
...~HAPPY READING~...
*****
Entah bagaimana bisa Faisal sampai secepat ini. Ia hentikan mobil lantas keluar dari sana. Memandang orang-orang di depannya dengan tatapan dingin.
"Sudah sampai, Adik?"
Hendri tersenyum semirk sembari melipat tangan bersidegap dada. Matanya menatap Faisal penuh keangkuhan.
"Tak usah basa-basi," balas Faisal masih dengan ekspresi dinginnya.
"Di mana putriku?!" lanjutnya lagi berteriak menampilkan wajah yang memerah menahan marah.
Lagi dan lagi Hendri tersenyum tipis, kaki nya melangkah ke arah Faisal. Ia tepuk bahu pria itu pelan lantas berkata dengan santai nya.
"Kau ini gak sabaran sekali ya, Faisal? Apa kau tidak rindu pada Kakakmu ini?"
Perkataan Hendri dapat membuat amarah Faisal memuncah. Dia tepis tangan itu dengan kasar hingga tersingkir dari bahunya.
"Ck." Faisal berdecih sebal.
"Jangan mengatakan hal yang menjijikkan," ujarnya.
"Aku bukan Adikmu dan kau bukan Kakakku! Cam 'kan itu Hendri."
Usai berkata begitu, Faisal masuk ke dalam markas tanpa izin dari mereka. Dia menerobos orang-orang Hendri dengan membabi buta. Lalu menendang sebuah pintu ruangan yang ia yakini ada Hujan di dalamnya.
Sedangkan Hendri, pria itu hanya diam menonton. Membiarkan Faisal menggendong putrinya keluar dengan tenang. Hingga pada saat Faisal melayangkan pukulannya lebih dulu ke wajah Hendri.
"Akhh ...!" ringisnya, memegang sudut bibir yang terluka.
"Dasar sialan! Apa yang kau lakukan pada putriku? Brengsek!" kesal Faisal kala mendapati tubuh Hujan yang penuh dengan luka memar bahkan sayatan.
Hendri bersedecih, sesaat kemudian dia balas memukul Faisal dengan keras.
Bugh.
"Kau! Sejak awal aku sudah menduganya, kau tak akan membawa Rena ke sini."
"Benar, Rena itu Istriku. Lantas buat apa aku membawanya sebagai tukaran untuk Hujan? Bukankah itu sama saja? Kau gila ya?! Mereka itu keluargaku, lebih penting daripada uang!"
Faisal benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran orang di depannya ini. Bisa-bisanya pria itu meminta agar Faisal menceraikan Rena, lalu memberikan semua aset perusahaannya pada Hendri sebagai bentuk penukaran atas nyawa Hujan.
"Dari dulu kau memang egois Faisal! Kau merebut semuanya dariku. Semua orang menyayangimu, bahkan ayah selalu membandingkan kau yang lebih pintar daripada aku."
"....."
"Bukan cuma merebut kasih sayang mereka, kau bahkan juga merebut Rena dariku!"
"....."
"Padahal kau tau kalau aku mencintai wanita itu tapi, kenapa? Kenapa kau menerima perjodohan itu, Sal? Harusnya kau menolak, Sialan!"
"Itu karena ayah terus mengancam ku, jika aku gak menikahi Rena maka kau akan kena—"
__ADS_1
"Ck, jangan beralasan! Kau sudah merebut semuanya dariku! Semua yang kau tempati adalah posisiku! Aku membencimu Faisal!"
Faisa diam. Yah, dia tau jika Hendri sangat membenci dirinya. Bahkan waktu itu Hendri juga pernah mencoba untuk membunuh Faisal.
Padahal, dulu hubungan mereka sangat bagus dan akur layaknya kakak dan adik. Semuanya mulai berbuah kala bakat dan kemampuan Faisal lebih unggul dibanding kakaknya—Hendri.
Ayah mereka terang-terangan mendukung Faisal untuk melanjutkan perusahaan keluarga. Tentu itu membuat Hendri iri dan akhirnya hubungan mereka jadi renggang sampai sekarang.
"Maaf," lirih Faisal merasa bersalah.
"Tapi, aku benar-benar gak bisa memberikan Rena padamu. Karena dia, udah jadi ibu dari anak-anakku."
"Ck!" Hendri berdecak kesal.
"Tangkap dia!" serunya memberi perintah pada semua pria berbadan besar di sana yang tak lain adalah anak buah Hendri.
Semuanya berlari ke arah Faisal. Jangan lupakan senjata yang mereka pegang, ukh sungguh mengerikan.
"Papa," panggil Hujan takut.
Faisal menunduk menatap sang putri dengan mata sayu. Ia tarik tangan gadis itu ke belakangnya dan berkata.
"Berlindung lah Sayang, Papa akan berseskan ini."
Usai berkata begitu, Faisal mengambil ancang-ancang untuk menyerang.
Pertarungan berlangsung dengan begitu sengitnya. Meski Faisal jago bertarung, tetapi lawannya terlalu banyak. Pria itu lengah, seseorang memukul kepalanya dari belakang saat ia sedang sibuk melawan musuh.
Bugh!
Brak .
Faisal ambruk, darah segar keluar dari kepalanya. Sontak hal itu membuat Hujan menjerit histeris sembari menangis.
