Asmirandah Hujan

Asmirandah Hujan
Chapter 20.


__ADS_3

~Happy Reading💞~


Pagi hari yang cerah, sinar mentari hangat masuk melalui celah-celah jendela kamar seorang gadis dan mengusik tidurnya.


Gadis itu terbangun dari tidurnya. Dia beranjak bangun dari ranjang tidur lantas keluar dari kamar dengan membawa sebuah handuk di pundaknya.


Gadis itu menatap hampa sekelilingnya. Tak ada seorang pun di sana, dia hanya tinggal sendiri di sebuah apartemen yang berukuran sedang ini.


Keluarga yang dulunya sangat bahagia, kini sudah terpecah belah dan tak lagi bersamanya.


Ayah yang menyayanginya sudah lama berpulang kepada sang pencipta, sejak dia berusia enam tahun.


Ibu yang sangat ia sayangi juga pergi meninggalkannya disaat gadis itu sangat memerlukan dekapan dari seorang ibu.


Kakak yang ia bangga-bangga kan dipaksa untuk ikut bersama ibunya dan pergi meninggalkan gadis itu.


Dan sepupu sekaligus sahabat kecilnya juga dilarang dekat dengannya. Meskipun sepupunya itu sangat menentang perintah dari sang ayah, tapi tetap saja ayah sepupunya itu tidak peduli dan malah mengirim putranya untuk tinggal bersama dengan ibu mertuanya di luar negeri.


Terkadang dia berharap bahwa semua yang ia jalani selama ini hanya sebuah mimpi buruk yang panjang dan ketika dia bangun tidur, mimpi buruk yang panjang itu akan berakhir. Tapi nyatanya, semua itu bukan lah mimpi buruk, melainkan kenyataan yang pahit.


Hujan menghela nafas berat, mau bagaimanapun dia berharap, semuanya akan tetap sama dan tak akan pernah kembali lagi seperti semula.


Dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan wajah dinginnya. Setelah selesai mandi, gadis itu beranjak menuju kamarnya dan bersiap-siap dengan seragam sekolahnya.


Tak butuh waktu lama baginya untuk bersiap-siap, sekarang gadis itu sudah sangat rapi dengan seragam sekolahnya.


Hujan menatap pantulan dirinya pada cermin di depannya. Mau dilihat dari sudut manapun, Hujan tetap terlihat sangat cantik. Bibir merah muda yang mungil nan indah, bulu mata hitam yang lentik, rambut hitam nan lurus dan panjang, ditambah lagi bola mata berwarna hitam kecoklatan, benar-benar membuat dirinya terlihat sangat cantik dan anggun.


Hujan meraih ranselnya yang sudah ia siapkan sejak tadi lantas keluar dari kamar dan pergi menuju dapur.


Sesampainya di dapur, Hujan mendudukkan dirinya pada sebuah kursi di meja makan. Hanya ada satu kursi di sini, itu karena dia hanya tinggal seorang diri.


Ia menuangkan segelas air putih dan meneguknya hingga tandas. Ia tak sarapan pagi, ia hanya meminum segelas air untuk mengganjal perutnya nanti.


Dulu, ibunya akan sangat marah jika dia tidak sarapan pagi sebelum berangkat sekolah. Tapi sekarang, wanita itu bahkan tak peduli padanya.


"Hujan sayang ... udah siap belom? Entar telat loh," teriak Tata.


"Iya ma, ini Hujan mau turun." Hujan kecil balik berteriak.


Gadis kecil itu berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Seragam sekolah dasar yang ia gunakan, sangat pas pada tubuhnya yang mungil.


"Eh .. eh jangan lari! Entar kamu jatuh." Tata menatap khawatir putrinya itu.


Gadis kecil itu nyengir memperlihatkan deretan giginya yang putih. Ia berjalan menuju meja makan, disana ada ayah, ibu dan kakaknya yang menyambutnya dengan senyuman.


"Pagi," ucapnya dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya.


"Pagi malaikat kecil papa."


