Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 49.


__ADS_3

...~HAPPY READING~...


*****


Derap langkah kakinya terdengar cepat. Di kegelapan malam, Hujan berlari sekuat tenaga. Menghindari dua orang pria berbadan tegap yang tengah mengejar dirinya dengan membabi buta.


Nafas gadis itu tampak tak beraturan. Ia lelah, kepalanya terasa sangat pusing. Kapan aksi kejar-kejaran ini akan berakhir?


"Menyebalkan."


BRAK!


Hujan tersandung yang berakhir jatuh. Ia mencoba untuk bangun. Namun, tetap saja tak bisa. Sudah Hujan duga, tenaganya benar-benar sudah terkuras habis.


"Heh! Bukannya sudah kubilang? Jangan lari, jatuh kan jadinya."


"Aduh, Sayang! Sudahlah, gak usah kabur lagi. Ayo bermain bersama kami!"


Keduanya tertawa senang. Membantu Hujan berdiri dan kemudian menyeret gadis itu secara paksa.


"Lepasin gua!!"


Hujan sungguh tak punya tenaga untuk melawan. Dirinya terlalu lemah. Luka-luka ditubuhnya masi terasa sakit dan perih.


"Sudahlah cantik. Gak usah ngelawan. Ikut kita saja, ya?"


"Wajahnya benar-benar cantik dan mulus! Mimpi apa aku semalam?"


"Ugh ...!" Hujan menggigit bibir bawahnya menahan marah. Kedua lelaki menjijikan ini terus mencegal kuat tangannya. Membuat Hujan sulit untuk kabur lagi.


"Lepasin dia."


Suara lantang yang terdengar dingin itu dapat menarik perhatian semuanya.


"Kau siapa lagi?"


"Ck, jangan sok jadi pahlawan!"


Auriga memandang tajam keduanya dengan wajah suram. Ia baru saja sampai dan beruntung sekali bisa mendengar suara teriakan Hujan dari kejauhan.


"Kalian tuli? Gua bilang lepasin!!" teriak Auriga penuh emosi.


Hujan tertegun beberapa saat. Masi sedikit kaget dengan teriakan Auriga. Selang beberapa waktu, gadis itu tersadar.


"Hei, bocah! Jangan banyak omong deh. Sini lawan—"


Bugh!


Belum sempat lelaki itu meneruskan ucapannya. Auriga sudah lebih dulu menendang wajahnya dan membuat pria itu terhuyung ke belakang.


"Brengsek!!"


"Udah gua bilang, lepasin" Auriga beralih melirik tajam satu pria lain yang masi setia memegang tangan Hujan.


BUGH!


"Singkirkan tangan kotormu darinya. Dasar sial*n!!" umpatnya marah. Menendang tangan pria itu hingga terlepas dari Hujan.


Auriga menarik Hujan ke belakangnya. Kemudian mengambil ancang-ancang untuk menyerang kala kedua pria itu sudah bangun.


"Tetap di belakang gua!" ujar Auriga melirik Hujan sekilas.


"Dasar bocah bodoh! Kemana pandanganmu saat sedang bertarung?!"


BUGH!


"AURIGA!" kaget Hujan menutup mulutnya syok.


Auriga berdiri. Menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Kemudian memandang pria di depannya dengan nyalang dan berkata.


"Baiklah, ayo mulai Om!" Auriga menantang. Mengayunkan jarinya seolah menyuruh maju.


BUGH! BUGH! BUGH!


Ketiganya terlibat perkelahian. Dua lawan satu memanglah tidak adil. Auriga, lelaki itu terlihat kewalahan melawan keduanya sekaligus.


Mereka sangat kompak dalam bekerja sama. Satu memblokir pergerakan Auriga dan satunya lagi memukul lelaki itu secara membabi buta. Itu benar-benar curang!


Hujan memejamkan mata tak kuat melihat Auriga yang dikeroyok. Pemandangan ini terasa pamiliar baginya.


Seperti di masalalu, dengan posisi yang sama. Hujan hanya bisa melihat Faisal yang dihajar habis-habisan tanpa bisa melakukan apapun.


Ia merasa seperti beban. Orang-orang di dekatnya selalu saja terluka hanya karena ingin melindunginya. Kenapa Hujan begitu lemah?


BUGH!


Hujan tersentak kaget. Matanya menatap ke depan dengan bengong. Situasinya berbalik. Auriga tak lagi dipukuli dan balik memukul.


Entah bagaimana lelaki itu melakukannya. Entahlah, Hujan juga bingung.


