Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
chapter 4.


__ADS_3

...HAPPY READING...


***


Pagi ini Hujan berangkat lebih awal ke sekolah. Dia berjalan menelusuri koridor kelas. Di sini tampak sangat sepi, tidak ada seorang pun di sana selain dirinya. Ya, Hujan sadar dia memang terlalu cepat datang.


Hujan berjalan di koridor dengan berpegangan pada tembok. Satu tangannya yang lain terus saja memegangi kepalanya yang terasa sakit. Kepalanya pusing, wajahnya pucat dan tubuhnya juga lemas. Tetapi Hujan tetap saja memaksakan diri untuk bersekolah. Walau dia tau kondisi tubuhnya sangat tidak stabil.


"Hay" sapa seseorang.


Hujan sangat kaget. Spontan ia berdiri tegap. Hujan tak lagi berpegangan pada tembok. Bukan apa-apa, Hujan hanya tak mau dipandang lemah oleh orang lain. Lagi pula siapa yang datang sepagi ini selain dirinya? Atau jangan-jangan—ah tidak-tidak, mana ada hantu pagi-pagi begini. Karena penasaran Hujan menoleh untuk melihat siapa yang telah menyapanya.


Wajahnya seketika datar seperti biasanya. "Ternyata orang ini. Ck, bikin kaget aja,"


"Maaf, bikin lo kaget," ucap Auriga nyengir. Hujan hanya menatapnya saja.


"Kenalin gua Auriga Alpha" lanjut Auriga sembari menyodorkan tangannya. Hujan menatap tangan Auriga lama, tak berniat untuk menjabatnya sama sekali.


Melihat Hujan yang tak bereaksi. Auriga mendengus kesal dan dengan tidak malunya, ia menarik tangan Hujan agar berjabat tangan dengannya.


"Lo Hujan kan?" tanyanya. Hujan menarik tangannya kasar.


"Kalau lo udah tau, buat apa kenalan?" ucapnya dingin. Auriga tersenyum, akhirnya Hujan mau bicara juga.


"Emangnya gak boleh ya?" Hujan tidak merespon, ia meneruskan perjalanannya yang tertunda karena Auriga. Auriga mengikutinya dan berjalan berdampingan dengan Hujan.


"Btw, muka lo pucat amat. Tangan lo juga dingin."


"...."


"Lo sakit, ya?"


"...."


"Lo udah sarapan?"


"...."


"Sarapan dulu gih, kayaknya lo beneran sakit deh."


"...."


"Hey, Lo deng—"


"Berisik!" potong Hujan, suara Auriga mampu membuat kepalanya pusing. Hujan terus saja memegangi kepalanya yang terasa sakit, sesekali dia meringis kesakitan.


"Ya, maaf. Lo juga sih, gue ngomong tapi gak di resp—"


BRUK!


Hujan ambruk. Untung saja Auriga dengan sigap menangkapnya. Jika tidak, mungkin kepalanya akan berdarah dihantam teras sekolah.


"Hujan? Lo gak papa?" tanya Auriga khawatir sembari menepuk pipi Hujan pelan. Namun tak ada jawaban. Auriga mendengus, dia menggendong Hujan dan membawanya ke UKS.


***


"Mama jangan tinggalin Hujan. Hiks..kakak, Hujan mau ikut hiks...maaf." Hujan terus saja merengek pada ibunya. Matanya sudah bengkak, tenggorokannya juga terasa sakit.


"Enggak, kakak gak bakal ninggalin Hujan. Kakak sayang sama Hujan," ucap anak laki-laki yang berumur delapan tahun itu. Ia memeluk adiknya sembari menghapus air mata gadis itu.


"Ma, bawa hanya hujan juga. Kalau Mama gak bawa Hujan, Petir juga gak mau ikut Mama!"


"DIAM PETIR. CEPAT MASUK KE DALAM MOBIL!" bentak Tata.


"Enggak, Petir gak mau. Petir mau sama Hujan aja."


"Jangan keras kepala, mama bilang masuk"

__ADS_1


"ENGGAK!"


"Bodyguard bawa Petir ke dalam mobil"


"Baik nyonya."