"Pagi sayang."


"Pagi adik manja."


"Ih ... Kak Petir apaan sih?!" ucap Hujan kesal. "Papa." panggilnya.


"Iya? anak papa kenapa? kok mukanya merungut gitu." Faisal mencubit pipi anaknya itu dengan gemas.


"Liat tuh Kak Petir!!" Hujan merengek.


"Gak usah diliat pa! Petir tetep ganteng kok, kayak biasa," sahut Petir dengan pedenya.


"Ganteng apanya?!" Hujan menatap Petir tak terima. "Kak Petir itu gak ganteng tau?! Tapi lucu!" lanjutnya lagi.


"Beneran? Kakak lucu Jan?" tanya Petir tak percaya.


"Iya lucu, kayak monyet Dora," jawab Hujan terkekeh.


Petir menatap adiknya itu dengan wajah jengkel. Adiknya ini benar-benar! Rasanya ingin sekali Petir menjual adiknya itu sekarang, tapi dia masih sayang.


"Bwahahah ..." Faisal dan Rena tertawa melihat kejahilan Hujan. Anak mereka yang satu ini benar-benar jahil.


"Papa sama mama kok ketawa sih?!" ketus Petir.


Hujan menatap kakaknya yang terlihat sangat jengkel sekarang, dengan tersenyum jahil.


"Yang sabar kak," ucap Hujan sembari mengelus pundak Petir dengan lembut. "Sama adek harus ngalah!" lanjutnya lagi dengan tertawa penuh kemenangan saat mendapati Petir yang semakin kesal karena kata-katannya barusan.


"Kakak kutuk jadi monyet biar tau rasa kamu Jan!!"


"Papa." Hujan merengek dan mendongak menatap Faisal dengan maksud meminta pertolongan dari ayahnya itu.


"Aduh ... kalian ini kerjanya berantem terus!!" Faisal mencubit kedua pipi anaknya dengan gemas. "Kalian gak takut telat? Ini udah jam setengah tujuh loh," lanjutnya lagi.


"Huaaa ... Hujan gak mau telat! Hujan gak sarapan aja deh. Boleh kan ma?"


"Gak boleh! Nanti kamu sakit, kamu harus tetap sarapan pokonya!"


"Papa?" Hujan mendongak menatap ayahnya meminta dukungan.


"Papa setuju sama mama, kamu harus tetap sarapan!" Petir menatap putrinya itu sembari tersenyum hangat.


"Kak Petir?" Hujan beralih menatap Petir dengan wajah yang berbinar agar lelaki itu membantunya.


"Gak boleh!"


"Ih ... nanti Hujan bisa telat!! Orion juga udah nungguin di depan! Huaaa ..." gadis kecil itu merengek.


"Harus sarapan!!" ucap ketiganya dengan kompak.


Hujan mendengus sebal, ternyata senjata tangisannya tak berpengaruh sama sekali. Kalau begitu, Hujan harus cari akal yang lain.


Ah ... Hujan tau!.


"Kalau gitu, Hujan makan di mobil aja bareng Orion." Hujan menatap kedua orang tuanya dengan wajah sok imut. "Boleh kan?" lanjutnya lagi.


"Hmm." Faisal tampak berfikir.


"Boleh ya, paa?"


"Boleh." Hujan tersenyum senang saat mendengar jawaban dari sang ayah. "Tapi ada syaratnya." senyuman itu kembali pudar.


"Apa syaratnya?!" tanyanya kesal.


"Kamu harus cium pipi Papa!" jawab Faisal semangat.


"He?" Hujan menatap ayahnya kesal. "Yaudah deh, Hujan cium," jawabnya pasrah.


Faisal tersenyum senang, dia membawa Hujan ke dalam gendongannya.

__ADS_1


"Nih, ayo cium." Faisal mendekatkan pipinya pada gadis kecil itu.


"Iya."


Cup.


"Udah kan? Sekarang turunin Hujan dong pa!"


Faisal mengangguk lantas balas mencium gadis itu sebelum menurunkannya.