"Ukh ... hentikan." Ia meringis kesakitan dengan tangan yang memegang perut. Mencoba untuk menahan serangan dari Auriga.


BUGH!


Tanpa peduli dengan kata-katanya. Auriga terus memukul tanpa henti. Ia sudah seperti orang kerasukan. Yang penuh dengan amarah.


"Hufff ...! Emm ...!"


Disaat Auriga sibuk menghajar temannya. Pria itu mencari kesempatan dan membungkam mulut Hujan. Membawanya pergi dari sana secara diam-diam.


"Hemmff ...." Hujan memberontak sekuat tenaga. Memanggil nama Auriga sebisanya. Sayangnya, suaranya tak bisa keluar.


"Akh!!"


Hujan menggigit tangan pria itu. Lantas memanggil Auriga dengan cepat.


"Auriga!" teriaknya. Kemudian mulut Hujan ditutup lagi dengan kasar. Membuat gadis itu memberontak.


Sontak Auriga menghentikan aksinya. Menoleh ke samping. Melihat Hujan yang dibawa pergi secara paksa.


Ia berdiri hendak mengejar gadis itu namun ....


BUGH!


"Dasar! Jangan pergi seenaknya. Ayo lawan aku! Bocah sialan!!"


"Brengsek!"


Begitulah, lagi dan lagi Ia kehilangan jejak Hujan. Auriga melirik orang itu dengan nyalang. Meladeninya dan menghajarnya bertubi-tubi. Penuh dengan amarah. Ia harus cepat menyelesaikan ini. Lalu menyusul Hujan segera!


****

__ADS_1


Hujan meringis. Menahan rasa sakit pada luka-lukanya. Pria itu menyeretnya kasar. Membawa Hujan ke dalam ruangan yang penuh kegelapan. Lantas mendorong tubuh gadis itu hingga jatuh.


"Tetaplah di sini! Aku akan kembali sebentar lagi. Dan bermain bersamamu," katanya menatap Hujan penuh nafsu.


BRAK!


Pria itu membanting pintu. Mengunci Hujan di dalam sana. Membiarkan gadis itu terkurung dalam kegelapan yang menyeramkan.


"Ukh ...!" Hujan meringkuk. Menekuk kedua lutut dan memeluknya. Menenggelamkan wajahnya di sana.


Ia tak suka kegelapan. Ini menyebalkan sekaligus menakutkan.


"Maaf."


Tiba-tiba saja kata itu keluar dari mulutnya. Tubuhnya gemetaran dan penuh dengan keringat dingin.


"Kau itu monster!"


"Parasit dalam keluarga!"


"Anak pembawa sial!"


"Dasar pembunuh!"


Hujan menggeleng kuat kala ingatan masalalu itu terus muncul di kepala nya seperti kaset rusak.


"HENTIKAN ...! TIDAK!! BUKAN. BERHENTI!!"


Ia berteriak histeris sembari menutup kedua telinganya seperti kerasukan. Kata-kata yang menusuk itu terus terulang. Matanya ia pejam kuat-kuat. Gelap, sangat gelap! Hujan membuka matanya juga hanya ada kegelapan.


"Hei, Putra. Kenapa kau terus melindunginya?"


"Ck! Biarkan saja anak itu."


"Benar! Jangan sok jadi pahlawan!"


"Diam kalian! Lina bukan anak yang seperti itu!"


Ingatan-ingatan masalalu terus bermunculan tanpa henti. Satu persatu, membuat Hujan seperti ingin gila rasanya.


Hujan menjerit dengan derai air mata. Mendobrak pintu gubuk dengan panik. Sesekali memandang sekeliling dengan takut.


"Menghilang dari kepalaku!"


Seperti sudah frustasi, ia duduk lemas di tepi gudang. Menutup telinga rapat-rapat. Menangis tanpa henti seperti orang gila.


Krett!


Pintu terbuka, membuat cahaya masuk dan mengenai wajah Hujan. Sontak ia mendongak. Pria itu telah kembali. Menatap Hujan dengan penuh nafsu.


Ia berjalan perlahan mendekat pada gadis itu. Hujan berdiri dengan gemetar. Menoleh ke samping dan mengambil kayu yang ada di sana.


Hujan menodongkan kayunya sedikit gemetar.


"MENJAUH!!" teriak Hujan mulai berjalan menghindar.


Pria itu tertawa jahat. Kemudian berlari dengan gesit dan mengambil alih kayu itu. Lalu membuangnya dengan asal.


"Ayolah, aku tak akan menyakitimu."


"Cuih! Menjijikkan."


