
"Jika aku tau semuanya akan jadi serumit ini, aku tidak akan pernah menerima salam darimu."
...HAPPY READING...
***
"KAK PETIR?"
Hujan mematung. Dia mengusap matanya berulang kali. Apa dia tidak salah lihat? Petir tersenyum melihat reaksi Hujan.
"Ck, kakak sendiri gak kenal," ucap Petir terkekeh. Sadar dirinya ditertawakan, Hujan mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar kembali.
"Kenapa kakak datang ke sini?" tanyanya dengan nada dingin.
"Emangnya gak boleh?" Petir balik bertanya. Hujan mendengus kesal, dia menatap Petir dengan wajah datar.
"Dek Lo berubah ya?" ucap Petir lirih.
"...."
"Pasti karena mama kan?" lanjutnya lagi. Petir menunduk, entahlah Petir merasa dia tak pantas untuk dipanggil seorang kakak. Dia sudah gagal melindungi adiknya dan malah pergi meninggalkannya saat gadis itu butuh seseorang.
"Aku gak berubah. Sama sekali enggak," jawab Hujan masih dengan nada dingin.
"Kalau kamu gak berubah, kenapa kamu bicara dingin sama kakak?" tanya Petir lirih.
"Kak Petir salah, menurut Hujan yang berubah itu kakak."
"Lah, kok jadi kakak sih Dek?"
"Hm, Kakak jadi lebih cengeng sekarang."
__ADS_1
Petir seketika tertawa mendengar perkataan Hujan.
"Haha, berani ya kamu ngatain kakak cengeng," ucap Petir terkekeh.
"Pergi Kak, Hujan gak mau liat kakak lagi."
Petir berhenti tertawa, apa dia tidak salah dengar? Hujan mengusirnya?
"Kamu ngusir kakak?"
"...."
"Kamu benci kakak?"
"...."
"Kakak minta maaf Jan, Kakak emang gak becus jagain kamu," lirihnya.
"Ya udah, kakak bakalan pergi. Tapi, sebelum kakak pergi, kakak mau nanya sesuatu sama kamu."
"Hmm."
"Apa kamu benci Mama?"
Hujan bungkam, dia menunduk dan sesaat kemudian dia menjawab.
"Iya, gue benci Mama, benci kakak, benci kalian semua"
Petir tersenyum kecut.
"Kamu bohong Dek, kamu gak pernah benci sama Mama. Kakak tau itu" batin Petir.
__ADS_1
Petir berdiri, dia menghampiri Hujan dan mengacak rambut adiknya gemas.
"Kakak pergi ya? Jaga diri kamu baik-baik," ucapnya dan melangkah meninggalkan apartemen Hujan.
"Kak Petir"
Langkah Petir terhenti kala Hujan memanggilnya. Diam-diam Petir mengulum senyum. Apa Hujan akan mencegahnya? Ternyata Hujan masih peduli dengannya. Ah, Petir senang sekali.
"Iya?" Petir menoleh dan tersenyum manis pada Hujan
"Dompetnya ketinggalan." senyum Petir memudar.
"Ck, kirain ada yang lain," kesal Petir. Dia mengambil dompetnya yang tertinggal di meja dan melangkah menuju pintu.
"Kak Petir," panggil Hujan lagi, Petir lagi-lagi berhenti dan menoleh.
"Apa?!" jawabnya kesal.
"Kenapa kakak bisa masuk? Pintunya kan udah dikunci?" tanya Hujan. Dia baru ingat, perasaan pergi sekolah tadi dia mengunci pintu rapat-rapat. Lalu, kenapa Petir bisa masuk? Apa dia punya kekuatan?
"Kamu kan pintar, pikir sendiri aja!" ketus Petir dan menutup pintu dengan kasar.
Hujan menatap pintunya lamat-lamat. Apa ada yang rusak? Huh, untung tidak ada, Hujan lega sekali.
Petir benar, Hujan sangat pintar tanpa bertanya pun dia sudah tau jawabannya. Hanya saja, Hujan hanya ingin memastikannya.
"Kenapa Kakek ngasi kunci ke kak Petir?" batin Hu
Bersambung...
...TBC....
__ADS_1
Gimana? Ada yang udah paham kah sama ceritanya?. Jadi kalau ada yang udah paham sama ceritanya terus baca sampek part terakhir ya. Terima kasih sudah berkunjung ke lapak ini.