
...~HAPPY READING~...
****
Plak!
Aurora tertoleh ke samping saat mendapati tamparan dari Hendri. Pipi gadis itu memerah meninggalkan cap tangan dengan jelas.
"Sepertinya kau sudah lupa dengan tugasmu!" kata Hendri menatap Aurora nyalang.
Aurora hanya diam, menunduk tak berani berkata apapun.
"Kau lupa, hah? Aku menyuruhmu untuk menyebarkan rumor buruk tentang gadis itu di sekolah! Lalu membuatnya dikucilkan."
"....."
"Dengan begitu, dia pasti menderita! Faisal pasti tersiksa melihat sosok putrinya yang seperti itu!"
"Kenapa?" lirih Aurora.
"Kenapa Ayah Kekanak-kanakan, sekali? Dia tak tahu apapun, jangan libatkan Hujan dalam—"
PLAK!
Belum sempat Aurora meneruskan ucapannya, Hendri sudah menamparnya lebih dulu. Wajah lelaki itu merah padam menahan amarah.
"Anak kurang ajar!" makinya.
"Lakukan saja tugasmu dengan baik! Jika tidak, jangan harap kau bisa bertemu lagi dengan Ibumu!"
Selepas berkata dengan kejamnya, ia pergi meninggalkan Aurora. Membanting pintu dengan keras hingga membuat gadis itu tersentak kaget.
*****
Petir yang tadinya sibuk berkutat pada berkas-berkas di depannya kini dikagetkan oleh kedatangan Irwin. Tak biasanya pria itu mendatanginya sampai ke kantor seperti ini. Pasti sudah terjadi masalah.
"Ada apa?" tanya Petir menyerngit bingung.
Irwin menelan salivanya sebelum pada akhirnya menjawab.
"Ada orang yang mengacau di rumah."
"Mengacau?"
"Benar, dia berteriak mencari Anda. Meski saya sudah mengatakan bahwa Anda sibuk, tetapi dia sangat keras kepala!" terang Irwin sedikit jengkel menceritakannya.
"Karna dia sangat bersikeras jadi saya mengantarnya ke sini. Sekarang dia ada di balik pintu itu. Maaf Tuan, saya—"
"Apa namanya Orion?"
Irwin tersentak.
"Bagaimana anda bisa tahu?"
"Sudahlah, biarkan dia masuk!" titah Petir. "Kau boleh pulang."
"Baik, Tuan. Terima kasih banyak!"
Selang beberapa menit selepas kepergian Irwin. Orion masuk dengan wajah suram.
"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Petir terkekeh kecil.
"Ck!" decihnya.
"Kau tak pernah bilang jika Hujan dekat dengan laki-laki lain!"
"Oh? Maksudmu Auriga?"
"Jangan menyebut namanya. Aku benar-benar tak suka orang itu! Menyebalkan sekali."
"Ya, begitulah." Petir mengagguk kecil.
"Ah, iya! Di mana Hujan? Bukannya aku menyuruhmu untuk pulang bersamanya?"
Orion mendelik. Sangat malas menjelaskan semuanya pada Indra. Ia terlihat kesal mengingat kejadian dimana Hujan lebih memilih untuk pergi bersama lelaki lain daripada dirinya sendiri.
"Dia diculik," ucapnya asal.
"Apa?!" kaget Petir.
"Yah, diculik sama anak laki-laki itu! Menyebalkan sekali!"
"Ck, jangan bercanda!" kesal Petir. "Jantungku hampir melompat karena mu!"
__ADS_1
Orion terkekeh.
DRET DRET!!
Perhatian Petir teralihkan oleh bunyi ponselnya.
~LINE
Aurora 4 unread messages
Aurora
|Aku sudah melakukan semuanya seperti yang kau perintahkan.
|Malam ini mereka akan pergi makan malam untuk merayakan ultah pernikahan.
•15.45
^^^|kau bisa datang ke rumah sekitar jam 8 malam.^^^
^^^•15.47^^^
|kuharap kau tak mengingkari janjimu, Kak!
•15.50
Petir tersenyum semirk. Sudah ia duga, pada akhirnya Aurora akan bekerja sama dengannya. Indra segera mengetikkan balasan.
^^^Tenang saja|^^^
^^^Aku selalu menepati janji|^^^
^^^15.59•^^^
^^^Read^^^
Aurora
|baiklah
|sampai ketemu nanti
•15.60
*****
"Apa kamu pacarnya Auriga?" tanya Linda penasaran.
"Enggak!" sergah Lintang. "Kakak ini pacar aku!!"
"Wah, gila! Selera anak gue boleh juga." kagum Rio.
