
...~HAPPY READING~...
****
Seminggu berlalu sejak kematian Faisal. Rena terlihat sangat frustasi, wanita itu tidak makan berhari-hari, hanya mengurung diri di dalam kamar yang minim akan pencahayaan.
Suasana rumah yang biasanya ramai dan ceria, berubah jadi suram penuh tekanan.
Hujan berdiri murung di depan kamar Rena. Mengetuk pintu itu pelan dengan tangan kecilnya.
"Ma ... ayo makan, nanti Mama sakit," lirih Hujan dari balik pintu.
Rena menangis terisak. Hatinya benar-benar hancur kerena kepergian Faisal. Hidup seakan tak berarti lagi bagi Rena. Kenapa harus begini?
"Jangan pedulikan aku!" ketus Rena yang dapat membuat Hujan tersentak kaget di luar sana.
Gadis kecil itu mulai menangis tunduk, membiarkan air matanya menetes berjatuhan.
"Maaf Ma ... semua salahku, karena aku Papa jadi—"
"Berhenti!" teriak Rena memotong ucapan Hujan.
"Pergi dari sana, aku gak mau mendengarmu! Pergi! Pergi sana!" lanjutnya menangis histeris sembari menutup telinga seperti orang gila.
Hujan diam, dadanya terasa sesak. Sesaat kemudian, gadis itu berbalik dan melangkah dengan berat hati meninggalkan Rena sendiri.
****
Petir POV
Semuanya jadi hancur semenjak saat kematian Papa. Mama jadi menggila, dia sering mabuk-mabukan dan memarahi Hujan tanpa sebab.
Sepertinya Mama sangat terpukul karena kehilangan Papa. Aku tau itu, karena aku dan Hujan juga sama. Kami semua benar-benar merindukan sosok Papa yang tegas.
Akan tetapi, aku lebih prihatin dengan kondisi Hujan. Semenjak dimarahi oleh Mama, dia bahkan gak keluar dari kamar. Pergi ke sekolah dengan wajah muram, senyuman diwajahnya menghilang. Aku tidak suka situasi ini!
Sekarang aku sedang berada di depan kamar Hujan. Ini adalah untuk ke tiga kalinya aku melakukan hal yang sama. Percuma jika aku mengetuk pintu, dia pasti tidak akan mengizinkan ku untuk masuk. Karena itu, aku mengambil kunci cadangan kamar Hujan diam-diam.
Ceklek!
Kubuka pintu kamar itu perlahan. Sebelum masuk, menghela napas lebih dulu. Mataku langsung bertemu dengan sosoknya yang tengah berdiri di depan jendela sembari memandang ke luar.
Wajah Hujan benar-benar terlihat menyedihkan. Perlahan, aku berjalan mendekat padanya. Hujan masi belum sadar dengan kedatanganku. Mata adik pepempuanku itu masi menatap ke luar dalam diam.
"Hujan."
Hujan menoleh, memandang ku tanpa minat. Melihat ekspresinya, aku mencoba untuk tersenyum meski hati ini terasa sakit.
"Ayo kita main bareng Putra!" seruku antusias.
Biasanya, jika mendengar nama Putra, Hujan akan semangat. Tetapi sekarang berbeda, dia bahkan tidak merespon ucapan ku sama sekali. Wajahnya terus murung.
"Kenapa kamu diam aja? Ayo, pergi!"
Aku terus mengajaknya dengan senyuman lebar. Namun, reaksi Hujan tetap sama. Dia hanya diam, kembali menatap ke luar jendela dengan raut wajah sedihnya. Aku benar-benar tidak suka dengan ekspresi itu!
Melihatnya yang terus bersedih, membuatku sangat takut dan gelisah. Karena itulah, aku mencoba untuk memaksa Hujan. Kutarik tangannya keluar dengan paksa. Tentu, dia juga memberontak tapi, tenagaku lebih kuat.
"Lepaskan! Tidak mau! Aku gak mau main, kalian saja yang pergi! Aku gak mau."
Baru Hujan mau membuka mulutnya. Aku masi tidak peduli dengan ocehan Hujan. Tak akan kubiarkan adikku terus berlarut dalam kesedihan!
Tepat pada saat kami hendak menuruni tangga ke lantai satu, Hujan menghentakkan tangannya kasar. Membuat langkahku terhenti lalu menatapnya.
•Author POV
"Aku tidak mau!" bentak Hujan kesal.
__ADS_1
"Kenapa?" Dia mulai menangis terisak, memandang Indra dengan mata berlinang air mata.
"Kenapa Kakak gak ngerti, aku?!" lanjut Hujan diiringi tangisan pilu.
"Papa gak ada kak, hiks ... gimana? Gimana bisa aku main kaya dulu? Aku gak bisa! Aku rindu Papa, kenapa Kak Petir terus maksa aku?!" kesal Hujan.
"Apa Kaka gak kangen sama—"
"Tentu saja!" potong Petir berteriak dengan mata yang kini memandang Hujan serius.
"Aku juga sama! Aku sedih! Aku kangen Papa! Tapi ...."
"...."
"Tapi apa gunanya mengurung diri? Apa gunanya bersedih terus-terusan? Aku gak suka melihat senyumanmu hilang, karena itu Jan, jangan ...."
"...."
"Jangan terus larut dalam kesedihanmu!" ucapnya emosi.
Hujan tertegun mendengar perkataan Petir. Melihat Hujan yang hanya berdiri diam, Petir kembali menggenggam tangan gadis itu dan ingin menariknya turun.
"Ayo pergi main!" ajaknya menarik turun Hujan.
