
...~HAPPY READING~...
****
"Lo yakin Sag, ini rumahnya?" tanya Benua ragu.
Usai perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka sampai di Bandung. Kini ke empat orang itu tengah berdiri di depan pagar rumah megah nan besar.
"Gua juga gak tau, tapi alamatnya bener ini kok!" jawab Sagita.
"Gila! Rumahnya si Es batu besar banget. Dia orang kaya rupanya, tapi kenapa tinggal di apartemen kecil, yak?"
"Soalnya Hujan gak suka pamer kek lo!"
"Lah? Emang gua suka pamer? Pamer apaan, deh? Gak jelas lo Benua!"
"Eh?" Benua tampak berpikir sejenak, yang dikatakan oleh Matahari ada benarnya juga. Sesaat kemudian pria itu menjawab dengan santai.
"Iya juga sih. Kan lo gak punya apa-apa buat dipamerin," balas Raihan terkekeh kecil.
"Bangsat!!"
DING ... DONG! DING DONG ...!
Ketiganya tersentak kaget kala Auriga menekan bel tiba-tiba. Padahal mereka masih belum yakin kalau alamatnya benar. Jika salah bagaimana? Sungguh, pasti itu memalukan!
Dengan cepat Sagita menghentikan aksi Auriga. Kemudian menatapnya dengan kesal.
"Lo kenapa sih Ga? Main nyosor aja! Kalau salah alamat gimana?"
"Panas bodoh! Emang lo mau nunggu di sini terus?" balas Auriga hendak menekan bel kembali namun dengan sigap Sagita menghentikan nya lagi.
"Ya, gak gitu juga konsepnya. Entar kalau—"
"Maaf. Cari siapa, ya?"
Perkataan Sagita terpotong saat pagar sudah dibuka sempurna. Menampilkan seorang pria paruh baya yang mereka yakini adalah satpam rumah itu.
Melihat mereka yang hanya diam membisu, Pak Satpam kembali bertanya.
"Maaf? Ada yang bisa saya bantu?"
"Emm ... a–anu Pak, kita mau—"
"Es batunya ada gak pak?" tanya Matahari blak-blakan, memotong ucapan Benua yang menurutnya lama.
Satpam itu tampak mengerutkan dahi, menatap Matahari dengan aneh. Lalu dia mendongak memandang teriknya matahari.
"Hei Pak, saya tanya! Es batunya ada gak?" tanya Matahari lagi, sedikit kesal dengan tingkah orang di depannya itu.
Padahal Matahari bertanya, kenapa malah memandang langit? Dasar, orang aneh!
__ADS_1
"Iya, ada! Tunggu sebentar," sahut Pak Satpam lalu menutup pintu gerbang lagi dan meninggalkan mereka.
"Kok perasaan gua jadi gak enak, ya?" ungkap Auriga merasa aneh dengan perilaku Satpam.
"Sama Ga, gua juga!" balas Sagita setuju.
"Kalian yakin dia bakal bawa Hujan ke sini?" timpal Benua terlihat ragu.
"Yaelah! Tunggu aja sih. Bacot banget lo pada! Udah syukur gua tanyain."
"Iya, iya!"
"Gini nih, kalau jalan bareng cewek. Bising banget kek emak-emak," gumam Sagita mencibir dengan suara pelan.
"Apa lo bilang?!"
"Eh? Gak kok, nih mulut si Benua kaya emak-emak."
"Kok jadi gua sih kampret?!"
Auriga hanya memijit pelipisnya pusing melihat pertengkaran kecil itu. Sepanjang perjalanan ketiga orang ini selalu saja ribut seperti anak kecil yang merebutkan mainan.
Srek.
Pagar kembali terbuka, Pak Satpam sudah datang dan apa itu yang ada di tangannya?
"Ini, Neng! Es batu yang Neng Minta tadi. Sebenernya kita gak jual Es batu sih, tapi saya kasian sama kalian kayanya haus banget sampe gak malu minta Es batu di rumah orang," kata Satpam panjang lebar dengan tangan yang terulur memberikan Es batu pada Matahari.
Krik. Krik. Krik.
Semuanya membeku di tempat, tak tau harus berkata apa. Jangan tanya reaksi Matahari, gadis itu bahkan bengong dengan mulut terbuka lebar.
"Udah gua duga, ada yang gak beres," kata Auriga.
"Sesuai filingku!" sambung Sagita.
"Jangan tanya gua," lanjut Benua menepuk jidat nya pelan.
Ketiganya menoleh pada Matahari, membuat gadis itu menggaru kepala sembari senyum cengengesan.
"Maaf!"
*****
Tes!
Darah terus keluar dari hidungnya. Hujan menatap pantulan dirinya pada kaca kamar mandi dengan datar. Ia benar-benar merasa lelah dengan ini.
Hujan membasuh wajah membuat air berubah jadi merah saat mengenai darah. Gadis itu kemudian mengusap wajahnya dengan handuk kecil.
Mimisannya masi belum berhenti. Masi ada noda darah di handuk itu. Hujan menghela napas lelah dengan diri sendiri.
__ADS_1
"Nona, apa saya boleh masuk?"
Sontak suara itu membuatnya kaget. Hujan dengan cepat membuka pintu toilet dan balas berteriak dari dalam kamar.
"Tidak!"
"Eh? Ba–baiklah! Anu ... Nona, sarapannya sudah siap. Tuan menunggu anda di bawah."
Pelayan wanita itu menjawab dari balik pintu kamar. Menuruti perkataan Hujan memintanya tetap di luar.
"Pergilah. Aku akan datang nanti."
"Baik, Nona. Kalau begitu, saya pamit pergi."
Setelah memastikan pelayan itu sudah pergi. Ia kembali masuk ke kamar mandi, membasuh wajahnya lagi. Syukurlah, mimisannya sudah berhenti. Hujan sungguh lega!
Dia berjalan keluar. Mengganti baju sebentar dan merapikan rambut lebih dulu sebelum pada akhirnya pergi keluar kamar.
Hujan menuruni tangga perlahan, ia berjalan ke arah ruang makan tanpa minat sedikit pun.
"Kakek, kenapa menung—"
Ucapannya serta langkahnya terhenti kala menyadari keberadaan teman-temannya di sana. Kenapa mereka bisa ada di sini? Bagaimana bisa duduk dengan kakeknya? Apa yang mereka lakukan? Kepala Hujan dengan pertanyaan.
Tatapan mata Auriga, Sagita, Benua serta Matahari terlihat menusuk. Seperti ingin menelan Hujan hidup-hidup. Membuat gadis itu merinding lantas berjalan mundur ke belakang.
Ke empat orang itu ikut berdiri dari duduknya. Melangkah pelan mendekat pada Hujan.
"Lo pikir, bisa ninggalin kita gitu aja?
"Gua ini pakar dalam cari jalan."
"Lo gak bisa sembunyi lagi!"
"Akhirnya ketemu."
Gleg.
Hujan menelan salivanya yang terasa berat.
Entah bagaimana bisa mereka sampai ke sini. Hujan juga bingung, yang pasti dia harus pergi lebih dulu!
Tak!
Ia hentakkan kaki dan berbalik, kemudian berlari kabur meninggalkan ruang makan.
"Kejar dia!!"
Bersambung....
...TBC....
__ADS_1