Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 18.


__ADS_3

~Happy Reading💞~


"Akhirnya nyampek juga," ucap Auriga, dia baru saja sampai di rumah Hujan untuk mengantar gadis itu pulang.


Hujan menoleh, menatap Auriga datar lantas membuka pintu mobil dan keluar.


"Gak turun?" tanya Hujan dingin setelah turun dari mobil Auriga.


Auriga menyerngit bingung. "Maksud lo?" tanya Auriga. "Lo ngajak gua mampir?" lanjutnya lagi.


"Hm," jawab Hujan tak tertarik.


"Se--serius?" tanya Auriga tak percaya.


"Ck." Hujan berdecak kesal melihat Auriga yang tak henti-hentinya bertanya. "Kalau gak ma--"


"Gua mau kok!" potong Auriga dengan cepat, sebelum Hujan berubah fikiran nantinya. Jarang sekali gadis itu bersikap baik padanya. Ya, walaupun tidak sebaik semua orang pada umumnya.


Hujan mengangguk, lantas berjalan meninggalkan Auriga. Hujan cengo, Adel mengajaknya untuk mampir lantas meninggalkannya begitu saja?!. Wah, benar-benar gadis yang dingin! hatinya terbuat dari es kali ya?!.


Auriga dengan cepat keluar dari mobilnya dan mengejar Hujan


"Del tunggu!" Hujan berhenti saat Auriga berteriak memanggilnya. Auriga tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia dengan cepat berlari dan menyesuaikan langkahnya dengan Hujan.


"Heran gua." Auriga menatap Hujan tak habis fikir. "Elo yang ngajakin gua mampir, tapi elo malah pergi gitu aja," ucap Auriga panjang lebar.


"....."


"Kalau gua ngomong, direspon kali Jan! capek tau gak? ngomong sama lo! serasa ngomong sama tembok!" Auriga terus saja mengoceh.


"Maaf."


"Eh? lo minta maaf? gua gak salah dengar kan?!" Auriga terus saja bertanya, pasalnya dia benar-benar tidak percaya jika Hujan baru saja mengucapkan kata 'maaf' dalam keadaan sadar.


"Iya." dan betapa kagetnya Auriga saat Hujan mengakui itu semua.


"Ta--tapi, maaf buat apa?" tanya Auriga gugup.


"Karena ..." Hujan memalingkan wajahnya, kenapa begitu berat baginya untuk mengakui kesalahannya sendiri?!. "Gua udah bentak lo tadi," lanjut Hujan dengan nada dingin.


Auriga tersenyum, dia merangkul Hujan hingga dekat dengannya.


"Gapapa kok, itu kan bukan sa--"


Bugh!


Ucapan Auriga terpotong kala Hujan memukul wajahnya dengan tiba-tiba.


"Siapa suruh?!" Hujan menatap Auriga dengan tajam. "Lo ngerangkul gua sok akrab!!" lanjutnya lagi dengan ketus.


"Ya maaf, gua kelepasan tadi!" ucap Auriga kesal. "Tapi, gak usah ditonjok juga kali! malah nonjoknya di muka gua lagi, kan muka ganteng gua bisa lecet!!"


Hujan menatap Auriga datar. "Makanya!" Hujan melirik Auriga dengan tajam. "Jangan main nyosor!!" lanjutnya lagi dengan wajah kesal.


"Cih ... kemarin lo juga main nyosor aja! aws ..." Auriga meringgis saat mendapati sudut bibirnya berdarah. Ternyata Hujan kuat juga, sampai membuat Auriga berdarah.


Hujan membelalakkan matanya saat melihat luka di sudut bibir Auriga.


"Malah kemarin, lo meluk dan nyi--" ucap Auriga terhenti kala Hujan tiba-tiba mendekat padanya.


"Lo mau ngapain?" tanya Auriga heran.

__ADS_1


"Diam!" titah Hujan, dia mulai meniup luka pada sudut bibir Auriga dengan hati-hati.


'Nih cewek maunya apa sih?! tadi dia nonjok gua!! dan sekarang dia malah niupin luka gua?!. Malah jantung gua gak mau diam lagi!! dari tadi jantung gua rasanya mau copot!!' batin Auriga.


"Ehem."


Hujan dan Auriga dengan kompak menoleh ke asal suara.


"Wah ... kayaknya gua ganggu nih," ucap Petir nyengir. Ya, orang itu adalah Petir, kakak Hujan. Petir sudah lama datang sebenarnya, hanya saja dia menunggu Hujan di dalam apartemennya. Petir keluar karena mendengar suara Hujan dan betapa kagetnya Petir saat melihat adiknya dengan seorang lelaki, bahkan Hujan sepertinya sangat akrab dengan lelaki itu.


"Kak Indra?"


"Kenapa Jan? kaget ya, kakak datang lagi."


"Kakak?" tanya Auriga dengan dahi yang mengerut.


Indra menatap Auriga yang baru saja bicara, dengan tersenyum ramah.


"Oh, hay," sapa Petir. "Iya, gua kakaknya Hujan, eh bukan." Petir tersenyum penuh arti. "Lebih tepatnya, gua kakak yang paling Hujan sayangi," lanjut Petir terkekeh.