"Mama jahat, Hujan masih kecil. Mama tega ninggalin Hujan sendirian" teriak Petir. Ia terus memberontak saat digendong oleh bodyguard mamanya. Namun apalah dayanya bodyguard itu lebih kuat dari Petir. Dia hanya bisa pasrah, dilihatnya adiknya yang masi menangis. Petir menunduk, ia tak tega melihat adiknya menangis seperti itu.


"Kak Petir, jangan tinggalin Hujan. Hujan gak mau ditinggal Kak Petir...Hiks." Hujan mengejar Petir yang dibawa pergi, sialnya dia malah terjatuh.


Hujan beralih menatap Mamanya, dia berlari ke arah Mamanya dan memeluk kaki sang Mama erat.


"Mama jangan tinggalin Hujan. Hujan minta maaf. Hujan janji gak bakal nakal lagi. Hujan janji bakal masak biar mama gak capek. Tapi, pliss mama jangan ninggalin Hujan. Hujan gak mau kehilangan Mama sama kak Petir juga Hiks...hiks. Maaf...Maafin Hujan," ucapnya senggugukkan, dia masih saja memeluk kaki Tata erat.


Tata menendang Hujan, hingga gadis itu terhuyung ke belakang. Hujan bangun, darah mengalir dari hidungnya.


"Cukup Tata!. Jangan sakiti Hujan lagi, dia gak salah apa-apa. Dia masih kecil apa kau tidak Kasihan. Dia anakmu, ingatlah itu Tata" Samudera kakek Hujan. Akhirnya ia bicara, dia tidak tega melihat cucunya yang menangis kesakitan.


Tata memalingkan wajahnya. Tak mau melihat Hujan yang menangis dan menatapnya sendu.


"CK, SEHARUSNYA AKU TAK PERNAH MELAHIRKAN MU. DASAR ANAK PEMBAWA SIAL" ucap Tata kasar. Ia pergi meninggalkan rumah Ayahnya.


Hujan mematung. Hatinya sakit, sakit sekali. Dadanya sesak, isak tangisnya tak lagi terdengar. Ia menenggelamkan kepalanya pada kedua kakinya yang ia tekuk. Dan tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf. Berharap semuanya dapat diperbaiki kembali, meskipun dia tau hal itu sulit dilakukan.


Samudera yang melihat cucunya terdiam, langsung saja memeluk Hujan. Berusaha memberi ketegaran pada gadis kecil itu.


***


"Maaf, maaf....hiks. Jangan pergi."


Auriga yang tadinya berkutat pada ponselnya, kini melihat ke arah Hujan yang masi terbaring di ranjang UKS. Mata Hujan masih tertutup rapa. Apa dia mengigau? Tubuh Hujan juga penuh dengan keringat dan peluh yang membasahi dahinya.


"Eh, Hujan lo nangis?" tanya Auriga bingung.


"Maaf..jangan pergi hiks...hiks."


"Iya, iya. Gua gak pergi kok. Hehe," ucapnya terkekeh.


"Tapi, kayaknya dia lagi mimpi buruk. Keringatnya aja banyak," lanjutnya lagi.


"Berarti Hujan gak ngomong sama gue, dong? Ck, kok gue jadi ngomong sendiri sih kayak orang gila aja!" gumam Auriga. Dia terus saja memandangi wajah Hujan.


"Ternyata, Hujan cantik juga ya."


Tangan Auriga tergerak ingin menghapus air mata Hujan. Baru saja dia ingin menghapusnya, tiba-tiba Hujan terbangun dan beringsut duduk. Auriga yang kaget, seketika jatuh ke bawah ranjang.


"Hosh, hosh, hosh," napasnya memburu.


"Ck, kenapa gue harus mimpiin itu sih?!" kesal Hujan. Dia melihat sekelilingnya. Dia tau ruangan ini, ini pasti UKS sekolah.


"Lo udah bangun?" tanya Auriga, dari bawah ranjang. Hujan yang kaget langsung saja melihat ke bawah. Di sana tampak Auriga yang sedang terbaring di lantai dengan tidak manusiawi. Auriga nyengir ke arahnya.


"Lo tadi pingsan, terus gua bawa ke sini. Oh iya, lo juga nangis tadi sambil bilang maaf-maaf, jangan pergi gitu. Lo mimpi ya? mimpi apa emangnya? Kok bisa nyampek nangis gitu?" tanya Auriga beruntun.


