Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 72.


__ADS_3

...~HAPPY READING~...


***


"Lo mau gak jadi pacar gue?"


Hujan terdiam seribu bahasa. Masih mencerna kata-kata Auriga. Wajahnya memanas, sangat merah seperti kepiting rebus.


Ia tatap Auriga yang masih setia menunggu jawabannya. Hujan memejamkan mata, dia tahu dia tak boleh berkata begini tapi ....


"Ya."


Satu kata dari Hujan dapat mengukir senyum senang di wajah Auriga. Ah, rasanya dia benar-benar akan berteriak sekarang! Tolong katakan jika ini bukan mimpi!!


"Ja–jadi sekarang kita pacaran?" tanya Auriga memastikan.


Hujan mengangguk kecil, membuat Auriga berseru riang. Pria itu tampak sangat menggemaskan. Lihatlah, bahkan dia berteriak dengan kencang hingga membuat Alfi terbangun. Dasar kekanak-kanakan!


******


Mentari pagi terbit menggantikan bulan di malam hari. Gadis remaja itu terbangun dari tidurnya.


"GUE CINTA SAMA LO!"


Seketika wajahnya merona dengan sendirinya. Perkataan Auriga tadi malam masih terngiang-ngiang di pikirannya.


PLAK!


Hujan menampar kedua pipinya mencoba untuk menyadarkan diri. Sedetik kemudian wajah gadis itu terlihat murung.


Seharusnya Hujan menolak Auriga saja, gadis penyakitan sepertinya tak akan pantas untuk lelaki itu. Namun Hujan tak bisa membohongi hatinya juga, semalam entah kenapa dia sangat ingin menjawab kata 'iya' dan yah ... Hujan melakukan kesalahan itu.


TOK, TOK, TOK.


"Jan, kamu udah bangun?"


Hujan tersentak kaget mendengar teriakan indra dari balik pintu. Benar! Dia harus sekolah, sial! Gara-gara memikirkan Auriga, Hujan jadi lupa.


"Lima belas menit lagi!" sahut Hujan.


"Aku bakal turun," lanjutnya lagi mulai beranjak pergi ke kamar mandi.


"Baiklah, Kakak tunggu di bawah, ya!" balas Petir.


Pria itu berjalan menuruni tangga dengan pakaian yang sudah rapi seutuhnya. Hari ini Petir akan pergi bekerja setelah mengantar Hujan lebih dulu ke sekolah.


Semenjak kepulangannya dari Bandung, Hujan terus tinggal bersama Kakaknya—Petir. Tentu saja itu adalah keinginan Indra.


"Tuan," panggil Irwin yang sedari tadi sudah menunggu Indra di bawah.


"Hm." sahutnya dengan mata yang terfokus pada jam tangan. Yap! Petir sedang memasang jam tangan miliknya.


"It–itu apa Nona sudah siap?"


Seketika dia menoleh menatap Irwin dengan dahi yang berkerut.


"Kenapa kau menanyakannya?"


"Hah ...." Irwin menghela napas lelah.


"Di luar ada sedikit keributan."


"Hah?"


"Benar Tuan! Bocah SMA kemarin lagi-lagi datang, tetapi kali ini bukan itu masalahnya. Ada satu bocah lagi yang datang dan mereka berdua bertengkar! Menyebalkan sekali, kenapa bertengkar di depan rumah orang sih?!" kesal Irwin menerangkan panjang lebar.


Petir menyerngit. Yang dimaksud Irwin dengan bocah SMA kemarin itu pasti Putra! Tetapi, dia bertengkar dengan siapa?


"Dimana mereka sekarang?" tanya Petir.


"Halaman depan!"


******


"Ngapain lo di sini?!" ketus Orion memandang sengit Auriga.

__ADS_1


"Lo yang ngapain, hah? Pake nanya gue segala! Bukan urusan lo tuh!" balas Auriga tak mau kalah.


"Gue ke sini mau jemput Hujan lah! Emang mau ngapain lagi?"


"Apaan?! Hujan pergi sekolah bareng gue! Lo pergi sendiri sana!"


"Apa? Orang gue datang duluan! Emang lo siapa nya Hujan? Ngatur banget jadi orang! Lo aja yang pergi!!"


"Gue?" Auriga tersenyum semirk.


"Gue pa—"


"Berhenti bertengkar!" potong Petir yang baru saja sampai.


Keduanya sontak menoleh dan langsung diam melihat kedatangan Petir.


"Pagi, Kak! Hujan nya ada?"


"Kak Petir mau kerja? Hujan mana kak?"


Indra menatap datar kedua orang di depannya.


"Mau apa kalian?" tanyanya to the point.


"Saya mau—"


"Jemput Hujan!!"


"Tidak bisa. Aku yang akan mengantarnya ke sekolah."


"Gak usah kak! Biar saya aja. Entar Kak Petir capek."