Hujan menggeleng kuat tak ingin mengikuti kemauan Petir. Ia hentakkan tangan kuat dan tanpa sengaja mendorong tubuh lelaki itu.
"Aku gak ma—"
Brak!
"Akh ...!"
Hujan menutup mulutnya syok, melihat Petir yang jatuh dari tangga dan pingsan di bawah sana. Segera mungkin dia berlari ke bawah dengan panik.
"Kak Petir!"
****
PLAK!
"Kau ...! Kau benar-benar monster!" murka Rena.
"Ma–maaf Ma, aku—"
"Kau masi sanggup bilang 'maaf' setelah merenggut nyawa Ayahmu?"
Rena menggeleng tak habis pikir dengan Hujan.
"Hiks ... maaf."
"Ck, lihatlah Hujan! Karenamu, Petir juga terbaring di ranjang rumah sakit!"
Rena menunjuk ke arah kamar rawat inap Petir. Sudah tiga hari, namun Indra masih belum sadar-sadar juga sejak kejadian waktu itu.
"Ayahmu dan bahkan Kakakmu terluka karena kau! Monster!"
Hujan menunduk takut. Merasa sangat bersalah akan semua yang terjadi. Rena benar, dia adalah Monster.
"Dasar kau anak pembawa sial!!"
PLAK!
*****
Sebulan berlalu sejak kecelakaan yang menimpa Petir. Kini Petir sudah sembuh total hanya saja situasinya belum membaik.
Semuanya menjadi lebih buruk dari yang Hujan bayangkan. Hancur!
__ADS_1
"Mama ... jangan tinggalin Hujan. Hiks ... kakak, Hujan mau ikut ... maaf."
Hujan terus saja merengek pada ibunya. Matanya sudah bengkak, tenggerokannya juga terasa sakit.
"Enggak! kakak gak bakal pergi! Kakak sayang Hujan," ucap Petir sembari memeluk adiknya sembari menghapus air mata gadis itu.
"Ma, bawa Hujan juga! kalau Mama gak bawa Hujan, Petir juga gak mau ikut Ma!"
"Diamlah Petir! Cepat masuk ke dalam mobil!" bentak Rena.
"Enggak! Petir gak mau, Petir mau sama Hujan aja."
"Jangan keras kepala! Mama bilang masuk!!"
"Enggak!!!"
"Pak, bawa Petir ke dalam mobil!"
"Baik nyonya."
"Mama jahat! Hujan masih kecil, kenapa Mama tega?!" teriak Petir.
Ia terus memberontak saat digendong oleh bodyguard mamanya. Namun apalah dayanya bodyguard itu lebih kuat dari Petir. Dia hanya bisa pasrah, dilihatnya adiknya yang masih menangis. Petir menunduk, ia tak tega melihat Hujan menangis seperti itu.
"Kak Petir ... jangan tinggalin Hujan. Hujan gak mau ditinggal! Kak Petir ... hiks"
Hujan mengejar Petir yang dibawa pergi, sialnya dia malah terjatuh.
Hujan beralih menatap Mamanya, dia berlari ke arah Mamanya dan memeluk kaki Sang Mama erat.
"Mama ... jangan tinggalin Hujan. Hujan minta maaf! Hujan janji gak bakal nakal lagi. Hujan janji bakal masak biar mama gak capek. Tapi, pliss ... Mama jangan ninggalin Hujan, Hujan gak mau kehilangan Mama sama kak Indra juga. Hiks ... hiks, Maaf ... Maafin Hujan ," ucapnya senggukan, dia masih saja memeluk kaki Rena erat.
Rena menendang Hujan, hingga gadis itu terhuyung ke belakang. Hujan bangun, darah mengalir dari hidungnya.
"Cukup Rena! Jangan sakiti Hujan lagi! Dia gak salah apa-apa! Dia masih kecil, kau ... Kau sungguh tega! Dia anakmu, ingatlah itu Rena!" Dani kakek Hujan, akhirnya bicara, dia tidak tega melihat cucunya yang menangis kesakitan.
Rena memalingkan wajahnya. Tak mau melihat Hujan yang menangis dan menatapnya sendu.
"Ck, seharusnya aku tak pernah melahirkanmu. Dasar anak pembawa sial!!!" ucap Rena kasar. Ia pergi meninggalkan rumah sang Ayah.
Hujan mematung. Hatinya sakit, sakit sekali. Dadanya sesak, isak tangisnya tak lagi terdengar.
Ia menenggelamkan kepalanya pada kedua kakinya yang ia tekuk. Dan tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf. Berharap semuanya dapat diperbaiki kembali, meskipun dia tau hal itu sulit dilakukan.
Dani yang melihat cucunya, langsung saja memeluk Hujan. Berusaha memberi ketegaran pada gadis kecil itu.
"Tenanglah, gak apa," bisik Dani mengelus punggung Hujan lembut.
"Masi ada Kakek. Kakek bakal jaga kamu," lanjutnya lagi.
Hujan diam tak berkutik. Matanya seakan menatap kosong ke depan. Membiarkan dirinya dipeluk oleh sang Kakek. Gadis kecil itu terlihat sangat terpukul.
"Kakek," panggil Hujan lirih.
"Ya?"
"Apa seharusnya aku gak terlahir, ya?"
Tes!
Seketika air mata Dani menetes mendengar perkataan yang Hujan lontarkan.
"Hahah," Hujan tertawa miris diiringi tangis.
"Aku benar-benar monster," ujarnya tertawa dengan dada yang sesak.
Bersambung....
__ADS_1
...TBC....