"Tidak ...! Papa!"
Hujan berlari mengejar sang Ayah, menggoncang goncang tubuh pria itu dengan kuat.
"Tenanglah, aku belum mati," ucap Faisal membelai pipi Hujan lembut.
Dia kembali berdiri, menatap satu persatu orang di depannya. Kemudian kembali bertarung, Faisal benar-benar kuat, meski terluka dia masi sanggup menghadapi orang-orang itu dengan cekatan.
Hingga pada saat semua musuhnya dikalahkan. Faisal masi berdiri sempoyongan. Kepala yang tak henti mengeluarkan darah, luka tusuk di perut, bibir yang robek dan mata yang lembam. Membuat penampilan pria itu terlihat sangat kacau dan menyedihkan.
Hanya tinggal Hendri yang tersisa. Matanya menatap tajam pada Faisal.
Faisal rasa, dia tak akan sanggup bertarung lagi. Karena itu, dia memilih untuk kabur dan membawa Hujan di gendongannya.
Lari menerobos hutan yang gelap di malam hari. Tubuh yang sudah lemah itu berjuang sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa sang Putri.
Bruk.
Faisal jatuh pingsan di tengah hutan karena kelelahan. Beruntung sekali kala itu Hendri sudah tertinggal jauh di belakang. Namun, tetap saja mereka masi dalam bahaya.
"Papa bangun," lirih Hujan menangis terisak.
__ADS_1
Sudah ada sekitar satu jam berlalu sejak Faisal yang pingsan. Hujan tak henti, gadis kecil itu tak menyerah untuk membangunkan sang Ayah.
"Ughh ...!"
Sontak mata Hujan berbinar sempurna kala melihat Faisal yang membuka mata.
Faisal yang sudah sadar tersenyum padanya, membuat Hujan kembali menangis senggugukan.
Suara tangisan Hujan terdengar pilu di keheningan malam. Dilihatnya Faisal yang terbaring lemah di depannya dengan berlumuran darah di kepala. Pria itu mengusap kepala Hujan lembut dan penuh kasih sayang.
"Shutt! Udah, jangan nangis," ucapnya lembut sembari menghapus air mata sang gadis. Bukannya diam, Hujan malah tetap menangis bahkan lebih parah dari sebelumnya.
Faisal tersenyum. Dia menatap lekat mata gadis yang kini sudah bengkak karena sedari tadi menangisinya.
"Hujan dengerin papa! Kamu harus kuat sayang, jangan nangis dong! Cengeng banget. Gimana kalau papa gak ada? Siapa dong yang mau jagain kamu, kalau kamunya cengeng begini."
Hujan menggeleng dengan tangis yang semakin pecah saat mendengar kalimat yang terakhir itu.
"Papa gak bo--boleh ninggalin adel!" ucapnya senggugukan dengan memegang erat tangan sang ayah. Berusaha memberi kekuatan pada ayahnya, walaupun itu tidak berpengaruh sama sekali.
Faisal terkekeh kecil melihat tingkah puterinya. Entah kenapa, semuanya akan terasa berakhir di sini. Pemandangannya mulai gelap. Dilihatnya Hujan yang masi menangis.
"Hujan maafin papa. Papa sayang kamu, apapun yang terjadi jangan pernah dendam dan jangan pernah menyalahkan dirimu untuk hal ini," lirih Faisal sembari tersenyum.
Kini matanya sudah tertutup rapat. Tangan yang tadinya mengusap pipi Hujan, sudah tergeletak tak berdaya.
"Enggak jangan tinggalin Hujan! Papa udah janji, gak bakal ninggalin Hujan. Papa ... Pa bangun paa ... hiks. Hujan minta maaf, Papa bangun ... Hu--Hujan janji gak bakal nakal lagi ... hiks ... hiks Hujan janji. Papa?! Bangun dong Pa ... hiiks, Hujan mohon ...."
Hujan terus saja menggoncang-goncang tubuh ayahnya. Berharap Sang Ayah akan bangun dari tidurnya. Tetapi, semuanya sia-sia.
Faisal tak akan pernah bangun lagi. Ia sudah pergi untuk selamanya. Dan tak akan pernah kembali. Semoga putrinya selamat, itulah doa Faisal diakhir hidupnya.
****
Entah bagaimana bisa Indra menemukan Hujan yang tengah sembunyi dari kejaran Hendri dan anak buahnya.
Mata Hujan seketika berlinang menatap kehadiran Petir di depannya. Gadis itu mendongak seolah sedang mengadu pada sang Kakak.
Petir yang mengerti langsung memeluk adiknya erat. Menepuk punggung Hujan lembut dan berkata diiringi tangisan.
"Kakak tau, aku melihat semuanya. Papa ... di–dia udah gak ada."
"Hiks, Kak Petir. Papa .... huaa."
"Jangan nangis Jan, semuanya udah berakhir. Kakak udah lapor polisi, kita udah aman."
"Huhu ... Pa–papa kak, Papa!"
Hujan terus menangis membuat Petir menggendong tubuhnya dengan tangisan juga. Kedua bocah itu berjalan ke luar hutan di tengah malam. Diiringi dengan tangisan pilu yang penuh dengan luka.
"Ayo, kita pulang."
Bersambung...
...TBC....
__ADS_1