
...~HAPPY READING~...
****
"A--apa permainannya?" tanya Matahari gugup.
Hujan tersenyum miring.
"Permainannya adalah--"
"Permainan apa?" potong Aurora.
Hujan dan Matahari kompak menoleh ke asal suara. Di sana tampak Aurora, Auriga, Benua dan Sagita. Eh, tunggu dulu, kenapa Aurora bisa bersama mereka?.
Hujan dan Matahari mengerutkan dahinya bingung.
"Kenapa lo bareng mereka?" tanya Hujan.
"Itu siapa?" tanya Matahari.
Fani tersenyum kikuk, dia menggaruk-garuk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.
"Ah ... i--itu, ceritanya ...,"
~ Flashback on ~
Hujan dan Matahari baru saja sampai di kantin. Siska mengedarkan pandangannya ke segala arah guna mencari tempat duduk yang kosong.
"Yes ... ketemu," gumam Matahari.
"Gimana kalau kita duduk di sana aja?" tanyanya sembari menunjuk tempat duduk yang masih kosong.
"Ya udah ayok," ucap Aurora sembari menarik tangan Hujan dengan semangat.
Hujan hanya menurut saja, sedari tadi gadis itu tak mau bicara, dia hanya diam seperti biasanya.
"Btw kalian mau pesan apa?" tanya Aurora.
"Gua mau bakso aja," jawab Matahari.
"Kalau lo Jan?"
"Nasi goreng." jawabnya dingin.
"Wah ... Hujan suka nasi goreng ya?"
"....."
"Dijawab dong es batu! jangan diam aja, lo masih idupkan?!"
"....."
"Ya udah, gak papa. Kalau gitu, minumnya apa?"
"Hm ... gua teh manis dingin aja ya Ra."
"Oke, kalau lo Jan?"
"Jus jeruk."
"He? emang nyambung ya? lain banget selera lo es batu. Emang deg, lo bener-bener aneh." ucap Matahari histeris.
"Serah gua."
"Ck, bacot!!"
Aurora hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku teman-teman ya ini. Ya, dia sadar sih, jika Hujan dan Matahari bertemu, maka tidak ada semenit pun tanpa berantam.
"Ya udah ... gua pesen dulu," ucap Aurora dan pergi meninggalkan Hujan dan Matahari.
***
"Bik, baksonya dua, nasgornya satu."
"Minumnya neng?"
"Teh manis dinginnya dua, jus jeruk satu."
"Oke neng."
"Diantar ke meja nomor tiga ya bik."
"Oke sip."
"Aurora," panggil seseorang.
__ADS_1
Aurora menoleh, dia mengerutkan dahinya bingung.
"Kalian siapa ya?" tanya Aurora sopan.
"Lo gak ingat gua? itu loh yang waktu di cafe, masa gak ingat sih."
Aurora tampak mengingat-ingat sebentar. Waktu di cafe katanya? ah ... Aurora ingat sekarang.
"Oh, lo Benua kan?" tanya Aurora antusias. Benua mengangguk, ternyata Aurora masih mengingatnya, syukurlah.
"Yang ini Auriga, ini Awan dan ... eh, ini siapa? gua gak pernah liat," ucap Aurora sembari menunjuk ke arah Sagita.
"Oh, namanya Sagita," jawab Benua.
"Hm. Kenalin nama gua Sagita," ucap Sagita sembari mengulurkan tangannya.
"Gue Aurora" ucap Aurora dan membalas jabat tangan Sagita.
"Oh iya Ra, lo kok sendiri?" tanya Benua.
"Eh, enggak kok, gua bareng sama Hujan dan Matahari," ucap Aurora dengan tersenyum ramah.
"Hujan? dia di sini juga?" Auriga yang tadinya diam kini ikut berbicara.
"Hm."
"Yaelah ... giliran Hujan aja, semangat empat lima!!" sindir Benua.
"Dih, siapa yang semangat, gua kan cuma nanya doang," balas Auriga.
"Serah lo deh."
"Btw, Surya lo kok diam aja? biasanya kan elo banyak ngomong," tanya Auriga.
Ya, wajar saja Auriga bertanya seperti itu, karena sedari tadi Awan hanya diam saja, wajahnya juga terlihat murung dari tadi pagi.
"Gua lagi brantem sama Shinta," jawab Awan sedih.
Auriga, Benua dan juga Sagita dengan kompak menertawakan Awan.
"Bwahaha ... hadeh, gua kira kenapa, ternyata cuman berantem toh," ucap Benua terkekeh.
"Cuman berantem lo bilang?! lo tau kan kalau Shinta ngambeknya lama banget!" ucap Awan kesal.
"Mampus, makan tuh karma!" ucap mereka kompak. Awan tampak kesal, teman-temanya ini memang tak punya hati!.
"Dasar teman lucknat!!!" kesalnya.
"Maaf mengganggu kalian, kalau gitu, gua pergi dulu ya." Aurora yang tadinya hanya menonton kini bersuara.
"Eh, kita ikut gabung dong Ra," ucap Auriga.
"Iya Ra, liat deh, gak ada meja yang kosong lagi kan," Benua ikut bersuara.
"Boleh ya?" tanya Auriga.
"Eh ... i--itu a--anu," ucap Aurora gugup.
