Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 21.


__ADS_3

~Happy Reading💞~


"Oh ... jadi ini, si cupu yang waktu itu?" tanya seseorang dari belakang Aurora.


Deg!


Aurora menoleh dengan wajah takut, ia benar-benar hapal suara ini. Suara ini adalah suara ....


"Dina?"


Yap! Suara itu adalah suara Dina! Gadis yang dulunya sering membully Aurora saat dia masi berpenampilan cupu.


"Kenapa? Lo kaget liat gua, ha?" tanya Dina tersenyum remeh.


"Gua gak nyangka lo akan berubah sedrastis ini. Pasti karena cewek licik yang waktu itukan?" lanjut Dina lagi mengingat wajah Hujan yang mengancamnya dengan video bully waktu itu.


"Namanya Hujan! Dia bukan gadis licik. Lo yang lebih licik! Hujan itu baik, gak kaya elo!" timpal Aurora.


Kali ini Aurora tak akan mengalah, Hujan sudah sangat baik padanya. Ia tak akan membiarkan orang lain menjelek-jelekkan gadis itu.


"Ho? Lo udah berani rupanya." Dina berjalan mendekati Aurora. Membuat gadis itu refleks berjalan mundur ke belakang.


Sebenarnya Aurora masih takut. Tetapi sebisa mungkin ia tak menunjukkan rasa takutnya. Ia tak boleh lemah! Hujan sudah sangat banyak membantunya. Karena itu, Aurora tak akan mengecewakan Hujan kali ini.


"Lo lupa? Lo lupa rasa tamparan dari gua?!" bentak Dina dengan wajah garang.


Aurora menelan Saliva. Sepertinya ia masih takut dengan gadis di depannya ini.


"Baiklah, dengan senang hati. Gua bakal ingetin lagi rasanya!"


Tangan Dina terangkat hendak menampar Aurora. Aurora yang kaget dengan cepat memejamkan matanya takut.


Plak!


"Awsss ...."


Aurora membuka matanya, jelas-jelas dia mendengar suara tamparan. Tapi kenapa pipinya tidak sakit? Apa yang ....


"Benua?!" kaget Aurora saat melihat Raihan yang tiba-tiba ada di sampingnya.


Benua menyeka darah dari sudut bibirnya yang robek. Untung saja, ia datang tepat waktu. Jika tidak, tamparan itu akan mengenai Aurora.


"Lo gapapa, Ra?" tanya Benua khawatir.


Aurora yang melihat itu memandang Benua dengan raut wajah sedih. Padahal yang terluka pria itu, sempat-sempatnya ia menanyakan keadaan Fani.


"Maaf, karena gua ... lo jadi hiks, lo jadi terluka begini."


"Gak papa." Benua mengelus lembut rambut gadis itu. "Gua lebih sakit, kalau lo yang luka," lanjutnya lagi memberi senyuman manis.


"Huek ... mau muntah gua."


Awan yang melihat itu seketika bergidik jijik. Tak hanya Benua, ternyata Awan juga ada di sana. Tadinya ia dan Awan tengah jalan-jalan dan tak sengaja melihat Aurora yang ingin ditampar oleh Dina.

__ADS_1


"Apaan sih Wan?!" kesal Benua.


"Sempat-sempatnya lo ngebucin." Awan menatap Benua tak habis pikir.


"Liat noh, penjahatnya udah lari!" lanjut Awan sembari menunjuk Dina yang sudah melarikan diri.


Benua dan Aurora dengan kompak menoleh dan menatap Dina yang tengah kabur.


"Woi! Jangan lari lo!" teriak Benua ingin mengejar Dina. Namun dengan cepat Aurora mencegal tangannya lalu menggelengkan kepala.


"Gak usah dikejar. Biarin aja," kata Aurora.


"Iya."


"Eh, Ra. Ngomong-ngomong lo ada liat si cewek aneh gak?" tanya Awan mengganti topik.


"Maksud lo Matahari?"


"Ha iya, si Matahari! Lo ada liat gak?"


"Oh, Matahari lagi ke lab bareng ketua osis."


"Ha? Bareng Riski? Lah? Kok bisa?" tanya Awan bingung dengan yang dikatakan Aurora. Pasalnya, Matahari kan anak baru. Bagaimana bisa gadis itu kenal dengan Riski?


"Gua lebih penasaran, kenapa lo nanyain Matahari?" Benua yang tadinya hanya diam kini ikut bersuara.


