Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 77.


__ADS_3

...HAPPY READING...


***


Dengan perasaan yang campur aduk. Orion terus menatap ke pintu rawat Hujan. Beberapa menit kemudian pintu itu terbuka menampilkan Dokter dengan seragam putihnya.


Orion langsung berdiri menghampiri dokter itu dan bertanya dengan nada cemas.


"Gimana keadaan temen saya, dok?" tanya Orion panik. "Dia baik-baik aja kan?" lanjutnya lagi.


Dokter itu menggeleng lemah membuat Orion semakin panik karenanya.


"Kondisinya semakin memburuk. Sungguh keajaiban selama ini dia masih bisa bertahan hidup seperti orang normal."


Orion mengernyitkan alisnya tak suka. Ia cengkram kerah dokter itu lalu berkata dengan dinginnya.


"JAGA UCAPAN ANDA. APA MAKSUDNYA KEAJAIBAN, HAH?" kesal Orion. "DIA BAIK-BAIK AJA, ITU HANYA MIMISAN BIASA" teriaknya kemudian menghempaskan dokter itu dengan kasar.


"Kamu ini kasar sekali." Dokter itu bangun sembari menepuk-nepuk tangannya membersihkan debu.


"Sepertinya orang yang kamu bilang teman itu tidak memberitahu mu, ya?. Wah, gawat sekali padahal kondisinya sudah semakin buruk begitu."


"JANGAN BERTELE-TELE, CEPAT KATAKAN. TEMAN SAYA SAKIT APA?"


Dokter itu menghela napas lelah. Baru kali ini dia mendapati sikap kurang ajar dari keluarga pasien. Seperti orang ini yang menurut nya sangat menyebalkan.


"Anak itu mengidap penyakit kanker, ada tumor di otaknya."


DEG!


"Ap—apa?"


"Melihat reaksi mu, kau pasti tidak tahu kan? Gadis itu, dia merahasiakannya rupanya."


Orion membeku seketika. Tak tahu harus berkata apa. Hatinya seperti dihujani ribuan jarum.


"Pertumbuhan tumor itu mulai agresif dan menyebar dengan cepat. Sangat kecil kemungkinan untuk sem—"


"HENTIKAN!" sergah Orion tak kuat lagi mendengarnya.


"Bagaimana kondisinya sekarang?"


"Kami baru memberikan obat pereda nyeri. Itu akan membantu mengurangi rasa pusing pada kepalanya. Sekarang dia masi belum sadarkan diri di dalam."


"Apa saya boleh masuk?"


Dokter itu mengangguk. Tanpa pikir panjang Orion langsung saja masuk dengan tergesa-gesa.


Langkahnya kian melambat ketika sudah melihat sosok Hujan yang terbaring lemah di ranjang Rumah Sakit. Gadis itu masi belum sadarkan diri.

__ADS_1


Perlahan Orion duduk di samping ranjangnya. Ia gengam tangan Hujan lembut kemudian mengecupnya dengan hangat.


"Gue bakalan ada di sisi Lo Jan."


***


Hening menggambarkan suasana yang ada. Benua menelan salivanya gusar. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Mata itu masih senantiasa menatap Aurora penuh harap. Menunggu jawaban dari gadis itu. Pasalnya beberapa menit yang lalu, Benua memberanikan diri untuk menyatakan perasaan.


"Kenapa lo bisa suka sama gue?"


Setelah cukup lama diam akhirnya Aurora bersuara.


"Memangnya menyukai seseorang harus ada alasannya?" Benua balik bertanya. Membuat Fani bungkam tak bisa berkata-kata.


"Lo beda dari cewek lain, gue tau itu. Dari awal ketemu lo gue udah bisa ngerasain kalau lo itu bener-bener baik dan—"


"GUE GAK SEBAIK YANG LO BAYANGIN" potong Aurora dengan nada tinggi. Sebisa mungkin gadis itu mengontrol ekspresinya, tak ingin menunjukkan air mata di depan Benua


"Maaf, Nu. Tapi gue cuma nganggep lo sebagai temen dan gak lebih dari itu. Gue sama sekali gak ada rasa sama—"


Seketika mata Aurora membelalak kaget ketika Benua dengan agresifnya menempelkan bibir mereka tanpa permisi.


Sesaat kemudian entah kenapa ia memejamkan mata, tanpa Aurora sadari ia mulai membalas ciuman dari Benua.


Benua tersentak kecil, balasan ciuman dari Aurora membuatnya mulai mengubah ciumannya menjadi lebih intens dan lembut. Melupakan ciuman yang hanya sekedar menempel saja di awal-awal.


****


Kedua tangannya ia lipat di depan dada sembari bersandar pada pintu mobil. Lelaki tampan itu mulai melirik jam tangannya kala melihat area sekitar yang kian sunyi.


Sudah dua jam berlalu namun Auriga belum melihat tanda-tanda kedatangan Hujan. Padahal sekolah sudah sangat sunyi.