"Mama gak dicium nih?" Rena berjongkok menyamakan tingginya dengan Adel.


Cup.


Satu kecupan hangat mendarat di pipi Rena. Rena tersenyum, dia balas mencium putrinya itu dengan gemas.


"Kalau gitu, Hujan sama Kak Petir pergi dulu ya Pa, Ma."


"Iya. Hati-hati ya sayang."


"Iya," teriak Hujan yang semakin menjauh dengan Petir.


***


"Jan? Kakak gak dicium kayak Papa sama Mama?" tanya Petir saat mereka sampai di mobil bersama dengan Orion di dalamnya.


Cup.


Hujan mencium pipi Petir tak ikhlas.


"Udah kan?!"


"Dih ... gak ikhlas!!" ketus Petir.


"Hahha ... biarin!!" Hujan memeletkan lidahnya.


"Lina? Aku gak dicium juga nih?" Orion yang tadinya diam kini ikut bersuara.


"Eh Rion? Orion juga mau Hujan cium?"


Orion mengangguk menyatakan iya.


"Oke."


Cup.


Cup.


Cup.


Cup.


Cup.


"Loh?! Kok Rion dicium lima kali sih? Dasar gak adil!!"


"Bwhahahah ... Kak Petir iri!!" ucap Hujan dan Orion dengan kompak.


Air matanya menetes tanpa dia sadari saat mengingat masa-masa itu.


"Ck." Hujan berdecak kesal, dia dengan kasar menghapus air matanya. "Dasar cengeng!!" gumamnya mengerutuki dirinya sendiri.


Gadis itu berdiri dari duduknya lantas pergi keluar dari dapur. Ia berjalan menuju pintu keluar dan membuka kenop pintu itu dengan perlahan.


Baru saja Hujan keluar, lelaki ini sudah ada di depan rumahnya dan ... apa itu? Auriga memakai motor sport bewarna merah? Bukannya dia punya mobil? Lantas kenapa dia memakai motor?.


"Pagi," balas Hujan dingin.


Wah Auriga tak menyangka jika Hujan akan membalas ucapannya. Auriga hanya tersenyum menanggapi ucapan Hujan barusan.


"Lama?" tanya Hujan dengan wajah dingin.


"Gak kok, gua juga baru nyampek," jawab Auriga berbohong.


'Padahal mah gua udah lama nunggu, tapi gua malu mau bilang. Gua juga sih! Datangnya kecepatan!' batin Auriga.


"....."


"Ck." Auriga berdecak sebal melihat Hujan yang bahkan tak meresponnya. Sekali Hujan tetaplah Hujan!


"Kenapa?" Hujan mengerutkan dahinya bingung, sedari tadi matanya tak lepas menatap motor sport yang dinaiki Auriga.


"Maksud lo?" Auriga balik bertanya.


"Bawa motor," jawab Hujan tak tertarik.


"Ah ... i--itu ka--karna ... karna, emm ..." Auriga berfikir keras untuk mencari alasan yang cocok, pasalnya dia membawa motor hari ini karena dia ingin lebih dekat dengan gadis itu. Tapi jangan sampai gadis itu tau! Bisa-bisa Auriga jadi malu.


"Ah iya! Itu karna mobil gua rusak," jawabnya kemudian setelah mendapatkan alasan yang cocok.


Hujan menatap Auriga penuh selidik, bagaimana bisa dia percaya jika lelaki itu berbicara seperti menutupi sesuatu.


"Kenapa lo natap gua sampai segitunya sih?! Gua serius tau! Gua bawak motor karna mobil gua rusak. Gua kan udah janji sama lo buat jemput lo kemarin, makanya deh gua bawak motor aja."


"Hm."


"Cuma 'hm' aja?! Dih ... lo kok malas banget buat ngomong?!"


"Serah gua."


"Ck. Tau ah! Cepetan naik, entar telat lagi."


Hujan mengangguk lantas naik ke atas motor dengan perlahan.