"Gua ada urusan sama dia," jawab Awa'.


"Urusan apa?" tanya Aurora.


"Yaudah, kalau gitu gua mau nyamperin si cewek aneh dulu. Bye!" Awan pergi berlalu meninggalkan dua orang itu yang masih menatapnya bingung.


"Hm ... a--anu Benua, lo mau ikut gua gak?" Tiba-tiba Aurora bertanya memecah keheningan yang ada.


"Kemana?"


"Uks."


Benua diam-diam mengulum senyum, mengerti maksud dari Aurora. Aurora mengobati lukanya ternyata. Baiklah, rezeki mana boleh ditolak!


"Ayo!" jawab Benua dengan antusianya.


***


"Ehem." Auriga berdehem kecil berniat untuk menarik perhatian Hujan.


"Kita udah sampai loh ini. Tangan lo bisa dilepas gak?" tanya Auriga sembari melihat Hujan dari kaca spionnya.


Gadis itu masi memejamkan matanya takut. Hal itu membuat Auriga tersenyum geli. Auriga tak menyangka Hujan memiliki sisi seperti ini.


"Kalau lo mau tetap meluk, gua gak keberatan kok," goda Auriga terkekeh kecil.


Hujan yang sadar dengan cepat membuka mata dan melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Pulang sendiri," ucap Hujan dingin seperti biasanya.


"Ha? Maksud lo?"


"Gua gak mau pulang bareng lo!" ketus Hujan berlari meninggalkan Auriga di parkiran.


Auriga membelalakkan matanya kaget. Dengan cepat ia membuka helm dan turun dari motornya.


"Jan, tungguin gua! Gua cuman bercanda doang!" teriak Auriga yang tak dihiraukan oleh Hujan.


"Gua janji, gua gak bakal ngebut lagi. Karna itu, pulang bareng gua, ya?!" Auriga terus saja berteriak dan mengejar Hujan tanpa lelah.


****


"Ada urusan apa lo sama gua?" Matahari menatap sinis Awan yang tiba-tiba datang menggangu momennya bersama Riski. Menyebalkan sekali!


"Gua mau nawarin lo sesuatu," jawab Awan sembari merogoh kantong celananya.


"Apaan?!"


"Coba liat ini." Awan menunjukkan sebuah foto yang ada di ponselnya.


"Matahari si Es batu yang lagi nyium si Auriga?" Siska menyerngit bingung setelah melihat foto itu. "Kenapa lo nunjukin ini ke gua?" tanyanya lagi.


"Ck." Awan berdecak kesal. "Lo lemot juga rupanya," cibir Awan.


"Apaan sih?! Kalau ngomong yang jelas dong!" teriak Matahari ngegas.


Awan menutup kuping nya yang terasa panas. Teriakan Matahari mampu membuat telinganya jadi sakit.


"Sans dong! Jangan ngegas. Gua cuma mau bilang. Elo taruhan dengan Hujan kan?"


"Hm, iya terus? Apa hubungannya sama nih foto?!"


"Lo kan bisa ngancem Hujan sama foto ini. Gua yakin, Hujan bakal bebasin hukuman lo kalau lo nunjukin foto ini ke dia."


Matahari tampak kaget. Kenapa hal itu tak terpikirkan olehnya? Ide Awan benar-benar cemerlang!


"Wah ... benar juga!" ucap Matahari kagum. "Kalau gitu makasi deh, lo udah mau bantuiin gua." tangan Matahari tergerak ingin mengambil ponsel Awan. Namun dengan cepat pria itu menjauhkannya.


"Eits, gak semudah itu, Maemunah!" kata Awan tersenyum geli.


"Apaan sih? Katanya mau bantuin gua!"


"Iya, tapi ada syaratnya."


"Sudah kuduga." Matahari memutar bola matanya malas. Sebenarnya apa yang ia harapkan dari cowok menyebalkan ini?!


"Apa syaratnya?!" ketus Matahari.


"Gampang." Awan tersenyum remeh sembari menyimpan ponselnya kembali.


"Iya, gampang apa? Apa syaratnya?!" tanya Matahari tak sabaran. Ia benar-benar butuh foto itu. Matahari tak mau kalau harus jadi pelayan Hujan selama tiga minggu!

__ADS_1


"Jadi pacar gua."


"Apa?!


__ADS_2