Ck, bagaimana bisa dia pingsan di depan orang lain. Dasar lemah, dan Auriga bilang apa tadi? Hujan menangis? sungguh menyedihkan. Bagaimana bisa seorang Asmirandah Hujan melakukan hal yang menyedihkan seperti itu?.


"Lemah banget sih Lo Hujan, Bodoh, tolol, Gak tau malu" Umpat Hujan dalam hati.


Hujan terus saja merutuki dirinya sendiri, tanpa menjawab semua pertanyaan Auriga. Ia memutuskan untuk pergi. Hujan sudah terlalu malu untuk berada di sana.


"Kenapa gua bisa pingsan?" batin Hujan dan pergi meninggalkan UKS.


Auriga berdiri, dia melihat Hujan yang pergi meninggalkannya.


"Lagi-lagi, dia pergi tanpa ngucapin apa pun" batin Auriga dan ikut meninggalkan UKS.


***

__ADS_1


Di Halte bis di dekat sekolah. Tampak seorang gadis cantik yang duduk di Halte sembari memainkan ponselnya. Gadis itu adalah Hujan, Hujan memang sengaja tidak membawa mobil hari ini. Karena kondisinya yang tidak stabil, Hujan memutuskan untuk naik bis saja.


Wajahnya masih tampak pucat. Tetapi Hujan memang keras kepala, dia terus saja ngotot mau sekolah.


Drett Drett


Sebuah notifikasi masuk kedalam ponsel milik nya. Hujan membuka Aplikasi WhatsApp, dibacanya pesan masuk yang di kirim oleh Dokter Ana .


"Hujan, kenapa obatnya gak diambil?"


Hujan menyimpan ponselnya, tak berniat untuk membalas pesan itu sama sekali.


Ia menatap jalanan yang kian sunyi. Sepertinya memang sudah tidak ada lagi bis yang datang. Tiba-tiba mobil berwarna hitam, berhenti tepat di depannya. Seseorang keluar dari dalam mobil dan tersenyum ramah pada Adel.


"Lo belum pulang?" tanya Auriga basa-basi.


"Menurut, lo?"


"Cuek banget" batin Auriga


"Mau gua anterin?" tawar Auriga.


"Gak perlu" jawabnya dingin.


"Udah sore loh, bentar lagi malam. Nanti lo masuk angin kalau di sini terus." Hujan tidak merespon, Auriga mendengus kesal. Kenapa Hujan begitu dingin?.


Auriga berjalan mendekati Hujan, dia menggendong tubuh Hujan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hujan terlonjak kaget, berani sekali dia menggendong Hujan tanpa izin darinya.


"Turunin gua" ucapnya dingin.


"Gak mau!"


Auriga memasukkan Hujan ke dalam mobilnya dan menutup mobil itu kembali. Ia berlari kecil mengitari mobil dan duduk di tempat kemudi. Auriga mulai menjalankan mobil dengan kecepatan normal.


***


"Lo tinggal di apartemen?" tanya Auriga, kini keduanya sedang berada tepat didepan apartemen seorang Asmirandah Hujan.


"Hmm," jawab Hujan tak tertarik dengan pertanyaan Auriga.


"Sendirian?" Hujan mengangguk lagi, tanpa mengucapkan sepatah kata pun Hujan keluar dari mobil Auriga dan berlari kecil memasuki lobi apartemen.


"Lo gak mau ngucapin sesuatu gitu? Makasih misalnya," ucap Auriga mengingatkan.


Mendengar perkataan Auriga membuat langkah Hujan terhenti, tanpa berbalik badan Hujan mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Auriga terdiam.


"Buat apa ngucapin makasih? sama orang yang maksa kita?"


Auriga terdiam cukup lama, lalu menggelengkan kepalanya melihat reaksi Hujan. Dia masuk ke dalam mobilnya dan berniat untuk pulang.


***


Hujan memasuki apartemen miliknya, ia melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai atas.


Langkahnya terhenti kala Hujan melihat seseorang yang duduk di sofa ruang tamunya, orang itu memakai Hoodie.


"Lo siapa?" tanyanya dingin. Orang itu membuka hoodie-nya dan memperlihatkan wajah dengan jelas.


"Kamu gak kenal kakak?" tanya orang itu. Ia menampilkan senyum manis pada Hujan


DEG!


"KAK PETIR?"


Bersambung...


...TBC....

__ADS_1


__ADS_2