Hujan menelan Saliva kasar. Merasa sangat canggung, sesaat kemudian ia membuka mulut hendak menjawab.
"Saya—"
"Kalian mau kencan?"
Ia melotot kaget mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Rio.
"Itu bu—"
"Benarkah?" potong Linda antusias. "Tapi, kenapa kamu pakai baju sekolah?" lanjutnya menatap penampilan gadis itu dengan cermat.
"Ah, ini—"
"Baiklah! Sudah ku putuskan, aku akan mendandani mu!" serunya menarik Hujan dengan girang.
Hujan melotot, apa-apaan ini? Keluarga Auriga aneh sekali!
****
30 menit berlalu, Auriga menuruni tangga dengan penampilan yang sudah rapi. Lelaki itu menoleh ke sana ke mari mencari sosok Hujan. Tidak Hujan! Hanya ada Alfian dan Ayahnya di sana. Kemana gadis itu pergi?
"Pa, Hujan mana?"
"Hujan?" Rio menyerngit. "Oh! Gadis cantik tadi?"
"Hah? I–iya, mungkin?"
"Dih ... emang orangnya cantik kok! Pacar kamu?"
"A–apa? Enggaklah!"
__ADS_1
"Hm ... masi belum ya? Sayang banget."
"Apaan aih Pa? Gaje banget."
"Tadi dia dibawa sama Mama kamu ke atas."
"Ngapaiin?" heran Auriga.
Rio mengedik kan bahunya acuh. Sedetik kemudian pria paruh baya itu kembali berfokus pada televisi. Hari ini Rio libur bekerja, bersantai sedikit tak ada salahnya kan?
"Kak Auriga!" panggil Lintang.
Auriga menoleh, tersenyum tipis ke arahnya. Kemudian membawa Lintang ke dalam gendongannya dan mencubit pelan hidung bocah itu seperti biasa.
"Lintang ikut, ya?!"
"Ikut kemana?"
"Jalan bareng Kakak cantik!"
Auriga tercengang. Sudah mengerti maksud Lintang dengan cepat lelaki itu menurunkannya lantas berkata dengan sinis.
"Gak boleh!" tegasnya.
Lintang memandang Auriga dengan mata yang berkaca-kaca. Bocah lelaki itu merajuk dengan wajah yang menggemaskan.
Ia telan saliva kasar. Kali ini Auriga tak akan kalah!
"Huwaa ...!" tangisnya membuat Auriga menutup telinga bising.
"Papa," rengek Lintang mengadu pada Rio.
Rio berdecih. Mengusap kasar wajahnya.
"Auriga," Panggil nya sembari menampilkan senyuman manis.
"Gak, Pa! Auriga udah tau maksud Papa. Pokoknya jawabannya ENGGAK!!" tegas Auriga.
"Huwa ...! Lintang mau ikut! Hueee ...."
"Ada apa ini?"
Ketiga manusia itu menoleh ke asal suara. Tampak Linda yang tengah berdiri dengan Hujan di belakangnya.
Hujan, gadis itu terlihat tak nyaman dengan pakaiannya. Bagaimana tidak? Ini terlalu terbuka! Hujan tak suka baju yang menampakkan garis lehernya. Terlebih lagi, dress ini sedikit pendek. Benar-benar tak nyaman!
Auriga terpaku, menatap Hujan lamat-lamat. Dress berwarna merah maroon itu terlihat pas ditubuhnya. Gadis itu benar-benar cantik.
Tap!
Rio menyenggol bahunya pelan. Auriga tersentak lantas berdehem kecil.
"Mau jalan sekarang?" ajak Auriga gugup.
Hujan tak menjawab. Gadis itu menoleh menatap Lintang yang masi menangis sembari menarik-narik unjung baju Rio.
"Lintang?" panggilnya dengan ekspresi datar.
Lintang langsung terdiam. Bocah itu mendongak dengan mata yang sudah banjir air mata.
"Mau ikut Kakak?"
Auriga melotot kaget.
"Apa? Jan, jangan dong! Masa lo mau—"
"Mau!!" potong Lintang tersenyum lebar.
Bocah itu langsung saja berlari memeluk Hujan.
"Lintang mau ikut! Kakak cantik, Lintang boleh ikut 'kan?"
Hujan tipis. Berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Lintang lalu berkata.
"Tentu."
Rio terkekeh kecil melihat reaksi kesal Auriga. Ia usap punggung putranya pelan.
"Sabar, ini ujian."
Auriga berdecih. Hancur sudah hari yang selama ini dia nanti-nantikan. Semuanya karena Lintang. Dasar, bocah sialan! Fyuh ... sabar.
Bersambung....
__ADS_1
...TBC....