'Duh ... gimana nih, kalau gua bolehin, Hujan marah gak ya? tapi, gua juga gak enak sama Benua. Maaf Jan gua terpaksa' batin Aurora.
"Gimana Ra, boleh gak?" tanya Benua tak sabaran.
"Em ... i--iya boleh deh," jawab Aurora ragu.
"Ya udah kalau gitu ayok," ucap Benua dan hendak pergi.
"Kayaknya gua gak bisa deh," ucap Awan yang dapat menarik perhatian semuanya.
"Loh kenapa?" tanya Auriga.
"Gua mau nyari Shinta dulu."
"Oh, serah lo aja," sambung Benua.
"Hm, kalau gitu gua pergi dulu."
"Ya, semoga cepat baikan ya," ucap Sagita terkekeh.
"Bisa aja lo Sag," sambung Auriga.
~ Fashback off ~
"Jadi gitu ceritanya," ucap Aurora tersenyum kikuk.
"Oh." ucap Hujan dan Matahari kompak.
__ADS_1
"Buset ... Cuman oh aja? orangnya udah capek ngomong jawabannya cuman oh aja!" ucap Benua kesal.
"Serah gua," ucap Hujan dan Matahari kompak.
"Cyee ... kompaan," goda Auriga.
"Diam lo!" bentak mereka kompak. Auriga menelan Salivanya susah payah.
"Kenapa lo ngikutin gua?!" masih kompak.
"Wah ... sejak kapan kalian sehati gini?" tanya Aurora terkekeh geli.
"Gak tau," jawab mereka kompak.
"Bahahaha ... gua ngakak," ucap Sagita.
Hujan dan Matahari menatap Sagita dengan nya lang, sedangkan yang ditatap sudah kaku di tempat.
"Btw ... tadi kalian ngomongin tentang permainan. Memangnya permainan apa?" tanya Auriga mengalihkan topik pembicaraan.
Lama-lama Auriga kasihan juga melihat
Sagita yang ditatap seperti itu.
"Oh, itu tadi, si es batu mau ngajak gua taruhan." jawab Matahari santai. Hujan dengan spontan menginjak kaki Matahari dengan kasar.
"Awww," ringisnya.
"Apaansih! Sakit tau es batu!!" ucap Matahari kesal.
"Taruhan?! kalian taruhan lagi?!" tanya Aurora dengan wajah kesal, bukan apa-apa, hanya saja temanya ini benar-benar membuat Aurora kesal sekarang.
"Wah ... kalian mau taruhan apa nih?" berbeda dengan Aurora yang tampak kesal, Auriga malah terlihat senang dan antusias.
"Blom tau, tapi kata si es batu, yang kalah bakal jadi bakal jadi pelayan pribadi yang menang selama seminggu, iya kan es batu," ucap Matahari sembari menyenggol lengan Hujan.
"Ck, gua bukan es batu!!!" bentak Hujan.
"Kalau gitu, permainannya harus adil dong, jadi biar lebih adil gimana kalau kita yang nentuin permainannya?" ucap Auriga memberi masukan.
"Eh, iya juga ya, kalau si es batu yang buat permainannya kan gak adil!! wah ... gua baru nyadar, ternyata lo mau nipu gua ya es batu?!"
"Siapa yang mau nipu?! itu mah lo nya aja yang bodoh, mau ditipu." balas Hujan.
"Ups"
'Mampus gua keceplosan' batin Hujan.
"Noh, tukan ketauan kan lo mau nipu gua! untung aja ada cowok ini nih. Licik banget ya lo es batu!" ketus Matahari
"Btw nama gua bukan cowok ini, tapi nama gua Auriga," ucap Auriga.
"Oh, Maaf Auri, gua gak tau," jawab Matahari santai.
"He? Auri? lo kira gua cowok apa?!" kesel Auriga.
"Ya, maaf."
"Jadi, kita yang nentuin permainannya ya? biar adil, setuju gak?" tanya Auriga.
"Setuju," jawab mereka semua kecuali Hujan, gadis itu tampak tak senang dengan usulan Auriga. Bagaimana tidak? yang taruhan kan dia dan Matahari, kenapa jadi mereka yang heboh? mau dia curang kek, mau enggak kek, toh yang kena hukumannya di antara mereka berdua. Ini mah namanya tidak adil!!.
"Apaan main setuju aja! kan yang taruhan gua sama tuh cewek jadi-jadian, tapi kenapa kalian yang ikut campur!!" jarang sekali Hujan mau berbicara panjang lebar begini.
"Yaelah es batu, lo mau curang kan?! ck, gak bakal gua biarin," ketus Matahari.
"Udah lah Jan, terima aja," sambung Aurora.
"Iya, gak baek curang," lanjut Auriga.
"Tau tuh! gak takut dosa ya Jan?" timpal Benua.
"Gua ngerti posisi lo Jan," ucap Sagita terkekeh.
'Ck, apaan nih?! gua kalah suara, malah Aurora ikut-ikutan juga! semua ini karna Auriga! sialan!!! awas lo Auriga, gua juga bakal balas lo nanti!' batin Hujan kesal.
"Serah!" ucapnya dingin.
"Oke, kalau gitu, gua dah tau apa permainan yang cocok," ucap Auriga tersenyum penuh arti.
"Apa?" tanya mereka kompak.
Bersambung...
...TBC....
__ADS_1