"Pegangan ya! Entar jatuh, gua juga yang disalahin." Auriga melirik Hujan dari kaca spion lantas menjalankan motornya.


"Modus!" sindir Hujan.


"Gua gak modus tau! Siapa juga yang modus sama lo? Gua cuma nyaranin aja, biar lo gak jatuh!"


"....."


Hujan tak membalas ucapan Auriga, dia tau jika lelaki itu hanya modus padanya. Oleh karena itu, Hujan tak akan pernah memeluk Auriga sama sekali!.


Auriga melirik Hujan dari kaca spion, ternyata gadis ini benar-benar keras kepala. Ia tersenyum jahil lantas menambah kecepatan motornya.


Mata Hujan membola saat tau Auriga menambah kecepatan motornya, ini benar-benar cepat sekali! Apa Auriga sudah gila?.


Hujan hanya diam saja, dia pura-pura tak peduli atas apa yang dilakukan Auriga. Padahal jauh di dalam hatinya, dia sangat takut. Takut jika dia akan mati disini.

__ADS_1


Auriga lagi-lagi melirik Hujan dari kaca spion, gadis itu ternyata memang beda, dia bahkan terlihat sangat tenang sekarang.


Baiklah, jika Hujan tidak takut dengan kecepatan, maka Auriga akan menambah kecepatannya lebih cepat lagi. Hitung-hitung biar mereka cepat sampai di sekolah, toh Adel tidak takut! Dan kebetulan, jalanan juga sunyi.


Deg!


Hujan semakin dibuat kaget, saat Auriga menambah kecepatan motor itu lebih cepat lagi. Rasanya jantung Hujan benar-benar ingin copot sekarang, dari dulu dia memang takut naik motor.


Ah sial!! Hujantak bisa menahannya lagi, dia benar-benar takut sekarang!.


Tangan Adel tiba-tiba tergerak dan memeluk Auriga dengan kuat, dia memejamkan matanya karena takut.


Auriga merasa seperti ada tangan yang memeluknya dengan sangat erat. Ia melirik Hujan dari kaca spion untuk memastikan keadaan gadis itu sekarang. Betapa terkejutnya Auriga saat ia melihat gadis itu memejamkan mata dan memeluknya dengan sangat erat sekarang.


Auriga tersenyum geli dibalik helmnya, ia kembali memfokuskan pandangannya ke depan.


***


Fani menatap bingung Siska yang tak henti-hentinya berjalan bolak balik seperti tengah gelisah.


"Lo kenapa sih?" tanya Fani akhirnya.


"Gua lagi pusing Fan!" jawab Siska ngegas.


"Pusing kenapa? Lo pusing karena jalannya bolak balik mulu? Makanya Sis udahan dong jalannya! Pala gua juga pusing, ngeliat lo bolak balik terus!"


"Bukan itu!" Siska berhenti dan memukul meja yang ada di depan Fani. Fani menelan Saliva nya kasar. "Gua pusing! Gua pusing mikirin cara gimana gua bisa lepas dari si es batu tau?!" Siska mengacak rambutnya frustasi.


"Kan Adel belum datang Sis."


"Iya juga sih, tapi kan entar si es batu juga bakal datang! Huaa gimana nih?!"


"Yang sabar Sis."


"Ah serah deh! Kalau gitu, kita ke kantin aja yok Fan, mumpung si es batu belom datang. Sebelum gua jadi pelayan si es batu, gua mau bersenang-senang dulu."


Fani mengangguk setuju. "Oke," jawabnya kemudian.


Fani dan Siska berjalan keluar dari kelas lantas pergi menuju kantin.


"Gua baru tau kalau kantinnya jauh dari kelas kita," ucap Siska dengan wajah yang terfokus menatap ponsel. Dia dan Fani masih belum sampai juga ke kantin.


"Ah iya, gua juga," jawab Fani tersenyum, gadis itu sangat fokus menatap jalannya, berbeda dengan Siska.


"Hm," sahut Siska.


"Siska ... awas ada--"


Bruk.