Beberapa waktu yang lalu gadis itu menolak pulang bersamanya. Katanya dia dijemput oleh Petir tapi saat Auriga menelpon Petir, pria itu bilang sedang ada janji di luar kota jadi tak bisa menjemput Hujan pulang.


Sepertinya Hujan telah membohonginya. Karena itulah Auriga memutuskan untuk menunggu Hujan keluar dari sekolah. Sayangnya ia tak melihat batang hidung Hujan sedari tadi. Apa Auriga lengah dan tanpa sengaja melewatkan Hujan ya? Tapi, ia yakin kok kalau belum melihat gadis itu keluar dari sekolah tadi.


"AWW!"


Seorang gadis terjatuh tepat di depan Auriga. Barang-barang yang ia bawa berserakan di tanah. Dengan sigap Auriga menolong gadis itu mengumpulkan kembali barang-barang nya dan kemudian membantunya berdiri.


"Lo gapapa?" tanya Auriga berbasa-basi.


Ia mendongak menatap Auriga dengan mata yang berbinar. Tampan sekali orang di depannya ini. Apa dia malaikat? Sepertinya Libra sedang bermimpi.


Auriga mengayunkan tangannya di depan gadis itu. Melihat dia yang hanya bengong membuat Auriga sedikit takut. Apa gadis ini kesurupan?


"Eeh? Ma—maaf Kak. Dan makasih udah bantuin gue."


"Sama-sama."

__ADS_1


"Kak Riga kan?" tanyanya yang dibalas anggukan kecil oleh lelaki itu.


"Lo kenal gue?"


"Kenal lah. Siapa sih yang gak kenal sama Kak Riga? Kakak populer loh di angkatan gue."


"Oh? Begitu."


"Gak cuma Kakak, tapi Kak Sagita, Kak Benua, Kak Surya, Kak Matahari, Kak Bintang dan Kak Awan sering banget jadi bahan obrolan cewek-cewek di SMA Atlas. Kalian bener-bener populer. Arghhh...aku gak nyangka bakal ketemu orangnya langsung. Wah, Ini bener-bener kebetulan yang luar biasa."


Auriga tertawa geli mendengarnya. Gadis itu benar-benar antusias dalam membicarakan mereka. Sebenarnya Auriga juga tak heran sih, pasalnya setiap hendak turun ke lantai satu, Auriga, Sagita dan Benua selalu saja dikerubungi para gadis. Baik itu seangkatan maupun adik kelas sekalipun.


"Oh iya Kak, nama gue Aksara Libra. Kelas sepuluh IPS 2. Hehe baru masuk tahun ini."


"Salam kenal Libra." Auriga menjabat uluran tangannya sembari tersenyum hangat membuat Libra berteriak tertahan.


Mimpi apa Libra semalam? Kakak kelas yang ia idolakan sedang memegang tangannya! Terlebih lelaki itu juga tersenyum pada Libra. Lama-lama dia bisa gila.


Auriga menarik tangannya pelan karena sepertinya Libra tak berniat melepaskannya sama sekali.


Sebisa mungkin Libra menutupi rona merah di wajahnya. Ah, ini memalukan.


"Ngomong-ngomong, kenapa Kak Roga belum pulang? Apa ada latihan? Kalau gue sih, tadi ada tugas kelompok jadi pulang telat," ucapnya mencoba untuk mencairkan suasana.


"Gue lagi nungguin pacar gue."


JEDAR!


Tidak, tidak Libra tidak kaget kok. Karena dirinya juga sudah tahu kalau Auriga sudah mempunyai pacar yang juga populer. Siapa sih yang tidak kenal Asmirandah Hujan? Yang terkenal akan kepintaran dan kecantikannya. Bahkan sewaktu MOS kemarin Kepala sekolah memberi pengarahan pada mereka dengan menyebutkan nama Hujan sebagai contoh teladan yang patut ditiru. Wah, wah. bahkan gadis itu juga populer dikalangan pada guru.


Auriga dan Hujan benar-benar perpaduan yang sangat cocok. Pasangan yang sempurna! Tentu saja Libra juga mendukung hubungan mereka. Tetapi Libra sedikit tidak menyukai sikap dingin Hujan, meski cantik gadis itu jarang sekali menunjukkan ekspresi di depan umum. Terkesan sombong menurutnya.


"Kak Riga jangan marah, ya?"


Auriga menghernyit bingung. "Kenapa?"


"Sebenarnya tadi gue liat kalau pacar Kakak pulang bareng Kak Orion. Terus Kak Orion juga gendong Kak Hujan, kaya adegan di drakor gitu."


Seketika senyum di wajah Auriga hilang berganti dengan ekspresi dingin yang terselip rasa cemburu di dalamnya.


"Tapi tadi Kak Hujan kayaknya lagi ping—"


Belum sempat Libra meneruskan ucapannya. Auriga sudah melengos masuk ke dalam mobil dan pergi begitu saja. Sepertinya lelaki itu benar-benar marah.


"Mampus, gue salah ngomong."


Bersambung...


...TBC....

__ADS_1


__ADS_2