Hujan menendang perutnya. Membuat lelaki itu meringkuk kesakitan. Dengan cepat, Hujan berlari menuju pintu. Tapi ia terjatuh dan menjatuhkan alat komunikasi di sana. Ah benar! Kenapa Hujan bisa lupa? Jika ia membawanya!


Alat komunikasinya berbunyi. Mengeluarkan suara Auriga dari sana. Ia meraihnya dan membalas Auriga dengan suara yang bergetar.


"Tolongin gua, gelap. Ukh ... gua mohon."


[Hujan? Lo gapapa? Lo ada di mana sekarang? Gimana dengan orang yang tadi?]


"Gubuk tua. Auriga gua takut, pria menjijikan itu, dia mau—"


"KYAAA ...!"


Ucapan Hujan terpotong. Pria itu membanting alat komunikasi nya. Mencengkram wajah Hujan dengan kuat.


"Kau ini benar-benar gadis yang kurang ajar, ya?!"


***


Disisi lain pada waktu yang sama. Auriga berlari sembari menyalakan alat komunikasi.


"Jan? Hujan? Lo bisa dengar suara gua?"


Auriga tak tahu apakah ini akan berhasil atau tidak. Siska bilang, di saku Hujan ada alat komunikasi bukan?


[Tolongin gua, gelap. Ukh ... gua mohon.]


Diluar dugaan gadis itu menjawab. Syukurlah! Auriga sungguh senang. Ternyata Hujan masi baik-baik saja. Tapi, suaranya terdengar bergetar seperti menahan tangis.


"Hujan? Lo gapapa? Lo ada di mana sekarang? Gimana dengan orang yang tadi?"


[Gubuk tua. Auriga gua takut, pria menjijikan itu, dia mau— Kyaaa ...!]


Deg!


Apa yang terjadi pada Hujan? Kenapa ia berteriak? Auriga sungguh cemas. Setahu Auriga, Hujan bukanlah orang yang penakut seperti Aurora. Jika ia sampai berteriak begitu, pasti ada sesuatu yang benar-benar bahaya 'kam?


"Sia! Alatnya pake rusak, lagi!!" kesal Auriga membuang benda itu asal.


"Gubuk tua? Di mana ada gubuk di hutan ini?!" Ia tampak frustasi.


"Acara kemah sialan!! Menyebalkan seka— ah! Gubuk!!"


Tanpa sengaja manik matanya menatap sebuah gubuk yang tak jauh dari sana. Ternyata ada di dekat Auriga


Tanpa pikir panjang lagi, Auriga berlari menuju gubuk itu.


"Hujan, bertahanlah sebentar lagi."


***


"Lepasin!! Jangan sentuh!!"


Hujan memberontak sekuat tenaga.


"Diam kau!!"


Pria itu melemparnya kasar. Membuat Hujan meringis di lantai. Perlahan ia mendekat. Membuat Hujan merangkak mundur dengan takut.


Tap!

__ADS_1


Ia cegal tangan Hujan dengan kuat. Memblokir pergerakannya. Membuat gadis itu berada di bawah.


"Hiks, jangan sentuh gua!"


Hujan mulai menangis, kala tangan pria itu dengan lancang membuka kancing baju atasnya.


"Kak Petir." Ia memanggil nama Petir dengan tangisan.


"Wah, lehermu sangat cantik," katanya menyentuh leher Hujan. Membuatnya merinding ketakutan.


Ia lanjut membuka kancing baju Hujan. Untung saja, ia memakai baju double.


"LEPAS!!" Hujan terus menangis. Apa hidupnya akan berakhir di sini? Kenapa dunia begitu tak adil!!


"Siapapun, tolong—"


"HUJAN!!!"


Auriga berlari masuk dengan nafas yang ngos-ngosan. Matanya membola seketika, melihat situasi yang ada.


"BRENGSEK!!"


Dengan emosi, Auriga menendang ke samping orang yang hampir melecehkan Hujan.


BUGH! BUGH! BUGH!


Ia menghajarnya habis-habisan. Seperti orang yang kerasukan. Penuhnya penuh dengan darah orang itu.


"Bajingan!!"


Auriga tak henti mengumpat dan memukul. Membuat lawannya terpuruk tak bisa membalas serangan. Wajahnya memerah penuh amarah. Tak ia sangka, terlambat sedikit saja, entah apa yang akan terjadi pada Hujan.


Tap!


Seseorang memegang pundaknya. Kepalan tangan Auriga terhenti di udara. Ia menoleh menatap gadis yang menghentikannya.


