
...HAPPY READING...
****
Gadis itu berjalan tanpa minat menelusuri koridor sekolah. Wajahnya sengaja ia tutup dengan masker agar menutupi pucat di bibir dan wajahnya. Sebenarnya hari ini kondisi Hujan masih belum Fit, hanya saja ia memaksakan diri untuk sekolah.
"KAK RIGA"
Refleks Hujan berbalik saat mendengar gadis itu meneriaki nama Auriga. Lalu ekor matanya tak luput dari sosok Auriga yang tengah membawa beberapa kotak yang Hujan yakini berisi alat-alat kimia. Pasti bu Niska yang menyuruhnya mengingat mereka akan melakukan praktek kimia di Laboratorium hari ini.
"Keyra?"
"Wah, Kak Riga ingat gue? Senangnya."
Auriga hanya mendengus geli melihat reaksi gadis di depannya. Selalu saja penuh akan rasa semangat.
"Kak, lo mau ke Lab?"
"Hmm. Mindahin kotak-kotak ini buat praktek nanti."
Keyra mengangguk paham. Sesaat kemudian gadis itu berkata dengan senyuman lebar.
"Mau gue bantuin?"
"Gak us—"
Auriga melongo ketika Keyra tanpa basa-basi mengambil alih satu kotak dari tangannya. Padahal dia ingin bilang tak usah tadi.
"Ayok ke lab, gue juga lagi gabut soalnya."
Lagi dan lagi Auriga hanya tertawa kecil melihatnya. Tingkah Keyra selalu saja membuatnya merasa geli.
"Makasih udah bantuin gue," ucap Auriga usai meletakkan kotak-kotak itu pada tempatnya.
"Gitu doang, Kak?"
Auriga mengernyitkan dahinya. "Terus?"
"Sekarang mana ada yang gratis." Dengan tidak tahu malunya Keyra mencibir membuat Auriga lagi-lagi menahan tawa. Wah, gadis ini sedikit licik rupanya.
"Jadi, lo mau apa dari gue?"
Seketika mata gadis itu berbinar seperti bocah yang habis dibelikan mainan. Auriga jadi ingat adiknya—Lintang anak itu pasti sedang belajar di sekolahnya.
"ES KRIM!" seru Keyra membuyarkan lamunan Auriga. "Kak Riga harus traktir gue es krim!"
"Yakin? Itu doang?"
Keyra mengangguk antusias.
"Oke, ayo ke kantin."
***
"Lo kaya anak kucing," kekeh Auriga melihat cara makan Keyra yang sangat menikmati es krim miliknya.
"Emang kucing makan es krim!" balas Keyra tampak kesal.
Sementara tanpa mereka sadari sedari tadi Hujan melihat semuanya dari kejauhan. Matanya tak luput dari sosok gadis yang duduk bersama Auriga.
__ADS_1
TAP
Hujan menoleh ketika mendapati seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
Orion tersenyum tipis dan entah kenapa hal itu membuat hati Hujan terasa nyeri.
"Mau makan—"
"Gue bisa sendiri," potong Hujan melepas tangan Orion dari pundaknya lantas berlalu pergi.
Orion mendengus lelah. Ia tahu kenapa Hujan bersikap dingin padanya. Pandangan mata Orion menatap kedua sejoli yang tengah asik mengobrol dan menikmati es krimnya.
Namun tanpa sengaja Auriga menoleh seakan menyadari tatapan dari Orion. Mata keduanya bertemu sebelum pada akhirnya Reka memutuskan kontak mata lebih dulu. Dia lebih memilih untuk mengejar Hujan dari pada berurusan sama orang seperti Auriga
"Maaf Key, gue ada urusan."
Tiba-tiba saja Auriga berdiri dari duduknya dan langsung berlari pergi membuat Keyra melongo kaget.
****
Hujan lebih memilih untuk menenangkan diri di rooftop sekolah. Matanya menatap sendu ke depan dengan pikiran yang terus melayang.
BRAK!
Sontak Hujan berbalik ke arah pintu. Tampak Auriga berjalan ke arahnya dengan ekspresi datar. Kemudian lelaki itu dengan agresifnya menarik tangan Hujan dan membawanya ke tembok. Tangan Auriga bertumpu pada satu tembok sementara tangan yang satunya lagi mengunci pergerakan Hujan.
GLEG!
Hujan menelan saliva gusar ketika mendapati wajah Auriga yang kian mendekat. Jantungnya seakan berdetak dua kali lipat lebih cepat dari biasanya.
Tepat pada saat Auriga hendak menciumnya. Hujan melotot kaget dan refleks mendorong Auriga menjauh.
PLAK!
Auriga menoleh ke samping ketika Hujan menampar dirinya cukup keras. Ia menyunggingkan senyuman semirk saat merasakan gejolak di dadanya.
"Lo pikir gue serendah itu?" tanya Hujan tak habis pikir.
