Sebenarnya beberapa waktu yang lalu Auriga memang ingin mengantarnya pulang tapi Hujan menolak dengan alasan Petir sudah menjemputnya.
Lagi dan lagi Orion menghela napas.
"Lo yakin gapapa?" tanyanya memastikan. "Wajah lo pucat banget dan darah dari hidung lo juga gak berhenti keluar."
"Iya, gue gak—"
BRUK
Belum sempat Hujan melanjutkan ucapan. Tubuh gadis itu sudah pingsan lebih dulu.
"Hujan"
Dengan panik, Orion menggendong tubuh Hujan dan berlari menuju parkiran. Sudah ia duga, ada yang tidak beres.
"Hujan, tahan ya gue mohon "
Usai memasang sabuk pengaman pada Hujan Orion langsung saja menancap pedal gas dengan kecepatan tinggi dan pergi meninggalkan area sekolah.
Bersambung...
...TBC....
__ADS_1