"Najis!" sindir Hujan.


"Oh jadi, lo kakaknya Hujan?" Auriga tersenyum ramah.


"Yah, tapi lo gak sopan banget. Gua lebih tua dari lo, seharusnya lo manggil kakak dong sama gua."


"Kalau gitu, gua minta maaf kak," jawab Auriga sopan.


"Gitu dong, jadi calon adek ipar itu harus sopan," ucap Indra terkekeh geli, sesekali dia melirik Hujan yang tampak kesal karena ucapannya barusan.


Tukk.


Indra dan Auriga dengan kompak menoleh dan menatap Hujan tidak percaya. Ya, Hujan lah yang telah melempar sepatu itu pada Petir. Pasalnya Hujan sangat kesal dengan kakaknya itu, bagaimana tidak? kakaknya berbicara seenak jidatnya saja!!.


"Duh ... bengkak deh kepala gua." Petir mengelus-elus kepalanya yang baru saja dilempar oleh Hujan. "Gini amat punya adek durhaka." Petir menatap Hujan sinis. "Udah ngelempar kakaknya dengan sengaja, malah gak minta maaf lagi!!" sindir Indra.


Hujan berjalan ke arah Indra, kemudian mengambil sepatunya yang baru saja ia lempar. "Bodoh amat," ketusnya dan pergi masuk ke dalam apartemennya.


Indra diam tak bergeming, Hujan benar-benar telah berubah. Tapi, Petir tetap sayang pada adiknya itu, walaupun sikap Hujan sangat dingin padanya. Ya, Petir sadar jika saja dia menjaga Hujan dengan baik, gadis itu tak akan pernah berubah seperti ini. Jadi yang harus disalahkan adalah Petir karena tidak becus menjaga adiknya sendiri.


"Yang sabar kak," ucap Auriga terkekeh.


Petir tersentak dari lamunannya, ditatapnya Auriga dengan tersenyum ramah hingga memperlihatkan lesung pipinya itu.


"Ah iya, udah biasa," jawabnya. "Kalau gitu, ayo masuk. Kita obatin luka lo dulu, kayaknya lo juga abis kena dari Hujan.


"Haha iya kak, tadi gua kena tonjok juga sama Hujan."


Indra dan Auriga dengan kompak tertawa dan masuk ke dalam apartemen bersama-sama.


***


"Loh, kamu mau ke mana Jan?" tanya Petir, baru saja mereka masuk, Hujan sudah ingin keluar lagi dari apartemen.


"Apotek," jawab Hujan tak tertarik.


"Ngapain?" kini Auriga yang bertanya.


"Beli es krim," jawab Petir dengan kesal.


"Gua nanya Hujan kak."

__ADS_1


"Elo juga sih! udah jelas masih aja ditanya, udah tau Adelnya kalau ngomong irit banget.


Menurut lo ke apotek mau ngapaiin lagi?! Yakali belik es krim!" kesal Petir.


"Iya, gua tau! Hujan mau belik obat kan? maksud gua, buat apa Hujan belik obat? Hujan sakit?"


"Yang sakit itu elo tolol," ujar Petir sembari menonyor kepala Auriga kesal.


"Oh gitu?" Auriga mengangguk paham. "Kalau gitu, mau gua anter?" tanya Auriga lagi.


"Gua bisa sendiri," jawab Hujan, dia pergi meninggalkan Petir dan Auriga tanpa berkata sepatah kata pun lagi.


"Kak."


"Hm."


"Adek lo makan apaan? kok sifatnya bisa sedingin itu sih?"


"Kebanyakan makan es batu kali," jawab Petir terkekeh.


"Hahaha ... bisa aja lo kak."


Indra tertawa, kemudian duduk di sofa yang diikuti oleh Auriga.


"Oh iya, kita belum kenalan kan." Petir mengulurkan tangannya pada Auriga. "Kenalin, gua Petir," ucap Petir memperkenalkan diri.


Auriga tersenyum, dia balas menjabat tangan Indra. "Gua Auriga kak," ujar Auriga.


Indra mengangguk paham.


"Oh iya Auriga gua mau nanya sesuatu sama lo."


"Nanya apaan kak?"


"Lo sama Hujan, sejak kapan jadiaan? kok Hujan gak bilang-bilang sama gua, kalau dia udah punya pacar."


"Haha ... kakak ini lucu sekali, gua sama Hujan gak pernah jadian," jawab Auriga terkekeh.


"Beneran?" Petir menatap Auriga tak percaya. "Tapi, lo sama Hujan dekat banget," lanjutnya lagi.


"Enggak kok kak, kita cuman temenan doang," jawab Auriga tersenyum.


"Hm." Petir mengangguk paham.


Hening.


Tak ada yang bicara, sebelum Auriga memecahkan keheningan itu.


"Kak?"


"Hm."


"Gua mau nanya sesuatu sama lo."


"Tentang apa?" tanya Petir dengan mata yang terfokus pada ponselnya.


"Tentang Orion."


Deg!


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2