"Oh, ya?" Auriga terkekeh kecil. "Lantas kenapa lo bohong ke gue?, Lo pulang bareng Reka kan?. Padahal kemarin gue nungguin lo sampek sore di sekolah tapi apa? lo malah pulang bareng cowok lain!"
"Lo gak bakal ngerti Ga, gue—"
"Gimana gue mau ngerti? Kalau lo aja gak pernah ngertiin gue. Pernah gak sih Jan? Terbesit di pikiran lo sekali aja gimana perasaan gue kalau lo seakrab itu sama Reka? Gue emang gak ngelarang kalian buat ketemu tapi bukan berarti lo bisa seenaknya!"
Wajah Auriga memerah menahan marah. Tampaknya lelaki itu memang kesal sekarang.
"Sebenarnya kita pacaran gak sih? Atau lo gak pernah anggap gue sebagai cowok lo? Bener begitu kan."
Hujan menggeleng lemah. Bukan begitu yang ia maksud. Kenapa Auriga bisa berpikir seperti itu tentang dirinya?
"Gue kecewa sama lo Jan" lirih Auriga berlalu pergi meninggalkan Hujan sendiri.
Orion tersentak kaget ketika melihat Auriga yang keluar dengan ekspresi suram. Terlebih lelaki itu berjalan ke arahnya dan mencengkram kerah Orion kasar.
"Jauhin cewe gue!" titah Auriga dingin sebelum pada akhirnya pergi dari sana.
Sepertinya hari ini Auriga akan bolos saja. Mood nya benar-benar sudah hancur.
Orion merapikan baju yang kusut akibat ulah Auriga. Sedetik kemudian dia tersadar lantas berlari membuka pintu rooftop. Matanya menelusuri segala arah dan menemukan Hujan yang tengah duduk bersandar di tembok samping pintu.
__ADS_1
"Hujan" panggilnya yang tak digubris oleh Hujan karena gadis itu lebih memilih untuk diam.
"Hei, Lo Kenapa ?" kekehnya ikut berjongkok di depan Hujan.
"Hujan lo kenapa" Jeda Orion, melihat setiap inci wajah Hujan yang terlihat murung. "Lo jelek kalau murung gitu"
Orion tak henti mencoba untuk menghibur Hujan. Ia tak suka melihat gadisnya terus bersedih seperti ini.
"Yon" sergah Hujan menepis kasar tangannya yang terus mencubit hidung Hujan.
"Tinggalin gue sendiri. Gue gak—"
"Lo kenapa sih Jan, selalu bilang kalau lo itu gak papa? Padahal udah jelas kalau lo lagi ada masalah. Kenapa lo gak pernah coba buat nangis? Setidaknya itu akan mengurangi rasa sakit di dada lo. Jangan berpura-pura terlihat baik, kalau itu membuat diri lo sakit sendiri"
"Gue nangis kok," kekeh Hujan "Nanti gue nangis di kamar" lanjutnya lagi membuat Orion menyentil pelan kepalanya karena gemas.
"Lo emang Hujan yang gue kenal"
****
"Lo berdua kenapa deh?" heran Matahari memandang satu persatu wajah Aurora dan Benua bergantian.
Kedua orang itu sedari tadi diam tak seperti biasanya. Benua yang merasa aneh juga ikut nimbrung.
"Kalian ada masalah?"
"Gue pergi dulu, ya? Ada urusan ekskul mading bentar."
Aurora berdiri dari duduknya lantas pergi begitu saja. Matahari menatapnya cengo dengan pikiran.
"nih bocah pada kenapa dah?" batin Matahari.
Benua memakan bakso terakhir dalam diam. Lalu berdiri yang dapat membuat Matahari dan Benua heran dibuatnya.
"Gue udah selesai. Kalian lanjutin aja, gue mau ketemu Riski mau bahas anggota baru ekskul musik."
Yah, tak heran kedua orang itu membahas ekskul karena hari ini adalah hari dimana murid baru memilih ekskul masing-masing. Terlebih lagi Benua adalah ketua di ekskul musik. Mungkin Aurora juga sama tapi yang membuat Matahari heran kenapa harus sekarang? Toh kelas belum masuk.
"Lo gak ngurusin anggota ekskul basket?" tanya Matahari pada yang tengah berkutat pada ponselnya.
"Gak deh, gue malas."
"Pemalas lo!"
"Biarin. Lo sendiri? Bukannya lo juga ikut anggota ekskul tari?" kekeh Benua.
"Lo ngejek gue? Gini-gini gue juga bisa nari!"
"Hahaha gue masih nggak nyangka aja cewek kek lo ikut ekskul tari mana kaku bet lagi pfthh!"
Matahari tersenyum jengkel, sedetik kemudian mengambil sambal dan menuangkannya pada mangkok Benua sebanyak mungkin.
"Eh woy, woy! Gue gak bisa makan sepedes it—"
"Makan noh! Sekalian aja lo sambil nari-nari!" balasnya kesal.
...
...TBC....
__ADS_1