
...~HAPPY READING~...
****
Hujan sangat lelah. Seharian ini Orion terus menempel padanya. Pria itu mengikutinya kemana saja. Mulai dari perpustakaan sekolah, kantin dan bahkan lapangan basket.
"Gue bukan tawanan," ujar Hujan dengan mata menatap lurus ke depan.
Gadis itu tengah menonton pertandingan basket antar kelas. Dengan Sagita dan Auriga sebagai anggotanya.
"Memangnya siapa yang bilang kamu tawanan?" balas Orion acuh.
Hujan berdecih lantas menjawab dengan dingin.
"Berhenti ngikutin gue."
"Katanya kamu udah maafin aku, tapi kenapa masi marah?"
"Tidak," jawab Hujan. "Gue gak marah," lanjutnya lagi.
"Baguslah."
"....."
"Ngomong-ngomong Hujan, kamu haus gak?"
"Tidak."
"Mau aku beliin minum?"
"Tidak."
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku beli minum dulu! Jangan kemana-mana, oke?"
Selepas berkata begitu Orion pergi meninggalkan Hujan sendiri. Padahal ia sudah bilang tidak mau, sepertinya Orion benar-benar bersikap seenaknya. Sama seperti dulu, pria itu masih belum berubah juga.
Priitt ...
Suara tiupan peluit dapat mengalihkan perhatian Hujan. Pertandingannya sudah selesai. Ia tatap sosok Auriga dari kejauhan.
Pria itu tengah tersenyum senang sembari bertos ria dengan teman-temannya. Wajar saja, itu karena tim mereka menang. Sorak-sorai anak-anak juga sudah menggema di mana-mana.
Hujan masih setia memandang Auriga, tubuh pria itu benar-benar banjir keringat. Sedetik kemudian, tanpa sengaja manik mata keduanya bersitatap.
Auriga tampak tersenyum melambai Hujan dari kejauhan. Tak hanya itu, Auriga juga tengah berlari ke arahnya. Tentu hal itu membuat Hujan sedikit gugup. Pasalnya Auriga selalu menjadi pusat perhatian para gadis, jika pria itu mendekat padanya maka otomotis tatapan orang-orang tertuju pada Hujan sekarang.
"Sejak kapan lo nonton?" tanya Auriga saat dirinya sudah berdiri di depan Hujan.
"Barusan."
Ia mengulum senyum lantas memilih untuk duduk di samping Hujan.
"Pantes tadi gue gak liat lo."
"Nih!" Hujan menyodorkan sapu tangan kecil dengan ekspresi datar.
"Buat gue?" tanya Auriga.
"Hm."
"Lo dapat dari mana?"
"Pake aja!"
Sebenarnya itu adalah sapu tangan yang dititipkan oleh Orion beberapa saat yang lalu. Melihat Auriga yang penuh keringat, ia pikir pria itu pasti membutuhkannya.
"Terima kasih," ujar Auriga menampilkan senyum tipis sembari mengambil alih sapu tangan itu dari Hujan.
__ADS_1
"Hujan."
Keduanya sontak menoleh saat mendengar panggilan dari Orion yang baru saja datang dengan sebotol minuman dingin di tangannya.
Auriga menyerngit, Hujan? Sepertinya dia pernah mendengar kata itu sebelumnya.
"Siapa dia?" tanya Orion dingin.
"Oh? Kenalin gue—"
"Gue tanya Hujan bukan lo."
Entah kenapa Auriga jadi jengkel melihat pria di depannya ini. Songong sekali jadi orang!
"Auriga," jawab Hujan. "Itu namanya."
Orion mengangguk kecil. Ia berikan minuman dingin yang tadi dibawanya pada Hujan. Diluar dugaan, gadis itu menerimanya dengan baik.
Tap!
Auriga menoleh kala merasakan sesuatu yang dingin menempel pada pipinya. Hujan, gadis itu baru saja menyodorkan minumannya pada Auriga.
"Lo haus 'kan?" kata Hujan.
Auriga tampak kaget, bukankah itu minuman yang baru saja diberikan oleh pria itu? Lantas kenapa Hujan malah memberikannya pada Auriga?
Ia lirik Orion sekilas. Pria itu menatap datar Auriga tampak sekali ekspresi tak suka di wajahnya.
