
...~HAPPY READING~...
***
Sebelum pulang, mereka memutuskan untuk jalan-jalan lebih dulu. Hitung-hitung melepaskan stres dan liburan.
Banyak sekali hal yang mereka lakukan akibat Matahari yang terus bersikeras untuk mencoba semua wahana permainan.
Kini semuanya sedang istirahat dengan Matahari yang tengah asik menyantap Es krimnya seperti anak kecil.
"Film yang tadi seru banget ya," kata Matahari membuka pembicaraan.
"Ck, seru apanya. Film romansa! Bosenin banget, mana ceritanya bikin geli," balas Sagita tak tertarik.
"Menurut gua lumayan sih, kasian ceweknya meninggal karena penyakitnya," ujar Benua berpendapat.
"Cerita akhirnya juga lumayan, si cowok kaya kehilangan banget. Dunianya hancur dan frustasi terus-terusan," sambung Auriga cukup tertarik.
"Halah, dasar korban sinetron. Itu cuma drama!" Cerocos Sagita.
Semuanya hanya tertawa melihat reaksi gadis itu. Mereka masih ingat betul dengan Sagita yang tidur karena bosan. Sepertinya Sagita benar-benar tidak menyukai film romansa.
"Jika gua yang jadi gadis itu, gua lebih baik mati dengan kebencian darinya."
Semuanya berhenti tertawa kala Hujan tiba-tiba bicara dengan raut wajah datar.
"Maksud lo?"
Matahari menghernyit memandang Hujan intens.
"Membuat dia membenci gue. Lalu menghilang tanpa sepengetahuannya. Dengan begitu, kenangan bersama akan lebih mudah dilupakan karena rasa benci."
"....."
"Pria itu harus bisa melupakan semuanya dan memulai kisah baru. Dengan begitu, gua juga bakal bahagia untuknya."
Semuanya terdiam masih mencerna kata-kata Hujan. Jarang sekali gadis ini mau berbicara panjang lebar. Apalagi membahas film? Wah! Mereka tidak menyangka jika Hujan punya sisi seperti itu.
"Kenapa lo harus berbuat begitu? Gimana dengan diri lo sendiri? Apa gak sakit liat dia benci sama lo," imbuh Matahari tak suka dengan jalan pikiran Hujan.
Hujan menggeleng dengan wajah serius lantas berkata.
"Kebahagian nya lebih berarti."
"Yah, lo emang begitu sih. Gua gak heran," sahut Sagita.
Dahi Auriga menghernyit melihat wajah Hujan yang tampak serius. Ia sodorkan Es krim rasa vanila.
"Jangan terlalu serius, itu cuma film. Jangan samakan dengan lo!"
Hujan menerima Es krim yang Auriga berikan lantas berkata sebelum memakannya.
"Hm, lo benar. Makasih Es krimnya."
"Btw, ayo pulang. Ini udah sore! Malam ini kan kita kudu pulang ke jakarta."
Benua berdiri dari duduknya sembari menggeliat malas.
"Ah, hari ini melelahkan," lanjutnya.
"Benua!!," panggil Matahari.
Benua menoleh, punya firasat yang tak enak karena Matahari.
"Apaan?"
Gadis itu tersenyum penuh arti. Sungguh, perasaan Benua semakin tak enak, apa yang Matahari ingin kan, darinya?
"Benua ganteng, kuat, baik, ramah dan rajin menabung. Gendong gua dong, kaki gua sakit nih. Gak kuat jalan lagi."
__ADS_1
Sudah Benua duga, ada udang di balik batu. Jadi karena itu Matahari memuji nya lebih dulu. Dasar!
Benua melirik kaki Matahari yang tampak bengkak dan memar di pergelangan kaki. Sejak kapan ada luka di sana? Rupanya Matahari berlarian ke sana kemari dengan kaki yang sakit ya!
Merasa simpati, Benua berjongkok membelakangi Matahari. Membuat gadis itu tersenyum senang.
"Buruan naik, gua bantuin."
"Maka—,"
Perkataan Matahari terhenti kala Sagita mencegal tangannya. Gadis itu menatapnya tak senang.
"Apa sih, Cojut?! Lepasin gue, kaki gue beneran sakit bodoh!!"
Sagita tak menggubris Matahari sama sekali. Dia kemudian berbicara pada Benua.
"Lo gak bakalan kuat gendong dia Nu, berat banget! Percaya deh, entar tulang lo bakal remuk pas nyampe rumah."
Perkataan Sagita dapat mengundang gelak tawa semuanya kecuali Matahari dan Hujan. Matahari tampak sangat kesal sedangkan Hujan hanya diam memperhatikan.
"Ck, gue gak seberat itu," lirih Matahari dengan mata yang berkaca-kaca. Entah kenapa Sagita sangat menyebalkan sekarang. Padahal kakinya benar-benar sakit.