"Jangan Kak! Biar aku aja yang nganter Hujan. Kak Petir kan harus kerja, entar telat loh."


Petir menyerngit tak suka.


"Kenapa jadi kalian yang ngatur?" sindir nya.


"Ah, Maaf!" Keduanya menggaruk tengkuk sembari tersenyum cengengesan.


"Ya, Tuan?"


"Usir mereka."


"Apa?!" kompak keduanya.


Mereka tatap Petir tak percaya. Hei, bukannya selama ini Indra bersikap baik pada mereka? Ada apa dengan calon Kakak ipar?


"Hush! Hush! Sana pergi, kami lagi gak terima tamu," cibir Irwin lantas mendorong kedua pria itu hingga keluar pagar.


Srek!


Ia kunci gerbang itu dengan kejam lantas menepuk kedua tangan seakan membersihkan debu.


"Sudah selesai, Tuan! Sudah saya usir."


"Bagus. Apa mereka sudah pergi?"


Irwin mengintip dari lubang kunci sebelum akhirnya menjawab.


"Aman terkendali! Mereka sudah pergi," jawabnya tersenyum puas.


"Kerja ba—"


"Siapa yang pergi?"


Petir berbalik, menatap Hujan yang baru saja bicara. Gadis itu sudah rapi dengan pakaian sekolahnya.


"Kau sudah selesai?"


"Hm." Hujan berdehem tak tertarik. "Siapa yang Kakak usir?" tanyanya masih dengan topik yang sama.


"Oh? Gak kok! Cuma penjual keramik keliling."


Hujan mendelik curiga. Penjual keramik? Memangnya masi ada yang jual keramik keliling?

__ADS_1


"Lihat ini Nona!" Irwin menunjukkan sebuah vas bunga keramik kecil.


"Tadi Tuan sudah membeli beberapa tapi mereka tetap ngotot menawarkan barang lain jadi kami usir saja!" lanjut Irwin menerangkan.


Hujan mengangguk paham. Kemudian berjalan masuk ke dalam mobil, lalu membuka jendelanya dan berkata pada Indra.


"Kenapa hanya bengong? Ayo pergi, aku akan terlambat nanti!"


Petir mengangguk dengan senyuman hangat. Lalu berjalan menuju mobil.


"Kerja bagus Irwin," bisiknya tepat di telinga Irwin. "Aku akan menaikkan gaji mu nanti," lanjut Petir berlalu masuk ke dalam mobil.


'Vas keberuntungan!' batin Irwin.


*******


"Jadi gimana?" kepo Sagita.


"Lo diterima?" sambung Benua.


"Lo nembak Es batu?"


"Hujan bilang apa?"


Auriga dibuat jengah dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan teman-temannya. Ke empat orang itu masih menatapnya serius seakan menunggu jawaban.


"Iya, dia nerima gue. Sekarang kita pacaran."


"Oh my god! Si Es batu itu? Pacaran?" heboh Siska tak habis pikir.


"Gila! Serius lo Ga?"


"Wah ... usaha lo gak sia-sia," timpal Aurora.


"Widih! Jan lupa traktir ya!" kekeh Benua.


Mereka tampak antusias. Ikut senang dengan hubungan Auriga dan Hujan. Sementara Auriga hanya mengulum senyum simpul melihat tingkah teman-temannya.


"Tapi, Hujan mana?" tanya Aurora menoleh ke sana kemari. Sama sekali tidak mendapati sosok Hujan di dalam kelas.


"Belum dateng. Katanya pergi bareng Kak Petir."


Mereka semua mengangguk paham mendengar penuturan Auriga.


"Ra, parkiran yok!"


"Hah? Ngapain?"


"Nunggu Es batu. Gue gak sabar pen godaiin hahah!"


"Kalian mau ikut?" ajak Aurora pada ketiga pria itu.


Mereka menggeleng.


"Gak deh, nanti aja. Kita ada tanding basket entar sore. Jadi kudu kumpul dulu bareng anak lain."


"Oh, yaudah. Ayo Ta!"


Matahari mengangguk antusias. Sungguh tak sabar ingin menggoda Hujan. Dia berjalan keluar dengan senang.


****


Dalam perjalanan menuju parkiran Matahari tak henti-henti mengoceh. Sementara Aurora hanya tertawa menanggapi ocehannya.


"Eh? Kenapa Ra? Kok lo berhenti?" tanya Matahari bingung ketika Aurora tiba-tiba menghentikan langkahnya. Padahal parkiran sudah di depan.


"Ta, coba deh liat!"


Aurora menunjuk ke satu arah. Di sana tampak Putra yang tengah bersandar di pos satpam.


"Bukannya dia cowok yang kemarin?"


Siska tersentak. Siapa dia? Apa yang pria itu tengah lakukan di sana?!


Bersambung...

__ADS_1


...TBC....


__ADS_2