"Gue ... haus sih, tapi ....."
"Minum saja."
"Tapikan—"
"Kalau lo gak mau, gue buang."
Auriga tersenyum.
"Makasih," ucapnya mengacak pelan rambut Hujan.
Orion yang menyaksikan semuanya tampak panas. Namun sebisa mungkin mengkontrol ekspresinya di depan Hujan. Ia harus menahannya, Orion tak bisa lepas kendali di sini.
****
"Kak Petir bilang, kau harus pulang denganku!"
"Maaf, Reka."
"Kenapa minta maaf? Cepat naik," kata Orion memaksa Hujan untuk naik ke motornya.
"Gak bisa."
"Hah? Kenapa? Oh, ayolah Hujan jangan begitu."
"....."
Ia hela napas jengah dengan sikap Hujan. Kemudian menyinggung senyum kecil lantas berkata dengan lembut.
"Kalau kamu gak naik, aku akan—"
"Janji!" potong Hujan cepat.
"Hah?"
"Gue ada janji."
"Apa? Kena—"
__ADS_1
"Sekarang."
Orion bungkam, tak tahu harus membalas apa. Sebenarnya janji apa yang dimaksud Hujan? Apa dia ada tugas kelompok bersama temannya? Orion rasa, hari ini tidak belajar, deh?
Tin tin!
Suara klakson motor itu dapat menarik perhatian Orion. Seorang pria dengan sport merahnya berhenti tepat di depan mereka.
Ia buka helm hingga menampilkan wajahnya dengan jelas. Seketika ekspresi Orion langsung berubah dingin saat mengenali wajah orang di depannya. Bukankah dia pria yang tadi siang? Mau apa dia di sini?
"Udah siap?" tanya Auriga sedikit gugup.
Hujan mengangguk. Berbalik memandang Orion lebih dulu lantas berkata.
"Gue pergi."
Auriga menyerngit bingung. Kenapa Hujan harus pamit? Sebenarnya, siapa lelaki itu? Kalau di pikir-pikir aneh juga Auriga baru menyadarinya sekarang.
"Hujan!" Orion mencegal tangannya. Menampilkan wajah kesal.
Untuk yang kedua kalinya Auriga mendengar lelaki itu memanggil Hujan dengan sebutan Lina. Kata yang terasa familiar baginya, Auriga seperti pernah mendengar kata itu sebelumnya.
"Orion."
Deg!
Matanya langsung melotot kaget saat mendengar nama itu. Auriga ingat sekarang! Orion, dia sepupu sekaligus sahabat kecil Hujan! Bagaimana bisa anak itu sekolah di sini?
"Kau mau meninggalkanku? Aku merindukanmu! Aku bahkan pindah sekolah demimu."
"....."
"Tapi kau malah ingin pergi seenaknya! Apa kamu tidak merindukanku?"
"Gue—"
"Lina, kumohon! Jangan pergi, tolong habiskan waktumu denganku hari ini saja. Ayo per—"
"Hujan bakal pergi bareng gue!" potong Auriga tak suka.
"Dia udah janji. Lagian, lo kenapa? Lo udah besar! Jangan bersikap kekanak-kanakan deh, geli gua liatnya."
"Ini bukan urusan lo!" balas Orion datar.
"Atau lo mau nantangin gue?" lanjutnya lagi tersenyum remeh.
Auriga terkekeh. Sedetik kemudian mengubah raut wajahnya jadi serius.
"Boleh," jawab Auriga menyungging senyum semirk.
Kedua pria itu saling bertatap sinis satu sama lain. Hujan yang sadar akan situasinya dengan cepat melerai.
"Cukup!" teriaknya.
Ia menggeleng tak habis pikir. Kedua orang di depannya ini benar-benar kekanak-kanakan. Mereka sama saja!
Grep.
Auriga menggenggam tangannya tiba-tiba. Sontak Hujan mendongak menatapnya.
"Ayo kita pergi. Lo udah janji!" ucap Auriga.
Tanpa mendengar jawaban dari Hujan. Ia langsung menarik gadis itu ke motornya. Auriga menghidupkan sport merahnya, sebelum menancap gas ia lirik Orion sekilas. Lalu tersenyum penuh kemenangan.
'Brengsek!' batin Orion kesal.
Bersambung...
__ADS_1
...TBC....