"Kalau lo takut remuk, ya udah! Gue juga bisa jalan, tanpa bantuan kalian!" kesalnya berlalu pergi dari sana.
Sagita tertegun, bukan ini yang dia mau.
"Hayo loh Ta, Matahari ngambek." Auriga terkekeh.
"Gua gak ikut-ikutan, yak!" sambung Benua bersiul kecil.
"Mampus!!." Hujan berkata sadis.
Sagita berdecak, lalu pergi mengejar Matahari dengan cepat. Ia tahan tangan gadis itu dengan kuat. Membuat Matahari terus memberontak tak lupa mengumpat.
"Lepasin tangan gua, najis banget pake pegang-pegang!"
Meski jengkel, Sagita mencoba untuk menahannya. Tanpa menghiraukan Siska yang terus mengutuknya, Sagita menggendong gadis itu seperti karung beras. Membuat Matahari menjerit histeris, memukul punggung Sagita dengan kuat.
"....."
"Sakit bodoh! Gua pake rok pendek, lo mesum ya?!"
Tap.
Sagita menghentikan langkah, menurunkan Matahari perlahan. Membuat gadis itu menghela napas kesal. Akhirnya Sagita menurunkannya!
"Lo mau ngapain?" tanya Matahari melihat Sagita yang tengah membuka jaket.
Set.
Ia ikatkan jaketnya pada pinggang ramping Matahari.
"Lain kali jangan pake rok pendek," ujarnya mengingatkan.
"Cepat naik ke punggung gue. Kaki lo gak bakalan kuat jalan. Biar gua yang gendong.
Matahari menyerngit, ada apa dengan Sagita? Apa kepala nya terbentur? Sepertinya dia lupa minum obat.
"Lo mau tetap diam? Buruan, keburu malem!" teriak Sagita jengah.
Matahari tersentak.
"Ck! Iya, iya!" jawabnya lantas naik ke punggung Sagita.
*****
Matanya membaca berkas-berkas dengan dahi beekedut. Tampak sangat tidak suka.
"Brengsek!" umpat Petir menghempaskan kertas-kertas itu hingga bertebaran di lantai.
__ADS_1
"Apa data ini benar?"
Irwin mengangguk. Sudah ia duga, Petir akan mengamuk melihat ini.
"Sesuai yang anda perintahkan, saya sudah mencari informasi tentang teman Nona Hujan."
"...."
"Asmirandah Hujan, itu nama panjangnya. Dia merupakan putri dari Hendri atau paman Anda."
"Dia bukan pamanku!" sergah Petir dengan nada tinggi.
"Yah, yang pasti Aurora dan Sari adalah orang yang sama. Dia yang jadi teman masa kecil Nona sekaligus penghancur segalanya. Saya juga tidak menyangka jika kita akan bertemu lagi dengan anak itu."
"Apa ada lagi?"
"Menurut mata-mata yang saya kirim, sepertinya Aurora merencanakan sesuatu."
"Sudah kuduga, dia memang mencurigakan."
"Sepertinya Hendri berencana untuk menculik Nona lagi dan saya yakin, anda tau kelanjutannya."
"Hendri, pria tua sialan itu! Apa dia ingin mengancam Mama dan Aku seperti dulu?! Ck, kali ini tak akan kubiarkan begitu saja."
"...."
"Irwin."
"Ya, Tuan?"
"Bawa Aurora padaku tanpa sepengetahuan siapapun! Termasuk Hujan."
Irwin mengangguk patuh lalu membungkuk hormat undur diri.
"Akan saya lakukan sesuai perintah anda. Saya pamit pergi, Tuan."
Usai kepergian Irwin, Petir menggeram kesal. Tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih.
"Ck, lihat saja Hendri. Jika kau berani menyentuh adikku maka hidupmu tak akan tenang," Petir membatin.
DRET DRET!!!
Suara ponsel mengalihkan perhatiannya. Tangannya terulur meraih ponsel.
Petir menyerngit kala melihat panggilan masuk dengan nomor baru. Terlebih lagi, itu bukanlah nomor Indonesia. Perasaan, Petir tidak punya bisnis di luar Negeri untuk saat ini.
Perlahan ia geser tombol hijau dan menjawab panggilan.
[Halo]
Diluar dugaan, orang yang menjawab teleponnya menggunakan bahasa Indonesia.
"Ya, halo. Maaf, sepertinya anda salah sambung."
[Apa ini benar nomor Kak Petir?]
"Hah? I–iya. Dengan siapa?"
[Syukurlah! Kukira aku gak akan bisa bicara dengan kalian lagi. Aku sangat merindukan Lina. Apa dia baik-baik saja?]
Deg!
Petir menelan salivanya yang terasa berat. Mengusap wajahnya kasar lalu kembali bicara dengan serius.
"Apa ini kau, Putra?"
[Iya kak, ini aku! Areka Syahputra]
Bersambung...
__ADS_1
...TBC....