"Ups." Fani menutup mulutnya saat melihat Siska yang terjatuh.


"Aduh ..." Siska meringgis saat kepalanya terbentur pada lantai.


"Lo punya mata gak sih?!" ketus Siska kesal.


Orang itu menoleh. Apa dia baru saja menabrak seseorang? Ah ... dia tidak tau itu, karena pandangannya terhalang oleh kotak-kotak yang ia bawa.


Orang itu meletakkan kotak yang ia bawa dengan perlahan, jangan sampai dia memecahkan alat-alat kimia yang ia bawa di dalam kotak ini.


"Ah sorry ... tadi gua gak sengaja, pandangan gua kehalang sama kotaknya," ujar orang itu sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Siska tak berkutik, ia tak henti-hentinya menatap wajah lelaki yang baru saja menabraknya itu.


'Widih ... ganteng banget nih cowok,' Siska membatin.


Pria itu menyerngit bingung, kemudian dia mengulurkan tangannya pada Siska yang masih duduk di lantai dengan bengong.


"Ayo! Gua bantu berdiri," ujarnya yang dapat mengembalikan kesadaran gadis itu.


"Eh? I--iya," jawab Siska gelagapan, dia memegang tangan pria itu lantas berdiri dari duduknya.


Pria itu tersenyum hangat pada Siska.


"Sekali lagi, sorry ya. Tadi gua bener-bener gak sengaja," ujarnya.


Siska mengangguk, kemudian membalas senyum pria itu dengan ramah.


"Iya, gapapa kok! Itu juga salah gua karna jalan sambil main hp."


"Lo anak baru ya?" tanya pria itu.


"Eh? Kok lo tau?!"


Pria itu tersenyum, pantas saja gadis di depannya ini tak mengenali dirinya! Ternyata karena gadis ini anak baru.


"Kenalin, gua Riski Aditia. Panggil aja Riski dan gua ketua osis di sekolah ini." Riski mengulurkan tangannya lantas tersenyum ramah pada Siska.


"Ah ... ternyata lo ketua osis ya? Sorry ... gua gak tau tadi." Siska balas menjabat tangan Riski.


Riski mengangguk paham.


"Nama lo?"


"Ah iya! Nama gua Fitria Siska Anggreani, panggil aja Siska."


"Oh oke Siska. Kalau gitu, gua pergi dulu ya."


"Kemana?"


"Mau nganter kotak-kotak ini ke ruang lab."


"Oh, kalau gitu biar gua bantuin. Gimana boleh gak?" tanya Siska dengan mata yang berbinar.


"Emm ... yaudah deh, boleh," jawab Riski akhirnya, kebetulan dia lagi kesusahan untuk mengangkat semua kotak-kotak ini. "Tapi gak ngerepotin nih?" lanjutnya lagi.


"Enggak kok! Santai aja." Siska mengambil beberapa kotak yang Riski letakkan tadi.


"Eh Sis! Lo lupa, kalau gua masih disini ya?" Fani yang tadinya hanya diam dan menonton, kini akhirnya ikut bersuara. Yang benar saja!! Apa Siska akan meninggalkannya begitu saja?!.


"Ah iya, gua hampir lupa." Siska melirik Fani sekilas. "Lo balik lagi aja ke kelas, tungguin si es batu! Kita gak jadi ke kantin deh, soalnya gua mau bantuin Riski buat ngangkat ini," lanjut Siska lagi.


"Tapi kan--"


"Dah ... Fan, entar gua nyusul ke kelas." Siska berjalan dengan membawa beberapa kotak bersama dengan Riski dan pergi tanpa mendengarkan perkataan Fani lagi.


Fani menatap punggung Siska yang kian menjauh dengan wajah kesal. Siska benar-benar menyebalkan!!.


"Oh ... jadi ini si cupu yang waktu itu ya?" ucap seseorang dari belakang Fani.

__ADS_1


Deg!


Fani menoleh dengan wajah takut, dia ... benar-benar hapal suara ini. Suara ini adalah suara ...


__ADS_2