Penampilan Hujan tampak sangat kacau. Rambut gadis itu acak-acakan. Di pipinya ada goresan pisau, sudut bibirnya robek, matanya sembam dengan darah yang keluar dari kepala.


"Dia bisa mati," kata Hujan melirik pria sudah tak berdaya itu. Wajahnya benar-benar kacau. Auriga menghajarnya dengan telak!


"Bisa-bisanya lo bilang begitu! Biar saja mati sekalian! Gua gak peduli, sekalipun gua harus masuk penjara, gua gak peduli!!"


"Dia mau nyentuh lo! Berani-beraninya! Bakal gua hajar! Gua hajar sampai sadar!!!"


Hujan kembali menghentikan Auriga. Membuat lelaki itu akhirnya benar-benar berhenti. Auriga menoleh dan berbicara dengan suara pelan.


"Lo kenapa sih? Selalu aja pura-pura! Padahal lo terluka kan? Kenapa gak nangis aja. Lo selalu mendam semuanya sendirian."


Hujan diam. Sesaat kemudian ia menjawab.


"Maaf, udah jadi beban."


"Beban? Beban apanya!! Lo itu memang ya ... Ah, udahlah! Ayo kita pergi, luka lo benar-benar harus diobati."


Hujan mengangguk lemah. Kepalanya terasa sangat pusing. Dunia seakan berputar. Pandangannya mulai gelap.


BRAK!


"HUJAN!!"


****


Rena menghela nafas jengah mengobrol dengan Mentari. Wanita itu benar-benar tak habis membicarakan tentang kehidupannya. Rena bosan, ia hanya ingin melihat keadaan Hujan dan pulang.


"Ibu! Bu Mentari!"


Tiba-tiba saja seorang anak lelaki berlari dengan tergesa-gesa. Menghampiri Bu Mentari dan Rena.


"Ada apa Surya?"


"Itu bu, anu ... polisi datang! Katanya, Aletta melakukan pembunuhan berencana!!"


"Apa?!"


"Benar, Aletta ingin membunuh temannya sendiri. Ayo Ibu datang ke sana! Anak-anak udah pada terluka."


Bu Mentari mengangguk. Meminta izin pamit pada Rena dan mengikuti Riski. Rena tak menyangka akan ada kejadian seperti ini di perkemahan. Ia jadi sedikit cemas. Bagaimana dengan Hujan? Apa putrinya itu baik-baik saja?


Karena penasaran, Rena memutuskan untuk ikut. Ia hanya akan mengecek keadaan gadis itu saja dan pulang.


Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di sana. Rena melihat foto di ponselnya sekilas. Itu adalah foto Hujan yang ia dapat dari Petir. Dengan ini, maka ia akan mengenali wajah gadis itu. Hujan sangat mirip dengannya sewaktu masi muda.


Kira-kira sedang apa anak itu sekarang ya? Rena tersenyum membayangkan wajah Hujan yang ceria.


"Astaga! Itu mereka!!"


Teriakan dari para siswa dapat menarik perhatian Rena. Ia menoleh melihat arah pandangan semuanya. Di sana, tampak seorang anak lelaki yang tengah menggendong gadis pingsan dengan penuh luka.


Rena menyerngit. Ia kembali melihat ponselnya membandingkan foto itu dengan gadis yang pingsan.


Deg!


"Hujan!" gumam Rena kaget. Lalu dengan panik ia mengejar Auriga dan melihat kembali wajah gadis itu.


Ternyata benar! Itu Hujan—putrinya!!


Sontak Rena menggeleng kuat melihat luka-luka Hujan. Ia menarik tangan Auriga dan berkata.


"Masukkan dia ke mobilku!! Cepat!!"


"Anda siapa?" Sagita bertanya menggantikan Auriga.


"Ukh ...! Jangan banyak tanya! Cepat bawa Hujan ke mobilku. Kondisinya benar-benar bahaya."


"Hei Tante! Jangan seenaknya! Anda sia—"


"Aku ibunya!! Tolong biarkan aku membawa putriku ke rumah sakit!!"


Rena menangis histeris. Membelai wajah Adel dengan tangan gemetar.


"Hujan punya penyakit."


Tiba-tiba saja, perkataan Petir terngiang di pikirannya. Membuat Rena kembali menangis terisak.


"Mobil tante ada di mana?" tanya Auriga tiba-tiba. Melihat Hujan yang tak kunjung bangun, sepertinya ia benar-benar harus dibawa kerumah sakit.


Rena menatapnya antusias lantas berkata dengan lantang.


"Di sana!!"


Bersambung....

__ADS_1


...TBC....


__ADS_2